
Hujan di sore hari ini begitu deras. Mata bulat dengan bulu mata lentik itu terus menatap dengan lekat air-air yang berjatuhan. Alina yang sekarang begitu menyukai hujan, namun dia takut akan gelap.
"Jadi keingat si boy," gumamnya mengingat asistennya dulu.
Ekor matanya melirik ke arah benda pipih yang tergeletak tidak jauh darinya. Tangannya terulur untuk mengambil benda tersebut, dengan sedikit ragu ia mencoba memencet beberapa nomor yang masih ia hafal di otaknya. Namun disaat nomor tersebut sudah lengkap dan siap untuk dihubungi, seketika jemarinya terasa kaku, seakan ada sesuatu yang berniat untuk mencegahnya.
Dengan cepat Alina melempar ponselnya kembali ke meja di dekatnya. "Kenapa sih? Minta olahraga kayaknya otot-otot ini," gumannya kembali menoleh ke arah hujan diluar sana. Namun tubuhnya kini mulai bangkit untuk berganti baju olahraga.
Semenatara Alendra baru saja selesai berkutat dengan laptopnya. Rasa lapar mulai meyerang, namun ia tidak cepat beranjak karena sedari tadi Pinka terus menghubunginya. Entah kenapa Alendra malas untuk mengangkat atau meladeni Pinka hari ini.
Kejadian-kejadian yang terjadi bersama dengan Alina saja sudah cukup menguras tenaga dan emosinya. Alendra juga butuh ketenangan.
"Oke," gumamnya beranjak karena perutnya yang sedari tadi terus berbunyi.
Sampai di dapur, ia mengambil beberapa bahan makanan di dalam kulkas. Jangan salah kulkas yang berada di apartemen cukup lengkap persediaannya. Alina yang sekarang mana bisa masak, ia hanya bisa membuat mie isntan setiap harinya untuk dimakan.
Merasa lengkap dengan semua bahan yang ia perlukan. Alendra mulai bertempur dengan bahan-bahan di depannya. Namun ada yang berbeda ketika ia mengambil bawang bombai dengan ukuran cukup besar. Seketika ia jadi teringat dengan punya Alina yang masih berukuran kecil, namun setiap harinya jika Alendra perhatikan sudah mulai ada perubahan yang cukup pesat.
Tubuh Alina mulai terlihat menonjol dibagian tertentu.
"Hmmm," gumam Alendra ketika memegang bawang bombai yang membuatnya malah berfantasi li*r.
Padahal bumbu tersebut tidak diperlukan saat ini. Namun entah kenapa bentuknya begitu menggelitik ketika pikiran kotornya mulai muncul. Tidak munafik Alendra ini laki-laki normal yang sudah cukup umur. Ia sudah menikah namun belum pernah melakukan hal-hal aneh selain ciuman bibir saja. Dia juga mempunyai seorang kekasih yang sampai saat ini masih dia jaga kesuciannya. Paling lebihnya ciuman dan grep*-gr*pe saja.
Lebih parahnya lagi ketika ia berniat untuk memotong ayam, pikirannya jadi semakin tidak bisa dikendalikan. Daging ayam yang berada di genggamannya seakan terlihat seperti sesuatu yang empuk dan membuatnya merasakan enak. Bayangan wajah Alina yang sedang menikmati sentuhannya tiba-tiba saja muncul.
"S**l," umpat Alendra menggelengkan kepalanya.
Bisa-bisanya otaknya terus berpikir tentang gadis itu.
"Apa hebatnya sih dia?" decaknya mulai kesal sendiri. Niat hati untuk membuat makanan malah pikirannya terus saja bercabang kemana-mana. Segala wajah Alina yang muncul lagi membuat Alendra tidak jadi melanjutkan masaknya.
Langkah lebarnya menuju ke kamar Alina. Ia ingin membuka pintu namun dikunci oleh gadis itu. "Ck," decak Alendra dengan kehati-hatian Alina.
__ADS_1
Sudha tahu mereka hanya berdua di dalam apartemen khawatir sekali Alina jika Alendra sampai masuk ke kamarnya.
Langkah Alendra memelan saat ia sampai di ruangan gymnya. Di sana terlihat Alina yang sedang berolahraha dengan gaya-gaya andalannya untuk membuat bentuk tubuhnya indah. Tanpa disadari Alendra meneguk ludahnya susah.
Glek
Suara napas Alina yang sedang kelelahan malah terdengar seperti *******. Alendra sendiri sampai bingung dengan pikirannya yang terus saja melenceng jauh kehal-hal yang berbau dewasa.
Ia memutuskan untuk mendekati Alina. Dan berdiri tidak jauh darinya.
"Huh..hah...huh...hah..." Napas Alina terus memburu namun dia tetap melakukan gerakan yang tepat.
"Alin hentikan!" ujar Alendra tiba-tiba mengejutkan Alina.
"Eh monyet lo." Alina menoleh ke asal suara. "Ale ngapain lo di sini?" tanya Alina melihat Alendra yang tiba-tiba sudah berada di sebelahnya.
"Aku lapar," ujar Alendra seketika membuat kening Alina berkerut.
"Ya makan lah, malah bengong di sini kayak orang ogeb," balas Alina ketus.
Tidak tahu sekali jika kini pikiran Alendra itu sedang dipenuhi dengan dirinya juga hal-hal yang kotor.
"Kita ke rumah sekarang," final Alendra membuat Alina kembali menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
"Ngapain? Lo nggak liat lagi hujan?" tanya Alina tidak habis pikir.
Sudut bibir Alendra tertarik ke atas. Detik berikutnya tangannya sengaja terangkat untuk menyentil kening gadid itu.
"Bod*h, ikut aku," tanpa disadari Alendra menarik tangan Alina untuk ia bawa keluar dari ruangan gym.
"Apasih pegang-pegang segala," ketus Alina berniat untuk berontak. Namun ketika melihat pemandangan indah di depannya, seketika mata Alina membola.
Dapur yang terlihat berantakan dengan bahan-bahan makanan berada diluar kulkas.
__ADS_1
"Ini apa-apaan Ale?" tanya Alina dengan sangar.
"Ini karena kamu Alin, aku lapar dan kamu malah enak-enakan joget-joget seperti cacing kepanasan," ujar Alendra seketika membuat Alina semakin murka.
Bohong kalau Alendra tidak menyukai gerakan Alina tadi. Ia bahkan sempat membayangkan jika Alina berada di atasnya dengan gerakan yang menurutnya sedikit brutal seperti tadi.
"Ganti baju kamu kita ke rumah mama sekarang," titah Alendra membuat Alina mengepalkan tangannya kesal.
"Pesan kan bisa Ale, lo punya hp punya otak nggak guna banget asli," dumel Alina masuk ke dalam kamarnya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Hujan masih belum reda padahal sudah cukup lama dari sekitar jam 3 sampai petang kini mulai menyapa.
"Ale," panggil Alina sebelum keduanya turun.
Alendra menoleh. Sorot matanya seakan menanyakan 'apa'.
"Awas aja lo macam-macam, gue congkel mata lo," ancam Alina agaknya tahu niat terselubung Alendra.
"Ck, macam-macam? Pernah aku macam-macam sama kamu?" tanya Alendra menaikkan sebelah alisnya.
Bukannya menjawab Alina malah keluar dari mobil. Dipancing dengan pertanyaan seperti itu oleh Alendra jelas tidak akan baik nanti untuknya.
"Sayang, sini kebetulan kita mau makan malam, kalian pasti belum makan bukan?" tanya Mama Intan kepada keduanya yang baru saja datang.
"I-iya ma," balas Alina disusul dengan Alendra yang berada di belakangnya.
"Ma, suruh bibi siapin kamar ya? Alina minta nginap di sini soalnya," ujar Alendra seketika membuat Alina terperangah.
Apa-apaan Alendra ini? Mengadu domba untuk kepentingannya. Alina yakin ini akal-akalan Alendra saja agar bisa....
"Pasti sayang, kamar kamu selalu rapih dan bersih kok setiap hari kan dibersihkan," ujar Mama Intan dengan senang.
"Mama seneng banget lho Alin minta nginap, udah lama kan nggak nginep di sini," ujar Mama Intan lagi yang hanya diangguki oleh Alina dengan sedikit senyum.
__ADS_1
Dalam hati Alina terus mengumpat seorang Alendra yang begitu licik, ekor matanya sempat melirik Alendra dengan sangat tajam.
Tuh laki minta dicekik emang, awas aja lo Ale. Jangan pikir gue nggak bisa apa-apa. Batin Alina mengingat nanti malam ketika tidur bersama dengan Alendra.