Fire On Fire

Fire On Fire
Alendra Keluar Kota


__ADS_3

Perlahan mata Alina mulai terbuka. Dapat dirasakan sinar matahari pagi yang mulai menyapa lewat celah jendela kamar miliknya. Setengah sadar ia mencoba untuk bangkit dari tidurnya, namun sepertinya ada yang menahan karena tiba-tiba ia merasa berat pada sekitar perut rata miliknya. Baru setelah itu ia tersadar jika tadi malam telah terjadi sesuatu yang sebenarnya untuk saat ini sangat ingin ia hindari.


Berhubungan kembali dengan Alendra membuatnya merasa tidak nyaman. Namun tidak banyak hal yang bisa ia lakukan untuk saat ini. Karena nyatanya, orang tua Alendra sendiri malah sengaja membuat rencana yang membuat keduanya kini terbaring tanpa pakaian.


Terdengar helaan napas yang cukup dalam dari Alina. Ekor matanya melirik ke arah wajah lelap Alendra yang setengah tengkurap. Masih dapat diingat dengan jelas kejadian tadi malam. Dimana setelah film setengah berputar. Alendra sudah tidak bisa kosentrasi lagi. Bahkan laki-laki itu dengan paksa menarik Alina untuk masuk ke dalam kungkungannya. Padahal film dewasa yang mereka lihat baru permulaan, belum ada kegiatan panas yang sangat Alina hindari dan Alendra tunggu.


"Auw," rengeknya merasa sekitar pangkal pahanya terasa nyeri.


Rupanya apa yang Alendra lakukan tadi malam diluar dugaan Alina. Sangat berbeda seperti ketika mereka melakukannya untuk yang pertama kalinya. Alina dibuat kewalahan oleh Alendra, setelah bermain satu ronde di ruang bioskop VIP, Alendra kembali melakukannya di kamar setelah pulang. Dapat dirasa bagaimana remuknya badan Alina saat ini.


"Lo emang harus tahu Ale," gumamnya tetap mencoba untuk berdiri.


Seragam sekolah sudah ia kenakan. Perlengkapan sekolah juga sudah dia siapkan, sepucuk kertas di tangannya kini ia amati dengan begitu seksama. Ada rasa bimbang untuk meletakan surat tersebut, dengan harapan laki-laki yang masih terlelap tidur itu akan tahu nantinya, namun jika dibiarkan terus seperti ini, Alina malah akan terus merasa bersalah seorang diri.


"Semoga aja lo bijak Ale," gumamnya menaruh sepucuk kertas berisi tulisan tangan Alina asli di atas meja kecil.


Tangannya meraih tas, buru-buru ia keluar dari kamar sebelum berubah pikiran.


"Pagi ma," sapa Alina membuat mama Intan tersenyum begitu hangat.


"Lho Alin sekolah?" tanya beliau diangguki oleh Alina.


"Nggak libur kan hari ini?" tanya Alina yang dijawab mama Intan dengan gelengan kepala.


"Enggak sih sayang, tapi bukannya Endra udah buat surat ijin buat kamu? Hari ini Alin nggak usah sekolah, Endra juga bilang katanya kecapean jadi mau ijin juga," jelas beliau membuat Alina mengangguk pelan.


Sebenarnya dia cukup terkejut jika Alendra sudah mengijinkannya untuk tidak masuk sekolah. Namun bersama dengan Alendra seharian juga tidak mungkin Alina lakukan, yang ada malah Alina bakal merasa tidak nyaman sendiri.


Disatu sisi mereka baru saja melawati malam panjang bersama tadi malam. Di satu sisi Alina bingung sendiri harus berbuat apa dengan Alendra.


"Gitu ya ma? Tapi hari ini ada ulangan ma, Alin nggak mau sampai ketinggalan, gimana dong?" tubuhnya mendekati mama martuanya untuk kembali bernegoisasi. "Please, Alina sekolah aja ya hari ini?" pintanya penuh harap.


Terdengar helaan napas dari beliau sebelum kembali menjawab. Menghadapi menantu kesayangannya memang tidak akan mudah. Apa lagi melihat wajah Alina yang menggemaskan di hadapannya.

__ADS_1


"Ya sudah Alina boleh sekolah hari ini, tapi emang beneran nggak papa? Nggak ada yang sakit?" tanya beliau seketika membuat Alina mendelik.


"Sakit apanya sih ma? Alin baik-baik aja ini, udah ah Alin berangkat dulu ya ma?" pamitnya buru-buru pergi. Jangan sampai dia masih berada di rumah ketika Alendra terbangun.


"Hati-hati sayang, pelan-pelan aja jalannya! Eh nggak sarapan dulu sayang?" teriak mama Intan mengingatkan.


"Gimana sih Endra? Katanya lembur buatin cucu buat mama, Alina seger-seger aja tuh tadi, nggak kayak orang hampir digempur habis-habisan," heran mama Intan berlalu pergi.


Tangannya meraba ranjang di sekitarnya. Kosong tidak adanya Alina yang tadi malam jelas-jelas ia peluk seperti bantal guling ketika akan terlelap. Dengan cepat tubuhnya bangkit dan melihat ke sekeliling kamar. Sepi, tidak adanya Alina di sana.


"Udah bangun?" gumamnya beranjak.


Namun bau parfum yang cukup familiar mulai masuk di indra penciumnya. Tangannya mengepal setelah sadar akan sesuatu juga tepat ketika sorot matanya menatap ke arah kertas yang sengaja Alina letakkan tadi di meja kecil sebelah ranjangnya.


"Masih aja ngeyel," gumam Alendra kesal.


Padahal Alendra sudah ijin untuk Alina agar hari ini tidak masuk sekolah. Ia sudah menyiapkan sesuatu untuk gadis itu, agar hubungan di antara mereka kembali baik, namun sepertinya Alina di mata Alendra sekarang memang keras kepala dan pembangkang.


Perlahan jemarinya mulai membuka kertas tersebut, namun tiba-tiba...


Drtttt


Drttt


Drrtt


Kertas yang tadi sudah setengah Alendra buka kembali dia tutup, ia meletakkan kembali di meja kecil, tangannya meriah ponsel yang sedari tadi terus berbunyi. Pak Dirta yang sudah berada di kantor sejak tadi pagi karena sesuatu yang penting mencoba meminta bantuan dengan Alendra.


Semakin hari Widya semakin menjauh dari Alina. Meski begitu, Alina sendiri tidak mau mengambil pusing, toh...ia merasa ini bukan kesalahannya, ada yang tidak beres dengan Widya tetapi ia tidak mau bercerita atau berterus terang dengan Alina.


"Yah... Pak Endra hari ini nggak masuk guys!" seru salah satu siswi yang baru saja datang.


"Hah kenapa? Padahal gue udah kerjain semua tugas dari pak ganteng."

__ADS_1


"Males ih, udah dandan cantik gini malah nggak ada pak Endra."


"Lo ke salon?"


"Nggak lah, orang salon yang ke rumah gue. Ya kali gue harus repot-repot ke sana. Bete ah nggak ada pak Endra."


"Terniat emang lo, eh... Gimana kalau kita ke rumahnya aja, siapa tahu pak Endra lagi sakit kan?" usul salah satu siswi yang disetujui oleh teman-temannya.


Mendengar semua teman-temannya yang ingin berkunjung ke rumah Alendra sekaligus tempat tinggalnya sekarang membuat Alina berdecak.


"Ck, nggak tahu diri banget pada," lirih Alina bermain dengan ponselnya.


Sementara Widya melirik ke arah Alina. Bukan hanya Alina yang merasa kesal dengan rencana yang akan dilakukan oleh teman-teman kelasnya itu. Justru Widya lebih dari sekadar kesal. Terbukti dari tangannya yang kini sedang mengepal sembari meremat rok seragamnya.


"A-aku tahu dimana pak Endra!" seru Widya seketika membuat semua yang berada di kelas menatap ke arahnya.


Termasuk Alina yang menatap Widya tidak percaya. Tidak mungkin kan Widya akan mengatakan yang sebenarnya, dimana tempat tinggal Alendra juga alasan guru tampan tersebut tidak masuk sekarang. Tidak mungkin juga Widya tahu jika alasan Alendra tidak masuk sekarang karena kelelahan tadi malam bertempur dengan Alina. Tidak, itu jelas tidak mungkin.


"Lo-tahu cupu dimana pak Endra?"


"Halah nggak mungkin, cewek kayak lo mana tahu dimana pak Endra, kalau si gatel Alina si gue baru percaya, sedikit sih," ujar salah satu siswi seraya melirik ke arah Alina.


"Beneran aku tahu kok, ibu aku sekarang kerja sama keluarga pak Endra," ujar Widya membuat mereka semua melongo tidak percaya.


Termasuk Alina yang juga menatap Widya tidak habis pikir. Apa lagi yang akan Widya katakan tentang suaminya.


"Kok lo nggak bilang sih sama kita? Lo pasti sering caper kan sama pak Endra? Lo sengaja kan pasti deketin pak Endra dengan cara halus lo yag ternyata busuk? Bilang dimana pak Endra sekarang!"


"Enggak kalian salah, aku nggak pernah ke rumah pak Endra, ta-tapi sekarang pak Endra nggak masuk bukan karena sakit, beliau lagi ke luar kota, ada yang harus diselesaikan dengan perusahaannya," jelas Widya seketika membuat teman-temanya semakin penasaran dengan apa saja yang Widya ketahui tentang guru tampannya tersebut.


Sementara Alina semakin menatap Widya tidak percaya. Dengan gampangnya Widya menceritakan tentang bagaimana Alendra di depan istrinya sendiri. Padahal Widya tahu betul jika Alina ialah istri Alendra, namun ketika mengatakan itu semua Widya seperti tidak ada beban sama sekali.


"Ale ke luar kota? Bukannya tadi masih tidur?" gumam Alina.

__ADS_1


__ADS_2