Fire On Fire

Fire On Fire
Bioskop VIP?


__ADS_3

Ceklek


Alina masuk ke dalam kamar dan mendapati Alendra yang sedang berdiri dan bersandar di dinding dengan tangan bersikedap dada. Sorot matanya tak biasa menatap ke arahnya. Dengan acuhnya Alina berniat melewati begitu saja, namun sepertinya Alendra sekarang ini tidak akan melepaskan Alina begitu saja. Terbukti dari tangannya yang sudah mencekal pergelangan tangan dari gadis itu.


Ingin memberontak, tetapi percuma saja karena tenaga Alina selalu kalah dengan Alendra. Ia hanya perlu protes untuk meminta dilepaskan


"Ada apa?" tanya Alina tidak membuat tatapan tajam Alendra teralihkan sama sekali.


Justru cekalan pada tangan Alina semakin terasa mencengkram, begitu erat sampai membuat Alina menatap Alendra tidak habis pikir.


"Lepas Ale," ujarnya.


"Harusnya aku yang tanya Alin, dari mana kamu?" kini Alendra mulai melemahkan pergelangan tangan Alendra.


Tidak lama setelah itu. Alendra benar-benar melepaskan tangan Alina dari cengkramannya tadi, namun sebelum gadis itu menjawab dan pergi, dengan cepat Alendra membawa Alina ke dalam ranjang besar miliknya. Sontak saja Alina dibuat terkejut dengan tindakan Alendra itu, namun sebisa mungkin dia tidak ingin bertindak gegabah yang nantinya akan membuat Alendra marah dan membuatnya menyesal sendiri dikemudian hari.


"Apa kamu menyesal?" Alendra menekan tubuh Alina dari atas.


Gadis itu terdiam. Menatap wajah Alendra dengan sorot mata yang kini mengintimidasi.


"Jawab! Apa kamu menyesal telah melakukannya Jennifer?" tekan Alendra seketika membuat sekujur tubuhh Alina dibuat menegang.


"Ck, terlambat Jenni, karena kamu kini telah benar-benar menjadi milik ku. Sekalipun kamu menyesal tapi aku ingin terus melakukannya denganmu," ujar Alendra menatap Alina lekat.


"Lo egosi Ale," hanya itu yang bisa Alina katakan untuk saat ini. Rasanya susah untuk berterus terang apa lagi memberitahu perihal isi surat yang Alina asli tuliskan.


"Ya, memang, aku sangat egois. Apa lagi perihal tentangmu, jangan pernah berpikir dengan sikapmu sekarang akan membuatku menjauh atau berpaling Jenni, semakin kamu seperti ini semakin membuatku ingin, aku pastikan itu!" setelah mengatakan itu Alendra beranjak dari atas tubuh Alina.


Sejujurnya dalam hatinya masih merasa kesal dan belum terpuaskan apa yang baru saja dikatakan olehnya. Namun melihat wajah Alina saat ini membuatnya tidak tega untuk terus menekannya. Alendra hanya perlu menegeskan jika sampai kapanpun ia tidak menyesal dengan apa yang sudah mereka lakukan. Juga akan memastikan jika Alina akan kembali merasakannya jika terus bersikap seperti ini.


"Dia buat su-"


Tok


Tok


Tok

__ADS_1


"Sayang!" suara mama Intan dari arah luar membuat ucapan Alina seketika terhenti.


Buru-buru gadis itu merapihkan kembali penampilan juga seragam sekolahnya yang masih dikenakan olehnya.


"Iya ma!" balasnya beranjak.


"Lho belum mandi?" melihat Alina masih dengan seragam sekolahnya membuat mama Intan gemas sendiri rasanya.


Satu jam lagi bioskop yang sudah sengaja beliau sediakan untuk anak dan menantunya itu siap.


"Ini mau mandi ma, nunggu kak Endra lama banget," alibinya yang dijawab mama Intan dengan senyumnya.


"Kenapa nggak masuk aja Alin? Udah suami istri ini," goda mama Intan seketika membuat Alina mendelik.


Tidak tahu saja kalau keduanya baru saja berperang mulut. Mana mungkin sampai berakhir mandi bersama dalam keadaan sama-sama panas.


"Mama ih," malu rasanya digoda seperti itu oleh mama martuanya secara langsung.


"Ya sudah... Cepetan ya mandi terus siap-siap, sayang lho tiket yang udah mama beliin, susah juga dapetinnya. Sedih mama kalau kalian sampai nggak lihat," jelas mama Intan yang sudah pasti juga tidak kalah membual.


Mana ada bioskop yang menayangkan film dewasa dengan rating 21+. Mustahil memang jika bukan akal-akalan beliau


Padahal dalam hatinya juga tidak cukup yakin. Hubungannya dengan Alendra kan sedang setengah panas


"Nah gitu, mama seneng dengernya. Ya udah mama ke bawah ga sayang," pamit mama Intan.


Setelah mama Intan pergi. Alina menghela napasnya dengan dalam. Pergi ke bioskop bersama dengan Alendra yang otaknya setengah miring bisa membahayakan untuknya. Bukan karena film yang akan diputar saja karena bergenre dewasa, namun dalam keadaan tidak baikkan seperti sekarang saja Alendra masih bisa sedikit mencari kesempatan, terbukti tadi disaat mereka sedang perang mulut, Alendra sedikit menekan tubuhnya kepada tubuh Alina ketika berada di bawah.


"Huh, tahu ah!" keluh Alina berbalik badan dan...


Kaget. Alina hampir saja berteriak jika saja ia tidak cepat menyadarkan dirinya jika sosok yang berdiri di depannya ini ialah suaminya.


Alendra dengan tubuh setengah telanjang berdiri dan bersandar di pintu kamar mandi. Menatap Alina dengan tatapan yang sudah tidak seperti tadi.


"Ide mama, bagus juga. Kita mandi bareng saja Jenni, biar cepat!" ujar Alendra seketika membuat Alina mendelik tajam.


Suasana malam ini cukup dingin, padahal di kota besar yang biasanya terus terasa panas seketika berubah seperti di pegunungan yang penuh dengan semilir angin.

__ADS_1


Di dalam mobil keduanya kini sedang menuju ke bioskop yang mama Intan perintahkan. Dalam hal ini jelas Alendra menang banyak. Ia bisa mengambil kesempatan nanti untuk memperbaiki hubungannya dengan Alina.


"Sepi banget!" komentar Alina melihat ke sekeliling.


Awalnya Alendra juga merasa aneh kenapa di parkiran juga tidak ada orang atau mobil milik yang lain. Hanya ada beberapa mobil yang Alendra yakini milik petugas bioskop. Namun detik berikutnya senyum miringnya tercetak dengan jelas saat tahu maksud dari mamanya.


"Ck, sepertinya mama salah nyuruh kita ke sini," ujar Alendra diangguki setuju oleh Alina. Padahal itu hanya bualan semata Alendra saja, agar Alina tidak menaruh curiga sedikit pun.


"Gue coba telepon mama deh." Alina mengambil ponsel yang tergeletak di pangkuannya.


"Coba aja," balas Alendra singkat.


Dalam hatinya bersorak senang seiring dengan datangnya seorang petugas yang sedang berjalan menghampiri mobilnya.


Satu, dua, tiga ujarnya dalam hati


"Selamat malam, ini benar dengan mas Alendra dan mbak Alina?" ujarnya sopan.


Alina menoleh. Ia mengurungkan untuk meneruskan panggilan teleponnya.


"Iya, gimana mas?" tanya Alina sedikit bingung.


"Saya dari pihak bioskop, berhubung mbak Alina dan mas Alendra tamu VIP mari ikuti saya," ujarnya lagi.


Tidak ingin menunggu lama, juga malas untuk bertanya Alina dan Alendra turun dari mobil untuk mengikuti petugas tersebut.


Baru setelah sampai di tempat tujuan. Alina dibuat melongo dengan penampakan bioksop VIP yang petugas tadi sebutkan.


"Mas ini nggak salah? Bioskop VIP?" tanya Alina heran.


Petugas tersebut tersenyum simpul. Lalu menggeleng. "Tidak mbak, memang seperti ini bioskop VIP di tempat kami," jelasnya lagi.


Alina tidak habis pikir. Ini sebenarnya lebih terlihat seperti hotel dengan layar besar di depannya. Mana ada bioskop terdapat ranjang kamar dan juga lemari pakaian. Bahkan hanya terdapat satu sofa panjang di dalamnya, bukan seperti kursi-kursi yang terdapat di bioskop pada umumnya.


Ekor matanya melirik ke arah Alendra yang sudah berbaring di ranjang besar. Bahkan tidak ada protes dari mulut laki-laki itu sama sekali. Justru Alendra seperti sedang menikmatinya.


"Ale," kesal Alina merasa Alendra aman saja.

__ADS_1


"Hmm, nggak usah protes, mending nikmati apa yang udah mama siapkan," ujar Alendra membuat Alina bertambah kesal.


Ia berbalik dan berniat untuk meminta petugas tadi diantarkan ke ruangan bisokop yang seperti biasanya. Namun melihat dua petugas baru yang datang dengan makanan juga minuman membuatnya mengurungkan niatnya.


__ADS_2