
Langkah Alina cukup pelan kini menuju ke kelasnya. Tetapi hatinya masih saja dongkol mengingat foto besar yang sengaja Alendra kasih lewat kiriman sebuah paket.
Menurutnya Alendra sangat kelewatan. Selalu saja mengambil celah disaat Alina sedang lengah.
"Pagi-pagi udah bikin mood gue down gini," gumam Alina tetap melanjutkan jalannya.
Bukan tentang Diko lagi yang membuatnya kesal. Namun Alendra dengan segala kelakuan dan tingkah lakunya.
"Alina." Gevan berlari kecil menghampiri Alina.
Alina menoleh. Mendapati Gevan yang sengaja mensejajarkan jalannya.
"Hei Gev," balas Alina.
"Masih belum ketemu juga hp lo?" tanya Gevan untuk sekadar basa-basi saja.
Padahal niatnya jelas agar bisa mengobrol bareng dengan Alina.
Gelengan kepala dari Alina sudah mewakilkan jawabannya. Membuat Gevan menatapnya dengan rasa bersalah.
"Sorry ya hp lo hilang gara-gara gue," ujar Gevan yang lagi-lagi membuat Alina menggeleng cepat.
"Apaan sih? Gue yang minta lo buat nganter gue kemarin, nggak usah ngerasa bersalah gitu. Harusnya gue yang minta maaf karena jadi bikin lo susah, segala ikut nyari hp gue lagi," ujar Alina yang tanpa sepengetahuannya membuat Gevan tersenyum tipis.
"Emmm gue masuk duluan ya Gev," pamit Alina ketika ia sudah sampai di depan kelasnya.
Padahal tadinya Gevan ingin menanyakan nomor baru Alina. Ia yakin Alina pasti sudah membeli ponsel baru karena tidak lagi mempermasalahkan ponselnya yang hilang itu.
Namun Gevan lebih memilih untuk mengangguk. Sengaja ia mengangkat tangannya untuk mengacak puncuk rambur Alina dengan lembut.
"Oke, gue kelas juga," balas Gevan membuat Alina terperangah.
"Niat banget sih buat deketin gue," gumam Alina masuk ke kelasnya.
Seketika langkah kakinya memelan saat melihat Widya sudah berada di bangkunya dengan tatapan tidak lekat menatap ke arahnya.
Alina tahu dia salah karena membiarkan Gevan untuk mendekatinya. Tetapi ia tidak ada niatan lain, dan sikapnya kepada Gevan menurutnya biasa saja, masih dalam hal wajah. Alina tidak genit dan dia menanggapi Gevan layaknya seorang teman sekolah.
"Wid," lirih Alina menaruh tas dan duduk di sebelahnya.
Tidak ada jawaban dari Widya membuat Alina yakin jika Widya pasti sudah salah paham karena kejadian tadi.
"Gue nggak ada niatan apa-apa kok Wid, tadi Gevan cuma nanya hp gue. Sumpah gue nggak tahu kalau dia bakal-"
"Nggak papa Alin," sela Widya membuat Alina semakin merasa bersalah.
__ADS_1
Ketika mengucapkan kata itu Widya tersenyum. Namun matanya sudah berkaca-kaca. Alina jadi merasa tidak tega dan semakin bersalah.
"Kamu tenang aja aku nggak papa, aku bukan siapa-siapa dia kan?" kekeh Widya membuat Alina menggeleng.
Sengaja Alina genggam tangan Widya, sebelum berkata ia menghela napas terlebih dahulu.
"Janji gue akan lebih cuek lagi sama dia," ujar Alina bersungguh-sungguh.
"Wid," panggil Alina membuat Widya tersenyum tipis dan mengangguk.
"Makasih Alin," balas Widya memeluk Alina.
Sebenarnya Alina tidak cukup bersalah dan tidak seharusnya menjauhi atau sengaja bersikap cuek untuk menjauhi Gevan. Namun dia juga tidak tega melihat mata Widya yang tadi sudah berkaca-kaca. Alina tahu Widya gadis yang baik, menyukai cowok saja mungkin untuk yang pertama kalinya bagi Widya. Alina tidak ingin menjadi duri di cinta pertama Widya.
"Hp kamu baru?" tanya Widya melihat Alina yang baru saja mengeluarkan ponsel miliknya.
Alina mengangguk semangat. "Dia yang beliin," bisik Alina membuat Widya ternganga.
"Maksud kamu calon suami kamu Alin?" tanya Widya yang diangguki oleh Alina.
"Aaa... Baik banget sih? Jadi penasaran seperti apa calon suami Alin," ujar Widya bersamaan dengan seseorang yang datang dan memanggilnya di depan kelas langsung.
"Alina!" suara itu seketika membuat keduanya menoleh. Bahkan beberapa teman kelas mereka yang akan masuk sengaja mereka urungkan hanya untuk melihat Alendra yang pagi sekali sudah memanjakan mata mereka dengan berdiri di depan kelas.
"Saya pak?" tanya Alina memastikan.
Meski dia sudah tahu persis siapa yang Alendra panggil. Namun demi sebuah sandiwara yang apik Alina pura-pura saja untuk memastikannya. Bersikap selayaknya seorang murid dengan gurunya. Malah Alendra yang terkadang bersikap berlebihan salah satunya dengan membayar makanan Alina dan Widya ketika itu. Beruntung mereka berada di kantin timur yang sepi. Coba kalau dikeramaian, berita tentang Alina pasti sudah merambah kemana-mana.
"Iya, ke ruangan saya sekarang," titah Alendra setelah itu berlalu pergi meninggalkan kelas tersebut.
Semua tampak terbengong. Begitu juga dengan Alina yang bingung sendiri dengan sikap Alendra pagi ini. Tidak cukup apa dia mengerjai Alina dengan foto jelek yang dibuat sebesar gaban itu.
"Apa lagi sih," dumel Alina mulai waspada.
"Alin lo pakai dukun mana sih? Kenceng banget perasaan."
"Pelet lo paling ampuh Lin."
"Halah kalian kayak nggak tahu aja. Pak Endra manggil Alin pasti buat disuruh-suruh. Mana mau sih pak Endra sama Alin yang kerempeng gitu," ujar salah satu siswi dengan centilnya.
Alina tergelak, ternyata ada siswi yang juga tidak percaya jika Alendra menyukainya? Meski cantik jika masih memiliki tubuh ramping seperti ini untuk laki-laki seperti Alendra pasti tidak akan menarik perhatiannya.
Tamparan yang cukup keras untuk Alina dari kata-kata temannya itu. Alina jadi lebih bersemangat lagi untuk membuat tubuhnya sedikit lebih padat, selain untuk Alendra, rupanya salah satu teman sekelasnya memang harus ada yang disumpal mulutnya dengan bukti tubuh Alina yang aduhai nantinya. Lihat saja kalian yang kini masih meremehkan Alina.
Tok
__ADS_1
Tok
Tok
"Masuk!" suara dari dalam ruangan terdengar.
Sebelum masuk, Alina sempatkan untuk menghela napas terlebih dahulu. Bertemu dengan Alendra sama saja membuat emosinya naik.
Ceklek.
"Bapak panggil saya?" tanya Alina dengan formal.
Alendra mendongak. Lalu mengangguk sebagai jawaban. "Duduk," titah Alendra lagi.
Alina menurut. Dia duduk di depan Alendra, menunggu apa yang akan guru tampan namun menyebalkan itu perintahkan. Kali saja Alina disuruh bongkar keramik ruangannya kan tidak lucu.
Sudah sekitar 5 menitan Alina duduk di depan Alendra namun tidak juga mendapat perintah atau semacamnya. Alina mulai kesal sendiri, dia merasa Alendra sengaja mengerjainya.
"Bapak manggil saya buat apa?" tanya Alina mulai ngegas.
Alendra melirik arloji yang berada di tangannya. "Sebentar saya selesaikan ini dulu," balas Alendra membuat Alina semakin dongkol rasanya.
"Pak Ale tinggal bilang saja apa susahnya sih? Saya harus siap-siap untuk mata pelajaran pertama pak," jelas Alina masih mencoba untuk bersabar.
Kini Alendra mulai mendongak. Ia menatap Alina dengan tatapan yang susah diartikan.
"Oke, tolong bantu saya bawakan buku-buku itu," ujar Alendra membuat Alina terbengong.
Hanya 3 tumpukan buku dan Alendra memintanya untuk membawakan. Yang benar saja? Alina sudah tidak tahan rasanya dengan sikap aneh Alendra ini.
"Enggak, saya nggak mau. Lagian sekarang bapak nggak ada tuh ngajar di kelas saya," tolak Alina membuat Alendra tersenyum penuh kemenangan.
"Pagi ini saya gantikan pak Joko ngajar bahasa inggris di kelas kamu Alina," jelas Alendra membuat mata Alina seketika terbelalak kaget.
Bersamaan dengan suara-suara yang terdengar dari arah pintu luar.
"Yey...pak Endra!" seru salah satu siswi yang rupanya sedang menguping percakapan di antara Alina dan Alendra.
"Bener kan apa kata gue, Alina pasti cuma disuruh-suruh sama pak Endra," ujar salah satunya dengan bangga.
Ceklek.
Semua terperanjak kaget saat melihat pintu tiba-tiba terbuka dan menampilkan Alendra berdiri tegap dengan gagahnya.
"Kalian keliling lapangan 10 kali," ujar Alendra membuat beberapa siswi yang sengaja menguping ternganga seketika.
__ADS_1