
Bukan Alina namanya jika tidak mendapat ide-ide cemerlang untuk keluar dari ancaman Alendra. Gadis itu dengan sengaja berteriak agar para pengendara yang lewat berhenti dan segera menolongnya. Mendapat ancaman tidak masuk akal dari Alendra jelas ditolaknya. Enak saja Alendra jika berniat melakukan yang tidak-tidak dengannya dengan cara paksaan. Ingatkan Alina tujuannya saat ini hanya untuk membuat Alendra menyesali perkataannya bukan berati Alina mau saja diajak yang macam-macam.
"Tolong... Tolong!" teriak Alina dengan kencang.
Alendra terperangah. Dia tidak menyangka dengan reaksi Alina. Alendra sendiri saja belum melakukan apa-apa, ia baru mengancam namun gadis itu sudah kembali betingkah.
Benar dugaan Alina. Beberapa pengendara sengaja berhenti dan turun untuk menolongnya. Membuat Alendra mendesah kesal melihat beberapa orang sengaja menghampiri mobilnya sekarang.
Tok
Tok
Tok
"Pak buka pak."
"Buka woy... Keluar."
Alina tersenyum penuh dengan kemenangan. Ia langsung berakting seakan ingin diapa-apakan oleh Alendra. Jaket Ben yang ia kenalan sengaja ia buka sedikit dibagian pundaknya tujuannya jelas agar orang-orang itu percaya.
Klek
Pintu mobil Alendra terbuka. Masih dengan tampang datar dan santainya Alendra sengaja turun dari mobilnya. Sementara Alina memang sudah turun sedari tadi sejal pintu mobil baru saja terbuka.
"Mbak... Tidak papa?" tanya seorang bapak yang dijawab Alina dengan anggukan kepala.
"Saya hampir saja direnggut kesuciannya sama dia pak," balas Alina seketika membuat Alendra bredecak.
Isrti kecilnya bukan hanya berubah menjadi gadis yang bar-bar, namun seperti ular berbisa setiap kata-katanya bisa meracuni orang yang sengaja dia hasut.
Namun lihat Alendra masih saja tenang menghadapi situasi semacam ini. Membuat Alina jadi geram sendiri rasanya. Terlebih bapak-bapak yang kini berniat menolongnya malah menatap mobil mewah Alendra dengan tatapan kagum.
"Pak. Tolong saya pak, hajar saja orang itu biar saya bisa tenang," ujar Alina membuat salah satu bapak-bapak yang berada di sana mengangguk.
Beliau sudah siap untuk memukul Alendra hanya karena perintah Alina. Namun salah satu bapak tua itu lekas mencegahnya.
"Tunggu. Jangan main hakim sendiri, biarkan kita bawa kepihak yang berwajib saja," usul salah satu dari mereka.
Detik berikutnya Alendra yang sedari tadi masih memilih untuk dian tertawa meremehkan. Ia menatap bapak-bapak itu dengan tatapan yang susah diartikan.
__ADS_1
"Jangan sampai saya yang buat anda terkurung dijeruji besi. Lihat ini, apa yang gadis itu katakan tidak benar," tangannya mengambil sesuatu di dalam mobilnya.
Setelahnya ia berikan kepada bapak-bapak yang kini sedang saling tatap dengan rasa malu.
"Saya korban di sini, istri saya telah berselingkuh dan dia tidak terima karena saya pergoki," ujar Alendra membuat mata Alina seketika membola.
Ini kenapa jadi Alina yang salah? Bukannya ia terlihat seperti korban kenakalan Alendra.
"Maaf mas, kita tidak tahu."
"Pantes sih pakaiannya saja seperti itu."
Bapak-bapak tersebut pergi setelah meminta maaf dan mengomentari cara berpakaian Alina.
Melihat apa yang terjadi membuat Alina bingung sendiri. Ia menghampiri Alendra dan menatapnya nyalang.
"Maksud lo apa gue selingkuh? Hah?" tanya Alina menahan kesal.
Sudut bibir Alendra tertarik ke atas. Wajahnya sengaja ia condongkan agar sejajar dengan wajah Alina. Tatapan matanya menatap disekitar wajah cantik di depannya.
"Licik juga cara kamu sekarang Alin," ujar Alendra menarik Alina untuk kembali masuk ke dalam mobilnya.
Dua buah buku pernikahan mereka yang membuat bapak-bapak tadi langsung pergi dan meminta maaf. Malah Alendra bisa membalas fitnahan dari Alina tadi dengan mengatakan diselingkuhi. Impas untuk malam ini di antara mereka.
"Sekali lagi kamu bertingkah, aku nggak akan pernah sega-segan Alin," tekan Alendra melirik Alina tajam sebelum kembali melajukan mobilnya.
Tidak lagi berniat untuk protes ataupun berontak. Karena sekarang Alina kalah, ia tidak menyangka saja jika Alendra akan membawa buku pernikahan mereka. Ada saja otak Alendra yang encer itu sampai membuat Alina yang terkesan bersalah, baik di hadapannya atau pun dihadapan orang lain.
Setelah drama tadi malam yang cukup panjang sampai membuat keduanya pulang hampir pagi. Kini baik Alina atau pun Alendra sama-sama dihadapkan dengan masalah yang sama.
Sudah pukul 12 malam dan kedua pasangan suami istri yang tidur terpisah itu belum juga terbangun. Alina tidak sekolah sementara Alendra tidak mengajar dan membuat para siswi di sekolah di landa rasa kegalauan.
"Euh... Jam bepara sih?" gumam Alina mulai membuka matanya secara perlahan.
Ia melirik jam yang ia kira sendiri masih jam 6 pagi. Matanya masih setengah terbuka, nayawanya juga masih setengah terkumpul sampai tidak bisa membedakan antara jam 12 siang dan 6 pagi.
Selesai dengan ritualnya di kamar mandi ia siap-siap seperti biasanya. Tidak lupa buku-buku yang ia perlukan hari ini ia taruh ke dalam tasnya. Baru setelah itu ia keluar kamar dan...
Betapa terkejutnya Alina melihat Alendra yang baru saja keluar dari kamar hanya menggunakan celana pendek saja. Alina rasa semakin hari Alendra semakin berani saja di depannya.
__ADS_1
"Ck, pakai nutup mata. Buka Alin," titah Alendra yang mendapat gelengan kepala dari Alina.
"Kamu tutup mata aku bakal buka celana ini," ancam Alendra membuat Alina mendesah kesal.
"Bisa nggak sih yang sportif nggak usah ngancam gitu, segala nggak pakai baju lagi bikin mata gue belekan aja," komentar Alina membuat Alendra terkekeh.
"Lepas seragam kamu," titah Alendra seketika membuat Alina ternganga.
"Lo," tunjuk Alina. "Pikiran lo kenapa me**m banget sih, masih pagi udah nyuruh gue lepas." Alina menggeleng dengan kedua tangannya sengaja ia silangkan pada bagian depannya.
"Enggak. Gue nggak mau, jangan mentang-mentang ini di apartemen lo bisa bertindak sesuka lo Ale," tolak Alina dengan tegas.
Namun jawaban Alina yang menurut Alendra terlampau jauh dan tidak nyambung sama sekali membuatnya tertawa. Menurutnya Alina yang sekarang benar-benar sudah tidak polos lagi dengan jawaban seperti tadi.
Melihat momen yang pas untuk mengerjai gadis di depannya itu membuat Alendra sengaja melangkah mendekat. Alina reflek mundur, ia siap menendang bagian terpenting Alendra jika saja Alendra bertindak lebih.
"Jangan maju lagi," titah Alina membuat Alendra semakin terkekeh.
"Ale, gue bilang jangan maju lagi kalau lo masih mau aman," lanjut Alina berniat untuk mengancam Alendra. Namun ancaman itu seakan tidak ada artinya bagi Alendra.
"Kenapa Alin? Aku hanya ingin memberitahumu sesuatu," balas Alendra membuat Alina menggeleng.
Sejak kejadian ciuman di mobil Alendra jadi sedikit aneh. Sedikit-sedikit mengatakan atau bertindak yang mengarah kehal dewasa. Sering sekali memojokan Alina dan mengambil kesempatan.
"Ini penting untuk kamu Alin," ujar Alendra sengaja membuat Alina semakin takut.
"Lo maju lagi, gue lompat," ancam Alina seketika membuat tawa Alendra meledak.
"Silahkan," titah Alendra yang diangguki terpaksa oleh Alina. "Oke, lihat saja. Kalau gue jadi hantu lo orang pertama yang hidupnya nggak bakal tenang," ancam Alina lagi.
Ia semakin melangkah ke samping dimana letak jendela apartemen langsung menuju ke jalanan di bawah sana.
Sretttt
Dengan sangat cepat Alendra berhasil mengurung dan membawa Alina ke dalam kukungannya. Untuk beberapa kali hal ini kembali terjadi. Alina dibuat panas dingin oleh tindakan Alendra itu. Namun logikanya menyuruhnya untuk berontak.
"Lepas Ale, gue belum mau mati dan gue sekarang mau sekolah!" berontak Alina membuat Alendra semakin menekan tubuh gadis itu.
Deru napas Alendra mulai dapat Alina rasakan disekitar permukaan kulitnya. Bersamaan dengan bisikan dari Alendra yang membuat Alina benar-benar ingin terjun sekarang juga.
__ADS_1
"Jam 12 siang buat apa berangakat sekolah Alina?"