
Duduk sendiri di kantin barat untuk menghindari aroma-aroma tidak enak dari parfum yang teman-teman sekolahnya pakai ialah cara tepat bagi Alina saat ini. Ia duduk seraya memikirkan kata-kata Widya tadi.
"Aneh banget gila," liirhnya menggeleng.
Tangannya mengetik sesuatu yang akan dia kirimkan kepada Boy. Sudah cukup lama memang Alina tidak bertemu Boy, padahal tanpa adanya Alendra sekarang di rumah harusnya Alina bisa lebih bebas lagi, namun sepertinya permasalahan yang terjadi dengan dirinya, baik masalah Alendra dengannya, atau masalah dengan Widya membuat Alina lupa.
"Bu, ini ya?" Alina memberi uang lembaran 20 ribu. Lalu segera pergi dari kantin.
Perutnya kembali terasa mual. Iya sudah tidak tahan terus berada di kantin barat. Kedatangan dua orang siswa tadi membuat Alina tiba-tiba kembali merasa mual.
"Gue kenapa sih?" herannya pada diri sendiri.
Sampai dimana baru setengah perjalanan untuk kembali ke kelasnya. Aurel dan gengnya terlihat sedang menghampirinya. Untuk beberapa hari ini Aurel memang tidak banyak tingkah seperti biasanya. Ia tidak terlalu mencari masalah seperti yang sudah-sudah.
"Alin!" panggil Aurel cukup keras.
Langkah Alina terhenti. Ia menoleh dan menatap Aurel seakan berkata 'apa'.
"Kalau lo mau Diko, ambil," ujar Aurel seketika membuat Alina mengernyit.
"Gue tahu lo cukup dekat sama dia, gue juga nggak nyangka cewek kayak lo kenapa bisa kenal sama dia."
"Ck, jangan sampai lo didapat dari aplikasi-aplikasi date tidak jelas itu, but... It's okay. Nggak masalah Lin, lo emang lebih pantas sama Diko." Aurel tersenyum begitu manis di hadapannya. Sementara Alina masih diam malas menanggapi.
"Lo tahu karena apa?" Aurel sedikit mencondongkan wajahnya.
"Karena pak Endra nggak pantas sama bi*ch kayak lo," bisik Aurel seketika membuat Alina merasa tersulut emosi.
Namun ia masih mencoba untuk tetap tenang, manghadapi Aurel dan gengnya seperti ini tidak akan membuatnya bertindak gegabah. Harus dengan cara yang elegan.
"Oh ya?" Alina tersenyum mengejek.
"Jangan sampai ada berita tentang gue sama pak Endra yang bisa bikin lo gila nantinya Aurel," bisik Alina tersenyum meremehkan.
"Apa maksud lo?" tanya Aurel tersulut emosi dengan kata-kata Alina.
Rupanya Alina berhasil membalikkan keadaan. Harusnya tadi dia yang emosi terus dipancing dengan kata-kata Aurel tapu lihatlah sekarang. Dada Aurel sudah naik turun tidak beraturan.
__ADS_1
"Nggak ada, gue cuma ingetin lo aja. Berhenti cari masalah sama gue, kalau lo nggak mau gila beneran nantinya," peringat Alina berlalu pergi.
"Rel, kok lo diam aja sih?"
"Balas si Alina Rel, gila aja dia berani banget sama lo," ujar teman-temannya.
Aurel tidak menanggapi. Karena dia tidak mau mendapat skors kembali. Jika dia bertindak nekat yang ada Aurel bisa terancam dikeluarkan dari sekolah.
"Lo semua beg* apa, gue harus main dengan cara halus buat jatuhin dia," balas Aurel diangguki teman-temannya.
"Si cupu," ujar Loli diangguki oleh Aurel. "Itu maksud gue," gumamnya tersenyum licik.
Seharian ini Alina tidak benar-benar bisa berkonsentrasi karena rasa mual yang terus mendesak keluar. Dikeluarin juga tidak ada apa-apanya. Hanya rasa saja.
"Neng Alin kayak capek banget?" tanya mang Udin melirik Alina dari kaca.
"Nggak tahu mang, nggak enak badan kayaknya," ujar Alina seraya bersandar pasrah.
Menghadapi kelakuan teman-temannya dengan keadaan seperti itu tadi cukup menguras tenaga Alina. Hebatnya di depan teman-temannya ia sama sekali tidak menunjukan sisi kelemahannya. Alina terus berani melawan dengan rasa tenang tadi.
"Pak ke apotek sebentar ya? Mau beli obat," beritahu Alina diangguki oleh mang Udin dengan senyum-senyum.
"Ngaco deh mang Udin, nggak lah, buat apa? Aneh aja," balas Alina sedikit ragu.
Tidak mungkin rasanya jika ia sampai memerlukan benda untuk mengecek kehamilan. Dia baru saja melakukan beberapa hari lalu bersama dengan Alendra. Dan untuk pertama kalinya juga baru dia lakukan sekitar 2 minggu yang lalu, rasanya tidak akan mungkin Alina akan langsung hamil ketika melakukan pertama kalinya itu. Setidaknya itu yang Alina pikirkan saat ini untuk menenangkan dirinya sendiri.
Meski sebenarnya, ia sendiri merasa aneh, tadi pagi ketika berangkat sekolah ia masih sehat-sehat saja, tidak ada tanda atau gejala seperti orang yang sakit. Namun ketika sudah sampai di sekolah semua berubah, perutnya sama sekali tidak bisa diajak bekerja sama untuk tetap tenang.
Setelah membeli obat dari apotek. Alina langsung menuju ke rumah ibu martuanya. Ia ingin segera sampai untuk istirahat. Namun ketika mobil Alina mulai mendekati gerbang rumah. Terlihat mobil yang terparkir di depannya mobil itu seperti tidak asing bagi Alina. Ia sering melihatnya namun entah dimana dia lupa.
Baru setelah beberapa siswi dengan seragam yang sama keluar. Alina dibuat terkejut setengah mati. Aurel dan teman-temannya datang mengunjungi rumahnya. Jelas tujuan mereka sudah pasti Alendra.
"Mang stop dulu di sini," titah Alina diangguki oleh mang Udin.
"Itu temen-temen neng Alin di sekolah?" tanya mang Udin dijawab Alina dengan gelengan kepalanya.
"Bukan, dia musuh saya," balas Alina sekenanya.
__ADS_1
Mang Udin tampak terkejut. Sebelum akhirnya tersenyum seraya menggeleng. "Ada-ada aja neng Alin."
"Widya?" heran Alina ketika Widya juga ikut turun dari mobil Aurel.
"****!" umpat Alina bertambah kesal bercampur kecewa dengan Widya.
Apa yang Widya lakukan kini benar-benar sudah keterlaluan. Jika Aurel sampai tahu dan datang ke rumah Alendra, sudah pasti itu karena Widya yang memberitahu.
Rasa lemas yang tadi dia rasakan seketika hilang. Ia ingin sekali masuk rasanya. Mereka kini sudah masuk ke dalam dan entah sedang melakukan apa di sana. Membuat Alina jadi gemas sendiri jika tidak melakukan sesuatu.
Drttt
Drtt
Drrt
Mama Intan menghubunginya. Alina tahu pasti mama Intan akan memberitahu jika ada Widya bersama dengan teman-temannya datang ke rumah.
Sayang kamu sudah sampai mana? Endra baru saja pulang dan sekarang ada teman-teman kamu bersama dengan Widya di rumah.
"What?" kaget Alina membaca pesan yang dikirmkan oleh mama Intan.
Jika benar Alendra sudah pulang, kedatangan Aurel dan teman-temannya kali ini sangat beruntung. Berpikir sejenak untuk melakukan sesuatu yang tepat Alina terdiam. Sebelum akhirnya menoleh ke arah mang Udin lagi.
"Mang, emangnya Ale udah pulang?" tanya Alina masih setengah tidak yakin.
"Ale? Ale siapa non?" tanya mang Udin bingung.
"Ck, Alendra maksud gue. Suami gue," jelas Alina seketika membuat mang Udin terkekeh.
"Ada-ada aja deh non Alin, ganteng gitu disamain kayak minuman seribuan," kepala mang Udin menggeleng setengah heran dengan nama yang Alina sebutkan untuk suaminya.
"Udah?" sekali lagi Alina bertanya karena tidak mendapat jawaban yang memuaskan dari mang Udin barusan.
"Saya kurang tahu non, tapi kata bapak sih memang minggu ini pulangnya," jelas mang Udin.
"Memangnya kenapa sih non? Kangen ya? Kalau begitu ayo kita masuk saja non," ajak mang Udin membuat Alina mencebik.
__ADS_1
"Masalahnya di dalam ada para bi*ch mang, nggak baik untuk hubungan suami istri," kesal Alina seraya mencari cara agar ia tetap bisa masuk tanpa ketahuan oleh Aurel berserta yang lain.