Fire On Fire

Fire On Fire
Salahkan Saja Minuman Itu


__ADS_3

Matanya sudah ia coba pejamkam sedari tadi. Namun pikirannya entah mengajaknya berkelana kemana. Ingatan dimana tadi tanpa sengaja ia melihat Mommy nya sedang berjalan dengan pamannya di bandara membuat Alina atau Jenni diliputi rasa gelisah. Ini perasaan murni dari seorang Jennifer yang memang tidak begitu dekat dengan kedua orang tuanya sedari kecil.


Kesuksesannya diawali dari usahanya sendiri. Kedua orang tuanya memang tinggal di luar negeri dan sangat jarang sekali mengunjunginya. Terakhir kematiannya saja seakan tidak berati apa-apa bagi kedua orang tuanya.


Kejutan yang tadi diberikan oleh mama Intan dan pak Dirta seakan tidak berarti apa-apa bagi Alina. Ia masih dapat tertawa bahagia dihadapan kedua orang tuanya dan orang tua Alendra, semua ia lakukan untuk mengharagai apa yang sudah mereka coba berikan untuknnya.


Membelikkan sebuah jet pribadi untuk keperluannya dan keperluan Alendra jelas bukan suatu barang yang biasa, namun melihat Mommy kandungnya sendiri tadi sangat berpengaruh sekali bagi pikiran Alina saat ini.


Diliriknya jam yang sudah menunjukkan pukul 1 malam lebih. Tangannya terulur meraih benda pipih yang berada tidak jauh darinya. Kontak Boy adalah tujuan utamanya.


Setelah berpikir cukup lama, akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi laki-laki yang sudah ia anggap seperti kakanya sendiri.


"Boy," lirih Alina membuat Boy yang tadi sedang tidur nyenyak seketika bangkit.


Suara Alina terdengar menyedihkan sekali, seperti sedang menahan tangis.


"Apa yang terjadi Jenni?" tanya Boy mulai khawatir.


"Bokap gue masih di sini?" tanya Alina membuat Boy yang berada di sebrang telepon mengernyit bingung.


"Ada apa? Bilang sama gue," tekan Boy mulai paham situasi.


"Lo tinggal jawab masih apa enggak?" tanya Alina sedikit memaksa.


Terdengar helaan napas dari Boy sebelum ia menjelaskan kepada Alina.


"Bokap lo udah balik ke jerman Jen, beliau datang cuma buat dateng ke makam lo," beritahu Boy seketika membuat air mata Alina berlinang.


"Jenni, Jennifer. Are you okay?" tanya Boy dari sebrang telepon.


"Ya, gue nggak papa kok," sambungan telepon mereka langsung Alina matikan.


Mendengar jika kedua orang tuanya datang sendiri-sendiri saja rasanya sudah membuatnya sakit hati. Ia memejamkan mata bersamaan dengan air mata yang semakin luruh.


Menjadi Jennifer yang dulu selalu dia rindukan, tetapi menjadi Alina sekarang juga membuatnya merasakan kasih sayang dari kedua orang tua.


Ting


Sebuah pesan yang Boy kirimkan masuk. Alina membaca tanpa berniat untuk membalasnya.


Beby Boy


Besok kita harus ketemu Jenn, sekali pun tembok besar dari suami lo begitu kokoh.


Sudut bibir Alina tertarik ke atas. Rupanya Boy berusaha untuk membuatnya tersenyum.


"Masih aja ngelawak lo," gumam Alina melemparkan ponsel di sebelahnya.

__ADS_1


Pagi ini Alina sudah siap dengan seragam sekolahnya lengkap. Ia masih berada di rumah martuanya atas permintaan beliau.


"Pagi," sapa Alina dengan ramah.


Mama Intan yang tadi sedang sibuk menyiapkan sarapan seketika menoleh. "Pagi sayang, cantik banget sih," puji mama Intan membuat Alina tersenyum.


"Endra udah bangun sayang?" tanya mama Intan seketika membuat Alina terdiam.


Setelah pulang dari bandara Alina tidak melihat keberadaan Alendra. Jangan untuk melihat, mengingatnya saja tidak. Pikirannya terlalu fokus karena melihat Mommy nya.


"Emmm kak Al-kak Endra tad-"


"Morning," sela Alendra seketika membuat Alina tersentak kaget.


Kesal dengan kedatangan Alendra yang tiba-tiba namun juga lega setidaknya ia tidak harus mencari alasan untuk menjawab pertanyaan dari mama Intan.


"Morning sayang. Sarapan dulu yuk semua, papa buruan pa!" seru mama Intan memanggil pak Dirta agar segera ikut bergabung di meja makan.


Alendra melirik Alina sekilas. Namun Alina acuh saja toh dia memang tidak tahu keberadaan Alendra tadi malam.


"Jangan pikir aku tidak tahu Alin apa yang tadi malam kamu lakukan," bisik Alendra seketika membuat Alina mengernyit.


Bingung saja dengan tingkah Alendra. Jika dia benar-benar tahu apa yang Alina lakukan. Kenapa nadanya terdengar seperti ancaman. Tidak ada rasa kasihan atau simpati terhadap orang yang menangis karena masalh hidup yang begitu rumit.


"Bagus kalau lo tahu, lebih baik malah," balas Alina sekenanya.


Seperti hari kemarin mang Udin kembali menjadi sopir keduanya. Alina meminta diturunkan di depan mini market. Beruntung selama perjalanan tidak terjadi apa-apa. Karena Alendra masih sibuk dengan tab di depannya.


"Makasih mang," ujar Alina seketika menyadarkan Alendra jika Alina turun di depan mini market.


Ingin marah namun tubuh gadis itu sudah menjauh. Ekor mata Alendra melirik sinis mang Udin.


"Jangan pernah turunkan dia di sini tanpa perintahku mang Udin," tekan Alendra membuat mang Udin mengangguk paham.


"Ma-maaf den Endra," balasnya sedikit gugup.


Langkahnya cukup pelan menuju ke pintu gerbang. Ia sedang memikirkan surat dari Alina yang masih ia simpan dan belum berniat untuk membukanya. Ada perasaan sedikit takut jika isi di dalam surat tersebut permintaan Alina yang nantinya akan memberatkannya. Namun rasa penasarannya jauh lebih tinggi dari pada rasa takut itu.


Masalahnya ialah. Jika surat tersebut ada kaitannya dengan Alendra, Alina yang sekarang harus berbuat apa?


"Ck, ribit imit hidip li Jen-Jen," decak Alina menendang-nendang udara dengan sepatunya.


Anak rambut yang tidak ikut serta diikat saling berterbangan di sekitar permukaan wajahnya. Sangat lucu dam cantik bagi siapa saja yang melihatnya saat ini. Seperti seseorang yang tiba-tiba datang dan memanggil namanya.


"Alina?" panggilnya seketika membuat Alina menoleh dan...


Deg

__ADS_1


Satu persatu orang yang menyakitinya di masa lalu mulai bermunculan dalam hidupnya. Diko datang menghampirinya dengan senyum khas dari cowok itu.


"Hei, gue baru ngeh kalau lo ternyata sekolah di sini juga," ujar Diko membuat Alina mengernyit.


"Temen gue juga sekolah di sini," lanjutnya menjelaskan.


Alina mengangguk paham. Ia tersenyum simpul seraya menepuk pundak Diko pelan. "Gue duluan ya?" pamitnya berlalu pergi.


Teman apa gebetan lo yang ke 100 Diko? Ujar Alina dalam hatinya.


"Tunggu Alina!" teriak Diko membuat Alina tersenyum tipis.


Benar dugaannya, semakin gadis itu bersikap cuek, semakin Diko merasa penasaran.


"Apa?" tanya Alina membuat Diko sedikit salah tingkah dibuatnya.


Giliran sama gue aja dulu nggak ada tuh lo cengengesan gini. Batinnya menatap Diko dengan kesal.


"Gu-gue boleh minta nomor ha-"


"Alin!" teriak Widya menghampiri Alina. Padahal gadis itu sudah masuk sejak tadi pagi.


Alina mendesah lega. Kesempatan itu ia gunakan untuk menghindari dari Diko. Semakin Alina jual mahal semakin Diko penasaran.


"Duluan ya?" pamitnya diiringi senyum miring.


"Ah..." umpat Diko menatap kepergian Alina.


Mata lo ngingetin dia. Batin Diko memejamkan mata sejenak.


"Makasih Wid lo udah datang," ujar Alina seketika membuat Widya mengangguk.


"A-aku nggak mau kamu terus berurusan sama Aurel Alin," jelasnya.


"Maksud lo, yang tadi itu pacar Aurel?" tanya Alina dan diangguki oleh Widya.


"Iya, aku udah beberapa kali lihat cowok itu nganterin Aurel berangkat, makanya aku takut kalau Aurel sampai liat kamu tadi lagi sama pacarnya," jelas Widya membuat otak Alina seketika berpikir keras.


"Lagian Alin kan udah punya pak ganteng," lanjut Widya berbisik.


"Widya," tekan Alina membuat Widya terkikik.


"Tenang aja Alin, rahasia aman," goda Widya setengah berbisik.


Alina menggelengkan kepalanya. Widya jadi bisa berubah gini pasti karena tertularan virus dari Alendra.


"Jangan kebanyakan minum ale-ale deh Wid," peringat Alina menyalahkan minuman yang sering Widya minum.

__ADS_1


__ADS_2