
Brak
Pintu taksi ia tutup dengan cukup kencang. Setelah melihat kedatangan orang yang langsung membuat Alina tidak biasa tenang tadi masuk.
"Sorry pak," ujar Alina menoleh ke arah sopir taksi tersebut.
Langkahnya cukup tergesa-gesa. Alina sudah tidak tenang setelah melihat kemunculan Pinka yang juga datang ke kelab malam yang sekarang sudah dimiliki oleh Ben. Terlebih Alendra baru saja datang, pikiran Alina sudah kemana-kemana dulu.
"Jangan sampai deh, enak aja si Ale nyuruh gue nunggiun dianya mau enak-enak," gumam Alina menggelengkan kepalanya.
Suara musik yang sudah cukup keras mulai terdengar di telinga. Langkah demi langkah membuat suara itu semakin terdengar dengan jelas. Tidak jauh darinya berdiri, terlihat Alendra dengan posisi yang masih berdiri. Namun sepertinya Pinka sengaja mengurung Alendra untuk tidak pergi.
Lihatlah Pinka sekarang yang sedang melepas blazer yang tadi dikenakan olehnya. Meninggalkan gaun seksi dan sangat minim pada tubuh gadis itu.
"Ck, sampah banget," decak Alina masih mengamati apa yang akan Pinka lakukan setelahnya.
Tubuh Pinka sengaja ia goyang-goyangkan pelan di depan tubuh Alendra. Persis seperti ular yang sedang kepanasan karena tidak disentuh oleh ular jantan.
"Come baby," ujar Pinka masih mencoba merayu Alendra.
Tatapan mata Alendra menatap ke arah Pinka. Namun sebenarnya ia tidak minat sekali dengan rayuan yang sudah Pinka lakukan.
"Pinka, no!" tekan Alendra membuat Pinka tersenyum tipis.
"Ini sangat panas Ndra, aku ingin kamu," ujar Pinka mengitari tubuh Alendra. Bagian dadanya sengaja sekali ia tempelkan pada belakang tubuh Alendra.
Tepat di depan Alendra. Pinka berhenti dan berdiri. Bibir seksinya membentuk cium dengan sangat sensual, tangannya bermain kecil pada dada bidang milik Alendra, jemari itu mulai naik sampai ke dagu dan berakhir di bibir seksi laki-laki itu.
"Aku ingin kamu malam ini," ujar Pinka tersenyum nakal.
"Woah... Bungkus bang**t!" teriak Ben yang malah tidak tahan sendiri melihat gaya sensu*l dari Pinka untuk Alendra.
"Hmm?" rayu Pink mengedipkan matanya.
"Fine, gue juga bisa," gumam Alina menaruh wine yang baru saja diteguknya.
Kepalang tanggung Alina tadi panas sendiri melihat godaan Pinka untuk Alendra. Namun ia malas untuk melabrak langsung, lebih baik ia membalas perbuatan mereka dengan caranya.
Tubuh Alina mulai meliuk-liuk sesuai musik DJ yang dimainkan. Minuman yang tadi diteguknya sudah mulai berefek. Setengah sadar Alina mulai berjoget dengan gaya yang membuat beberapa pengunjung menatapnya damba.
Tindakan Alina langsung menjadi sorotan para pengunjung, bukan hanya laki-laki saja yang menatapnya tidak percaya, beberapa wanita pun demikian, terlebih Alina yang masih mengenakan seragam sekolahnya. Itu membuat daya tarik sendiri bagi laki-laki penjelajah wanita.
__ADS_1
"Busett... Seksi dance."
"Liar sekali tariannya."
"Anak kecil nyasar ini kayaknya," ujar salah satu pengunjung wanita tidak suka dengan adanya Alina.
Bayangkan saja kini pasangannya sedang menatap damba kepada gadis kecil itu.
Tidak terkecuali Alendra dan kedua sahabatnya yang mulai penasaran dengan kejadian yang ada sekarang.
"Sayang." Pinka meraih dagu Alendra untuk tetap menatapnya.
"Kita ke dalam saja yuk," khawatir Pinka jika Alendra akan segera pergi.
"Biar gue lihat." Ben beranjak untuk melihat.
Itu kelab malamnya. Kalau sampai ada yang berbuat curang dan merugikkan usahanya jelas ia harus segera bertindak agar kejadian itu tidak sampai terjadi. Namun kepala Ben menggeleng bersamaan dengan tatapan matanya menatap Alina yang sedang berjoget sangat menggoda.
Perlahan langkah Ben mundur. Masih dengan tatapan matanya menatap ke arah Alina yang terlihat sangat menggoda malam ini dengan tarian fersi Alina sendiri.
"Verry hot," gumam Ben kembali ke tempatnya.
"Ndra lo harus lihat," ujar Ben membuat kening Alendra berkerut.
"Ini penting Pin, untuk dia," jelas Ben terkekeh kecil.
Vinsan ikut beranjak. Ia menatap mereka secara bergantian.
"Bayi kecilmu yang sedang membuat ulah," jelas Vinsan membuat Alendra semakin bingung.
Wajah bingung Alendra malah membuat Vinsan ingin menonjok sekarang juga.
"Salah satu murid lo yang sedang-"
Baru setelah itu Alendra mengeraskan rahangnya. Tanpa Vinsan melanjutkan ucapannya pun dia sudah tahu siapa yang dimaksud mereka. Dan bodohnya Alendra sampai melupakan keberadaan Alina yang masih menungguinya di depan tadi.
"S**t," umpat Alendra berlalu pergi.
"Sayang, Endra....!" panggil Pinka tidak dipedulikkan lagi oleh Alendra.
Langkah besar Alendra membuat beberapa pengunjung menyisi. Ia melihat Alina yang sedang berjoget seperti orang tidak sadar. Tetapi sangat disayangkan gerakan tarian Alina begitu menggoda sangat indah sampai sayang untuk dilewatkan bagi laki-laki nakal yang berada di sana.
__ADS_1
"Berhenti Alin!" tegas Alendra membuat Alina menghentikkan tariannya.
Ia menatap Alendra dengan sudut bibir tertarik ke atas.
"You come baby," ujar Alina lalu tertawa.
Melihat tingkah Alina saat ini seketika membuat Alendra semakin panas. Tanpa lama lagi ia menggendong dan membawa Alina pergi dari tempat itu.
Beberapa pengunjung tampak kecewa melihat kepergian Alina yang dibawa oleh laki-laki tampan yang baru saja datang.
"Lepas si**lan," berontak Alina seraya memejamkan matanya.
"Lo tahu nggak sih? Gue tuh banyak banget masalah Ale. Lo malah nambah-nambahin. Nggak berguna banget lo jadi suami."
Ingin marah dengan kata-kata Alina barusan. Tetapi tetapi Alendra bukan laki-laki bodoh yang memarahi gadis yang sedang mabuk. Tidak ada gunanya saja.
"Gue pusing banget mikirin orang tua gue Ale, mommy sama dad mau pisah."
Kali ini kata-kata Alina berhasil membuat Alendra melirik ke arah wajah gadis itu. Namun detik berikutnya ia menggelengkan kepalanya mendengar celotehan Alina yang ia anggap sebagai lelucon. Terkadang orang sedang mabuk memang suka berbicara ngelantur.
Bruk
Alendra mendudukan Alina. Lalu ia ikut masuk ke dalam taksi yang masih setia menunggu sedari tadi. Ingin protes sebenarnya sopir taksi yang sedari tadi menunggu keduanya. Lalu datang-datang si gadis sudah mabuk sampai harus digendong. Namun setelah Alendra meminta nomor rekeningnya sang sopir mengurungkan niatnya. Sudah sangat jelas laki-laki itu penuh dengan uang di dalam hidupnya.
"Ale, lo denger nggak sih? Gue mau ngomong penting sama lo."
Alina berucap dengan mata tertutup. Gadis itu berbaring dengan paha Alendra sebagai alas bantal. Meski marah tetapi Alendra coba tahan.
"Gue bukan Alina. Tapi gue-"
Mendengar celotehan Alina yang semakin tidak jelas membuat Alendra menahan senyum. Diusapnya lembut rambut dan bagian pelipis Alina.
"Gue bisa lakukin yang lebih panas dari tante itu," ujar Alina lagi.
"Kamu cukup diam dan sekarang tidur Alina," ujar Alendra membuat sudut bibir Alina melengkung ke atas membentuk senyum.
Untuk yang pertama kalinya. Alendra dibuat terpukau dengan senyuman Alina. Meski mata gadis itu terpejam namun senyuman itu terlihat begitu indah.
"Enggak mau! Gue pengen nendang tongkat sakti lo biar ma**us," balas Alina seketika membuat rahang Alendra kembali mengeras. Niatanya untuk menyingkirkan kepala Alina ia urungkan saat melihat wajah teduh gadis itu.
Alina benar-benar tertidur setelah mengumpatnya dalam keadaan mabuk.
__ADS_1
"Ck, gadis nakal," decak Alendra menatap wajah cantik Alina yang terlihat meneduhkan.