
Langkahnya cukup pelan masuk ke rumah besar milik keluarga suaminya. Tadi mama Intan memang sudah menyuruh Alina untuk pulang ke rumahnya. Kata beliau ada kejutan untuk gadis itu. Entah apa Alina juga tidak tahu. Setahunya, tanggal lahir Alina yang asli juga masih lama, sedikit demi sedikit Alina yang sekarang sudah mencari tahu.
Perasaanya kini sudah cukup lega setelah tadi datang ke makam Alina dengan tubuh aslinya. Ia mencurahkan semua masalah yang menurutnya cukup pelik dan rumit. Ia juga berdoa untuk Alina yang asli, dan berterimakasih karena sudah memberikan kesempatan untuk tetap hidup di dunia dengan tubuh yang Alina miliki. Satu hal yang membuat Alina semakin yakin sekarang. Jika ia akan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi dengannya kepada Alendra. Entah seperti apa nanti tanggapan Alendra. Ia tidak akan peduli, karena setelah itu Alina berniat untuk membuka isi surat yang sudah cukup lama dia simpan. Alina akan membukanya setelah ia mengatakan kenyataan yang sesungguhnya dengan Alendra.
"Sore ma," sapa Alina membuat mama Intan menoleh.
"Aduh... Mantu mama baru pulang, kata Endra tadi kamu ke rumah temen dulu nak?" tanya mama Intan yang diangguki oleh Alina.
Tumben si Ale baik, batin Alina dalam hatinya.
"Iya, jadi kak Endra, Alin suruh pulang duluan deh," jelas Alina diangguki oleh mama Intan.
"Nggak papa sayang, Endra tadi ke kantor bentar dari sekolah. Sekarang ayo kamu ikut mama," ajak mama Intan membuat Alina menatap mama Intan penasaran.
"Ada apa sih ma? Katanya kejutan? Masih lama kan ultah Alin?" tanya Alina membuat mama Intan tersenyum.
"Emang kasih kejutannya harus pas ulang tahun aja? Nggak dong, buat mantu mama kapanpun," ujar beliau membuat Alina tersenyum hangat.
Berada di tengah-tengah keluarga Alina dan Alendra sangat menyenangkan, Alina yang biasanya tidak mendapat kasih sayang dari orang tua kini bisa merasakannya.
Tepat disaat mama Intan membawanya ke dapur. Alina terkejut melihat adanya Ibu Widya-bu Adis yang tengah memasak bersama dengan asisten rumah tangga lainnya. Senyum Alina seketika terbit saat melihat ibu sahabatnya sudah bisa bekerja dengan ibu martuanya. Meski hubungannya dengan Widya bisa dikatakan sedang tidak baik-baik saja, namun Alina tidak peduli akan hal itu. Baginya bisa membantu orang yang sedang membutuhkan jauh lebih penting.
"Bu," sapa Alina membuat bu Adis menoleh.
Beliau tampak tersenyum tipis dan menghampiri Alina dan juga mama Intan.
"Ibu sudah mulai kerja?" tanya Alina setelah menyalami tangan bu Adis.
"Iya non Alin-"
"Panggil Alin saja atau senyaman ibu, tapi jangan non ya?" pinta Alina dan diangguki oleh bu Adis pelan.
__ADS_1
"Iya bu, Alin kan juga temen anak ibu," lanjut mama Intan.
Tidak lama setelah itu. Alendra tiba-tiba datang dan menghampiri Alina yang masih berada di dapur bersama dengan mama Intan.
"Lho nak, itu Endra sudah pulang," beritahu mama Intan membuat Alina menoleh.
Benar saja, Alendra berdiri dengan rambut sedikit acak-acakan juga kemeja yang sudah dilipat sampai batas siku, namun ada yang berbeda dengan tatapan Alendra saat ini. Tidak ada kemarahan meski Alina kembali pergi tanpa ijin tadi.
"Kak Endra baru pulang?" Alina melangkah dan mendekati Alendra.
"Iya sayang, ayo kita ke atas," balas Alendra sengaja memanfaatkan kesempatan.
Sebelum kepergian keduanya. Alendra sempatkan untuk mengecup singkat pipi gadis itu. Di depan mama Intan juga para asistem rumah tangga yang berada di sana. Termasuk ibu Adis.
"Aduh... Kalian ini, cepat sana mandi setelah itu siap-siap untuk makan malam," titah mama Intan malu sendiri dengan tingkah anak dan menantunya.
Alina mengangguk malu. Meski mereka suami istri, tidak seharusnya Alendra melakukan hal itu di depan banyak orang, seolah-olah mereka pasangan yang sangat bahagia tanpa masalah.
"Iya ma, kita ke atas dulu," ujarnya menatap Alendra yang kini juga sedang menatapnya penuh arti.
Tidak menolak apa yang Alendra lakukan. Alina menuruti permainan Alendra, ia menggerakan kaki dan juga bagian tubuh lainnya sesuai arahan dari Alendra. Jika hanya berdansa Alina yang sekarang ahlinya.
Sorot mata keduanya saling pandang meski diam seribu bahasa. Gerakan dari tubuh Alina atau pun Alendra seakan sedang mengatakan sesuatu. Mereka berdansa dengan diam, namun sorot mata keduanya jelas saling berbicara.
"Kamu sekarang pintar berdansa Alin," puji Alendra terdengar seperti memojokkan.
Wajahnya tetap tenang, sudut bibir Alina sedikit tertarik ke atas. "Saya yang sekarang bisa melakukan apapun pak Endra," balasnya sarkas dan penuh dengan tujuan.
Kali ini membuat Alendra terkekeh. Ia melepaskan jemari Alina dari tangannya. Lalu kembali menarik tubuh ramping gadis itu, hal itu tidak luput dari gerakan Alina yang terlihat sangat apik dan tertata sekali. Entah kenapa semakin Alendra tertarik, semakin ia merasa Alina sangat berbeda.
"Apa kamu juga bisa membuat saya senang Alin?" bisik Alendra tiba-tiba.
__ADS_1
Alina dengan gerakan dansanya mencoba untuk tetap bersikap tenang, meski ia tahu Alendra kini sedang menjebaknya dengan kata-kata yang menjerumus ke hal intim untuk hubungan mereka.
"Bisa saja," balas Alina semakin membuat Alendra tertarik dan tertantang.
Jemari Alendra yang berada tepat di depan pinggang gadis itu bermain kecil ke depan bagian perutnya. Ia sedikit mengelus dibagian itu lalu kembali membuat gerakkan agar Alina memutar tubuhnya.
"Ayo lakukan sekarang, buat saya senang karenamu Alin," ujar Alendra membuat napas Alina sedikit tersendat.
"Jangan buru-buru pak Endra, kita bisa-"
Untuk yang kesekian kalinya. Alina dibuat terkejut dengan tindakan Alendra yang tiba-tiba menyumpal bibirnya dengan bibir Alendra. Ia tidak sempat menolak atau menghindar karena serangan tiba-tiba dari Alendra. Bedanya kini Alendra seperti tidak memaksa, karena setelah itu ia melepaskan dan menatap Alina dengan begitu lekat.
"Kamu berbeda Alin," ujar Alendra sengaja memancing.
Dan benar saja. Kesempatan itu jelas akan Alina gunakan untuk mengungkapkan siapa jati dirinya sebenarnya. Tujuan keduanya dari awal sebenarnya sama. Hanya saja dibikin fersi berbeda oleh Alendra. Dengan sedikit tarian dansa agar lebih tenang.
"Jelas pak Endra, karena saya bukan Alina Ghaveza, tetapi Jennifer Mauren gadis yang juga mengalami kecelakaan di waktu yang sama dengan istri anda," jelas Alina seketika membuat Alendra merasa tidak nyaman pada bagian dadanya.
"Ck, apa kamu akan bilang jika kalian bertukar tubuh?" tanya Alendra sedikit menyangkal. Meski kini detak jantungnya semakin terpompa dengan sangat cepat mendengar penuturan Alina.
"Kenyataannya memang seperti itu pak Endra, jiwa kami tertukar dan istri anda tiada bersama tubuh saya," jelas Alina berani menatap lekat manik mata Alendra.
Deg
Alendra melepaskan tubuh Alina. Sorot matanya begitu tajam menatap manik mata gadis itu. Seakan mencari kebohongan dari kata-kata yang Alina ucapkan barusan, namun yang Alendra temukan ialah kebenaran yang dikatakan oleh Alina. Sama sekali tidak ada kebohongan di dalamnya.
"Sa-saya bukan Alina istri anda, tapi Jenni-"
Melihat reaksi Alendra saat ini seketika membuat tubuh Alina terasa kaku. Bukannya mendapat penolakan atau semacamnya Alendra justru menarik Alina ke dalam dekapannya. Ia juga kembali mencium lembut bibir gadis itu, seakan tidak peduli siapa pemilik tubuh gadis yang menjadi istrinya.
Deg
__ADS_1
Widya yang baru saja datang dan berniat untuk menjemput ibunya berdiri tepat di depan rumah setelah menaruh sepeda yang dibawanya. Di bawah sana tanpa sengaja Widya melihat ke arah jendela dimana letak kamar Alendra dan Alina sekarang. Ia melihat jelas bagaimana ciuman panas itu kembali terjadi di antara sahabat dan guru tampannya, di atas sana di kamar yang seketika membuat dada Widya terasa aneh.
"Kenapa? Kenapa harus selalu kamu Alin?" lirihnya tersenyum getir.