Fire On Fire

Fire On Fire
Imajinasi Terbuyarkan


__ADS_3

Jemarinya terus ia mainkan. Bayangan dimana tadi Alina sedang dicium paksa oleh gurunya sendiri masih berputar jelas di otaknya. Widya menyaksikan bagaimana kejadian dewasa itu berlangsung cukup lama dan cukup panas sampai ruangan Alendra sedikit berantakan.


Bagi Widya, apa yang dilakukan oleh Alina dan Alendra adalah sesuatu yang sangat sakral. Ia belum pernah pacaran apa lagi melihat hal semacam itu secara langsung. Ketika di dalam sebuah film saja terkadang sengaja Widya tutup dengan matanya.


"Heh... Gimana tadi?" Aurel tiba-tiba datang bersama dengan teman-temannya.


Widya mendadak gugup. Ia menunduk dan menggeleng pelan. "Ma-maaf Aurel, ta-tadi pak Endra tidak ada di ruangannya," dustanya demi kebaikan dirinya dan juga Alina.


Tidak mungkin dia mengatakan kejadian yang sebenarnya. Melihat betapa panasnya ciuman di antara Alina dan guru tampan tersebut saja membuat tubuhnya ikut bergetar hebat. Efeknya cukup terasa pada gadis lugu tersebut.


Brak


"Beg*, harusnya lo cari pak Endra sampai ketemu. Ingat ya gue nggak akan lepasin lo sebelum pak Endra benci sama Alina," ancam Aurel berlalu pergi meninggalkan Widya.


Tangannya meremas rok yang dikenakannya. Widya hanya bisa pasrah dengan ancaman Aurel. Karena jika tidak menurut. Ibunya yang baru beberapa hari ini kerja di rumah Aurel sengaja akan diancam untuk diberhentikkan. Tidak ada cara lain memang selain menuruti perintah Aurel meski harus mengorbankan persahabatan. Ayahnya juga sakit-sakittan sudah hampir 2 tahun.


Alina yang berniat untuk masuk ke kelasnya menemui Widya tanpa sengaja berpapasan dengan Aurel. Jika dilihat-lihat cara jalan Aurel biasa saja tidak seperti apa yang tadi Bu Tina katakan tadi. Jika benar kakinya lebam maka Aurel akan berjalan pincang, atau setidaknya tidak akan berjalan sampai ke kelasnya.


"Nggak pincang lo," sindir Alina tetap melangkah maju.


Langkah Aurel berhenti, tangannya sudah terkepal untuk membalas ucapan sinis dari Alina tadi. Namun karena melihat keberadaan Gevan yang sedang berjalan menuju ke arahnya membuatnya seketika mengurungkan niatnya.


"Sabar Rel, ada Gevan," beritahu salah satu temannya.


"I know," balasnya tersenyum miring.


Setelah punggung Alina sudah tidak terlihat lagi. Dengan sengaja Aurel berjalan layaknya seseorang yang sedang kesakitan dibagian kakinya. Ia berusaha mendapat simpati dari Gevan yang kini hampir melewatinya.


"Duh... Alina jahat banget sih sampai bikin kaki lo lebam gini," ujar salah satu teman Aurel agar Gevan mendengar.


"Nggak papa kok gaes, gue juga nggak nyangka Alina berubah jadi buas banget gitu," ujar Aurel melirik ke arah Gevan, tujuannya ingin tahu bagaimana reaksi Gevan.


Dan benar saja. Gevan berhenti. Melirik ke arah Aurel lalu kakinya. Namun setelah itu kembali melanjutkan jalannya.


Sampai di kelas. Alina langsung menemui Widya di bangkunya. Tidak peduli Widya akan kembali menghindarinya lagi.

__ADS_1


"Pulang sekolah. Gue tunggu di kafe dekat sekolah," ujar Alina menatap Widya yang tidak bergeming sama sekali.


Melihat sikap Widya membuat Alina mendesah kesal. Ia kembali ke bangkunya dengan perasaan dongkol dan juga kasihan dengan Widya.


Seperti yang sudah ia katakan tadi. Sepulang sekolah Alina langsung menuju ke kafe paling dekat dengan sekolah. Sengaja ia berjalan kaki untuk sampai di kafe tersebut agar Alendra tidak tahu keberadaannya.


Cukup lama ia menunggu kedatangan Widya sampai hampir saja ia memutuskan untuk pergi mengingat tanggapan Widya tadi yang memang tidak bereaksi apa-apa. Namun disaat ia mulai beranjak Widya datang tepat dihadapannya.


"Duduk Wid," titah Alina mengurungkan niatnya dan kembali duduk.


Tidak ada jawaban dari Widya. Namun ia menuruti apa yang Alina katakan.


"Mau minum apa?" tawar Alina yang mendapat gelengan kepala dari Widya. "Tidak usah Alin," balas Widya membuat Alina menghela napas cukup dalam.


"Gimana ya ngomongnya? Gue berasa ngomong sama orang asing kalau kaya gin-"


"Katakan saja Alin apa yang akan kamu katakan. Aku tidak punya banyak waktu," sela Widya membuat Alina mengangguk.


"Lo kenapa berubah?" tanya Alina pada akhirnya.


"Aku tidak berubah," balas Widya membuat Alina terkekeh.


"Kalau begitu kenapa lo ngehindar dari gue Wid? Gue ada salah sama lo? Bilang. Atau karena Gevan?" tebak Alina membuat Widya buru-buru menggeleng.


"Bukan, nggak ada sangkut pautnya sama kak Gevan Alin," balas Widya masih bertele-tele.


"Ya terus kenapa? Gue salah apa sama lo Wid? Ngomong bisa kan?" Alina mulai kesal dengan Widya yang tidak juga langsung berterus terang dimana letak kesalahannya.


"Kamu nggak akan ngerti," ujar Widya membuat Alina menghela napas dalam bersamaan dengan kepala yang mengangguk pelan.


"Fine. Lo berati nggak anggap gue sebagai sahabat," ujar Alina sedikit kecewa dengan jawaban Widya.


"Oke langsung aja ya Wid, lo pasti tahu kan kejadian tadi siang seperti apa? Gue juga nggak tahu harus mulainya dari mana, sebenarnya ini bukan hak gue tapi gue juga nggak mau ada salah paham atas apa yang udah lo lihat." Alina sebenarnya cukup bingung harus menjelaskan secara langsung atau tidak dengan Widya. Mengingat Alina yang asli masih menyimpan rahasianya itu membuat Alina yang sekarang diambang kebimbangan.


"Selama ini yang lo kira calon suami atau tunangan gue itu ya pak Endra, dia sekarang udah jadi suami gue. Dan gue harap lo bisa jaga rahasia ini," ujar Alina menatap Widya dalam.

__ADS_1


Diam, tidak ada tanggapan lagi dari Widya. Gadis itu terlalu sok mendengar penjelasan dari Alina barusan.


"Gue cuma minta itu, tolong jaga rahasia gue sama pak Endra," tegas Alina mulai beranjak dari duduknya.


"Dan kalau lo lagi ada masalah, cari gue. Karena gue nggak akan ngehindar," setelah mengatakan itu Alina beranjak pergi.


Tetap bersama dengan Widya dengan sikap Widya yang sekarang ini malah membuat emosinya ingin naik. Alina berharap Widya mau mengatakan masalah yang sedang terjadi dengan dirinya. Bukannya malah menghindar seperti saat ini.


"Kenapa nggak terus terang Widya?" gumam Alina menatap Widya yang masih duduk di tempatnya.


Taksi yang ia pesan berhenti tepat di rumah mama Intan. Alina sengaja pulang ke sana sesuai permintaan martuanya sebelum keberangkatan mereka. Dengan harapan Alendra akan menunggu di rumah besar miliknya. Setidaknya ia bebas dari lelaki tidak tahu diri itu.


"Kok sore amat non?" tanya penjaga rumah tersebut.


"Iya pak, ada tugas kelompok tadi," balas Alina sekenanya.


Ia masuk ke dalam rumah besar yang terasa sangat sepi. Bahkan asisten rumah tangga pun tidak ada yang terlihat sama sekali. Sudut bibirnya tertarik ke atas mengingat jika Alendra sudah pasti tidak berada di rumah orang tuanya.


Langkahnya cukup cepat menuju ke lantai atas. Dimana letak kamar Alendra berada. Ia terlalu lelah dengan kejadian di hari ini. Dari mulai drama Aurel yang menyerertnya harus ikut serta juga, berlanjut dengan tragedi di ruangan Alendra dan berakhir di kafe yang cukup tenang tidak terjadi apa-apa namun menguras emosi menghadapi sikap Widya.


"Hah gila, kenapa orang-orang di sekitar lo pada aneh-aneh banget sih?" ujar Alina untuk kehidupan Alina yang asli.


Tubuhnya berbaring di atas ranjang. Matanya juga terpejam, namun tangannya bekerja melepas kancing seragamnya satu persatu. Hingga sebuah pemandangan yang indah dan masih sangat ranum itu terlihat begitu menawan dibagian atasnya.


Semakin lama semakin terlihat menonjol, pertumbuhannya juga cukup pesat, Alina sendiri merasakan perubahan itu. Tubuh Alina yang asli seakan baru berkembang disaat jiwa Jennifer masuk.


"Ah...." tanpa disadari bibir mungil itu bersuara tatkala tangannya meraba pelan dibagian dadanya.


Matanya masih terpejam, menikmati sentuhan-sentuhan jemarinya sendiri. Beberapa kali wajah Alendra juga ikut masuk ke dalam fantasi Alina saat ini.


"S**t," umpatnya mencoba untuk mengenyahkan wajah Alendra yang terus tergambarkan.


Buru-buru ia membuka mata dengan harapan wajah Alendra bisa menghilang dari imajinasinya, namun sepertinya takdir sedang tidak berada dipihaknya. Alendra kini sudah berdiri tepat di depannya. Ini sangat nyata seorang Alendra yang sedang menatapnya dengan lekat. Menikmati permainan gadis kecil yang kini sudah semakin aktif.


Ekor mata Alina melirik ke arah pintu, seingatnya tadi sudah dikunci olehnya untuk menghindari hal-hal demikian. Namun apa yang terjadi saat ini membuatnya baru tersadar.

__ADS_1


"Sekarang sudah aku kunci Alin, kamu bisa teruskan," ujar Alendra dengan entengnya.


__ADS_2