
Setelah kejadian tadi. Aneh dan ajaib sekali pasangan suami istri namun musuh itu berakhir di sebuah klub malam. Alina ikut serta di sana karena di ajak oleh kedua sahabat Alendra. Sementara Alendra karena permintaan Pinka.
Kejadian di kamar Alina tidak berlangsung lama. Selain adanya Ben tadi, Pinka tiba-tiba datang dan mengetuk pintu. Karena rasa cemburu yang Pinka rasakan membuatnya menarik Alendra untuk segera pergi dari apartemen dan membawanya ke sebuah klub. Pinka ingin membuat Alendra lebih peka akan dirinya, bukan adik sepupunya yang tidak tahu sopan santun itu.
Tidak ingin ketinggalan. Alina juga mau-mau saja diajak oleh Ben dan Vinsan. Bahkan gadis itu masih menggunakan baju seksi yang hanya ditutup oleh jaket Ben agar tidak terlalu terlihat.
"Alin kamu sekarang gokil banget," ujar Ben menoleh ke arah belakang.
Mereka mengikuti mobil Alendra dari belakang.
"Gokil apanya? Ya kali gue nerima aja digituin si Ale," balas Alina seketika membuat tawa Ben dan Vinsan meledak.
"Ale?" tanya Vinsan yang diangguki oleh Alina.
"Alendra kan namanya? Bagusan juga panggil Ale, Endra terlalu keren untuk orang tidak tahu diri seperti dia," ujar Alina lagi-lagi membuat Ben dan Vinsan semakin tertawa.
Mereka tahunya ialah Alendra yang berada di atas Alina. Entah itu memerintah atau yang lainnya, mengingat Alina dulu seperti apa. Namun sekarang, ternyata jauh dari dugaan Ben dan Vinsa.
Mobil yang mereka tumpangi berhenti di sebuah klub malam. Alina tidak masalah pergi ke tempat seperti itu. Jelas karena ia yang dulu juga sudah beberapa kali berkunjung ke tempat-tempat hiburan malam hanya untuk sekadar mendengar alunan musik yang DJ mainkan. Meski terkadang paginya harus mendapat ocehan dari kedua orang tuanya lewat sambungan telepon karena beritanya sampai ke media.
"Alina yakin mau ikut masuk?" tanya Ben setengah tidak percaya.
Meski apa yang tadi sudah dilihatnya di kamar Alina, bukan berati ia percaya begitu saja jika Alina kuat berada di dalam. Selain pemandangan yang menyehatkan mata tetapi tidak baik untuk pikiran, banyak juga pastinya kejadian yang tidak terduga. Pasalnya Alina ini terlihat sangat cantik dan masih lugu sekali wajahnya.
"Udah sampai sini? Masa iya gue harus nunggu di mobil? Nggak seru," balas Alina malah lebih dulu melangkah maju untuk masuk.
"Buset... Bini kecil Endra nggak main-main bar-barnya," ujar Ben tertawa melihat tingkah Alina yang sekarang.
"Masuk," titah Vinsan membuat keduanya buru-buru masuk ke dalam.
Kali saja mereka masuk Alina sudah dalam keadaan pingsan, kan tidak akan lucu, semangatnya saja tadi sudah membara ketika akan masuk ke klub malam tersebut.
Suara musik keras mulai terdengar di telinga Alina. Bukannya menutup telinganya, kepalanya malah mengangguk-angguk kecil menikmati alunan musik tersebut.
"Alin ikuti kita," ujar Ben yang hanya dijawab Alina dengan anggukan kepala.
__ADS_1
Membawa Alina ke tempat seperti itu juga pastinya sangat beresiko, namun Ben dan Vinsan sengaja untuk membuat Alendra marah. Menggoda Alendra karena istri kecilnya menurut mereka sangat menyenangkan. Terlebih Alina yang memang semakin nyambung satu frekuensi dengan mereka.
"Kok gue minum gituan sih kak? Samain aja sih sama kakak," ujar Alina ketika Ben memberikan minuman yang menurutnya aman untuk Alina.
Keduanya tergelak. Mereka menatap Alina tidak percaya. "Ini bahaya untuk kamu Alina," jelas Vinsan yang tadinya sudah hampir meledakan tawa mendengar protes dari gadis itu.
"Bahaya apa? Nggak ada racunnya kan?" tanya Alina yang dijawab mereka dengan gelengan kepala.
"Ya sudah berati aman, nggak bikin gue mati juga," lanjut Alina mengambil minuman yang nantinya bisa memabukan.
"Eh...tapi Lin," ucapan Ben terpotong saat melihat Alina yang sudah meneguk minuman tersebut.
"Enak kok kak," ujar Alina membuat keduanya menggeleng.
"Kak joget boleh ya?" pinta Alina mulai sedikit limbung.
Tanpa menunggu Ben dan Vinsan menjawab. Alina sudah lebih dulu berdiri dan menuju kerumunan yang orang-orang yang sedang berjoget. Beberapa dari mereka mulai menatap gadis yang terlihat masih sangat muda itu. Namun apa yang Alina lakukan tidak luput dari pengawasan kedua sahabat Alendra.
Tubuh ramping dengan baju tidur seksi yang masih terbalut jaket besar milik Ben kini mulau meliuk-liuk sesuai dengan irama musik. Alena sangat menikmatinya sampai membuatnya tidak sadar beberapa dari orang disekitarnya menatapnya berbeda.
"Kita cuma perlu ngawasin, liat mata-mata disekitarnya sepertinya sudah meminta untuk ditonjok," balas Vinsan yang diangguki oleh Ben.
"Lo penasaran nggak kenapa si Alin jadi berubah gini?" tanya Ben yang dijawab Vinsan dengan anggukan kepalanya.
"Tertekan karena Endra mungkin," jawab Vinsan membuat keduanya tertawa.
Berbeda dengan Alendra yang kini sedang berada di ruangan VVIP klub malam tersebut. Ia segera beranjak saat Pinka berniat untuk membuka celananya. Baju yang ia kenakan sudah berhasil Pinka lepas tadi. Namun ketika tinggal sedikit lagi, Alendra tiba-tiba bangkit untuk menolak.
"Endra sayang, sini," ujar Pinka dengan keadaan sudah mabuk berat.
"Aku sudah tidak tahan sayang, rasanya sangat panas dibagian sini," ujar Pinka lagi membuat Alendra menatap Pinka datar.
Baju yang tadi sudah terlepas kembali ia pakai. Lalau tangannya merogoh ponsel untuk menghubungi seseorang, kening Alendra berkerut saat mendengar suara musik dari sebrang telepon.
"Kalian di sini juga?" tanya Alendra seketika keluar dari ruangan VVIP tersebut.
__ADS_1
Benar saja dari kejauhan ia melihat adanya Vinsan dan Ben sedang duduk tenang seraya menatap kerumunan orang-orang yang sedang berjoget. Baru setelah itu Alendra tersadar, kedua sahabatnya telah melakukan sesuatu yang membuatnya murka.
"Breng**k," umpat Alendra mematikan sambungan teleponnya.
Kakinya melangkah lebar menuju ke arah dimana seorang gadis sedang meliuk-liukan tubuhnya dengan begitu indah. Beruntung belum ada yang bertindak kepada Alina selain masih mengamati gerakan gadis itu yang begitu menarik pengunjung lain.
Tangan kekar Alendra menarik paksa Alina untuk keluar dari kerumunan. Ia menatap Ben dan juga Vinsan dengan sangat tajam.
"Urus Pinka di dalam," titah Alendra membuat keduanya mengangguk.
Melihat siapa yang menariknya membuat Alina berontak. Ia tidak suka dengan cara Alendra yang tiba-tiba datang dan mengusik kesenangannya.
"Lo ngapain sih? Gue lagi happy tahu nggak? Happy banget karena nggak liat muka lo," ujar Alina semakin membuat Alendra tidak sabar untuk membawa gadis itu masuk ke mobilnya.
Blap
Dengan keras Alendra menutup pintu mobilnya. Setelah itu ia membawa Alina pulang dengan kecepatan yang cukup tinggi. Beruntung Alina kini setengah sadar jadi dia tidak protes dibawa ugal-ugalan lagi di tengah jalan.
Ekor mata Alendra melirik ke arah jaket yang masih dikenakan oleh Alina. Setidaknya tadi tubuh gadis itu sebenarnya masih tertutup karena jaket Ben.
"Lepas jaket itu Alin," titah Alendra yang tidak dipedulikan Alina.
"Aku bilang lepas," kali ini suara Alendra terdengar seperti menahan amarah.
Sreeettttt
Tanpa menunggu lama lagi Alendra menghentikan mobilnya di tepi jalan. Menyuruh Alina sama saja membuang-buang waktu. Gadis itu tidak akan menurut sekalipun Alendra bersujud. Tangannya langsung meraih jaket yang masih dikenakan oleh Alina itu.
"Apaan sih Ale? Nggak mau," tolak Alina memeluk dirinya agar jaket yang ia kenakan tidak terlepas dari tubuhnya.
"Lepas atau...?"
"Apa? Lo mau ngancam gue lagi? Nggak takut gue sama lo Ale, dasar me**m nggak tahu diri!" hardik Alina seketika membuat sorot mata Alendra semakin tajam.
"Kamu minta aku per**sa Alin," tekan Alendra menatap tajam Alina.
__ADS_1