
Selang beberapa lama Alendra keluar dari dalam kamar mandi. Rambut basah acak-acakan dan juga handuk kecil yang menempel pada tubuhnya membuat Alina seketika menutup matanya.
Tidak bisa dibiarkan memang jika matanya terus disuguhkan dengan pemandangan indah seperti itu bisa saja membuat Alina khilaf nantinya.
"Pake baju kek, sengaja banget deh bikin mata gue belekan," dumel Alina dengan mata yang sudah sengaja dia tutup untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Mendengar penuturan Alina yang Alendra tahu hanya bualan semata membuatnya seketika tertawa. Langkahnya mendekat dimana Alina kini sedang duduk di pinggir ranjang. Jangan lupakan sarapan yang tadi sengaja dibawa untuk Alina sudah habis tak tersisa.
"Ck, tadi apa kalau nggak liatin aku diam-diam?" tanya Alendra menyunggingkan senyumnya.
Cletuk
Sentilan kecil ia berikan di kening Alina. Guna menyadarkan apa yang baru saja Alina katakan.
"Jangan sok polos Alin, nggak ada gadis polos keluyuran sampai ke kelab malam," ujar Alendra membuat Alina mendesah kesal.
Tidak tahu sekali Alendra ini jika ia bukan Alina yang dulu. Menutup mata dia lakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, tetapi berkunjung ke kelab malam memang sudah sering dia lakukan dulu. Bagaimana cara mengatakannya itu yang membuat Alina sendiri bingung, tidak akan ada yang percaya jika dirinya itu bukanlah Alina Ghaveza, melainkan Jennifer Mauren yang memang berpindah ke tubuh Alina. Sesuatu hal yang tabu sampai Alina sendiri terkadang berharap ini semua hanya mimpi.
Selesai mengenakan pakaiannya. Alendra kembali mendekat ke arah Alina. "Buka mata kamu," titahnya yang mendapat gelengan kepala dari Alina.
"Ck, pembangkang," decaknya menghela napas dalam.
Langkah Alendra mulai terdengar menjauh bersamaan dengan suara pintu yang terdengar terbuka. Alina terkejut, ia beranikan diri untuk membuka mata dan betapa terkejutnya ia ketika Alendra sengaja meninggalkannya dan berlalu keluar.
"Si bangsul emang," umpat Alina beranjak untuk keluar.
Kali ini Alina tidak lagi berniat untuk protes atau berontak berangkat bersama dengan Alendra. Waktu yang sudah semakin mepet karena semakin siang menurutnya cara tercepat sekarang ialah dengan tidak mencari gara-gara.
Sengaja Alina terus terdiam mengikuti langkah kaki Alendra berpijak. Persis seperti seorang anak yang sedang meminta uang saku kepada Bapaknya.
"Temen gue lo apain Ale?" tanya Alina pada akhirnya setelah hampir 5 menit perjalanan di dalam mobil.
Tidak ada jawaban dari Alendra membuat Alina berdecak sebal. Sengaja ia mengecoh setir mobil Alendra agar mendapat jawaban.
"Alina! Jangan keterlaluan kamu," ujar Alendra dengan tegas. Nada bicara Alendra kini terdengar marah.
Tidak peduli dengan marahnya Alendra. Alina sengaja semakin merecoki setir mobil Alendra.
"Bilang dulu, lo apain Boy?" tanya Alina dengan nada sengaja dikeraskan.
Ssseetttt
__ADS_1
Mobil berhenti ketika nama Boy kembali disebutkan lagi oleh Alina. Nama itu cukup membuat telinga Alendra panas, sorot mata Alendra kini berubah sangat tajam menatap Alina.
"Bukankah aku pulang sama kamu tadi malam? Urusan teman kamu mana aku tahu," balas Alendra masih mencoba untuk bersikap tenang.
Alina mengalah, ia mencoba untuk kembali bersikap tenang dan mengendalikan amarahnya.
"Lupakan... Buruan jalan, gue udah hampir telat," ujar Alina pada akhirnya.
Membahas sesuatu hal yang sangat ingin dia ketahui saat ini membuatnya semakin kehilangan waktu saja. Alendra mana mau berterus terang dengan apa yang ia suruh kepada kedua sahabatnya untuk mengerjai Boy.
"Ck, buang-buang waktu saja," gumam Alendra melirik Alina sekilas.
Dug
Tanpa diduga Alina sengaja menyiku tongkat sakti milik Alendra. Membuat si empunya kini sudah mengaduh kesakitan.
"Yang buang-buang waktu itu lo, bukan gue," tekan Alina mencoba kembali bersikap tenang.
"Ahhh..." Alendra nampak meringis menahan rasa sakit.
Melihat Alendra sekarang malah membuat Alina tidak sabar. Sengaja ia turun dari mobil dan kembali muncul di sebelah Alendra.
"Geseran, biar gue yang nyetir," titah Alina membuat Alendra tergelak.
"Tidak. Kamu kembali duduk ditempatmu Alin," titah Alendra membuat Alina mendesah kesal.
"Ya sudah. Gue udah nawarin buat gantiin lo nyetir ya? Kalau ada apa-apa bukan gue yang salah," balas Alina kembali ke tempatnya.
Namun sepertinya kejahilan Alina saat ini sudah kelewat batas. Terbukti dari Alina yang malah dengan sengaja duduk di belakang setir. Jika bukan Alina yang bertindak demikian, mungkin sudah Alendra lempar keluar detik itu juga.
"Pindah depan Alina," titah Alendra membuat Alina mencebik. "Nggak mau, udah tanggung duduk di sini, pa*t*t gue sakit gara-gara lo gigit tadi," keluh Alina memberi alasan.
"Fine," gumam Alendra tersenyum miring.
Mobil Alendra memasuki parkir khusus untuk guru. Di sini Alina mulai merasa waspada. Ternyata Alendra membalas perbuatannya dengan cara mencuranginya.
"Kenapa gue nggak diturunin di tempat biasa sih?" protes Alina membuat sudut bibir Alendra tertarik ke atas.
"Tanggung Alin," balas Alendra enteng.
"Resek banget lo, awas aja kalau gue sampai masuk lambe-lambe sekolah lagi," ancam Alina seraya turun dengan hati-hati.
__ADS_1
Tas yang dibawanya sengaja untuk menutupi bagian wajahnya. Tidak lupa ia menunduk dan berlari cepat agar tidak ada yang melihat.
Napasnya ngos-ngosan, namun Alina lega tidak ada yang melihat kedatangannya bersama dengan Alendra tadi. Sampai tiba-tiba suara seseorang membuatnya terkejut bukan main.
"Alina," panggil Gevan membuat Alina terdiam.
Tubuhnya berbalik dengan sangat pelan. Senyum manisnya terbit untuk menghilangkan ketegangannya.
"Alina, lo berangkat bareng pak-"
"Gue duluan ya Gev," sela Alina buru-buru pergi.
Masih terdiam di tempatnya. Gevan menatap punggung Alina yang semakin menjauh. Setelahnya ia melirik ke arah Alendra yang baru saja turun dari mobil dengan senyuman khas di wajahnya.
Kelas sudah ramai dengan anak-anak. Salah satunya Widya yang sudah berada di dalam kelas. Namun ada yang berbeda dengan Widya pagi hari ini.
Gadis berkaca mata itu duduk di bangku paling depan bersama siswi lain. Bukan dibangku biasanya. Padahal setahu Alina, tidak ada yang mau dekat dengan Widya selain dirinya, lantas kenapa kini Widya bertingkah seolah sedang menjauh darinya.
"Wid," panggil Alina masih mencoba untuk bersikap biasa. Gadis itu sengaja menghampiri Widya setelah menaruh tas di bangkunya.
Tidak ada sahutan dari Widya membuat Alina semakin yakin sesuatu telah terjadi dan membuat Widya berubah sikap.
"Widya," panggil Alina lagi.
Semakin Alina mendekat semakin Widya menghindar. Bahkan Widya pura-pura mengerjakan soal di bukunya, padahal Alina bisa melihat dengan jelas jika buki tersebut sudah penuh dengan jawaban-jawaban yang Widya tulis. Gadis itu memang cukup pintar dan sangat rajin. Tidak mungkin Widya mengerjakan PRnya di sekolah.
Tanpa disadari tangan Alina mengepal kuat. Ia tahu siapa yang sudah membuat Widya bersikap seperti menghindar darinya.
"Aurel," gumamnya penuh dendam.
"Selamat pagi anak-anak," ujar Alendra masuk ke kelas Alina.
"Pagi pak," balas semua sudah duduk rapih di tempatnya.
"Pagi pak ganteng," sapa salah satu siswi yang paling centil di kelas.
Namun ada yang menarik perhatian seluruh kelas saat ini. Termasuk Alendra yang menatap Alina dengan heran.
Alina masih berdiri di tempatnya. Posisinya masih sama seperti ketika tadi ia menyapa Widya. Seakan tidak peduli dengan siapapun juga yang berada di kelasnya. Termasuk kedatangan Alendra.
"Alina. Duduk di bangkumu," titah Alendra dengan nada tegas layaknya seorang guru.
__ADS_1
Tangan Alina terangkat, ia menoleh ke arah Alendra. "Pak, saya ijin mau bolos," ujarnya membuat seisi kelas ternganga dengan keberanian Alina.