
Setelah makan malam bersama. Alendra dan Alina naik menuju ke kamar Alina di lantai atas. Mereka memutuskan untuk menginap karena permintaan dari Mama Diana. Alina dibuat bingung dengan baju yang berada di lemari. Pasalnya tidak ada yang dia sukai dan selebihnya lingerie yang sepertinya sengaja Mama Diana belikan ketika Alina menikah beberapa bulan yang lalu.
"Masa iya gue pakai baju tidur gambar naruto gini, ini konsep baju tidurnya Alina sebenarnya gimana sih?" dumel Alina tidak habis pikir.
Usut punya usut baju-baju Alina yang menurutnya bagus dulu sengaja ia borong ke apartemen setelah pernikahannya. Sisanya hanya baju-baju lama yang memang Alina asli saja sudah tidak memakainya. Mengenai lingerie yang masih tertata rapih di lemari sebelahnya. Itu Mama Diana yang sengaja membelikannya ketika itu.
Alina menoleh ke kamar mandi. Terdengar gemericik air keran yang menandakan Alendra masih sibuk dengan mandinya. Lagian lelaki itu baru saja masuk jadi Alina sangat yakin selesainya masih cukup lama.
Dengan berjinjit Alina mengunci pintu kamar. Takut saja kalau tiba-tiba ada yang masuk. Lalu ia kembali menuju ke lemari untuk mengambil baju kurang bahan yang tersedia di sana.
Niatnya hanya untuk mencobanya saja. Tidak ada maksud lain, meski dirasa cukup nekat tetapi Alina yang sekarang memang sangat berbeda.
"Mending yang ini dari pada baju naruto gitu. Kayak bocil banget gue, heran juga kenapa Alina tidak modis banget sih," komentarnya melirik tanpa minat ke arah baju tidur tadi.
"Bagus juga," komentarnya saat mengamati baju seksi yang kini sudah berada digenggaman tangannya.
Dengan sangat hati-hati Alina menanggalkan seragam yang ia kenakan satu persatu. Napasnya juga lumayang ngos-ngosan takut Alendra tiba-tiba muncul. Setelah berhasil melepaskan seragam sekolahnya. Baju minim bahan itu kini mulai ia kenakan secara perlahan juga.
"Gila...kayak model majalah dewasa gue kalau kayak gini," decaknya setengah kagum.
Tidak ingin berlama-lama memakai baju kurang bahan tersebut. Ia berniat untuk melepaskan dan meminjam baju Mamah Diana yang mungkin saja ada yang seukuran dengannya.
Alina jadi semakin gencar untuk menambahkan berat badan agar terlihat semakin berisi lagi.
Ceklek
Deg
Matanya terbelalak kala melihat Alendra keluar dari kamar mandi dengan tatapan mata menatap ke arahnya sama kagetnya. Tangan Alina reflek menutupi bagian tubuhnya yang terekspos karena baju kurang bahan itu.
"Lo... Masuk dulu Ale," usir Alina panik sendiri.
Selain panik ia juga sangat malu ketahuan memakai baju seperti itu oleh Alendra. Ia tidak mau Alendra semakin gencar untuk memperoloknya.
"Ale... Buruan masuk!" titah Alina yang tidak dipedulikan oleh Alendra.
__ADS_1
Terbukti kini dari langkah kaki Alendra yang semakin maju bersamaan dengan Alina yang melangkah mundur. Situasi semacam ini seperti film-film yang sebentar lagi anak gadisnya akan dipaksa untuk melakukan yang tidak-tidak oleh si pria.
"Kenapa harus masuk? Aku sudah selesai mandi," balas Alendra enteng.
Tatapan mata itu tidak terlepas dari tubuh Alina yang hanya terbalut benang dijait asal-asalan itu. Bahkan sangat teransparan persis seperti jaring laba-laba. Kulit putih Alina sangat indah jika dilihat dari jaring laba-laba yang seperti dibuat baju kurang bahan itu. Diam-diam Alendra menikmati dan menyukainya.
"Dasar me*um!" Alina buru-buru memunguti seragam sekolahnya. Ia berniat untuk ke kamar mandi sebelum sesuatu kembali terjadi dengannya juga keadaannya.
"Anj*r," umpat Alina kala lampu yang berada di kamar tiba-tiba mati.
Namun bukan hanya di kamar saja yang mati melainkan juga seluruh daerah itu. Semua gelap gulita kecuali gairah Alendra kini yang tanpa sepengetahuan Alina semakin naik bersamaan dengan suasana gelap malam ini.
"Ale, lo dimana?" tanya Alina meraba-raba di sekitar.
Rasa takutnya kini mengalahkan rasa malu dan kesalnya terhadap Alendra. Toh...dengan mati lampu seperti saat ini membuatnya jadi tidak terlihat. Alina jadi cukup percaya diri meski masih menggunakan lingerie yang sebenarnya tadi niatnya hanya untuk mencoba saja.
"Ale, pleas nggak lucu. Lo dimana?" ulang Alina karena tidak mendapat jawaban dari Alendra.
Deg
"Aku di sini," bisik Alendra membuat Alina mendengus kesal.
Niat sekali Alendra mencari kesempatan disaat sedang genting seperti ini. Rasa takut Alina malah sengaja ia jadikan kesempatan untuk membuatnya beruntung.
Ternyata otak Alendra tidak jauh dari yang namanya enak-enak. Beruntung perbuatannya itu kini sudah berada di rumah. Coba saja kalau di sekolah guru cab*l pasti julukan yang tepat untuknya.
"Lepasin Ale, nggak pakai peluk segala," berontak Alina membuat senyum miring terlihat di bibir Alendra.
Jika saja Alina bisa melihat senyuman licik itu mungkin dia sudah waspada dan menjauh dari Alendra. Namun keadaan sekarang seakan membuat keberuntungan untuk Alendra. Tidak bisa melihat dengan mata kepala setidaknya bisa merasakan.
"Oke aku lepas," balas Alendra melepaskan pelukannya. Namun seakan tahu dimana tempat dan keberadaanya. Alendra dengan sengaja menyenggol benda empuk yang sedari kemarin memenuhi pikirannya.
Benda yang Alendra perkirakan ukurannya masih sebesar biji mangga itu kini dapat ia rasakan secara langsung dan hampir saja tanpa pembatas jika saja Alina benar-benar dalam keadaan topl*s bukan seperti sekarang ini memakai baju tapi hampir terlihat semua.
"Ale!" protes Alina terkejut.
__ADS_1
"Apa lagi? Aku mau ambil lilin dulu kamu tunggu di sini," balas Alendra yang mendapat gelengan kepala dari Alina.
Meski tidak terlihat namun masih gadis itu lakukan.
"Jangan pergi. Gue takut sendiri Ale," cicit Alina memohon.
Rasa rakut terhadap gelap itu bukan dari Alina, melainkan Jenni yang memang pernah memiliki trauma dulu di masa kecilnya karena sebuah kejadian. Dan berlanjut sampai sekarang ia belum bisa melawan rasa takut itu.
"Kamu mau terus gelap begini Alina?" tanya Alendra.
"Enggak," balas Alina singkat.
"Sebentar, biar aku ambil ponsel dulu kalau begitu," jelas Alendra berniat untuk mencari keberadaan ponselnya.
Sementata Alina mengikuti Alendra dari arah belakang. Sengaja ia menarik kecil baju yang Alendra kenakan.
"Alin, Endra mati lampu nak! Kalian tidak papa?" teriak Mama Diana dari arah luar.
"Mmmphh-"
"Iya ma, Alin sudah tidur dari tadi," balas Alendra membekap mulut Alina.
"Oh ya sudah kalau begitu... Bibi Inah lagi mama suruh beli lilin di minimarket. Persediaan di rumah habis soalnya," jelas Mama Diana sebelum kepergiannya.
Alian memukul dada bidang milik Alendra. Meski tidak terlihat tapi mengenai sasaran.
"Gue mau keluar, tidur bareng mama," kesal Alina.
"Dengan baju kamu seperti itu?" bentak Alendra seketika membuat Alina bungkam.
"Auw! Ale," decak Alina kala dengan sengaja Alendra menariknya sampai ambruk di dekapannya.
Dada keduanya saling bersentuhan, begitu juga dengan sesuatu yang mulai mengeras dibagiam bawah sana yang bisa Alina rasakan.
"Kamu lupa Alin sama perjanjian kita tadi? Hmm?" Bisik Alendra membuat sekujur tubuh Alina menegang seketika.
__ADS_1
Bisikan Alendra seperti set*n yang membuatnya bisa merinding seketika.