Fire On Fire

Fire On Fire
Bertemu Mommy Sheren


__ADS_3

Kepalanya terasa berat, tubuhnya pun demikian. Perlahan matanya mulai terbuka dan hampir saja ia menjerit melihat wajah Alendra tepat berada di depannya. Beruntung Alina ingat jika hari ini ia akan kembali bolos untuk menemui Mommy Sheren sebelum kepergiannya. Jika ia menjerit dan sampai membuat Alendra terbangun maka akan gagal rencana yang sudah ia susun sendiri kemarin.


"Ganteng banget sih suami orang," gumam Alina terkekeh sendiri.


Meski sangat menyebalkan dan tidak tahu diri. Alina akui, Alendra memang tampan dan masuk dalam kategori laki-laki yang diinginkan. Terlebih bulu mata lentik Alendra yang terlihat begitu asli, dagu dan bibirnya juga begitu menggoda dalam keadaan diam seperti ini. Alina jadi salah tingkah sendiri melihat penampakan Alendra dengan mata terpejamnya.


"Lo ganteng kalau lagi tidur," komentar Alina gemas sendiri. Ingin menarik hidung mancung di depannya namun ia urungkan.


Singa yang sedang tertidur tidak bisa diganggu. Yang ada Alina nantinya harus mengorbankan dirinya untuk makanannya.


Perlahan Alina melepaskan tangan kekar Alendra yang tadi memeluk tubuhnya.


"Pantes dikira sugar daddy, lo-nya gede gini."


Setelah berhasil, ia segera bangkit dari ranjang dengan sangat pelan. Takut saja jika tiba-tiba pemilik bulu mata lentik itu terbangun dan menggagalkan rencananya.


"Buruan Boy!"


Alina menutup sambungan teleponnya. Ia kini sudah berada di halte terdekat. Menunggu Boy yang katanya mau menjemput dan membawa Alina ke bandara.


Setengahnya Alina sedikit kagum dengan apa yang dilakukan oleh Alendra tadi malam. Meski dalam keadaan mabuk. Alendra tidak melakukan apa pun tadi malam. Ketika mandi tadi Alina sempat mengecek seluruh tubuhnya, tidak ada yang berkurang atau terdapat bekas merah seperti yang sudah-sudah.


"Gue menarik nggak sih?" gumam Alina ragu sendiri, ia melirik ke seluruh tubuhnya.


Tin


Tin


Tin


"Masuk bestaiii!" ujar Boy dari dalam mobilnya.


Alina mencebik, namun ia melenggang masuk ke dalam mobil Boy.


"Udah pamit dulu belum sama mas ganteng?" tanya Boy sengaja menggoda.


"Gila aja... Yang ada gue disuruh berangkat bareng dia, males banget nggak sih setiap hari berantem terus!" keluh Alina.


Boy terkekeh. Ia mengangguk seraya melirik Alina sekilas. "Lo tuh aneh Jen, tadi malam ngapain? Segala pakai acara mabuk gitu."


Alina mendelik. Tidak percaya saja rasanya jika Boy bisa tahu kejadian itu.


"Lo kok bisa tahu?" selidik Alina diangguki oleh Boy.


"Temennya mas ganteng yang kasih tahu gue," jelasnya.


Kini Alina mulai mengerti. Sejak kejadian waktu itu Boy dan kedua sahabat Alendra mulai dekat. Terlebih sekarang pemilik kelab malam tersebut Ben sendiri. Dan Boy hampir tidak pernah absen ke sana kecuali sesuatu hal yang sangat penting.


"Enak banget deket sama cowok-cowok ganteng," komentar Alina membuat Boy tertawa.

__ADS_1


"Boy gitu lho," balasnya dengan kecentilan.


"Gimana surat dari Alina udah lo buka Jen?" tanya Boy seketika membuat Alina terdiam.


"Masih belum berani juga?" tebak Boy saat melihat wajah Alina sekarang.


"Apa sih yang lo takuti Jen? Bukannya udah lega kalau lo udah tahu apa isinya."


Cerocos Boy seketika membuat Alina mencebik. Boy sih enak tinggal ngomong, kalau Alina sendiri jelas seperti mempunyai tanggung jawab besar. Bagaimana kalau isi suratnya wasiat dari Alina asli yang nantinya bisa membuatnya bimbang. Paling tidak ia akan selesaikan dulu masalahnya, baru setela itu membuka surat yang sudah ia simpan cukup lama.


"Takut gue kalau isinya wasiat-wasiat seperti orang tua," ujarnya terkekeh.


"Disuruh jagain mas ganteng sampai tue ya nek... Lo nggak sanggup gue yang maju deh," komentar Boy seketika mendapat jitakkan di kepalanya dari Alina.


Mobil Boy berhenti di pinggi bandara. Ia mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.


"Mom."


"Yes, okay, ai kesitu ya mom," setelah mengatakan itu Boy menutup sambungan teleponnya.


"Mom?" tanya Alina dan diangguki oleh Boy.


Tatapan mata Boy kini menatap lekat akan Alina. Terdengar helaan napas cukup dalam juga dari laki-laki itu. Tangannya terangkat untuk mengusap lembut pipi Alina.


"Ini kesempatan lo Jen," ujar Boy serius.


"Oke, gue siap," balasnya membuat Boy tersenyum dan mengacungkan jempolnya.


Rambut yang dibiarkan tergerai juga dengan dres pendek bergerak sesuai arah angin. Alina cantik dengan tubuhnya yang sekarang. Meski tidak seseksi dulu namun ia mempunyai daya tarik sendiri. Terbukti dari beberapa orang yang berada di bandara sempat melirik karena kedatangannya.


Tepat saat Mommy Sheren terlihat dari jarak yang masih cukup jauh. Mendadak napasnya terasa sangat berat. Lagi-lagi ia berada disituasi yang ia sendiri tidak tahu harus bertindak apa. Wanita di depannya ialah ibu kandungnya sendiri. Namun dengan tubuhnya yang sekarang Alina seperti memiliki jarak.


"Tenang Jenni," ujar Boy menenangkan Alina.


Boy cukup peka dengan apa yang dirasakan oleh gadis itu.


"Hallo Boy," sapa Mommy Sheren dengan senyuman manisnya.


"Mom, kenapa nggak bilang Boy datang ke sini?" tanya Boy membuat wanita di depannya itu terkekeh.


"Mom ingin menghindari wartawan, tapi tetep nggak bisa," jelasnya dan diangguki oleh Boy.


"Hei. Ini siapa Boy? Pacar you?" tanya Mommy Sheren melihat keberadaan Alina.


"Bukan mom, dia sahabat Boy, namanya Al-." Boy melirik ke arah Alina, dan langsung diangguki oleh Alina untuk memperkenalkan sebagai Alina saja.


"Alina mommy," lanjut Boy.


"Hai Alina... Kamu sangat cantik sekali," puji mommy Sheren membuat Alina tersenyum tipis.

__ADS_1


"Hai..mom, sorry tante." Alina memberanikan diri untuk langsung memeluk wanita di depannya.


Merasa ada yang aneh dengan pelukkan gadis remaja yang baru dikenalnya. Mommy Sheren mengelus pundak Alina lembut.


"Panggil mom saja tidak masalah," ujar beliau.


"Tante sorry lama nunggu."


Seseorang datang dan seketika mengejutkan Alina dan juga Boy. Bagaimana bisa Diko yang datang menemui Mommy Sheren bukan om yang sudah Alina perkirakan.


Tidak jauh berbeda dengan Alina. Diko sendiri merasa terkejut melihat adanya Alina di sana. Terlebih ada Boy yang juga berada di sana.


"Alina," lirih Diko membuat Mommy Sheren langsung tertawa.


"Kalian kenal?" tanya beliau.


"Sekedar kenal tante," jelas Alina.


"Diko kenapa di sini mom? Mau ikut lo?" tanya Boy dengan nada sinis.


Mommy Sheren terkekeh mendengar penuturan Boy yang terdengar begitu tidak akrab dengan Diko sekarang. Padahal dulu keduanya sangat dekat ketika Diko masih mempunyai hubungan dengan Jennifer.


"Diko yang udah banyak bantu mommy Boy, panjang ceritanya," jelas beliau membuat Alina dan Boy saling tatap dengan rasa penasaran.


"Sudah ya mommy berangkat? Bye..." Mommy Sheren melangkah pergi menjauh.


Tangan Alina terkepal. Ia melirik ke arah Diko dengan rasa penasaran yang tinggi. Lalu melirik ke arah Mommy Sheren yang sudah semakin menjauh.


Sebelum mengambil tindakan. Alina menghela napas dengan sangat dalam. Detik berikutnya ia berlari mengejar mommy Sheren dan langsung memeluknya.


Deg


Mommy Sheren cukup terkejut dengan tindakan Alina. Begitu juga dengan Diko yang menatap Boy ingin tahu. Namun lirikan mata Boy terlihat sangat sinis dengan Diko.


"Ceritain yang sebenarnya kalau lo mau tahu rahasia besar dari gue," tekan Boy.


"Mom," lirih Alina merasakan hangatnya peluk dari Mommy Sheren.


"Hei... Kamu kenapa cantik?" Mommy Sheren membalikkan tubuhnya dan menatap Alina dengan penuh kasih.


"A-aku." Alina menatap Mommy Sheren lekat. Berharap wanita di depannya dapat merasakan perasaan yang dirasakannya. Perasaan seorang anak kepada ibu.


"Oh..s**t, jangan lakukan ini Alina, mommy jadi teringat Jenni anak mommy," ujar beliau memegang pelipisnya.


"Apa mommy bisa merasakan?" tanya Alina membuat kening Mommy Sheren berkerut. Beliau menatap Alina dengan tatapan bingung.


Namun tidak lama setelah itu. Paman Jenni orang yang saat ini membuatnya marah namun banyak sekali teka-teki yang belum ia ketahui muncul.


"Sheren," panggilnya membuat Mommy Sheren beralih menatap ke arah paman Jennifer.

__ADS_1


__ADS_2