
Malam semakin larut. Pesta dengan nuansa serba hitam di kediaman keluarga Vinsan sudah berlangsung sejam yang lalu. Namun baik Alendra atau pun Alina belum terlihat. Hal itu membuat mama Intan dan juga mama Diana merasa khawatir. Keduanya dihubungi juga tidak ada yang mengangkat.
"Apa lupa ya mereka? Ketiduran mungkin," ujar mama Diana yang mendapat gelengan dari besannya. Mama Intan.
"Tidak Dian, tadi bi Siti bilang mereka sudah dalam perjalanan," jelas mama Intan dengan sorot matanya menatap ke arah pintu.
Barang kali anak dan menantunya akan datang. Benar saja, tidak lama setelah itu, terlihat Alendra bersama dengan Alina yang datang dengan tangan bergandengan. Bahkan cara Alina berjalan begitu mengagumkan bagi siapa saja yang melihat.
Bukan hanya mama Intan dan mama Diana saja yang takjub, beberapa dari tamu undangan lainnya juga menatap damba akan Alina. Gadis yang masih duduk di bangku SMA itu malam ini menjelma menjadi gadis yang sangat cantik dan seksi. Alina terlihat lebih dewasa dari biasanya.
"Alin kayak model banget Dian, gaya berjalannya seperti model siapa gitu," ujar mama Intan mengingat-ingat.
"Bener, anaku sekarang jadi tambah cantik dan menarik," balas mama Diana. "Itu juga mantuku Dian," sela mama Intan membuat keduanya tersenyum dan melangkah menghampiri Alina.
"Ma," sapa Alina setelah sampai di depan mama dan ibu martuanya.
Awalnya mama Intan dan mama Diana tersenyum manis menyambutnya. Namun detik itu juga mereka ternganga melihat kulit leher Alina yang terdapat bercak merah. Tidak hanya satu atau dua saja, namun banyak dan hampir merata.
"Sayang, sini ikut mama," tarik mama Diana diikuti oleh mama Intan.
Alina menurut saja. Ia dibawa ke belakang yang jauh lebih sepi.
"Kenapa sih ma?" tanya Alina bingung.
"Dari mana kamu sama Endra?" tanya mama Diana.
Sebenarnya tidak masalah jika Alina dan Alendra melakukan sesuatu yang sudah ditunggu-tunggu hasilnya oleh kedua orang tua mereka, masalahnya di sini ialah, tidak semua tamu undangan yang berada di pesta itu tahu jika mereka sudah menikah.
Dengan penampakan leher Alina malam ini bisa saja menggiring opini lain tentang gadis itu.
"Kak Endra ngajak ke-"
"Kita ke hotel dulu sebentar ma," sela Alendra yang tiba-tiba datang.
Alina melirik malas Alendra. Lalu mengangguk membenarkan apa yang dikatakan oleh Alendra.
__ADS_1
"Tidak papa sayang, tapi leher kamu harusnya ditutup dulu," ujar mama Intan seketika membuat Alina terdiam bersamaan dengan jemarinya yang meraba dibagian lehernya.
Buru-buru ia mengambil ponsel dan melihat gambaran dirinya yang penuh dengan tanda merah di sekitar lehernya.
"I-ini ma, ini ulah kak Endra," ujar Alina tidak percaya.
Mama Intan juga mama Diana tersenyum. Hubungan mereka kini semakin maju, bahkan kedua wanita itu sudah mengartikan kehal yang cukup intim.
"Kita sudah siap kok buat nimang cucu sayang," ujar mama Intan dan mama Diana secara bersamaan.
Mendengar apa yang dikatakan oleh kedua wanita beda setatus itu hampir saja membuat Alina limbung dan pingsan. Tangannya buru-buru menarik Alendra untuk segera pergi dari mama dan ibu martuanya.
Dan di sinilah Alina sekarang. Di kamar tamu rumah Vinsan bersama dengan seorang wanita yang digadang-gadang sedang dekat dengan Vinsan. Alendra tadi membawanya ke sana untuk sekadar menutupi bagian leher Alina yang terkena ulah nakalnya tadi.
Jika kalian tahu. Sebelum berkunjung ke pesta, Alendra membawa Alina ke hotel terlebih dahulu. Niatnya memang jelas untuk memberi pelajaran kepada gadis itu. Alendra kesal karena Alina tidak mau berganti gaun, atau setidaknya Alina mau diajak ke butik untuk mengganti gaun yang malam ini membuatnya terlihat semakin seksi.
"Jadi kamu istri Endra ya?" tanya seorang wanita yang sedang memoleskan bedak di wajahnya.
Alina menoleh. Lalu mengangguk kecil. "Iya kak, tapi sumpah kita belum ngapa-ngapain," balas Alina seketika membuat wanita tersebut terkekeh.
"Nggak usah takut Alin, kalian kan sudah menikah, ngapa-ngapain juga nggak papa, lagian Endra mana betah sih nganggurin gadis secantik kamu," ujar wanita yang bernama Audy, ia teman tapi mesra dengan Vinsa.
Keduanya memiliki rasa namun masih bertahan pada setatus berteman dekat tanpa suatu hubungan yang jelas.
Terdengar helaan napas dari Alina. Jika dipikir-pikir mana ada orang yang percaya kalau mereka belum melakukan hal lebih selain sebatas ciuman atau tangan Alendra yang gr*e*p*e-gr*e*p*e dibagian tubuhnya. Mengingat Alendra sebagai laki-laki dewasa dan hampir semua teman dekatnya tahu jika laki-laki itu memiliki hubungan sepesial dengan Pinka yang sudah berjalan cukup lama.
"Kamu sudah Alin? Ayo kita keluar? Aku juga tadi datang terlambat karena ada urusan kantor sebentar," ujar Audy diangguki oleh Alina.
Keduanya berjalan keluar seperti seorang kaka dan adik. Melihat kemunculan Alina membuat Pinka yang tadi sudah bergabung bersama dengan Alendra dan yang lain melirik tidak suka.
Sejak kejadian di kelab malam beberapa waktu lalu. Pinka semakin tidak menyukai Alina. Ia tidak suka Alina selalu ada di antara dirinya dan Alendra.
"Hai Alin," sapa Ben dibalas senyum manis oleh Alina.
Melihat senyuman Alina ditujukan untuk Ben membuat Alendra merasa panas. Ia tidak suka dengan tanggapan Alina kepada sahabatnya itu.
__ADS_1
"Heh Alin, nggak usah gatel deh kamu, kecil-kecil jago banget tebar pesona," ujar Pinka membuat Alina mendelik.
Ia hampir saja meledakkan tawanya jika saja tidak melihat Pinka yang langsung mendapat tatapan tajam dari Alendra.
"Ikut saya." Alendra menarik tangan Alina untuk dia bawa ke tempat yang lebih sepi.
Namun Alina menolak. Ia tidak mau pergi dan ingin tetap bergabung bersama dengan teman-teman Alendra yang lain.
"Udah sih Ndra, di sini aja," ujar Vinsan sengaja memperkeruh keadaan.
"Iya sayang, kamu mau terus dibikin repot sama dia?" tanya Pinka bergelndot manja di bahu Alendra.
"Jaga sikap kamu Pinka," tekan Alendra membuat Pinka akhirnya mengangkat kepalanya tegak.
Ia menatap Alina kesal yang sedang menahan senyum.
"Alin, ikut aku saja gimana? Nanti aku kenalin dengan teman-teman kuliahku yang juga datang di sini," sepertinya Audy sengaja ingin memanas-manasi Alendra. Dan kebetulan Alina langsung mengangguk setuju juga mendapat persetujuan dari Ben dan Vinsan.
"Jangan jauh-jauh bebe, di sini banyak yang menginginkan kalian," ujar Vinsan diangguki oleh Audy.
Ingin menahan, namun Alendra tidak bisa. Lihatkah kini Pinka sengaja sekali menggandeng tangannya.
Baik Vinsan atau pun Ben saling melirik dan tersenyum miring. Sebenarnya ia sudah mempunyai rencana untuk membuat Alendra kalang kabut malam ini karena Alina. Dan itu juga atas perintah mama Intan yang tadi melihat kedatangan Pinka. Setahu mama Intan Pinka itu adalah mantan pacar Alendra yang sampai saat ini masih berharap dengan Alendra.
"Aku harus temui Alin," tegas Alendra melepaskan tangan Pinka dari lengannya.
"Tidak perlu Ndra, dia itu cuma sepupu kamu, dia sudah besar dan bisa jaga dirinya, aku yang lebih butuh kamu, aku yang pacar kamu Endra," ujar Pinka seketika membuat mata Alendra memanas.
Iya hubungan yang masih terjalin di antara mereka lah kini yang membuat Alendra harus tetap berada di dekat Pinka. Maka detik ini juga Alendra akan....
"Kita putus," ujar Alendra seketika membuat Pinka ternganga tidak percaya
____
sorry gaes kalau nggak dapat feelnya aku lagi sakit huhuhu
__ADS_1