
Brak
Alendra menutup pintu dengan sangat kencang. Malahan sengaja ia banting sampai membuat Alina terlonjak menatap Alendra tidak percaya.
Setelah kejadian tadi. Bukannya melanjutkan makan yang sudah mereka pesan, Alendra malah menarik Alina untuk keluar dan pulang ke apartemen mereka.
"Lo-lo kenapa sih? Gue yang lagi kesel kenapa lo ikut-ikutan marah?" tanya Alina melihat wajah Alendra yang menatapnya tanpa ekspresi.
Biasanya kalau tidak tajam, Alendra akan menatapnya dengan gaya cool seperti biasa. Namun kini apa yang Alina lihat sedang tidak mudah untuk dibaca.
"Siapa dia Alin?" tanya Alendra mendekat ke arah Alina.
Jelas tindakan Alendra itu membuat Alina melangkah mundur. Kepalanya menggeleng sebagai bentuk jawaban.
"Lo nggak akan paham Endra," balas Alina serius.
Percaya, sekalipun Alina jelaskan Alendra mana percaya dengan kejadian yang sebenarnya terjadi. Apa lagi ketika Alina mengatakan siapa dirinya, tentu Alendra akan memperoloknya atau mengganggapnya halu. Untuk saat ini Alina ingin hidup sebagai mana mestinya.
Biarkan nanti akan ada cara untuk Alendra dan keluarganya tahu siapa dirinya.
"Nggak paham? Aku lebih dewasa dari kamu Alin," sarkas Alendra mengira jika yang Alina maksudkan ialah dirinya yang tidak mengerti masalah percintaan Alina dengan cowok tadi.
"Bukan gitu maksud gue Ale. Lo nggak akan pernah paham apa yang terjadi dengan diri gue dan tubuh ini," jelas Alina membuat Alendra berdecih.
"Kamu mau bilang kalau kamu setengah hilang ingatan? Ck, Alin-Alin dokter saja bilang tidak ada yang perlu dikhawatirkan," ujar Alendra membuat Alina seketika meradang.
Dengan keberanian penuh Alina ikuti Alendra semakin maju dan mendekat, lalu menatap nyalang ke arah Alendra.
"Iya gue masih kecil, sampai gue bingung sama hidup gue yang tiba-tiba berubah. Lo tuh sama aja sama Diko," tekan Alina lalu pergi menuju kamarnya.
Adu mulut dengan Alendra tidak akan habisnya. Alina juga lelah sebenarnya jika harus menjalani hubungan yang dia sendiri tidak memintanya. Tetapi dari kejadian yang menimpanya itu, ia mencoba untuk menerima, mungkin Tuhan memang punya rencana yang jauh lebih indah untuknya dan untuk Alina asli.
"Akh... Dasar bocah," umpat Alendra menutup wajahnya.
Mendengar nama Diko kembali disebutkan oleh Alina membuat telinga dan hati Alendra terasa panas. Entah kenapa Alendra sangat tidak menyukai nama itu.
Dentuman musik terdengar begitu nyaring di telinga. Alendra baru saja memasuki klub malam yang sudah beberapa malam ini tidak ia kunjungi. Kedua sahabatnya juga sudah menunggunya di sana. Ben bersama dengan Vinsan tersenyum senang melihat kedatangan Alendra.
__ADS_1
"Wuih...pak guru datang ke klub haram bos," ujar Den menggoda.
Tidak berniat untuk menjawab godaan Ben, Alendra langsung duduk di tengah-tengah mereka. Tidak lupa minuman haram yang sudah tersedia di depannya langsung ia ambil dan teguk seketika.
"Pasti ada sesuatu nih," ujar Vinsan dapat mendebak dari raut wajah Alendra.
"Ndra... Pinka dari kemarin hubungi gue mulu, katanya lo susah dihubungi," ujar Ben memberitahu.
Memang setelah pertemuannya dengan Pinka di hotel pagi kemarin. Alendra sama sekali tidak menghubungi gadis itu. Bahkan pesan yang Pinka kirimkan juga belum ada yang Alendra buka. Ia terlalu sibuk mengurus istri kecilnya yang sangat bar-bar.
"Lo kemana sih man? Modus ngajar nih pasti buat nyari yang masih seger," tanyar Ben terus menggoda.
"Capek gue ngadepin istri gue," ujar Alendra seketika membuat Ben dan Vinsan saling pandang.
"Si Alina? Ya elah man... Gadis lugu gitu lo bilang capek? Jangan bilang lugu-lugu gitu ganas di ranjang," tebak Vinsan membuat Alendra berdecih.
Lugu apanya? Alina kini sangat menyebalkan dan terus mencari gara-gara. Gadis lugu dan polos itu kini sudah tergantikan denga gadis bar-bar. Soal ranjang? Alendra juga penasaran sebenarnya sepanas apa Alina yang sekarang ketika berada di atas ranjang. Jika mulutnya saja pedas apa lagi aksinya.
"Euh..." gumam Alendra tanpa disadari membayangkan tubuh polos Alina berada di atasnya.
"Ck, mulai nih pasti," kekeh Ben melihat wajah Alendra yang seperti orang sedang ingin bercinta.
"Dasar breng**k. Lo mana tahu gimana hidup gue anj**g," umpat Alina meninju samsak di depannya.
"Akhh.....!"
Berakhir dengan tendangan halilintar pada samsak tersebut.
"Mam**s lo," decaknya menatap gambar Alien di depannya.
Setelah kurang lebih 2 jam ia melakukan olahraga yang sebenarnya untuk mengurangi rasa kesalnya. Alina terlempar di kamar miliknya. Kali ini dia tidak akan sampai kecolongan seperti waktu itu. Sembarangan tertidur di sofa depan TV yang membuatnya tidak tahu apa yang dilakukan Alendra terhadapnya.
Pukul 6 pagi, Alina terbangun dari tidurnya, ia bangkit untuk bersiap-siap ke sekolah. Tadi malam ia tidak jadi makan malam bersama dengan Alendra membuat perutnya kini berontak untuk segera diisi.
"Sabar sih gue mandi bentar elah," ujarnya memegangi perutnya yang terus berbunyi.
Tidak membutuhkan waktu lama, Alina kini sudah siap dengan seragam sekolahnya. Matanya melirik Alendra yang sudah berada di meja makan dengan berbagai macam makanan untuk sarapan. Pagi sekali tadi Alendra memang sengaja memesan makanan lewat online. Dia tahu Alina pasti kelaparan karena tadi malam.
__ADS_1
"Makan," ujar Alendra tanpa melihat ke arah Alina sedikitpun.
Alina mencebik, namun langkahnya maju menuju ke meja makan. Lumayan kan makanan yang Alendra pesan itu terlihat sangat lezat. Kesempatannya untuk menambah berat badan diimbangi dengan olahraga yang teratur. Pasti tubuh idealnya akan segera ia dapatkan.
"Lumayan juga jadi Alina, gue jadi bisa makan banyak," gumamnya terkikik.
Melihat Alina yang tersenyum membuat Alendra ikut tersenyum. Alendra mengira bahwa Alina senyum karena rasa kepedulian yang dilakukannya itu. Tidak tahu saja jika Alina ini sebelum menjadi Alina yang sekarang makan saja tidak boleh sembarangan untuk menjaga bentuk indah tubuhnya.
Ting
Bel apartemen berbunyi. Keduanya saling pandang bingung dengan siapa yang datang. Namun lirikan mata Alendra kali ini seakan menyuruh Alina untuk membukakan pintu apartemen. Dengan rasa malas Alina melangkah maju ke depan pintu.
Sebuah paket besar yang ia dapatkan. Alina kembali ke meja makan dan melirik ke arah Alendra yang ingin beranjak.
"Aku berangkat siang, kamu bisa berangkat dulu sopirku sudah menunggu di bawah," ujar Alendra berlalu.
"Eh tunggu, ini apa?" tanya Alina membuat senyum miring terbit dari Alendra.
"Buka aja. Itu buat kamu Alin," balas Alendra tanpa menoleh ke asal suara.
"Buat gue? Yang bener aja? Ngerasa bersalah si Ale?" tanya Alina bingung sendiri.
Tetapi rasa penasaran dalam dirinya membuatnya tidak sabar untuk membuka paket besar tersebut sebelum keberangkatannya ke sekolah.
Dan
Srettt
"Hah?" beo Alina melihat penampakan dirinya terpampang dengan nyata di depannya.
Jangan lupakan bibir mungil Alina yang saat itu sedikit ternganga. Dengan tulisan bocah bar-bar pada foto besar tersebut.
"S**lan si Ale," umpat Alina berniat menghampiri Alendra untuk menghajarnya. Namun dering telepon dari sopir yang sudah menunggu di bawah menghentikannya.
"Siapa lagi sih? Pasti Ale nih yang udah ngotak-atik nomor baru gue," kesalnya mengangkat sambungan telepon tersebut.
Tidak jauh berbeda dengan Alina yang sedang menahan kesal. Alendra juga merasakan hal yang sama. Niatnya tadi untuk berolahraga terlebih dahulu seketika pupus kala melihat samsak di depannya penuh dengan coretan tidak normal Alina.
__ADS_1
"Alinaaaa!" teriak Alendra bersamaan dengan sebuah tinju yang melayang cukup kencang.
"Cukup Alin, kamu memang harus dikasih pelajaran," gumamnya sudah tidak sabar lagi menghadapi tingkah random istri kecilnya.