
Keadaan di kelas sudah cukup ramai. Pagi ini Alina berangkat lebih siang dari biasanya. Namun ia masih terselamatkan dari hukuman karena tidak telat, hampir saja telat jika saja tadi ia tidak buru-buru lari di depan gerbang.
Tepat ketika Alina duduk di sebelah Widya. Gadis itu langsung menutup buku kecil berwarna ping, Alina rasa itu buku harian milik Widya, coretan atau curahan dari gadis itu. Alina baru melihatnya karena sebelumnya Widya memang tidak pernah mmebawa buku hariannya ke sekolah.
"Tumben Wid, bawa buku diary ke sekolah?" tanya Alina tenang.
Widya tampak menoleh. Ia mengangguk kecil dan sedikit menyunggingkan senyum. "A-alin kenapa baru masuk?" tanya Widya tanpa menjawab pertanyaan Alina tadi.
"Oh... Itu, biasa pak Ale lagi kumat ngambeknya," bisik Alina sedikit terkekeh. Namun tidak pada Widya yang tampak sedikit tidak nyaman saat Alina mengatakan itu. Terbukti dari Widya yang seakan protes dan menyudutkan atas sikap Alina kepada Alendra sekarang.
"Bukannya pak Endra baik ya sama Alin? Buktinya Alin dibeliin HP baru, pak Endra selalu sabar ngadepin sikap Alina yang sekarang," ujar Widya seketika membuat Alina terdiam.
Ia menatap Widya tidak percaya. Mendengar kata-kata Widya barusan setengah Alina percayai kalau itu keluar dari mulut Widya.
"Maksud lo Wid?" tanya Alina tidak habis pikir.
"Ka-kamu tahu Alin? You are treated like a queen," jelas Widya langsung menatap ke depan setelah mengatakan hal itu.
Karena kebetulan setelah percakapan yang cukup menegangkan di antara mereka. Alendra datang sebagai guru mata pelajaran pertama.
Alina masih terdiam. Kata-kata Widya baru saja terus terngiang di pikirannya. Ia melirik ke arah Widya yang duduk di sebelahnya, masih tidak percaya rasanya jika Widya akan mengatakan hal semacam itu untuk hubungannya dengan Alendra. Seolah-olah Widya mengenal baik siapa Alendra, padahal jelas dari sudut pandang Alina. Meski ada sisi baiknya, Alendra jelas laki-laki yang cukup breng**k, buktinya ia masih bersama dengan wanita lain setelah menikah, terlebih apa yang sudah Alendra lakukan dengan Alina yang dulu juga masih menjadi tanda tanya besar bagi Alina yang sekarang.
"Iya, sampai dia menjadikan dua wanita sekaligus yang seperti ratu di kehidupannya," ujar Alina lirih. Namun masih dapat didengar oleh Widya.
Mendengar pernyataan Alina barusan membuat Widya merasa penasaran, namun dia enggan untuk bertanya lebih, kata-kata yang tadi ia ucapkan juga membuatnya sedikit sadar, kalau ia sudah keterlaluan dengan Alina. Namun entah kenapa mendengar Alina yang terus menyalahkan Alendra atas kejadian yang menimpanya membuat Widya juga merasa tidak suka.
"Baik, sudah paham semua? Dan ada yang ingin bertanya?" tanya Alendra setelah menjelaskan kepada murid-muridnya.
Tangan Alina terangkat. Ia melirik ke arah Widya sebelum mengatakan sesuatu.
"Pak," seru Alina membuat Alendra menoleh.
__ADS_1
Tumben gadis itu mengangkat tangan dan ingin bertanya disaat mata pelajaran yang ia bawakan. Pikir Alendra.
"Ya, Alina," balas Alendra mempersilahkan Alina untuk bertanya.
"Ijin ke belakang sebentar," pamit Alina seketika membuat Alendra tampak mendesah kesal.
Ia mengira jika Alina akan bertanya tentang mata pelajaran yang sedang ia ajarkan. Nyatanya ada saja tingkah gadis itu untuk menghindar.
"Silahkan," balas Alendra membuat Alina beranjak dari duduknya. Sebelum pergi Alina sempat melirik ke arah Widya yang kepergok sedang menatapnya. Namun setelah itu gadis itu buru-buru mengalihkan pandangan matanya.
Di toilet siswi. Keadaan sangat sepi, hanya ada Alina saja di sana. Tangannya mengeluarkan ponsel yang tadi berada di saku seragamnya. Kontak Boy yang ingin dia hubungi, tetapi hanya sebatas lewat pesan saja. Karena jika melakukan sambungan telepon cukup berbahaya disaat jam pelajaran sedang berlangsung seperti sekarang ini.
Tepat ketika Alina kembali ke kelas. Terlihat Widya yang sedang mengangkat tangan untuk mengerjakan soal ke depan. Widya memang pintar dalam mata pelajaran apapun, tetapi biasanya dia tidak akan mengangkat tangannya sebelum guru yang menyuruhnya untuk mengerjakan soal atau memberi contoh kepada teman-teman kelasnya ke depan.
Melihat itu cukup membuat Alina terkejut. Ia merasa ada yang aneh dengan sikap Widya hari ini. Termasuk tadi pembelaan yang dilakukan oleh Widya untuk Alendra, secara tidak langsung gadis itu memang lebih memihak kepada Alendra dibanding Alina.
Semua bertepuk tangan setelah Alendra membenarkan apa yang Widya kerjakan tadi di depan.
"Ka-kamu mau bilang aku caper sama pak Endra Lin?" tanya Widya membuat Alina terperangah.
Aneh, Widya sangat aneh sampai membuat Alina berpaling dan memejamkan matanya ketika mendengar kalimat yang Widya lontarkan barusan.
"Baik anak-anak, saya rasa pelajaran hari ini cukup sampai di sini, jangan lupa kerjakan soal halaman 45 dan 46 ya, selamat siang," ujar Alendra mengakhiri mata pelajaran pagi hari ini.
Sebelum kepergiannya. Alendra sengaja melirik ke arah Alina. Matanya tidak terlepas dari gadis itu sampai ia melewati dan benar-benar keluar dari kelas istri kecilnya. Hal itu tak luput dari pandangan Widya yang sedari tadi juga menatap Alendra. Entah kenapa ia merasa Alina terlalu beruntung mendapat laki-laki seperti Alendra.
Kaki kecilnya berjalan cukup cepat menuju ke halte dekat sekolah. Karena sedang saling diam dengan Widya sejak kejadian tadi pagi, Alina memutuskan untuk tidak pulang dengan Widya atau pun Alendra. Ia sendiri sudah berusaha untuk tetap bersikap seperti biasa dengan Widya, namun sepertinya Widya kembali menghindarinya seperti waktu itu.
Tidak ingin mengambil pusing, Alina meminta Boy untuk menjemputnya dan menemaninya ke suatu tempat setelah pulang sekolah.
"Masuk cin," titah Boy setelah mobil laki-laki itu berhenti tepat di depannya.
__ADS_1
"Lama tahu," omel Alina seraya masuk ke dalam mobil.
"Sorry, jam segini kan biasanya emang macet," balas Boy kembali melajukan mobilnya.
"Jenn, gue mau ngomong penting sama lo, tadi malam mas ganteng datang ke apartemen gue," beritahu Boy seketika membuat Alina menoleh ke arahnya.
Tanpa mereka sadari. Seseorang sedari tadi melihat interaksi di antara mereka. Dari yang awalnya melihat Alina duduk di halte dan ingin menghampiri, namun ia urungkan saat sebuah mobil mewah datang dan menjemputnya. Lalu disaat Alina masuk dan membuat ia melihat siapa yang berada di dalam mobil tersebut. Seketika membuat rasa penasarannya semakin tinggi.
"Kayak nggak asing, tapi siapa?" ujar Gevan berniat untuk mengikuti mobil yang membawa Alina. Namun tiba-tiba Widya datang menghampirinya.
"Kak Gevan," panggil Widya beranikan diri.
Gevan menolah. Ia menatap Widya dengan satu alis terangkat ke atas. Seperti bertanya tanpa mengucapkan suatu kata.
"A-aku mau bicara," ujar Widya beranikan diri.
Setelah mendengar apa yang Boy katakan. Alina mengatur kembali napasnya. Ia tidak menyangka jika Alendra akan datang dan menanyakan hal semacam itu kepada Boy. Ternyata trik Alendra cukyp cerdas, orang pertama yang ia temui ialah Boy, bukan Widya selaku sahabat Alina yang paling Alendra ketahui. Ah...tapi sekarang Widya juga sedang menjadi sahabat aneh untuk Alina.
"Kenapa sih Jen? Kenapa gitu dia sampai tiba-tiba datang dan nanyain gitu ke gue? Lo lakuin apa sebenarnya sampai buat mas ganteng penasaran sama kedekatan kita," tanya Boy sesekali melirik ke arah Alina.
"Gue cuma nggak mau diajak tidur bareng. Nggak jelas banget emang si Ale," jelas Alina seketika membuat Boy melotot.
"OMG, oneng banget deh lo, kenapa nggak mau sih? Itu berati mas ganteng tertarik sama lo Jen, ya ampun pusing deh gue," omel Boy membuat Alina ingin menyumpal mulut Boy saja rasanya.
Bukannya mendukung malah membuatnya semakin merasa kesal.
"Dia nggak tahu siapa gue Boy, si Ale harus tahu kalau gue bukan Alina istrinya, tapi Jennifer yang masuk ke tubuh Alina," jelas Alina tampak sedikit kesal dengan Boy.
"Gue setuju sih kalau itu, ya udah yuk turun kita udah sampai di makam lo, siapa tahu masalah lo yang rumit ini jadi mudah setelah lo nyambangin makam lo sendiri," ujar Boy seketika membuat Alina mendelik.
Enak saja Boy mengatakan makamnya. Meski tubuh Jennifer sudah terkubur oleh tanah. Namun ia masih bisa melihat indahnya dunia dan merasakan pahitnya kehidupan dengan tubuh barunya. Itu bisa dikatakan ia sebenarnya masih hidup, hanya saja dengan tubuh dan kehidupan yang berbeda.
__ADS_1