
Menjadi istri dari Alendra secara tiba-tiba membuat kehidupan Alina beubah total. Juga dengan segala kehidupan yang Alina asli miliki telah merubah sudut pandang dan cara bergaya dalam hidupnya.
Alina yang sekarang atau Jennifer tidak lagi menjadi seseorang yang dikagumkan. Bahkan meski ia menjadi Alina dengan caranya, kenyataannya masih banyak yang tidak menyukainya. Sejatinya diri Alina ini memang sudah diatur dengan segala permasalahannya. Dan tugas Alina sekarang untuk membuat masalah itu bisa terselesaikan.
Bruk...
Alina terjatuh pada ranjang kamar miliknya. Matanya menatap langit-langit kamar bersama dengan pikirannya yang berkelana. Masih teringat dengan jelas dimana tadi Gevan meminta maaf dengannya atas berita yang beredar, juga janji Gevan untuk menghapus semua berita tersebut. Itu menandakan jika Gevan benar-benar menyukai dan peduli akan Alina. Dia rela melakukan apa pun demi gadis itu.
"Thank Gev," gumam Alina merasa tadi dirinya belum mengucapkan rasa terimakasihnya.
Matanya mulai tertutup. Ia teramat lelah dengan kejadian hari ini di sekolahnya.
Ceklek
Tidak lama pintu kamar seperti terbuka. Suara langkah cukup pelan terdengar di telinganya. Alina belum sepenuhnya tertidur, ia reflek membuka matanya secara perlahan. Namun rupanya tidak ada keberadaan orang di dalam kamarnya. Matanya mengamati setiap sudut, dan hasilnya masih sama. Itu hanya pikiran Alina yang sedang mencooba mengecohnya.
"Iseng banget sih kalau hantu," lirihnya kembali menutup matanya.
Entah sudah berapa jam ia kini tertidur, sampai pintu kamarnya kini kembali terbuka Alina tidak lagi mendengarnya. Ia sudah berada dalam mimpi indahnya.
Ceklek
Pintu kamar terbuka bersamaan dengan tubuh tinggi Alendra yang masuk. Untuk beberapa saat Alendra dibuat terdiam dengan penampakan Alina saat ini.
Tertidur masih mengenakan seragam sekolah miliknya. Juga dengan rok pendek yang memperlihatkan bagian paha mulus miliknya. Namun bukan itu yang membuat Alendra sedikit geram juga ada perasaan aneh yang kini mulai menjalar dalam dirinya. Beberapa kancing seragam milik Alina yang dibiarkan terlepas begitu saja membuat Alendra tidak habis pikir.
"Ck, tledor banget," decaknya mendekat.
Posisi pintu tadi tidak dikunci, sementara di rumah mama Intan jelas banyak sekali orang. Bisa saja ada yang melihat keadaan Alina sekarang karena ketledoran Alina sendiri.
Niat awal Alendra untuk memindah Alina dengan posisi agar lebih nyaman seketika berubah. Tanpa sengaja mata elang milik Alendra menangkap bibir mungil milik Alina yang sedang setengah terbuka. Bagi Alendra sebagai laki-laki dewasa, sangat disayangkan jika sampai dianggurkan.
Ia mulai mendekatkan wajahnya bersamaan dengan bibir yang mulai ia tempelkan pada bibir mungil menggirukan itu. Perset*n dengan Alina yang nanti akan marah-marah tidak jelas karena tindakan curang yang dilakukannya. Selama ini Alendra pikir sudah cukup bersabar untuk menjadi seorang suami yang harus terus menahan hasrat untuk menyentuh istrinya.
__ADS_1
"Eughh," lenguh Alina saat bibir Alendra mulai memainkan bibirnya secara pelan.
Tangan Alina ia rentangkan. Alina seperti sedang berada di mimpi indah yang memabukkan untuknya.
"Jenni," bisik Alendra setengah membuat Alina tersadar.
Ingin terbangun namun mimpi enak yang sedang dirasakannya sayang untuk dilewatkan. Akhirnya Alina tetap memilih untuk melanjutkan tertidur dan tidak membuka matanya.
Cup
Satu kecupan sangat lembut Alendra berikan pada bagian telinganya. Itu membuat Alina merasa merinding seketika. Terlebih ketika satu tangan Alendra mulai nakal, ia merasa itu bukan seperti mimpi, namun sangat nyata sekali.
Cup
Lagi-lagi Alendra sengaja mengecup Alina dengan lembut dibagian lehernya. Ia terus melakukan kecupan-kecupan lembut pada leher gadis itu. Sampai satu tangan yang sedari tadi bekerja cukup keras kini sampai pada benda empuk kesukaannya.
Suara lenguhan kembali terdengar saat tangan Alendra mulai memainkan benda tersebut. Ia semakin gencar saat namanya disebutkan oleh Alendra.
"Ouh...Endra," lenguhan dari Alina berhasil membuat Alendra menyeringai.
"Aku akan mendapatkan hak milikku Jenni, sekarang," ujar Alendra menatap wajah Alina dengan lekat.
Wajahnya kembali ia majukan untuk memberi ciuman panas kepada bibir Alina. Cukup dia bermain-main hanya pada area itu saja. Alendra sudah tidak tahan dan ingin segera melakukannya. Namun bibir seksi miliknya baru saja kembali mengecup bibir mungil Alina, kini mata Alina sudah terbuka dengan sempurna.
Deg
Alina dibuat terkejut setengah mati ketika melihat wajah Alendra begitu dekat dengannya. Perasaan nyaman dan enak yang tadi muncul itu bukan berada di dalam mimpinya, tetapi ulah Alendra kepadanya yang masih berada di alam bawah sadar. Untuk beberapa saat Alina terdiam untuk menyadarkan diri sepenuhnya. Baru setelah itu ia berniat untuk berontak, tangannya berusaha menyingkirkan tubuh Alendra.
"A-le," lirih Alina susah payah.
"Apa?" jawab Alendra menatap Alina dengan diam.
Meski kegiatan yang sedang dilakukannya ia hentikan. Namun tidak pada tangan Alendra yang mengusap lembut bagian dada Alina yang terlihat menyembul.
__ADS_1
Cup
Satu kecupan kembali Alendra berikan untuk Alina. "Jangan menolak, kumohon," bisik Alendra kembali dengan kecupan yang teramat lembut, sampai membuat Alina rasanya tidak bisa lagi untuk menolak permintaan Alendra.
Rok pendek yang dikenakannya mulai Alendra singkap dengan perlahan. Sekujur tubuh Alina dibuat terasa lemas ketika jemari Alendra mulai bermain pada paha mulus miliknya. Ia tidak begitu yakin dengan apa yang akan terjadi berikutnya.
"Emh," lagi-lagi suara lenguhan dari Alina saat terasa hembusan napas pada sekitar pangkal pahanya.
Entah sejak kapan Alendra sudah berada di depan bagian bawahnya. Alina tidak begitu ingat, karena untuk sekarang ini, setiap detik yang ia lalui penuh dengan rasa nikmat yang Alendra berikan.
Mata Alina kembali terpejam saat benda kenyal terasa pada bagian pahanya. Ia tidak pernah merasakan sensai yang begitu tinggi seperti saat ini.
"Ale," lirih Alina membuat Alendra mendongak ke atas.
"Hmm?" Alendra menatap Alina dengan begitu lekat.
"Panggil aku Endra Jenni," bisik Alendra mengecup lembut bagian leher Alina. Terus turun ke bawah sampai pada perut rata milik gadis itu.
Kepala Alina mendongak ke atas. Tanpa sadar tangannya menarik rambut Alendra agar wajah laki-laki itu lebih terasa pada perut rata miliknya. Mendapat angin segar dari Alina tidak disia-siakan oleh Alendra. Ia langsung mengeluarkan jurus ampuhnya untuk membuat gadis itu terhanyut dengan permainannya.
Terbukti dari Alina yang kini terus memanggil nama Alendra dengan nada yang sangat berbeda. Gairah Alendra dibuat meningkat karena panggilan dari Alina untuknya.
"Kak Endra."
"Kak Endra... Ouh."
Seringai kembali muncul dari bibir Alendra. "Apa sayang? Katakan," titah Alendra menghentikan permainannya.
Untuk beberapa detik keduanya dibuat terdiam dengan pandangan penuh makna.
"Lakukan," jawab Alina.
Mata Alina terbelalak dengan sempurna saat Alendra menarik bagian pakain dalamnya dengan bibirnya. Yakin Alina akan dibuat terkejut dengan permainan Alendra kali ini.
__ADS_1
"Nikmati sayang," ujar Alendra dengan sorot mata bak elang.