
Kepalanya terasa berat, otaknya juga terasa sudah sekarat dari beberapa menit yang lalu. Lembaran buku yang terlihat di depannya membuat mata Alina seketika terasa berat. Ingin menyudahi permainan yang Alendra buat ini namun kosenkuensi nya terlalu berat.
Lihatlah Alendra dengan santainya fokus dengan tab di depannya. Namun sesekali lirikan mata itu terus mengingatinya. Sementara Alina harus mengerjakan banyak soal darinya. Itu hukuman untuk Alina yang sudah berani sekali bolos sekolah. Lalu enak-enakkan tidur di apartemen Boy. Mengingat itu membuat Alendra jadi ingin menambah hukuman gadis itu rasanya.
"Hoammm," sengaja Alina bertindak demikian untuk membuat Alendra mengurungkan niatnya itu. Atau setidaknya memberi belas kasih dengan menyuruh Alina untuk meneruskan soalanya di esok hari.
"Ngantuk banget sih," lanjut gadis itu mencari perhatian agar Alendra mendengarnya.
"Ck, nggak peka banget," decaknya kembali melihat soal-soal yang menurutnya sangat susah untuk dikerjakan.
"Jangan banyak drama, kerjakan dan selesaikan," titah Alendra membuat mata gadis itu seketika membola.
Gadis itu mencebik kesal. Sekali peka malah membuatnya semakin menderita.
"Ini namamya penyiksaan terhadap murid ya?" cibir Alina membanting salah satu buku paket yang sangat tebal.
Asli Alina sudah sempoyongan tidak jelas. Ia lelah dan ingin segera beristirahat.
"Ale, please gue ngantuk banget," keluh Alina memohon agar Alendra melepaskannya dari hukuman.
"Mau hukuman yang lain?" tanya Alendra seraya menaruh tab disebelahnya.
Sejenak Alina berpikir, lalu menatap Alendra yang sedang menatapnya datar. Baru setelah itu ia mengangguk sebagai bentuk setuju.
"Iya, jangan suruh ngerjain soal yang nggak jelas gini tapi, otak gue lagi beku banget soalnya," jelas Alina seketika membuat Alendra berdecak.
"Ck, gadis bod*h," gumamnya beranjak dari duduknya.
"Bereskan buku-bukunya," titah Alendra lagi.
Seperti mendapat angin segar dari perintah Alendra. Ia turuti saja, perlahan buku-buku yang tadi berserakan di meja mulai ia kemas dengan rapih. Tinggal menunggu perintah selanjutnya dari Alendra.
Langkah Alendra mulai mendekat. Satu tangannya ia masukkan kedalam saku celana. Sementara yang satunya bermain dengan bolpoin yang sedari tadi ia bawa.
Bolpoin yang ada pada tangannya ia tunjuk ke arah dagu Alina. Sedikit ia angkat untuk memperjelas wajah gadis di depannya itu. Sudut bibirnya sedikit tertarik ke atas.
Melihat tindakan Alendra saat ini jelas membuat Alina mulai waspada. Ia takut jika Alendra akan melakukan hal-hal yang nantinya harus membuatnya mengeluarkan energi besar.
__ADS_1
"Mata kamu masih bulat, nggak ada tanda-tanda sudah ngantuk Alin," ujar Alendra membuat Alina mendelik.
Dilirknya arloji di tangan yang masih menempel. Senyum tipis kembali terbit saat tahu gadis itu hanya membual belaka mengatakan jika sudah ngantuk dan ingin segera istirahat.
"Baru jam 8, kamu bisa buatkan aku kopi susu," ujar Alendra yang langsung mendapat penolakan dari Alina.
"Enggak mau, enak aja... Lo pikir gue pembokat lo? Bikin sendiri sih punya tangan sama kaki juga," balas Alina seketika membuat Alendra menaikkan sebelah alisnya.
"Oh ya? Kamu ingin hukuman seperti tadi siang lagi? Fine," balas Alendra seketika membuat Alina mengangkat kedua tangannya untuk menolak.
"No..no..no... Gue bakal bikinin lo kopi, asal jangan sentuh gue lagi," tolak Alina berlalu pergi.
Enak saja jika Alendra akan kembali berbuat curang dengan mengatas namakan sebuah hukuman atas apa yang sudah Alina lakukan. Mentang-mentang bersetatus sebagai suami dan juga guru Alendra jadi suka tidak tahu diri setiap kali memberinya hukuman.
Hatinya sedikit tersentil ketika mendengar Alina memintanya untuk tidak menyentuhnya. Entah kenapa kata-kata itu seperti sebuah tamparan yang keras untuknya. Dulu ia sering mengatakan itu kepada Alina. Lalu kini gadis itu benar-benar berubah sampai membuat candu bagi Alendra. Namun Alina yang sekarang berbeda. Meski Alendra bisa menyentuhnya itu karena cara licik dari Alendra sendiri bukan serta merta keinginan dari gadis itu. Terlebih saat mendengar penolakan dari Alina langsung membuat Alendra seperti merasa terkena karma atas ucapannya tempo dulu.
"S**l," umpatnya mengepalkan tangannya kuat.
Sesuai perintah Alendra tadi. Alina membuatkan kopi fersi dirinya. Enak dan sangat pas untuk penikmat kopi sejati.
"Enak banget gila, sabi kali ya gue jadi barista," gumamnya cekikikan sendiri. Ia jelas saja sudah mencicipi kopi yang enaknya tiada duanya itu.
Kopi pertama yang sengaja ia buat disampingkan. Sudut bibirnya tertarik ke atas bersamaan dengan satu sendok garam yang sengaja ia tuangkan pada cangkir kopinya.
"Done," lirihnya tersenyum semanis mungkin.
"Kopi buatan Je-Alina siap," ujar Alina dengan semangatnya.
Tadi ia hampir keceplosan mengatakan kopi buatan Jennifer, beruntung ia segera sadar salah dengan ucapannya.
"Ini buat lo, dan ini buat gue," ujarnya semangat.
Melihat penampakan kopi di depannya yang terlihat hitam pekat membuat Alendra hampir meledakkan tawanya. Terlebih melihat penampakan wajah Alina saat ini.
"Kenapa? Minum sih udah dibikinin juga," suruh Alina membuat Alendra menggeleng dengan tawanya.
Lagi, Alina semakin merasa aneh dengan sikap Alendra saat ini. Tadi minta kopi, setelah dibuatkan malah tertawa. Kalau mau tertawa bilang dari tadi Alina disuruh ngelawak bukan buat kopi, atau kopi untuk menemani menonton lawakan dari Alina.
__ADS_1
"Apa sih Ale, gaje banget deh," dumelnya lagi. Namun Alendra masih saja tertawa. Dan bahkan tawa laki-laki itu semakin menjadi.
Disaat seperti ini pemilik wajah rupawan bak dewa itu tidak ada wibawanya sama sekali. Alina sendiri sampai bingung melihat tawa Alendra yang tiada henti. Ada rasa takut juga dalam dirinya, mungkin saja Alendra kemasukkan roh-roh jahat disekitar apartemen.
"Sinting," dumel Alina bergidik ngeri.
"Tadi aku minta buatkan apa Alin?" tanya Alendra mencoba untuk menghentikkan tawanya.
"Lah nanya, kopi kan? Ini udah gue buatan kopi pak Ale yang terhormat," jelas Alina membuat Alendra tersenyum tipis.
"Ada susunya Alina Ghaveza," jelas Alendra membuat kening Alina berkerut.
"Lupa? Atau mau dikasih susu-," mata Alendra melirik ke arah bagian dada Alina. Jelas tangan gadis itu reflek menutupi bagian dadanya.
"Heh..minum itu kopi! Jangan bikin kaki gue gatal buat nyentil tongkat sak-"
"Tongkat apa Alina?" tanya Alendra lirih.
Alendra beranjak dari duduknya dengan langkah menyudutkan Alina.
"Tong-tong-tong....kat sa-sa-...." Alina tidak bisa lagi meneruskan kata-katanya.
Sorot mata Alendra begitu menusuk sampai ke ulu hati. Membuat debaran hatinya semakin tidak terkendali lagi. Ini sangat kacau bagi Alina. Mendadak hatinya merasakan sesuatu yang aneh.
Deg
Jantungnya semakin terpompa dengan sangat cepat ketika jemari Alendra menyentuh bagian atas bibirnya. Sangat lembut dan membuat Alina terbuai sampai menutup matanya.
"Ada kopi di atas bibir kamu Alin," bisik Alendra seketika membuat Alina melotot.
"Minggir." Alina mendorong tubuh Alendra untuk segera pergi menjauh. Rasanya sangat malu sampai ia ingin mengikat bibir laki-laki itu.
Melihat wajah merah Alina membuat Alendra terkekeh. Ia kembali melangkah menuju kopi yang tadi sudah Alina buatkan.
"Lucu," gumamnya sebelum menyeruput kopi tersebut.
Namun detik itu juga, mata Alendra membola bersamaan dengan kopi yang baru saja akan ia telan ia keluarkan lagi.
__ADS_1
"Alina...!" umpatnya merasakan asin pada sekitar mulutnya.