Fire On Fire

Fire On Fire
Mode Perang Dingin


__ADS_3

Langkah besar Alendra terus maju menyudutkan Alina. Tidak lupa tangannya terampil meneruskan kegiatan melepaskan kancing kemejanya. Setengah perjalanan tindakan Alendra, Alina sudah menutup mata dengan kedua tangan. Rasanya tidak mau sampai melihat pemandangan yang nantinya membuatnya jadi salah tingkah sendiri.


Dada bidang Alendra sudah dapat terlihat dengan jelas. Selangkah lagi perut rata yang membuat Alina bisa merasakan panas akan tersuguhkan.


"Stop Ale," titah Alina memberanikan diri untuk membuka matanya.


Jika dia takut, Alendra malah akan semakin merasa menang di atasnya. Alina akan kembali tersudutkan dan semakin masuk dalam perangkat laki-laki itu.


Meski terkadang Alina mempunyai cara sendiri untuk membalas perbuatan Alendra. Namun bukan berati Alina harus terus mengalah diawal dan menang diakhir. Kini ia akan maju ditengah-tengah pertempuran.


Sretttt


Dengan cepat Alendra malah menarik tubuh ramping itu. Sorot matanya masih tajam seperti diawal. Namun kini deru napasnya bisa Alina rasakan bersamaan tubuh mereka yang merapat.


Tangan kekar itu sedikit menekan pinggang ramping milik Alina. Dapat Alina rasakan jemari itu yang mulai nakal menusuri bagian belakang Alina. Lalu berakhir pas dipuncaknya yang Alendra rasakan sangat empuk.


Plak


Sebuah tamparan cukup keras dari Alina langsung membuat pipi sebelah kiri Alendra terasa panas. Tidak tanggung-tanggung Alina juga menggigit lengan laki-laki itu.


"Auw," reflek Alendra melepaskan Alina dari dekapannya tadi.


"Jangan lo pikir suami gue, terus bisa nyentuh gue seenaknya," tekan Alina membuat Alendra semakin marah.


Cukup keras Alendra mendorong Alina sampai terbaring di atas ranjang. Kejadian ini mengingatkan Alina pada waktu itu. Dimana Alendra hampir saja khilaf merenggut kesuciannya.


Namun meski begitu, sorot mata Alendra kini bukan menyiratkan akan rasa ingin menjamah Alina seperti waktu itu. Sorot mata tajam itu menyiratkan akan kemarahan yang sangat besar. Dapat Alina lihat dengan jelas dan bahkan membuat jantungnya berdegup dengan sangat kencang.


"Aku sudah cukup bersabar selama ini hadapi kamu Alina. Jangan kamu pikir aku lebih dewasa harus memaklumi apa yang kamu perbuat tadi," ujar Alendra membuat napas Alina semakin terasa berat.


Seperti ada hantaman batu yang sangat keras pada dadanya.


"Kamu seorang istri tapi masih bersama dengan laki-laki lain," sinis Alendra tersenyum miring.


"Jangan pernah salahkan aku jika aku bersama wanita lain sementara kamu tidak pernah mau aku sentuh," jelas Alendra seketika membuat Alina tersenyum getir.


Menurutnya, dalam hal ini Alendra sangat egois sekali. Ia jadi ingin sekali menghajar laki-laki di depannya.


"Cih, gue bukan gadis bodoh yang mau disentuh sama laki-laki yang masih mempunyai kekasih sekali pun itu suami sendiri. Gue bukan Alina yang dulu yang bisa lo bodohi Alendra!" lantang Alina menatap berani manik mata elang itu.


Tangan Alendra mulai terkepal dengan erat. Ia tidak suka Alina membentaknya. Apa lagi berani sekali membawa masa lalu dengan penampilan Alina yang sekarang.


Bruk


Tubuh gagah itu sengaja mengungkung Alina di bawahnya. Posisi mereka saat ini sangat menantang, seperti dua insan yang akan memadu kasih untuk saling menikmati sentuhan-sentuhan karena sebuah gairah. Namun kenyataan yang ada keduanya sama-sama sedang berperang sengit.


"Kamu masih sakit hati karena perkataanku dulu?" tanya Alendra dengan sedikit penekanan.


Alina tergelak. Ia tidak tahu apa yang terjadi dulu di antara Alendra dan Alina yang asli. Namun sepertinya dari pertanyaan Alendra ia bisa menyimpulkan jika Alendra pernah berucap yang membuat sakit hati Alina begitu dalam.


"Jawab!" bentak Alendra tidak kalah emosi.

__ADS_1


Tangannya terkepal. Semakin dibentak Alendra jusrtu membuat jiwa bar-bar Alina semakin ingin muncul. Tidak ada rasa takut sama sekali dalam diri Alina saat ini. Ia juga ingin Alendra meminta maaf atas apa yang sudah Alendra perbuat dimasa lalu bersama Alina asli. Meski Alendra tidak menyakiti hatinya, namun Alina sendiri merasa tidak rela jika harga diri Alina yang dulu dipermainkan oleh Alendra.


"Iya, gue sakit hati sampai sekarang. Lo itu laki-laki pengecut dan breng**k yang pernah ada dihidup gue," balas Alina mencari aman saja.


Ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya dikatakan oleh Alendra. Namun ia dapat melihat sorot mata Alendra menyiratkan akan rasa bersalah yang mendalam dengan dirinya. Dengan Alina yang asli.


Bugh


Sebuah pukulan cukup keras Alendra berikan di ranjang tepat di samping wajah Alina.


"Kamu itu-"


Tok


Tok


Tok


"Non Alin sama den Endra disuruh ke bawah sekarang! Katanya penting non," ujar salah satu asisten rumah tangga membuat keduanya saling tatap dan akhirnya menjeda pertengkaran.


Alendra bangkit dari atas tubuh Alina. Begitu juga dengan Alina yang ikut bangkit dan keluar dari kamar.


Sebelum keluar. Alina sempat melirik ke arah Alendra dengan sengit.


Dilihatnya Widya yang sedang menunggu kedatangannya. Alina sendiri cukup terkejut dengan kedatangan Widya ke rumah ibu martuanya. Pasti ada hal penting sampai membuat gadis lugu itu datang langsung.


"Widya ada apa?" tanya Alina menghampiri.


"Alina," balas Widya menatap Alina dengan sendu.


Langkah Alina mendekat. Ia menuntun Widya untuk kembali duduk. Setelahnya ia ikut duduk di samping Widya.


"Ma ini Widya," ujar Alina dan diangguki oleh mama Intan.


"Wid, ada apa?" tanya Alina lagi.


Melihat keadaan Widya saat ini membuatnya tahu sesuatu telah terjadi dengan gadis itu. Apa lagi Widya sampai datang ke rumah jelas sesuatu yang mungkin saja tidak ada pilihan lain selain mendatanginya.


"A-Alin aku butuh bantuan kamu," ujar Widya menunduk.


"Katakan Wid," balas Alina membuat Widya kembali menunduk sebelum kembali berucap. "Ayah aku masuk ke rumah sakit Alina, kata dokter harus segera dioprasi karena jantungnya semakin melemah," ujarnya menahan tangis.


"A-aku nggak tahu lagi harus kemana Alin, selain minta bantuan sama kamu," lanjut Widya membuat Alina buru-buru memeluk Widya dengan hangat.


"Janga khawatir Wid, gue akan bantu lo ya?" balas Alina mengusap lembut punggung Widya.


"Makasih banyak Alin," ujarnya melepas pelukkan di antara mereka.


"Ma, Alin mau ikut Widya ke rumah sakit ya?" pamit Alina yang diangguki mama Intan dengan senyum tipis.


"Bilang ke dokternya sayang, mama yang akan membiayai operasi dan semua kebutuhan di rumah sakit," jelas mama Intan seketika membuat Alina dan Widya saling pandang haru.

__ADS_1


"Makasih ma, makasih banyak udah bantuin temen Alin," ujar Alina memeluk mama Intan.


"Makasih banyak tante," ujar Widya yang diangguki oleh mama Intan.


"Bi, panggilkan den Endra suruh anter non Alina sama temannya ke rumah sakit ya?" titah mama Intan yang diangguki oleh asisten rumah tangganya.


Selama di perjalanan hanya ada kesunyian yang tercipta. Alina dan Alendra sebenarnya masih dalam mode perang dingin. Sementara Widya selain lugu ia juga tidak ada tenaga rasanya untuk bicara, ia terlalu fokus memikirkan Ayahnya yang sedang berjuang untuk hidup.


"Wid, jangan panik ya? Serahkan semua sama yang di atas," ujar Alina pada akhirnya memecah kesunyian.


Mendengar penuturan Alina barusan membuat Alendra melirik sekilas. Sikap Alina terlalu susah untuk ditebak.


"Makasih banyak Alin," balas Widya membuat tangan Alina tergerak untuk menyeka air mata yang keluar di wajah cantik Widya.


"Udah nangisnya, nanti kaca mata lo makin gede lho," goda Alina seketika membentuk senyum tipis pada bibir Widya.


"Jangan gitu, aku lagi sedih Alin," peringat Widya yang diangguki oleh Alina


"Sorry Wid," balasnya tersenyum simpul.


"Ck, kamuflase," decak Alendra.


Namun tidak dipungkiri jika Alendra merasa tersentuh atas apa yang Alina lakukan kepada temannya. Meski terkadang menyebalkan Alina memiliki rasa kepedulian yang cukup besar.


Mobil yang mereka tumpangi sampai di depan rumah sakit. Keduanya turun dari mobil dan berjalan cepat menuju ke ruang inap Ayah Widya. Diikuti Alendra dari belakang.


"Ibu." Widya berseru menghampiri ibunya.


"Widya, Ayah wid," balas beliau terlihat sangat sedih.


"Iya bu, Widya tahu... Ibu tenang dulu ya ayah bisa segera diporasi," beritahu Widya membuat beliau menatap Widya tidak percaya.


"Ini Alina bu, teman Widya di sekolah." Widya memperkenalkan Alina kepada Ibunya.


"Dia yang udah bantuin ibu buat cari kerjaan baru, dan juga mama martuanya yang mau bantuin kita buat biaya operasi ayah," jelas Widya seketika membuat tangis Ibu Widya pecah.


"Ya Tuhan, terimakasih banyak. Engkau mengirimkan orang-orang baik untuk kami," ujar beliau membuat Alina ikut tersenyum haru.


Sementara Alendra memilih untuk berdiri dan bersandar di dinding cukup jauh dari mereka. Keberadaannya seakan tidak diakui oleh Alina.


"Alin, aku titip ibu ya? Aku akan segera temui dokter," ujar Widya yang diangguki oleh Alina.


"Kita duduk di sini dulu bu." Alina menuntut ibu Widya untuk duduk sembari menunggu Widya.


Ekor mata ibu Widya melirik ke arah laki-laki dengan perawakan tinggi dan pemilik wajah sangat tampan. Sangat mencolok sekali penampakannya, bahkan sejak kedatangannya tadi membuat beberapa perawat yang lewat mencuri pandang ke arahnya. Tidak sedikit juga yang sengaja lewat di depannya untuk sekadar mencari perhatian.


Seperti mas Lendra, tapi apa iya ya?


Ujar beliau dalam hati.


___

__ADS_1


Yang nggak suka skip ya? sengaja emang aku buat alurnya santai dulu tanpa konflik, kalau dikasih konflik berlarut-larut nanti kalian protes, jadi harap sabarrrrrrr....!!!


__ADS_2