Fire On Fire

Fire On Fire
Sopir Ganteng Bajakan


__ADS_3

Alina sempat dibuat terkejut dengan kedatangan Gevan, terlebih ketika Gevan tiba-tiba menariknya untuk masuk dan sarapan bersama. Mau menolak tetapi tidak ada alasan yang tepat, kepalang tanggung tadi Alina sudah bilang akan sarapan di sana.


"Alin mau apa? Biar gue yang pesenin?" tawar Gevan tersenyum manis.


"Emm gue bubur ayam aja deh," balas Alina dan diangguki oleh Gevan setuju.


"Sebentar ya tunggu di sini," pamit Gevan beranjak dari duduknya.


Lagi-lagi Alina dibuat terperangah dengan tindakan sepontan Gevan yang mengelus puncuk kepalanya lembut. Ini untuk yang ke dua kalinya Gevan melakukan hal demikian.


"Cari kesempatan banget sih," gumamnya mengambil ponsel miliknya.


Sembari menunggu Gevan sedang memesan makanan. Alina bermain dengan ponselnya. Namun tiba-tiba seseorang datang dan kembali membuatnya terkejut setengah mati.


Alendra tiba-tiba muncul dihadapannya. Wajahnya tampak merah menahan amarah. Dan baru Alina sadari jika Alendra pasti melihat adanya Gevan di sana juga. Tetapi yang lebih harus ia waspadai ialah keberadaan Gevan di sana, jika Gevan sampai melihat Alendra bersamanya, sudah pasti akan menjadi masalah dan Alina tidak mau akan menimbulkan berita baru di sekolah.


"Ngapain sih lo? Sutt..sutt... Pergi gih," usir Alina membuat Alendra semakin geram rasanya.


"Ikut aku Alin, sebelum dia datang," ancam Alendra berhasil membuat Alina tidak bisa menolak lagi.


Pilihan satu-satunya yang tepat ialah menuruti Alendra saja dari pada timbul masalah baru jika Gevan sampai melihat. Lagi pula tidak mungkin kan Alendra akan melakukan hal mengerikan seperti tadi malam di pagi hari ini.


"Udah lepas...!" tolak Alina ketika keduanya sudah keluar dari rumah makan tadi.


"Lo ngikutin gue?" tuduh Alina yang tidak mendapat jawaban dari Alendra.


Sejenak Alina memejamkan matanya. Sebelum akhirnya ia kembali berniat untuk mengusir Alendra. Rencana untuk sarapan bersama dengan Gevan masih ingin dia teruskan. Masa bodoh rasanya dengan Alendra yang nantinya pasti akan marah.


"Udah sih minggir. Gue mau makan dan gue nggak mau liat muka lo! Masih pagi udah bikin naik darah aja heran gue," ujar Alina berniat untuk pergi.


Sampai akhirnya tubuhnya terasa melayang di udara. Alendra sudah mengangkat dan membawanya seperti karung menjauhi rumah makan yang ingin ia masuki lagi.


"Ale lepas! Breng**k banget sih lo jadi orang!" umpat Alina langsung di depan orangnya.


Bruk


Alendra mendudukan Alina di kursi sebelah kemudi. Setelah itu ia menutup pintunya dengan sangat keras. Rencana Alina untuk kembali keluar gagal disaat Alendra sudah berhasil masuk dan langsung mengunci pintu mobilnya secara otomatis.

__ADS_1


Hatinya semakin dongkol dengan perbuatan Alendra yang menurutnya semena-mena. Alendra seakan tuli dengan apa yang sudah kedua orang tuanya katakan.


"Ale... Gue nggak mau berangkat bareng lo, gue udah ada mang Udin," tekan Alina membuat sudut bibir Alendra tertarik ke atas.


"Berisik. Mang Udin udah aku suruh pulang," balas Alendra seketika membuat Alina terdiam.


Lah... Iya ya... Ini kan mobil yang tadi? Batin Alina melirik Alendra sinis. Sialan emang si Ale. Lanjutnya lagi hanya bisa pasrah.


Bodohnya Alina tidak begitu memperhatikan baju dan celana yang dipakai oleh Alendra saat ini. Jika iya, pasti Alina sudah tahu siapa sopir misterius yang jarang sekali berbicara itu.


Alendra hanya membuka topi, kaca mata, juga menambah jaket jeans pada tubuhnya. Beruntungnya ia tanpa harus bersusah payah untuk mengganti semua yang melekat pada tubuhnya tadi tidak begitu dipedulikan oleh Alina.


"Eh...stop Ale gue berhenti di sini kan biasanya?" protes Alina ketika Alendra tetap menjalankan laju mobilnya ketika melewati depan mini market biasanya ia dihentikan.


"Pagi ini sampai depan gerbang, perminta maafan aku atas kejadian tadi mal-"


"Stop... Jangan bahas-bahas itu lagi. Gue udah berusaha banget ya buat lupain, kalau lo masih ngungkit-ngungkit jangan harap lo masih bisa hahahihi," ancam Alina membuat Alendra hampir meledakkan tawanya.


Namun ada yang membuat Alendra semakin tertarik pada sosok Alina sekarang ini. Selain bar-bar gadis itu tidak terus larut dalam kesedihan. Bisa Alendra lihat sendiri tadi malam Alina nangis karena perlakuannya. Namun sekarang lihatlah Alina sudah kembali seperti biasanya dan bahkan berani mengancam Alendra.


Dugh


"Heh ngapain ketawa sih? Diem sih suara lo kedengeran mereka Ale," kesal Alina berniat untuk berbalik badan dan...


Entah hari ini atau memang di pagi hari ini saja Alina seakan sedang melatih kesehatan jantungnya, bayangkan saja tiba-tiba Widya sudah berdiri tepat di belakangny tadi.


Alina hampir saja dibuat pingsan jika saja ia tidak buru-buru menarik tangan Widya untuk segera pergi.


"Alin berangkat bareng siapa?" tanya Widya menggoda.


"Sopir Widya," balas Alina membuat Widya terkikik.


"Ganteng banget sopirnya, tadi aku lihat dikit dari samping, lain kali boleh nggak aku numpang pulang Alin?" tanya Widya membuat Alina menoleh dan menatap Widya tidak percaya.


"Ganteng?" tanya Alina dan diangguki oleh Widya dengan antusias.


"Tapi masih gantengan pak Endra sih... Alin lihat deh coba," ujar Widya memperhatikan Alendra yang baru saja datang dan berjalan dengan santai.

__ADS_1


Salahnya Alendra saat ini ialah pakaina yang dikenakan terlalu mencolok untuk seorang guru. Bayangkan saja jika biasanya ia akan mengenakan kemeja sebagai atasannya Alendra kini muncul dengan pakaian casualnya ditambah jaket jeans yang tadi. Apa yang dikenakannya itu membuat para siswi tidak berkedip menatap wajah rupawannya.


"Demi apa pak Endra datang-datang badai banget gitu?"


"Iya, kok bisa sih ganteng banget gini? Kan gue jadi melting sendiri."


"Aaaa... Mana nanti ada mapelnya pak Endra lagi."


"Buruan gih... Catok rambut dulu."


Beberapa para siswi yang melihat Alendra berlomba menunjukan penampilannya yang paling sempurna di depan guru tampan tersebut.


Termasuk Widya kini yang diam-diam tersenyum sembari membenarkan letak kaca matanya. Alina sendiri yang berada di sebelahnya sampai merasa heran dengan tingkah Widya.


"Wid," panggil Alina tidak mendapat jawaban dari Widya.


"Widya Mustika!" teriak Alina membuat Widya tersadar.


"Alin, sakit telinga aku," keluh Widya membuat Alina terkikik.


"Makanya kedip kek jangan kayak orang kerasukan set*n gitu," komentar Alina membuat Widya mencebik.


"Nggak papa kalau set*nnya ganteng seperti pak Endra," jawab Widya membuat Alina terperangah.


Jadi beneran Widya juga kena sawan si Ale? Batin Alina tidak percaya.


"Ayo... Jangam ngayal mulu." Alina buru-buru menarik tangan Widya untuk segera pergi.


"Lin," cicit Widya membuat Alina menoleh.


"Apa?" tanya Alina mendapat gelengan kepala dari Widya. Namun ekor mata Widya seakan memberitahunya sesuatu.


Merasa aneh Alina menoleh ke belakang. Dimana Alendra sudah berdiri tepat di belakangnya dengan satu tangan menenteng sebuah tas. Beberapa dari para sisei juga melihat dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Tas kamu Alin," ujar Alendra menyerahkan tas Alina yang tertinggal di dalam mobil. Setelahnya berlalu pergi seakan tindakannya itu tidak akan berpengaruh apa-apa nantinya.


Padahal lihatlah. Banyak sekali para siswi yang sedang menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Begitu juga dengan Alina yang terdiam kaku di tempatnya.

__ADS_1


Glek


"Ma*p*s gue," gumamnya menyadari sesuatu yang besar akan terjadi di sekolahnya.


__ADS_2