
"Makasih pak atas tumpangannya tadi. Kalau nggak ada bapak pasti saya sudah telat karena mobil mogok itu!" seru Alina tidak kehabisan akal agar teman-teman yang masih setia di tempatnya tidak menaruh curiga atau menjadikan bahan berita lagi.
Meskipun Alina tahu setelah ini pasti akan ada yang memberitakan jika ia ditolong Alendra karena mobil mogoknya. Namun menurutnya itu jauh lebih baik ketimbang diberitakan berangkat bareng Alendra tanpa embel-embel sebuah alasan seperti mobil mogok misalnya.
"Alin... Jadi sopir ganteng tadi pak Endra?" tanya Widya menatap Alina cengo.
Sebelum menjawab pertanyaan Widya. Alina mengangguk saja, lalu cepat-cepat ia menarik Widya untuk segera berlari menuju ke kelasnya sebelum banyak siswi yang membicarakan dan memenuhi telinganya.
"Pak Endra sopir Alin beneran?" tanya Widya sampai di kelas.
"Kadang-kadang sih," balas Alina sekenanya.
"Hah?" beo Widya ternganga.
Tiba-tiba otak Widya yang biasanya cerdas ngeblang, ia masih bingung dengan Alina yang tiba-tiba bisa berangkat bersama Alendra. Jika diingat-ingat Alendra juga pernah mentraktir mereka beberapa waktu lalu. Dari situ Widya mulai menyimpulkan jika mungkin saja Alendra...
"Alin jangan-jangan pak Endra suka sama kamu," ujar Widya membuat Alina menoleh.
"Paan sih? Ngarang aja, gemes deh sama si empat mata ini," balas Alina mencubit pipi Widya dengan gemas.
"Ih... Alin, kok jadi gitu sih? Termasuk bully lho," protes Widya dengan gaya imutnya.
"Gimana mau bully, lo aja imut gini. Segala protesnya pakai nada lagi," goda Alina semakin tertawa.
Setelah bel istirahat berbunyi. Alina dibuat kesal setengah mati dari teman-temannya yang kini mengerubuninya dan membuatnya tertahan di kelas. Begitu juga dengan Widya yang ikut tertahan karena banyaknya siswi yang berbondong-bondong beralih ke meja Alina.
"Lin kasih tahu gue cepet makanan apa kesukaan pak Endra?"
"Lo pasti tahu kan warna kesukaan pak Endra?"
"Atau kalau tidak pak Endra suka sama cewek yang gimana sih Lin? Kasih tahu kita buruan jangan diembat sendiri aja pak Endra."
Itu permintaan teman-teman dari kelas Alina yang mulai mengira jika Alina pasti sudah tahu apa saja yang disukai oleh Alendra dan mereka seakan tidak peduli dengan keadaan Alina yang sangat tidak nyaman.
"Stop! Kalian bikin gue pusing tahu nggak!" galak Alina membuat teman-temannya mencebik.
"Ya buruan sih kasih tahu, kita nggak akan ganggu lo kalau udah kasih tahu," suruh seorang siswi di antara mereka.
Sebelum menjawab semua pertanyaan teman-teman kelasnya. Alina perhatikan satu persatu dari mereka. Jika dilihat mereka ini memang gadis-gadis centil yang selalu mencari perhatian jika Alendra sedang mengajar di kelasnya. Kebetulan sekali kalau begitu Alina akan memberi pelajaran untuk mereka juga untuk Alendra langsung.
"Pak Endra suka warna hitam, suka makan donat saka suka gadis yang agak gendutan gitu," ujar Alina membuat teman-temannya mengernyit.
__ADS_1
"Yakin Lin? Suka cewek gendut?" tanya salah satu siswi dan diangguki oleh Alina.
"Nggak percaya ya udah... Gue udah kasih tahu ya? Minggir!" Alina menarik Widta untuk segera pergi dari kelasnya.
Ia ingin segera ke kantin untuk mengisi perut. Pasalnya tadi pagi ia tidak jadi sarapan akibat gangguan dari Alendra yang tiba-tiba muncul. Lalu sekarant juga terdapat gangguan kecil yang membuatnya hampir saja tertahan di kelas. Penyebabnya juga Alendra lagi, jika bukan karena Alendra teman-teman di kelasnya tidak akan mungkin menahannya.
"Wid masih ada tempat itu," ujar Widya melihat meja kosong yang cukup jauh jaraknya dengan mereka kini berdiri.
"Alin, jangan yang itu," balas Widya seperti memohon.
"Kenapa? Jangan bilang itu mejanya gengnya si Aurel?" tebak Alina yang diangguki oleh Widya dengan pelan.
"Huh. Kenapa sih mereka harus banget gitu disegani? Kelakuan juga minin ahlak gitu," ujar Alina yang langsung mendapat tatapan waspada dari Widya.
"Buruan ayo... Ada Aurel sama teman-temannya," cicit Widya melihat kedatangan Aurel bersama dengan teman-temannya.
Alina dan Widya memutuskan untuk pesan dan makan di pinggir lapangan saja. Karena Widya tetap ngotot tidak berani duduk di sana atau duduk di meja yang dekat dengan Aurel dan teman-temannya. Meski Alina kini sudah menjadi gadis yang sangat pemberani namun Widya banyak kubu. Biasanya akan main curang dan keroyokan.
"Gimana duduk di sini nggak takut Wid?" tanya Alina mendapat gelengan kepala dari Widya.
Alina mencebik. "Huh...gumus gue sama lo, kalau masalah gue udah kelar semua gue bawa lo ke Boy deh Wid, pasti cetar," gumam Alina melirik Widya yang sudah menikmati batagor di tangannya.
"Hai," tiba-tiba Aurel bersama dengan teman-temannya datang menghampiri Alina dan Widya yang sedang duduk tenang di pinggir lapangan.
Kepala Aurel mengangguk. Ia duduk di sebelah Alina dengan sorot mata lurus ke depan lapangan. Di sana ada beberapa siswa yang sedang bermain.
"Gue denger tadi lo berangkat bareng pak Endra? Cepat juga ya cara licik lo buat dapetin pak Endra. Cara kuno dengan pura-pura mobil lo mogok itu trik lama yang ampuh juga ternyata," sindir Aurel mendapat kekehan dari Alina.
Jika Widya, gadis itu sudah panas dingin di sebelah Alina. Dikerubunin oleh geng Aurel membuat nyali Widya benar-benar menciut. Ia lebih memilih untuk diam takut kembali dirundung oleh geng Aurel.
Ekor mata Alina melirik malas ke arah Aurel. Ia menghela napas terlebih dahulu sebelum menjawab. "Bener banget, dan si*lnya pak Endra malah minta nomor gue juga tuh, katanya biar dia bisa bantu setiap kali mobil gue mogok, heran kan pasti lo kenapa pikiran pak Endra langsung kek gitu? Kayak doain dan berharap banget gitu biar mobil gue sering mogok dan anterin gue terus," ujar Alina dengan penuh percaya dirinya dan sukses membuat Aurel semakin kesal menatap Alina tajam.
"Lo... Hati-hati aja ja**ng, gue nggak akan biarin lo tenang kalau masih deketin pak Endra," ancam Aurel berlalu pergi meninggalkan Alina dan Widya di tempatnya.
Setelah kepergian Aurel, Alina tertawa. Aneh saja rasanya dilarang deket sama suami sendiri oleh orang lain yang bukan siapa-siapa mereka.
"Lo tahu sesuatu hal nggak Wid?" tanya Alina menatap Widya.
"Apa Lin?" balas Widya masih dengan rasa takutnya.
"Lucu," balas Alina tersenyum tipis.
__ADS_1
"Alin, jangan nantangin Aurel, nanti kita kena lagi Lin," peringat Widya yang memang selalu ketakutan jika berhubungan dengan Aurel.
"Dia Widya yang mulai, dia juga yang ngancam, gue nggak ngerasa nantangin tuh. Dia ke sini bertai kepo kan? Gue kasih tahu malah nggak terima kan sick emang," jelas Alina membuat Widya menggeleng.
"Udah ayo balik kelas. Nggak usah dipikirin," ajak Alina beranjak.
Baru beberapa langkah mereka meninggalkan lapangan. Tiba-tiba Gevan datang dan membuat Alina harus kembali bersabar.
"Alina," seru Gevan mengejar keduanya. Lebih tepatnya mengejar Alina.
"Tadi lo kemana?" tanya Gevan membuat Widya yang berada di sebelahnya menatap Alina penasaran.
"Oh tadi gue ditelponin sama mama gue Gev, sorry ya nggak bilang lo duluan," balas Alina yang diangguki oleh Gevan.
"Ini buat lo aja... Gue tahu lo pasti tadi belum sarapan kan?" Gevan menyerahkan tempat yang unik dan lucu.
Jika dilihat pasti ia membeli makanan direstoran yang sengaja akan dikasihkan untuk Alina.
"Dimakan ya? Gue duluan Alin," pamit Gevan tersenyum manis.
Alina terdiam. Tadinya dia ingin menolak tetapi tangan Widya seperti mencegahnya dan menyuruhnya untuk menerima.
"Terima aja Alin, aku nggak papa kok," ujar Widya meyakinkan.
"Ya udah gue terima, tapi lo yang makan gue udah kenyang," balas Alina menyerahkan kotak tersebut.
Widya terdiam di tempatnya. Ia melirik Alina dan kotak makan tersebut secara bergantian.
"Alin kamu sekarang berbeda, pantes banyak yang suka sama kamu," gumam Widya berjalan pelan di sebelah Alina.
Sesuai ancaman Aurel tadi. Alina dibuat terkejut melihat tasnya dan isi-isinya sudah berserakan di lantai. Tidak lupa coretan besar di papan tulis dengan menyebutkan Alina jal*ng dan kegatelan juga terpampang dengan nyata di sana. Tetapi hanya ia yang mendapat bullyan itu.
Tangannya terkepal. Buru-buru ia membereskan barang-barangnya untuk dimasukan kembali ke dalam tas.
"Mana udah mau masuk lagi," keluh Alina ketika berniat untuk membalas perbuatan Aurel.
Tanpa harus diselidiki Alina juga sudah tahu siapa pelakunya. Memang siapa yang berani sebar-bar itu selain Aurel dan teman-temannya.
Sementara Widya dibuat terdiam di bangkunya ketika melihat kertas kecil yant isinya sebuah acaman untuknya.
Jauhi Alina kalau kamu mau tetap aman.
__ADS_1
Widya menatap Alina dengan diam. Niat hati ingin membantu Alina seketika tertahan karena sebuah ancaman yang ia dapatkan.
"Ma-af Alin," lirih Widya.