
Suara langkah pelan Alina terdengar dari atas tangga. Bibirnya terus membentuk senyum setiap kali mengingat kejadian satu jam yang lalu. Tidak pernah terbayangkan olehnya seorang Alendra akan membawanya terbang dengan permainan cintanya.
Laki-laki tidak tahu diri itu ternyata penuh dengan kejutan. Alina berpikir laki-laki seperti Alendra akan bermain dengan kasar, namun untuk saat ini apa yang Alina perkirakan salah besar. Alendra memperlakukannya layaknya tuan putri, penuh dengan kelembutan sampai membuatnya ingin lagi nantinya.
"Sore ma," sapa Alina dengan senyum.
"Sayang, sini nak!" titah mama Intan membuat Alina berjalan lebih cepat dari tadi.
Meski ada bagian yang terasa nyeri karena permainan yang baru saja ia lakukan bersama dengan Alendra di kamar tadi. Bukan berati Alina tidak bisa berjalan seperti biasa, kelembutan permainan Alendra tadi membuat Alina sendiri tidak mengalami kesusahan sama sekali. Ia masih bisa berjalan normal meski tetap mengalami rasa nyeri.
Deg
Alina dibuat terkejut dengan adanya Widya di sana. Terlihat Widya yang sedang membantu mama Intan menyiapkan makanan untuk nanti malam. Alina pikir Widya tadi salah satu asisten rumah tangga mama Intan, namun saat wajah Widya mendongak Alina dibuat terkejut dengan keberadaannya.
"Ada Widya lho, udah dari tadi tungguin kamu," beritahu mama Intan yang hanya dijawab Alina dengan sebuah senyum.
Untuk saat ini, Alina merasa sedikit malas bertemu dengan Widya, Alina sedikit kesal dan kecewa dengan sikap Widya padanya.
"Eh, kamu baru mandi ya?" tanya mama Intan diangguki oleh Alina.
"Tumben keramas sore? Biasanya juga pagi kalau nggak malam nak?" ujar mama Intan seketika membuat Alina terbeo.
Tidak mungkin dia menjawab jika baru saja dipakai oleh Alendra. Terlebih ada Widya di sana. Alina tidak akan terbuka begitu saja dengan Widya yang tiba-tiba menjadi seperti orang lain.
"Emmm...tad-"
"Mama kayak nggak tahu kegiatan suami istri aja," sela Alendra yang tiba-tiba datang dan mengalihkan atensi mereka.
Tidak lupa sebuah kecupan singkat Alendra berikan pada puncuk kepala Alina. Hal itu jelaa tidak luput dari arah mata pandang Widya yang kebetulan juga masih berada di sana.
Wajah Alina tampak memerah karena tindakan Alendra juga ucapan yang terkesan ambigu tadi. Terlebih mama Intan kini sudah senyum-senyum menatap ke arahnya, ada Widya juga yang membuatnya tidak nyaman karena hubungan mereka yang kini sedang tidak baik-baik aja.
"Apa kamu bilang? Coba ulangi?" titah mama Intan setengah tidak percaya.
"Ck, kebiasaan," decak Alendra tersenyum tipis untuk Alina.
Tangannya terkepal. Widya menatap Alina dengan senyum sedikit dipaksakan. Lalu menatap mama Intan berniat untuk pamit.
__ADS_1
"Maaf bu, saya pamit ke belakang dulu," ujar Widya diangguki oleh mama Intan.
Melihat kepergian Widya sama sekali tidak membuat Alina mencegahnya. Untuk saat ini tanpa adanya Widya di sana jauh lebih baik. Apa lagi Alendra yang sedari tadi terus menatapnya dengan senyum tampan dan hangat. Alina malu dan merasa aneh terus diperlakukan oleh Alendra demikian.
"Sebentar ya sayang, mama ambilin sesuatu buat Alin," pamit mama Intan dengan senyuman sebelum kepergiannya.
Dan kini hanya ada Alina dan juga Alendra di meja makan. Ia menatap kesal Alendra yang tidak hentinya memberi tatapan yang menurutnya terkesan aneh.
"Bisa nggak sih! Nggak usah liatin gue terus," kesal Alina malah mendapat kekehan dari Alendra.
"Ck, nyebelin banget," decak Alina merapihkan cara duduknya.
Jujur saja ditatap seperti itu oleh Alendra membuatnya tidak nyaman. Ada rasa sedikit malu dalam dirinya.
"Alin, makasih ya," ujar Alendra dengan satu ciuman jarak jauh.
Alina mendelik. Ia menatap tajam Alendra yang masih saja memasang wajah menyebalkan.
"Nggak usah bahas itu di sini," tekan Alina diangguki oleh Alendra.
"Jangan liatin terus sih, gue colok tahu rasa!" omel Alina seraya menunjukan garpu yang sedang dipegang olehnyq.
"Bukan kamu Alin, harusnya aku yang lakuin itu ke kamu," balas Alendra semakin membuat Alina tidak suka.
"Ah... terserah! Pikiran lo kotor banget sumpah!" kesal Alina tidak habis pikir.
"Kamu yang buat aku begini." Alendra beranjak dari duduknya.
Ia mendekat dimana Alina sedang duduk, lalu menaruh garpu yang tadi sedang dipegang oleh Alina.
Cup
Sebuah kecupan singkat Alendra berikan pada bagian punggung Alina. Asli otak kotor Alendra kini penuh dengan bayangan Alina tadi ketika berada di bawahnya.
Wajah lugu dan cantik Alina sangat menggoda bagi Alendra, bahkan ia sudah merencanakan untuk melakukannya dengam fersi yang berbeda, tadi ia melakukannya penuh dengan kelembutan karena untuk yang pertama kalinya. Tetapi nanti, laki-laki itu akan bermain dengan fantasinya.
"Kamu sangat indah Alin, semua yang ada padamu kini sudah menjadi milikku," ujar Alendra seketika membuat langkah Widya terhenti.
__ADS_1
Widya tadi disuruh oleh mama Intan untuk membawaka satu gelas susu untuk Alina. Namun sebelum sampai ia sudah dikejutkan dengan tingkah romantis dan jail Alendra untuk Alina. Dari situ perasaam Widya mulai tidak menentu.
"Kenapa harus selalu kamu Alin?" gumamnya menatap tajam Alina.
"Berhenti Ale, ini di meja makan," cegah Alina ketika Alendra akan kembali memberi kecupan untuknya.
"Panggil aku Endra," titahnya lagi.
Kali ini Widya sudah tidak tahan lagi. Ia dengan sengaja maju dengan langkah lebar dan menaruh segelas susu di atas meja.
"Alin, ini susunya," ujarnya membuat Alina dan Alendra menoleh ke arahnya.
"Maka-" ucapan Alina terhenti saat tubuhnya tiba-tiba diangkat paksa oleh Alendra.
"Ale, lepasin!" berontak Alina saat Alendra malah dengan sengaja membawanya menjauh dari meja makan.
"Jangan ngaco bisa nggak?" kesal Alina mendapat gelengan kepala dari Alendra.
"Satu kali lagi Alin, kalau mau dapat nilai terbaik," ujar Alendra dengan sudut bibir tertarik ke atas.
Demi apapun Alina kesal dengan pemikiran Alendra seperti ini. Meski Alina tahu itu hanya trik Alendra saja untuk membuatnya pasrah berada di bawahnya. Namun ia tetap tidak suka jika Alendra bermain curang dengannya.
"Gila, lo nyogok gue?" kesal Alina mendapat anggukan kepala dari Alendra.
"Iya, pakai ini," lirih Alendra seraya menggerakan bagian tongkat saktinya yang sudah kembali mengeras di bawah sana.
Alina terkejut merasakan ada sesuatu yang bergerak pada bagian pahanya. Ia menatap horor Alendra yang sedang menatapnya dengan wajah ingin.
"Guru cab*l," cibir Alina mulai pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Sementara Widya masih mengepalkan tangannya begitu kuat. Kehadirannya tadi seakan tidak berati apa-apa bagi Alina atau pun Alendra. Wajahnya masih mendongka ke atas. Dimana tadi sepanjang perjalanan ke atas Alendra dengan segala tindakannya terus menjahili Alina, namun dengan cara yang sangat romantis menurut Widya.
"Lho nak, Alina dimana?" Mama Intan datang dan mendapati Widya seorang diri di meja makan.
"Eh bu, permisi," pamit Widya sopan.
Satu tetes air mata berhasil jatuh dari pelupuk matanya. terdengar helaan napas yang sangat dalam bersamaan dengan tangan yang kembali mengepal dengan sangat kuat.
__ADS_1