
Situasi yang cukup menegangkan kembali terjadi dengan kedatangan bu Tina secara tiba-tiba. Alina ingin segera keluar dari mobil Alendra. Namun sayang, tangan kekar laki-laki itu mencekalnya. Sepertinya Alendra sengaja untuk membuat Alina berada disituasi yang menyulitkan seperti saat ini.
"Ale lepas," tekan Alina namun dengan nada lirihnya.
Menanggapi ucapan dari Alina. Sudut bibir Alendra malah tertarik ke atas. Ia seakan tidak peduli dengan ketegangan yang sedang dialami gadis itu. Tangan satunya mulai menekan agar kaca pintu mobil menurun.
Mata Alina membola saat kaca pintu mobil Alendra mulai turun, buru-buru ia menggigit lengan kekar itu dan langsung membuka pintu mobil dan menunduk untuk lari. Jangan sampai bu Tina melihat adanya dirinya.
"S**t," umpat Alendra ketika Alina berhasil kabur.
"Pak Endra," sapa bu Tina dengan senyum manisnya.
Saking sibuknya menata penampilan, beliau sampai tidak sadar jika telah terjadi sesuatu di dalam mobil itu sebelum akhirnya Alendra menurunkan kaca mobil.
"Kenapa bu?" tanya Alendra santai.
"Emm... Mari kita masuk pak," ajak bu Tina dan diangguki oleh Alendra.
"Sebentar pak," mata bu Tina melirik ke arah kursi sebelah kemudi. Di sana terdapat tas yang menurut beliau tidak begitu asing. Tetapi beliau lupa siapa pemilik tas tersebut.
Ekor mata bu Tina melirik ke arah tas lucu yang berada di kursi. Lalu menatap wajah tampan Alendra. Tidak mungkin laki-laki setampan Alendra memiliki tas feminim seperti yang dilihatnya. Kepalanya menggeleng bersamaan dengan otaknya yang masih terus berpikir keras.
"E...anu pak, i-itu tas siapa ya?" tanya bu Tina sedikit ragu.
Alendra melirik ke arah tas kecil dan lucu milik Alina. Sudut bibirnya sedikit tertarik ke atas mengingat jika gadis itu ternyata kembali lupa membawa serta tasnya tadi ketika melarikan diri.
"Bu Tina ingin tahu siapa pemilik tas itu?" tanya Alendra yang diangguki oleh bu Tina dengan antusias.
"Atau milik saudara pak Endra yang kebetulan tertinggal," ujar beliau masih ingin berpikir yang baik.
Jangan sampai guru tampan di depannya ini mengatakan jika tas itu milik kekasihnya. Tetapi tidak mungkin, Alendra laki-laki dewasa, mapan, dan sangat tampan mana selera dengan gadis kecil pemilik tas lucu itu.
Dari segi apapun jelas saya yang cocok dengan pak Endra. Batin bu Tina penuh percaya diri.
"Tunggu saja sebentar lagi dia pasti kembali," ujar Alendra membuat bu Tina ternganga.
Setelah mengatakan itu. Bu Tina melihat dengan sangat jelas kedatangan Aurel yang sedang menuju ke arah mereka. Tepatnya ke arah mobil Alendra.
__ADS_1
"Ya Tuhan... Dia?" gumam bu Tina menutup mulutnya tidak percaya.
Setelah mendapat skorsing kurang lebih 3 hari. Aurel kini kembali masuk sekolah dan pastinya akan kembali membuat berita atau masalah yang nantinya akan menggemparkan.
"Pagi pak," sapa Aurel dengan ramah.
Alendra menatap Aurel. Lalu mengangguk dan melenggang pergi. Namun tidak lama setelah itu langkah Alendra kembali terhenti dan menoleh ke arah Aurel.
"Jangan ulangi lagi," ujar Alendra menunjuk Aurel.
Gadis itu mengangguk dengan senyum. "Pasti pak," balas Aurel membuat bu Tina semakin ternganga.
"Kamu-" tunjuk beliau ke arah Aurel. Namun langkahnya cepat menghampiri Alendra yang sudah lebih dulu pergi.
Sementara di kelas. Alina kembali dibuat kesal dengan ketledoran dirinya. Ia tidak mau kejadian waktu itu kembali terulang. Dimana Alendra tiba-tiba datang dan membawakan tasnya. Lalu setelah itu semua teman-teman sekolahnya memebritakan tentang hal itu.
"Wid, anterin gue yuk," ajak Alina.
Widya menoleh, ia menatap Alina lalu mengangguk. "Kamu bisa kasih tahu pak Endra dulu untuk buka pintu mobilnya Alin," beritahunya dan diangguki oleh Alina patuh.
Kebetulan jam pelajaran pertama diisi oleh Alendra hari ini. Dan Alina baru sadar setelah Widya mengatakannya.
"Kamu tenang aja Alin, jam pertama kan pak Endra yang ngajar," ujar Widya melihat kegelisahan Alina.
Baru setelah itu Alina menatap Widya dengan diam. Bukannya tenang karena Alendra yang mengajar, ia justru malah semakin cemas. Jika guru lain, mungkin Alina akan mendapat hukuman dan tidak diperbolehkan mengikuti pelajaran, tetapi jika Alendra, lelaki itu jelas akan berbuat sesuatu hal yang terkadang diluar perkiraan Alina.
"Buruan Wid." Alina menarik Widya untuk segera menuju ke parkiran.
Perlu kalian tahu. Keadaan ayah Widya kini sudah semakin membaik. Dan bahkan sudah diperbolehkan untuk pulang. Ibunya juga akan mulai bekerja setelah ayahnya sudah bisa ditinggalkan.
Sampai di parkiran. Terlihat mobil Alendra yang sudah tertutup rapat. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Alina menghela napas dalam. Ia mengepalkan tangannya menyadari jika Alendra benar-benar sedang mengerjainya. Tidak cukup mungkin bagi laki-laki itu setelah kejadian tadi pagi di depan gerbang rumah. Kini di sekolah pun Alina harus menjadi korban dari kejahilan suami sekaligus gurunya sendiri. Salahkan Alina yang tidak hati-hati tadi ketika bertindak, namun dalam hal ini jelas Alendra lah yang sangat bersalah, sengaja membuat gadis itu panik sampai meninggalkan tasnya tadi ketika kabur.
"S**lan banget emang si Ale," gerutu Alina membuat Widya melotot.
"Alin, nggak boleh gitu, pak Endra itu baik," ujar Widya membuat Alina melirik Widya aneh.
"Tarik kata-kata lo Wid sebelum lo nyesel tahu kelakuan aslinya," balas Alina yang mendapat gelengan kepala dari Widya.
__ADS_1
Tidak lama setelah itu, mobil kepala sekolah datang. Alina dan Widya menoleh ke arah mobil tersebut, namun ada yang berbeda dengan Widya saat ini. Tangannya sudah menarik lengan Alina untuk segera pergi.
"Alin, kita harus segera pergi Lin," ujar Widya merasa disituasi yang tidak memungkinkan.
"Ada pak kepala sekolah, kamu bisa ketahuan nanti," lanjutnya lagi mengingatkan.
Blup
"Alina, Widya ada apa?" tanya beliau setelah turun dari mobilnya.
Kepala Alina menggeleng. Bibirnya membentuk senyum tipis. "Tas saya tertinggal pak."
Mendengar ucapan Alina membuat mata Widya membola bersamaan dengan tatapan matanya menatap tidak percaya ke arah Alina.
"A-alin," lirih Widya mengingatkan.
"Ki-kita pamit dulu pak," cicit Widya menundukkan kepalanya.
Tangannya menarik Alina untuk segera pergi dari parkiran guru. Namun baru berapa langkah. Suara seseorang berhasil mengejutkan dan menghentikan langkah kaki mereka. Lebih tepatnya Widya yang terkejut, berbeda dengan Alina yang memang terlihat biasa saja.
"Sudah saya buka Alina," ujar Alendra yang tiba-tiba datang.
Keduanya menoleh. Namun wajah Alina terlihat biasa dan malah menunjukkan mimik wajah kesal melihat kedatangan Alendra. Berbeda dengan wajah Widya yang sudah pucat pasi, ekor matanya melirik ke arah Alina, Alendra, dan juga kepala sekolah yang sedang tersenyum tipis seraya menggeleng.
"Ya sudah kalau begitu, saya duluan," ujar kepala sekolah dengan senyum.
Alina mengangguk hormat. Sementara Widya terbeo di tempatnya.
"A-alin ada pak kepsek Lin," cicit Widya dan diangguki oleh Widya.
"Iya Wid, gue tahu. Gue cuma mau ambil tas aja kok," balas Alina setelah itu membuka pintu mobil dan mengambil tasnya.
"Ka-kamu nggak takut?" tanya Widya yang mendapat gelengan kepala dari Alina.
"Panjang ceritanya, kapan-kapan aja ya?" ujar Alina menarik Widya untuk segera pergi. Namun ketika keduanya melewati Alendra. Tangan Alina dengan cukup kencang dicekal langsung oleh Alendra.
"Kamu, boleh pergi dulu," ujar Alendra ditujukan untuk Widya. Namun sorot matanya tidak terlepas dari Alina.
__ADS_1