
Langkah Alina cukup santai untuk sampai ke pintu utama. Setelah mengantar Widya pulang ke rumahnya. Tadi Gevan berlanjut mengantarnya pulang ke rumah ibu martua. Padahal jarak rumah Alina lebih dekat dibanding rumah Widya. Namun sepertinya Gevan memang sengaja mengantar Widya terlebih dahulu agar bisa lebih lama lagi waktu bersama dengan Alina.
"Non Alin baru pulang?" tanya asisten rumah tangga.
Alina mengangguk. "Mama dimana?" tanya Alina membuat asisten rumah tangga tersebut tampak menyunggingkan senyum.
Bukannya menanyakan suaminya. Alina justru malah menanyakan keberadaan ibu martuanya.
"Ibu ada acara non sama bapak," jelasnya dan diangguko oleh Alina.
"Eh...non Alin mau kemana?" tanya-nya lagi. Langkah Alina terhenti, tubuhnya berbalik dan menatap asisten rumah tangga tersebut bingung.
"Kamar bi," balasnya diangguki oleh asisten rumah tangga yang menghela napas lega.
Tadi Alendra memang sudah menyuruhnya agar Alina langsung saja ke kamar. Entah apa yang akan dilakukan oleh tuan mudanya itu. Namun dari wajahnya tadi seperti sedang menahan kesal atau amarah.
Ceklek
Tubuhnya langsung ia baringkan di atas ranjang. Diliriknya jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 7 malam lebih. Ternyata cukup melelahkan juga kegiatannya hari ini.
Terkadang Alina merasa aneh sendiri. Waktunya bersama Alendra yang begitu menguras emosi malah membuatnya tidak pernah merasakan lelah, hebatnya tubuhnya begitu cocok menanggapi segala perlikau atau tindakan Alendra yang terkadang membuat jiwa dan raganya tidak setabil.
Bruk
Alina terperanjat saat sebuah tubuh dengan sengaha menindihnya. Berat dan sangat membuat Alina yang berada di bawahnya terasa pengap. Meski aroma harum menguar masuk kepernafasannya.
"Ale, berat gila," protes Alina berusaha mendorong tubuh tegap Alendra yang tiba-tiba menindihnya.
Tubuhnya setengah ia angkat. Namun tetap posisi Alina berada di bawah kukungannya. Sorot mata tajam Alendra lekat menatap wajah yang kini juga sedang menatap ke arahnya. Asli detik itu juga ingin rasanya Alendra menghabisi gadis kecil di bawahnya itu. Dalam artian menjadikan Alina miliknya seutuhnya. Namun setiap kali ia melihat sorot mata Alina, perasaanya begitu berbeda. Menghangat namun seperti melihat gadis lain di depannya. Gadis dengan wajah yang sama namun sorot mata berbeda.
__ADS_1
"Kamu-"
"Apa? Minggir bisa nggak sih? Engap gue Ale!" protes Alina membuat rahang Alendra seketika mengeras.
Ingatan dimana tadi katanya Alina memasuki mobil teman cowoknya kembali berputar. Meski ia tidak melihat, namun Alendra seakan bisa membayangkan hal itu ketika terjadi.
Mata Alina terbelalak bersamaan dengan bibir mungil itu dikecup langsung oleh Alendra. Bahkan dengan sengaja tangan Alendra sudah berada di dua gundukan miliknya. Sedikit menekan dada ranum milik gadis itu dengan sedikit permainan dari jemarinya. Tubuhnya seakan dibuat bergetar hebat oleh perlakuan Alendra barusan. Tubuh Alina malah merespon dengan sangat baik perbuatan Alendra, terbukti dari matanya yang kini mulai terpejam, dan mulut sedikit ternganga ketika tangan Alendra bermain pada bagian dadanya.
Tangan kekar Alendra seakan pas pada dada milik Alina yang sedang ranum-ranumnya. Ia terus melakukan gerakan yang membuat Alina terus memejamkan mata untuk menikmati.
Menyadari tidak ada penolakan dari Alina membuat Alendra tersenyum miring. Dikecupnya lagi bagian leher gadis itu. "Enak bukan?" bisiknya seketika membuat Alina terasadar bahaya ada di depan matanya.
"Emmm...le-pa-sssssmmmhh," berontak Alina kuat-kuat.
Alendra mengalah, ia melepaskan dan tersenyum miring. Meski belum on fire atau baru seperempat permainan namun sudah ada kemajuan. Masih dengan tatapan matanya menatap Alina yang sedang mengatur napasnya. Alendra beranjak. "Mandi, ganti baju setelah itu ikut aku," titahnya berlalu.
"Aaaa...enak aja lo! Setelah nyium sama gre*p*e-gre*p*e gue langsung merintah. Ale...! Dasar laki-laki bang**t!" teriak Alina tidak terima.
"Ck, dasar bocah," decak Alendra menggelengkan kepalanya.
Alina memegang detak jantungnya yang berdetak tidak senormal biasanya. Lebih cepat sampai terdengar sendiri olehnya.
"Bodoh banget sih gue, mau-maunya digre**pe sama si Ale," tangannya memukul kecil bagian kepalanya. Berlanjut tangannya yang mengusap bagian bibir dan juga leher yang tadi sudah terkontaminasi oleh bibir Alendra.
"Aaaaa....dasar om me*su*m, mana dada ini juga udah kena lagi." Alina meraba bagian dadanya.
Aneh rasanya tidak senikmat ketika Alendra yang melakukannya. "Gila sih gue bener-bener udah gila kalau sampai kecanduan tindakan c*a*b*u*l itu guru," dumel Alina beranjak dari ranjang.
Ia akan segera membersihkan diri agar bagian tubuhnya yang sudah terpapar langsung oleh bibir Alendra hilang. Meski Alina tadi menikmatinya, namun ia masih mencoba menyangkal. Malu sama diri sendiri.
__ADS_1
Bergaun warna hitam panjang tanpa lengan. Dengan belahan sampai ke pahanya. Alina terlihat sangat seksi malam ini. Gaun itu sengaja Alendra yang siapkan tadi di kamar. Melihat gaun cantik itu yang tergeletak membuat Alina tanpa babibu langsung mengenakannya.
Suara langkah kaki mulai terdengar. Alendra menoleh ke asal suara dan mendapati Alina si gadis kecil yang kini begitu menarik di matanya. Alendra selalu merasa ingin di dekatnya, sekalipun keduanya beradu mulut diam-diam Alendra menyukai semua waktunya ketika bersama dengan Alina. Apapun itu.
"Mau kemana?" tanya Alina tidak mendapat respon dari Alendra.
Laki-laki itu masih menatap Alina tanpa kedip. Ah...rasanya sangat disayangkan jika orang-orang di luar sana melihat keindahan dari gadis itu.
"Ck, malah bengong, Ale!" gertak Alina seketika membuat Alendra berdehem.
"Ehem....kamu tidak cocok memakai baju itu lebih baik ganti Alin," ujar Alendra seketika membuat Alina melongo.
Ia mengamati baju yang sudah melekat pada tubuhnya. Menurutnya cocok dan bahkan sangat bagus di tubuhnya.
"Seleran lo yang kayak gimana sih Ale? Aneh," decak Alina melirik malas Alendra.
"Pokoknya gue nggak mau ganti, capek tahu harus naik turun tangga dikira gue robot apa," dumel Alina melenggang keluar meninggalkan Alendra yang menghela napas dalam-dalam.
Memberitahu Alina memang sama saja mengajak gadis itu untuk beragumen. Alina tidak akan pernah menjawab iya atau tidak. Pasti apa yang ia jawab akan merambat kemana-mana.
"Pembangkang," decak Alendra melangkah menghampiri gadis itu.
Blup
Pintu mobil Alendra tutup dengan cukup kencang. Ia kesal karena Alina selalu membantah dan tidak menurut perintahnya.
"Jangan salahkan aku, kalau aku tidak membawamu ke tempat yang seharusnya," ujar Alendra membuat Alina mengerutkan keningnya.
"Heh... Jangan ngaco Ale, buruan ortu kita udah nungguin," titah Alina merasa ancaman yang Alendra lakukan akan sia-sia saja. Karena mamanya sendiri tadi sudah memberitahunya untuk segera datang. Ternyata ada pesta yang diselenggarakan oleh keluarga Vinsan. Dan kebetulan orang tua mereka juga rekan bisnis yang cukup akrab.
__ADS_1
Baju dan gaun hitan menjadi ikon pada pesta yang diselenggarakan oleh keluarga Vinsan malam ini. Salah satu yang ditunggu dalam pesta itu sebenarnya keinginan Alendra untuk memutuskan Pinka. Namun sepertinya Alina tidak begitu menganggap serius kata-kata Alendra pagi tadi.
"Itu nggak terlalu penting untuk aku Alin," satu Alisnya terangkat. "Karena...ada yang lebih sepesial dari pada pesta itu."