Fire On Fire

Fire On Fire
Terapi Khusus Untuk....


__ADS_3

Mobil melaju dengan kecepatan tinggi setiap kali Alendra diliputi rasa amarah yang membuncah. Tidak ada lagi protes dari Alina seperti biasanya. Karena jujur saja ia sendiri seperti merasa terlalu banyak masalah dalam hidupnya. Maka jika kejadian beberapa bulan lalu kembali terjadi lagi dan membuat nyawanya tak tertolong, itu tidak lagi Alina takutkan.


Ekor matanya melirik ke arah ponsel Alendra yang sedari tadi terus bergetar. Tulisan dengan nama baby Pinka yang sedang mencoba terus menghubunginya.


Berani taruhan Pinka kini sedang marah besar karena ditinggal oleh Alendra begitu saja.


Ma**us lo tante, emang enak ditinggal pas lagi mesra-mesranya... Jangan gatel makanya. Batin Alina terkikik membayangkan wajah marah Pinka saat ini.


Sejenak Alina terdiam lalu mengamati wajah Alendra dari arah samping. Tadi ia hampir menyerah karena Alendra tidak bereaksi apa-apa, namun setelah melihat keadaan yang terjadi saat ini, tanpa disadari sudut bibirnya tertarik ke atas. Alendra bersamanya dan Itu berati Alendra lebih memilih untuk mengejarnya dan meninggalkan Pinka.


Seetttt


Mobil berhenti di pekarangan rumah besar yang beberapa hari lalu ia kunjungi kini kembali terlihat langsung di depan mata. Itu kediaman Alendra yang ia siapkan untuk anak dan istrinya nanti. Tanpa sepengetahuan Alina pastinya.


"Turun;" titah Alendra melihat Alina yang masih berdiam diri duduk di dalam mobil.


Entah nasib Boy seperti apa tadi setelah kepergiannya. Karena mobil yang dibawa oleh Alendra memang mobil miliknya.


"Iya," balasnya seraya turun dari mobil.


Lagi, baju yang dikenakan oleh Alina terlihat sangat panas di mata Alendra setiap kali Alina berdiri. Bentuk tubuh dari gadis itu terlihat dengan jelas.


"Ale, apa-apaan sih! Gue bisa jalan sendiri!" protes Alina saat tubuhnya kembali diangkat oleh Alendra.


"Mata aku sakit liat tubuh kecil kamu pakai baju seperti ini, nggak cocok," jelas Alendra membuat Alina melotot.


Baru saja Alendra mengatakan jika matanya sakit karena melihat pakaian Alina? Yang benar saja. Yang ada Alendra tidak bisa menahan, namun dengan alasan mengatakan jika matanya sakit. Itu yang benar Alina, kamu jangan mudah percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut laki-laki seperti Alendra.


Bugh


Alina dilempar ke ranjang besar kamarnya. Tatapan mata itu tak terlepas menikmati tubuh kecil namun disetiap harinya terlihat semakin berisi. Alendra akui Alina kini semakin pintar merawat diri. Buktinya ia saja sudah terang-terangan membawa Alina masuk ke dalam kamarnya. Digendong langsung malah oleh Alendra sendiri.


Jika kalian ingat, Alina yang dulu mana bisa masuk ke kamar Alendra. Bahkan sekadar untuk pamit sekolah saja akan diusir langsung ketika menginjakkan kakinya di kamar laki-laki tersebut.


"Katanya matanya sakit? Kenapa lihatinnya gitu banget?" sindir Alina tidak mendapat respon dari Alendra.


Laki-laki itu sedang menimang apa yang harus ia lakukan untuk membuat tubuh istri kecilnya semakin menarik di matanya. Dan hal itu kini disadari oleh Alina.


Niatnya memang untuk membuat Alendra pergi meninggalkan Pinka tadi. Namun bukan berati harus berakhir di ranjang kamar laki-laki itu.


"Apaan banget sih si Ale." Alina berniat beranjak, melihat tatapan mata Alendra yang sudah tidak biasa membuatnya harus waspada. Jangan sampai ada niatan terselubung dari Alendra.


"Keluar aku sobek baju kamu Alin," tekan Alendra membuat langkah Alina terhenti.


"Kamu tidak suka aku paksa bukan? Maka jangan pernah membuatku marah," lanjutnya melangkah menuju dimana letak lemarinya.


Alina masih terdiam memikirkan setiap kata-kata yang keluar dari mulut Alendra barusan. Ada tekanan dan ancaman pada kata-kata tersebut. Tetapi juga tersyirat akan peringatan untuk Alina agar tidak bertindak gegabah yang nantinya membuat Alina meyesal sendiri.

__ADS_1


Secara tidak langsung Alendra sudah mengatakan bahaya seperti apa yang harus Alina hindari, namun disisi lain ternyata Alendra mengesampingkan rasa amarahnya dan lebih memilih untuk menahan sesuatu yang bisa saja terjadi disaat amarahnya sedang meledak.


"Ganti baju kamu." Alendra melempar beberapa kaos besar miliknya.


Alina menerimanya. Tanpa protes lagi ia menuju ke kamar mandi.


"Aku tunggu di bawah," ujarnya sebelum pergi meninggalkan kamar.


"Iya tuan muda Alendra yang terhormat," balas Alina lirih dan tidak didengar oleh Alendra.


Ia masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti bajunya. Sejenak ia melihat pantulan dirinya di cermin yang teradapat di kamar mandi. Sudut bibirnya tertarik ke atas mengingat wajah merah Alendra tadi.


"Emang the best si Boy, paling bisa milih baju ginian," ujarnya terkikik.


Perlahan dres ketat dengan belahan dada rendah itu ia tanggalkan. Ia memakai kaos yang Alendra berikan tadi untuknya.


"Ben dan Vinsan sedang menjemput kamu baby," ujar Alendra mengakhiri sambungan teleponnya.


Terdengar helaan napas dari Alendra. Sebenarnya ia sudah merencanakan untuk mengakhiri hubungan yang sudah terjalin cukup lama itu. Namun semua tidak semudah perkiraannya.


Tap


Tap


Tap


Kaos yang Alendra berikan tadi sudah sangat besar. Namun bukannya menutupi bagian tertentu malah membuat Alina semakin terlihat menggoda. Jika tadi dengan dresnya belahan bagia dadanya hampir terlihat, lain halnya dengan kaos besar milik Alendra yang ia kenakan membuat paha mulus milik gadis itu terlihat dengan bebas.


Bahkan asisten rumah tangga yang berniat menyediakan cemilan tadi seketika menunduk tidak berani menatap Alina dengan pakaian minim yang ia kenakan.


"I-ini den Endra," ujarnya langsung pamit setelah Alendra mengangguk.


"Apa itu? Bagi ya Ale," dengan santainya Alina duduk di depan Alendra dan mengambil cemilan yang baru saja disajikan.


"Enak juga nih," ujar Alina menyomot cemilan tersebut untuk ia nikmati.


Alendra memanas. Ia mengalihkan pandangan matanya agar tidak kembali dibuat panas karena Alina. Namun detik berikutnya ia sudah tidak bisa bersabar lagi saat burung besar miliknya ikut mengomentari penampilan gadis itu.


Cewek seksi


Cewek seksi


Burung itu mengeluarkan suara khas miliknya. Lalu kembali berkata.


Cewek seksi


Cewek seksi

__ADS_1


Alina terperangah. Ia mencari keberadaan burung besar milik Alendra yang tidak terlihat.


"Dimana? Ale lo punya berapa burung sih?" tanya Alina mencari-cari keberadaan burung tersebut yang tak kunjung ia temui.


Sementara Alendra dibuat kesal sendiri mendengar celotehan dari burung peliharaannya.


"Diam kamu boby," gertak Alendra malah membuat Alina mendelik.


"Lo ngomong sama burung? Dimana burungnya Ale? Gue pengen liat," pinta Alina beranjak dari duduknya.


Aku di sini


Aku di sini


Cewek seksi


Cewek seksi


Alina kembali dibuat terkejut saat burung milik Alendra membalas ucapannya.


"Ale dimana?" tanya Alina semakin penasaran.


"Pak Datno, pindahkan burung itu," titah Alendra yang langsung membuat Pak Datno berlari dan mengangguk.


"Baik den," balasnya tetap menunduk. Tidak berani untuk sekadar mengangkat kepalanya karena penampilan nona mudanya saat ini.


"Saya ikut pak," ujar Alina berniat untuk ikut bapak-bapak yang baru saja diperintah oleh Alendra.


Tidak puas rasanya hanya mendengar pujian dari burung yang sudah Alina cap baik itu. Ia harus melihat bagaimana rupa dari burung tersebut. Pasti sangat gagah seperti pemiliknya. Namun saat Alina melirik Alendra ia menarik kata-kata di dalam pikirannya tadi.


"Kamu tetap di sini Alin," tekan Alendra yang tidak dipedulikan oleh Alina. Gadis itu tetap berniat bertemu dengan burung yang hanya terdengar suaranya saja tadi.


"Pembangkang," decih Alendra melangkah lebar dan menarik tubuh Alina seketika.


Alina dibuat terkejut saat tangan Alendra dengan sengaja memegang bagian belakangnya. Ada sedikit tekanan dari jemari Alendra yang membuat Alina ingin berontak.


"Diam," tekan Alendra.


"Sekarang pak Datno," titah Alendra yang langsung diangguki oleh Pak Datno.


Setelah kepergian laki-laki tua itu. Baru Alina siap untuk berontak. Sengaja ia memukul tongkat sakti milik Alendra dengan sikunya.


Dug


"Alina..!" umpat Alendra melepaskan tubuh gadis itu.


"Ah....si**an kamu," umpat Alendra untuk yang kesekian kalinya dibuat sakit pada area terlarangnya oleh Alina.

__ADS_1


"Itu namanya terapi khusus Ale biar burung lo yang dibawah juga bisa mengaduh sakit," ujar Alina tersenyum manis.


__ADS_2