
Bugh
Satu pukulan sangat keras berhasil Alendra layangkan untuk salah satu teman cowok Audy. Ia paling berperan dan berjasa, tugasnya sangat berat malam ini, sampai harus mendapat sebuah pukulan dari Alendra yang kini berhasil membuat sudut bibirnya mengalirkan darah segar.
"Bang**t lo!" umpat Alendra kembali memberi hujan pukulan pada wajah cowok itu.
Babak belur sudah wajah yang menjadi amukan Alendra malam ini. Hanya berlangsung sebentar tetapi bisa saja menewaskan nyawa seseorang jika saja Vinsan dan Ben tidak buru-buru datang.
"Ndra cukup!" Vinsan berusaha untuk mengalihkan Alendra dari teman Audy itu.
"Bebe kamu keterlaluan, aku malah khawatir akan kamu kalau begini," gumam Vinsan melihat keadaan Alina yang terbaring di kursi dengan kata-kata yang tidak jelas.
"Ale, kenapa lo dateng si? Mau sok jadi pahlawan buat gue? Hahaha... Nggak guna tahu nggak," ujar Alina setengah sadar.
"Gue lagi nikmati waktu tanpa lo, bener kata kak Audy, lo itu sekali-kali harus dikasih pelajaran biar nggak song*ng, pergi sana gue mau lanjutin," usir Alina.
Tubuhnya beranjak dari kursi. Ia berdiri tepat di depan Alendra yang sedang menatap lekat ke arahnya. Meski diam, jangan mengira Alendra sudah tidak marah lagi. Bahkan setelah mendengar celotehan Alina, Alendra justru semakin marah dan ingin berbuat lebih lagi.
"Pergi Ale! gue muak sama lo! Semenjak hidup sama lo masalah gue semakin banyak, lo itu laki-laki paling nggak tahu diri, nggak pernah ngertiin gue," tunjuk Alina ke arah Alendra, lalu ke arah dirinya.
Mendengar celotehan Alina, Vinsan dan Ben hanya bisa menahan tawa, mereka tidak menyangka Alina akan seberani ini. Segala mengatai Alendra tidak tahu diri lagi.
"Kalian." Audy datang dan langsung mengalihkan atensi Alendra.
Tubuh tegap Alendra menghampiri Audy dan langsung mencengkram dagu wanita itu. Cukup kuat sampai membuat Audy meringis sakit.
"Endra lo apa-apaan sih?" protes Audy merasa tindakan Alendra terlalu berlebihan terhadapnya.
"Endra, cukup! Jangan sakiti Audy," tekan Vinsan berusaha melepaskan tangan Alendra dari Audy.
"Dia yang udah bikin Alin seperti ini, lihat keadaannya! Kalian semua lihat! Tubuhnya hampir telanjang dengan pakaian yang ia kenakan sekarang!" Alendra terus meluapkan amarahnya.
Melihat keadaan Alina dengan gaun seksinya yang sudah tidak serapih tadi dan bahkan ikatan gaun itu pada bagian belakang hampir terlepas semua membuat pikiran Alendra sudah kemana-mana. Namun ia tidak gegabah membawa Alina keluar seperti biasanya. Karena menurutnya Audy juga harus bertanggung jawab atas ini.
"Gue bisa jelasin Ndra," ujar Audy sedikit kesusahan. Tangan Alendra masih mencengkram dagu Audy dengan keras.
"Lepasin Ale, lo pikir lo berhak melakukan ini? Ke kak Audy ataupun gue sendriri?" tantang Alina berusaha melepaskan cekalan tangan Alendra dari dagu Audy.
"Kalau pun gue ngelakuin sesuatu hal, gue bersyukur karena bukan lo orangnya, bukan sama lo!" lanjut Alina seketika membuat rahang Alendra mengeras.
__ADS_1
Dagu Aduy pada cengkraman tangannya ia lepaskan. Sorot matanya kini sangat tajam menatap Alina. Ia marah dan sangat kecewa dengan apa yang Alina katakan.
"Maksud kamu? Dia sudah melakukannya!" tunjuk Alendra ke arah cowok yang tadi menjadi sasaran empuknya. Namun sorot mata itu tidak terlepas dari Alina.
"Jawab!" bentaknya seketika membuat Alina tersadar dari mabuknya.
Alina terkejut, selama ini dia belum pernah melihat Alendra semarah seperti sekarang ini.
Melihat Alina yang hanya diam membisu membuat sudut bibir Alendra tertarik ke atas. Namun wajahnya tidak bisa bohong, jika Alendra penuh dengan rasa amarah dan kecewa akan Alina.
"Murahan," ujar Alendra berlalu pergi.
Tangannya terkepal. Mendapati cibiran dari Alendra membuatnya jelas tidak terima.
"Gimana ini?" tanya Audy mulai panik.
Ben dan Vinsan saling pandang. Ia sendiri tidak menyangka jika akan berakhir seperti ini. Bukannya menyatukan Alina dan Alendra. Rencana yang mereka buat malah justru bisa menjadi bumerang untuk hubungan Alina dan Alendra sekarang.
Karena jujur saja. Mereka tidak tahu jika Alina dan Alendra akn berdebat sehebat ini. Mereka mengira Alendra akan mengarungi Alina seperti biasanya, dna berakhir di ranjang yang panas.
"Tunggu," ujar Vinsa melihat Alina yang berjalan menghampiri Alendra.
Dug.
Alina dengan tenaga yang ia kerahkan sengaja menendang bagian tubuh belakang Alendra.
"Lo ba**ngan! Ngatain gue murahan! Lo pikir lo nggak murahan! Apa namanya kalau lo nggak murahan udah punya istri tapi masih sama cewek lain!"
"Lo sering nyuri ciuman gue, lo sering manfaatin keadaan buat sentuh gue, terkahir tadi lo juga gr*e*p*e-gr*e*p*e gue sebelum berangkat ke pesta terus lo bilang gue yang murahan! Heh guru ca**l, lo yang murahan!" Alina mengungkapkan semua unek-unek yang dirasanya.
Masa bodoh degan orang-orang yang kini mulai memperhatikannya. Ia tidak peduli sedikit pun, yang terpenting unek-unek di dalam dadanya kini sudah ia luapkan. Napasnya bahkan naik turun menatap tajam ke arah tubuh tegap Alendra yang kini mulai berbalik.
"Wah...keren parah Alina."
"Dia sekarang bukan sembarang gadis man," ujar Ben takjub akan keberanian Alina yang memaki Alendra di depan banyak pengunjung kelab malamnya.
"Sudah ngomel-ngomelnya?" tanya Alendra tidak mendapat jawaban dari Alina.
Ia sedang mengatur napasnya dan merasa ling-lung setelah mengatakan banyak hal tentang keburukan Alendra.
__ADS_1
Semua ternganga saat Alendra dengan sengaja menggendong gadis itu dan membawanya keluar. Hal itu disaksikan oleh teman-temannya dan membuat mereka tersenyum misterius.
"Ini yang gue tunggu dari lo Ndra, bukan adu ba**t sama Alin," gumam Vinsan mengusap lembut dagu Audy. Lalu mengecupnya kecil.
"Ale lepasin!" teriak Alina mencoba protes.
Bruk
Alendra melepaskan Alina. Namun ia menurunkan di mobil Ben yang sepertinya sebentar lagi akan ia bawa untuk menunjukkan sesuatu hal dengan Alina.
Sebelum melajukan mobil Ben. Alendra melirik Alina yang tiba-tiba cengo.
"Buktikan kalau kamu memang tidak murahan Alin," ujar Alendra melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Mobil berhenti di rumah besar milik Alendra. Rumah yang sudah pernah Alina kunjungi beberapa waktu lalu.
"Kenapa ke sini?" tanya Alina mulai khawatir.
"Aku ingin buktikan, kalau kamu tidak murahan Alina, tapi aku yang murahan persis seperti apa yang kamu bilang tadi di depan banyak orang," jelas Alendra berlalu pergi.
"Gue tadi ngomong apa sih? Bisa-bisanya nggak direm ni mulut," umpat Alina merasa kesal sendiri.
"Bi siapkan air hangat untuk saya, dan untuk istri saya tolong siapkan semua dia akan mandi susu malam ini," titah Alendra diangguki oleh salah satu asisten rumah tangganya.
"Baik den Endra," patuhnya langsung bergegas.
Berdiam di dalam mobil menurut Alina bukanlah solusi yang tepat. Jika saja Alendra tiba-tiba lupa untuk tidak membawa kunci mobilnya. Mungkin Alina bisa kabur menggunakan mobil Ben. Namun sayangnya, laki-laki seperti Alendra tidak mungkin melupakan hal kecil yang sangat berguna untuknya.
"Ale gue capek," ujar Alina melihat Alendra yang sedang duduk seraya membaca beberapa kertas di depannya.
"Mau aku pijitin Alin?" balas Alendra malah menawarkan sebuah pijitan untuk Alina.
Kening Alina berkerut. Ia merasa aneh dengan perubahan sikap Alendra sekarang ini. Jelas-jelas tadi ia dimaki oleh laki-laki tidak tahu diri itu. Lalu kini sikapnya berubah begitu lembut seakan baru saja tidak terjadi apa-apa.
Sepertinya kata-katanya juga salah. Untuk apa ia mengeluh lelah dengan Alendra. Tetapi ia pikir Alendra akan menyuruhnya untuk istirahat di kamar. Mengingat rumah Alendra yang ini cukup asing untuknya. Alina seperti menjadi tawanan yang diperlakukan dengan sangat baik.
"Non Alin, semua sudah siap di kamar mandi," ujar salah satu asisten rumah tangga yang tiba-tiba datang.
Alina tampak menatap cengo. Ia kembali menatap Alendra yang masih fokus dengan kertas di depannya. Baru setelah itu ia mulai beranjak dan menghampiri Alina.
__ADS_1
"Biar aku antar," ujar Alendra kembali menggendong Alina ala bridal style.