
Senyum manis itu tak pudar dari wajah cantik Alina. Di depan kedua martuanya, ia berusaha bersikap sebaik mungkin, terhadap Alendra salah satunya. Meski hatinya sudah sangat dongkol dan ingin menyumpah serapahi laki-laki itu.
"Jadi kapan ini sayang?" tanya Mama Intan sukses membuat Alina menoleh.
Yang tadinya matanya sedang menatap Alendra tajam kini sorot mata tersebut berubah sangat teduh.
"Apanya ma?" tanya Alina tidak tahu.
Mama Intan tersenyum. Tangannya terangkat untuk memegang dagu kecil milik gadis itu. "Gemas deh mama sama Alin, ya debaynya dong sayang... Dulu Alin kan pernah bilang terserah kak Endra aja kalau masalah itu. Tadi Endra sudah bilang mama katanya pengen cepet aja nggak harus nunggu Alin selesai sekolah."
"Kamu bisa home schooling nanti sayang, janji deh teman kamu itu juga ikut biar kamunya nggak kesepian," lanjut Mama Diana menjelaskan.
Uhukkk
"Pelan-pelan sayang," ujar Mama Diana mengelus pundak Alina.
Alina terdiam. Mencermati setiap kata yang Mama Intan ucapkan tadi. Jadi Alina yang asli dulu tidak masalah jika dihamili Alendra meski apa yang sudah laki-laki itu lakukan kepadanya? Alina menggelengkan kepalanya pelan. Rasanya setengah tidak percaya dengan pemikiran Alina dulu.
Poin kedua ialah Alendra yang tiba-tiba ingin mempunyai anak tanpa konfirmasi dari Alina terlebih dahulu. Sengaja sekali rupanya Alendra berlindung dibalik kata-kata Alina yang dulu demi kemenangan dirinya. Dan yang terakhir tentang home schooling teman Alina sendiri saja tidak tahu jika guru tampan tersebut suami Alina. Tidak akan lucu jika tiba-tiba mendengar Alina hamil bersama dengan Alendra, yang ada Widya sendiri ikutan syok nantinya.
Ekor mata Alina melirik ke arah Alendra yang berekspresi datar seakan ia sendiri tidak setuju dengan usulan dari Mama Intan. Namun sangat bertolak belakang sekali dengan apa yang Mama Intan katakan tadi. Alendra benar-benar seperti jin yang pintar sekali memanipulatif.
"Gimana Alin? Kita nggak akan memaksa kamu, tapi mempunyai cucu dari kalian juga salah satu keinginan terbesar kita," ujar Papa Dirta membuat Alina semakin menelan ludahnya dengan sangat susah.
Niat kedua martuanya bagus sebenarnya. Alina juga tidak masalah jika saja keadaannya tidak serumit sekarang, namun apa yang terjadi dengan dirinya membuatnya harus bertindak sesuatu.
Raga ini Jennifer bukan Alina. Melakukan sesuatu hal yang sebenarnya bukan haknya membuatnya jadi ragu sendiri.
"Em... Untuk masalah itu nanti biar Alin sama Ale bicarakan lagi pa, ma," ujar Alina seketika membuat Mama Intan dan Pak Dirta mengernyitkan dahi.
"Alina," tekan Alendra menatap tajam Alina.
"Ale?" tanya beliau membuat Alina jadi gugup sendiri.
"Oh...maksud Alin Endra," ulang Alina membuat Pak Dirta tertawa.
"Kamu sekarang jadi banyak perubahan Alin, bisa becanda juga... Apa tadi Ale? Seperti nama minuman ketika papa muda dulu," kekeh Pak Dirta yang diangguki oleh Alina.
__ADS_1
Memang begitu aturannya. Alina sendiri memanggil Alendra dengan sebutan Ale agar laki-laki itu tidak semakin pongah dan tidak tahu diri. Diibaratkan saja Alendra dengan minuman seribuan karena dengan begitu membuat Alina puas rasanya.
Setelah makan malam yang tadi cukup membuat jantung tidak aman. Alina kini sedang tiduran di kamar Alendra. Tangannya mengetik pesan di ponselnya untuk ia kirimkan kepada Widya.
Tadi Widya kesepian tanpa adanya Alina. Bahkan sampai mendapat bullyan dari Aurel dan teman-temannya.
Tok
Tok
Tok
"Non Alin," seru suara dari luar pintu.
"Ya bi!" Alina beranjak dan melangkah mendekati pintu.
Ceklek
"Ada apa?" tanya Alina melihat asisten rumah tangga tersebut dengan wajah merahnya.
"A-anu, non Alin disuruh bawain handuk sama baju den Endra ke belakang," ujar asisten rumah tangga. Setelahnya beliau langsung pamit pergi.
"Ngapain lagi sih si Ale? Sengaja banget ngerjain gue di sini," decak Alina dengan kesal. Namun langkahnya tetap menuju ke lemari besar milik Alendra yang berada di kamarnya.
Deretan baju tertata rapih di sana. Alina sendiri sebagai seorang model mengakui jika Alendra ini lelaki yang cukup modis, ditambah perawakannya yang memang memadai membuat Alendra pantas saja dijadikan idola.
"Lumayan juga selera Ale," gumam Alina mengambil salah satu baju yang Alina anggap pas ditubuh Alendra.
"Dimana ya?" gumam Alina melirik ke kanan dan kiri.
Tidak adanya Alendra di berbagai penjuru belakang. Ia memutuskan untuk pergi ke kolam. Bisa saja Alendra menyuruhnya mengambilkan handuk dan baju karena sedang berenang.
"Tapi masa iya malam-malam berenang? Kalau beneran kurang kerjaan banget si Ale sumpah," dumel Alina lagi.
Sampai di kolam pun tidak terlihat adanya Alendra. Bahkan kolam terlihat tenang dengan gelombang kecil pada permukaan kolam. Alina berjalan mencari keberadaan Alendra lewat pinggiran kolam. Ia kesal seperti dikerjai oleh Alendra. Jangan sampai Alendra malah sedang enak-enakan di klub sementara Alina seperti orang linglung mencari keberadaannya.
Byuurrr
__ADS_1
Alina terkejut setengah mati. Kakinya tadi seperti ditarik oleh seseorang atau mahluk tak kasat mata penunggu kolam.
Kepalanya kembali muncul dipermukaan kolam. Ia sedang mengatur napas karena kejadian tadi. Baru setelah itu dia sadar jika pelaku sebenarnya ialah Alendra. Lihat saja Alendra kini sedang menatapnya dengan tubuh ia sandarkan di pinggr kolam.
Pemandangan yang sangat indah jika saja kelakuan Alendra itu sopan.
"Ale," kesal Alina menghampiri Alendra.
Tangan kecilnya memukul-mukul dada bidang di depannya. Namun hanya berlangsung sebentar saja karena setelah itu Alendra berhasil menangkis dan menangkap tangan kecil milik Alina.
"Issh... Lepas gue nggak sudi dipegang-pegang gini," berontak Alina namun hasilnya nihil.
"Ale gue bukan si tante pacar lo, jangan sembarangan ya lo sama gue," tekan Alina membuat Alendra buru-buru membekap mulutnya.
"Siapa ya?" ujar Mama Diana yang baru saja mengambil minuman dari dapur dan kebetulan melewati ruangan yang terhubung dengan kolam berenang.
"Nggak ada orang, tikus lagi kawin mungkin ya," ujar beliau berlalu pergi.
Ucapan beliau itu berhasil membuat Alina ternganga dalam bekapan Alendra. Sementara Alendra menggelengkan kepalanya dengan sudut bibir sedikit tertarik ke atas.
"Denger mama bilang? Kita katanya tikus lagi kawin," ujar Alendra seraya melepaskan bekapan tangannya pada mulut Alina.
Alina menatap sebal Alendra. Ia ingin segera beranjak pergi dari pada berlama-lama di kolam berenang dengan Alendra. Tidak akan baik untuk kesehatannya.
"Terserah. Gue mau ke kamar, lama-lama di sini bisa masuk angin gue," dumel Alina berniat untuk pergi.
Namun lagi-lagi tangannya sudah lebih dulu dicekal oleh Alendra. Keduanya saling bertemu pandang. Ada getaran asing yang mereka rasakan saat ini. Hanya saja keduanya lebih memilih merasakan dari pada mengungkapkan.
Sorot mata tajam Alendra yang kini menatapnya dengan begitu lekat, wajah rupawan yang sedang terkena air dengan dibantu lampu kolam berenang berhasil membuat Alina tertegun sampai berdiam diri di depan Alendra. Alina seakan tidak akan melakukan pemberontakan lagi seperti tadi.
Alina tahu kenapa asisten rumah tangga tadi wajahnya begitu merah. Rupanya karena disuguhkan dengan pemandangan malam yang begitu indah ini, bisa saja asisten rumah tangga tersebut kini terserang insomnia akibat jelmaan Alendra yang seperti tidak ada celah.
Hal semacam ini yang membuat Alina terlihat kalah di mata Alendra. Disuguhkan dengan wajah dan tubuh tegapnya saja sudah membuat Alina terdiam seakan menerima apa yang Alendra ingin lakukan.
"Alina, kamu tidak ingin mencoba membangun sebuah proyek besar bersamaku?" tanya Alendra membuat kening Alina berkerut.
"Proyek besar? Lo ngajak gue buat bisnis gitu? Nggak salah?" tanya Alina merasa aneh namun mendapat anggukan kepala dari Alendra.
__ADS_1
"Bisnis pemersatu Alin, pengembangan keluarga kita itu yang dinamakan proyek besar," jelas Alendra dengan senyum miring.
Detik berikutnya Alendra semakin merapatkan tubunya pada tubuh Alina. "Itu salah satu tujuanku sekarang," bisiknya penuh arti.