
Berjalan seorang diri di lorong kelas untuk menuju ke kantin membuat beberapa siswa yang melihat kedatangannya bersiul kecil sekadar menggoda. Pandangan mereka penuh puja akan Alina yang cuek, toh...dari sekian banyak siswa sekolah tidak ada yang menarik perhatiannya. Beberapa di mata Alina terlihat tampan, salah satunya ialah Gevan, namun bukan berati Alina suka atau tertarik.
"Prik banget sih pada, yakin dulu mana ada yang liatin Alina sampai nggak kedip gitu," gumam Alina melenggang pergi.
Tujuannya membeli cemilan dan minuman untuk dia dan Widya. Sahabatnya itu sedang sibuk menghapal karena akan ada ulangan dadakan setelah istirahat. Alina memang tidak seambisi Widya agar nilai tetap bagus. Yang penting bisa mengerjakan soal tanpa remidi itu sudah lebih dari cukup, jika Widya, beasiswa yang didapatkan cukup menuntut untuk membuatnya harus semakin rajin belajar. Karena setelah mendapat beasiswa SMA Widya digadang-gadang akan mendapat beasiswa sampai S2. Itu juga nilai bagusnya tetap diepertahankan.
Bruk
Tubuh Alina hampir terhuyung ke depan saat seseorang dengan sengaja menabrak dari belakang. Meski sekolah itu milik keluarga suaminya. Bukan berati Alina tidak ikut berdesak kan ketika mengantri makanan. Bahkan ia sendiri sampai menyesal tidak pergi ke kantin barat. Meski jaraknya sedikit lebih jauh. Namun ia tidak harus berdesakan seperti ini.
"Apa banget sih pada," gumam Alina kesal sendiri.
Sampai kedatangan Alendra di kantin tersebut membuat beberapa anak yang sedang mengantri menoleh dan memberi jalan untuk Alendra. Laki-laki itu melangkah pasti dan begitu wibawa. Ah kalau soal itu Alendra sangat pintar sekali berubah sikap dan juga aura dalam dirinya. Di sekolah Alendra memang menjelma menjadi laki-laki yang begitu terlihat berwibawa layaknya seorang guru. Sangat berbeda ketika sedang bersama dengan Alina.
"Alin, gue tahu lo cantik... Tapi minggir juga dong biarin pak Endra mesen dulu," ujar salah satu siswi yang tidak Alina kenali.
Alina menatap siswi tersebut dan Alendra secara bergantian. Lalu mundur secara perlahan. Ia menuruti apa yang dikatakan oleh siswi tersebut. Bukan berati karena ia juga mengidolakan Alendra seperti teman-teman sekolah lainnya. Namun ia tidak mau sampai ada yang menaruh curiga. Semoga saja Alendra juga bersikap demikian. Seperti dirinya yang pura-pura tidak mengenal dekat, sebatas seorang murid dan gurunya saja.
Dugaan Alina salah besar. Baru berapa langkah ia mundur. Tangan Alendra sudah mencekal tangannya untuk memesan terlebih dahulu. Kejadian itu disaksikan oleh banyak pasang mata yang kini sedang membulatkan matanya tidak percaya. Lagi-lagi Alina mendapat perlakuan sepesial dari guru tampan tersebut.
"Pesan dulu saja kalau mau pesan," ujar Alendra enteng. Ia tersenyum tipis dan membuat Alina melongo.
Bukan karena senyuman tampan yang Alendra berikan, tetapi melihat tatapan teman-temannya yang semakin membulat karena ucapan Alendra barusan.
Demi apapun Alina nanti benar-benar akan menendang kepala Alendra agar lebih waras sedikit. Bila perlu sampai hilang ingatan sekalian biar tidak terus menambah masalah baru untuk Alina.
Tindakan yang Alendra rasa sepele itu jelas masalah besar bagi Alina. Mungkin jika diluar sekolah Alina bisa maklumi, tetapi sekarang masih di area sekolah. Alina jelas akan kembali menjadi berita di kalangan teman-temannya dan akan kembali berurusan dengan Aurel yang dia sendiri sudah tahu hari ini kembali berangkat sekolah.
"Alin... Cepetan disuruh pak Endra pesen dulu."
__ADS_1
"Lin...kamu keren banget."
"Pengen jadi Alina, diperhatiin terus sama pak Endra."
"Pak Endra lihat aku dong."
"Aurel tahu nggak ya si Alin dijadikan ratu gini sama pak Endra?"
Beberapa bisikkan dari teman-teman yang masih berada di kantin semakin membuat Alina merasa tidak nyaman. Ia menatap Alendra dengan nyalang.
"Huh," decak Alina lalu pergi dari kantin.
Melihat sikap berani Alina dan penolakan dari gadis itu atas apa yang Alendra lakukan membuat para siswi menutup mulutnya tidak percaya. Banyak yang mengatakan Alina semakin sombong karena pak Endra terus memeprhatikannya. Tetapi tidak sedikit juga yang merasa salut dengan keberanian dan apa yang dilakukan oleh gadis itu. Setidaknya guru tampan mereka masih bisa dikejar.
"Kenapa sih ngomel-ngomel?" tanya Widya melihat wajah kesal Alina.
"Si Ale nyebelin banget gila," balas Alina mengipas wajahnya dengan buku.
Kening Widya berkerut. Ia menatap Alina aneh. "Udah Alin, jangan dipikirin, mending minum ini aja...nyatanya nyegerin banget," ujar Widya membuat Alina mendelik.
"Nyegerin apaan? Lo ngga lihat gue gerah gini sampai kipasan pakai buku, AC di kelas nggak mempan gara-gara si Ale," oceh Alina yang tidak begitu Widya tanggapi dengan serius.
Sebenarnya sejak Widya tahu jika Alina dan Alendra sudah menikah. Alina jadi sering mengeluh atau mendumel tentang Alendra di depan Widya. Entah apa yang membuat Alina demikian. Padahal jika dilihat Alendra selalu bersikap baik, tindakan Alendra meski terkadang sedikit aneh bagi Widya, namun sangat manis sekali menurutnya.
"Iya Alin, udah ya marahnya? Sekarang belajar sambil sruput-sruput minuman ini, siapa tahu panasnya ilang," ujar Widya menyerahkan minuman seribuan tersebut.
Alina mengembalikan minuman dengan tulisan yang sering dia sebutkan itu untuk Widya. Bukan karena harga atau rasanya, tetapi melihat tulisan besar pada cup tersebut membuat emosinya semakin naik.
"Gue ini aja deh," tangannya meraih botol minuman dengan gambar daun dan ulat di sampingnya.
__ADS_1
"Wid, lo udah tahu kalau si Aurel udah berangkat lagi?" tanya Alina yang diangguki oleh Widya.
"Iya, kata temen-teman tadi. Yang penting nggak gangguin kita Lin," balas Widya diangguki Alina.
"Tapi aneh deh, sekarang dia jadi tidak bertingkah gitu, tadi di kantin liat gue, bikin curiga nggak sih cewek kayak dia mana langsung tobat cuma gara-gara skorsing," ujar Alina diangguki setuju oleh Widya.
"Cieee Alinaaa."
Beberapa teman sekelasnya datang dan langsung menggoda Alina. Jelas itu karena apa yang mereka saksikan tadi ketika di kantin.
"Aina," panggil seseorang dari arah pintu.
Gevan datang bersama dengan Nando sang wakil OSIS. Alina dan Widya saling tatap heran. Namun setelahnya ia beranjak dan melangkah menemui Gevan.
"Dih...si Alin, tadi pak Endra sekarang Gevan, ambil semua aja Lin, yahut semua."
Ledekan teman-teman kelasnya mulai terdengar, namun Alina cuek. Mereka mana ngerti kejadian yang sesungguhnya terjadi.
"Bentar ya Wid," ujar Alina diangguki oleh Widya.
Sejak Widya tahu jika ia dan Alendra suami-istri. Alina jadi tidak takut lagi untuk sekadar menanggapi sapaan dari Gevan.
"Ada apa?" tanya Alina membuat senyum Gevan terbit begitu manis.
"Emmm boleh minta bantuan nggak?" tanya Gevan membuat Alina terdiam.
Ia melirik ke arah Widya sekilas. Lalu kembali menatap Gevan dan Nando di depannya.
"Bantuan? buat?"
__ADS_1