Fire On Fire

Fire On Fire
Cemburu Bilang Bosss


__ADS_3

Pagi hari ini Alina bangun lebih awal dari biasanya. Jarum jam yang masih menunjukkan pukul 6 pagi kurang sudah membuat gadis itu terlihat rapih. Diliriknya pintu kamar Alendra yang masih tertutup. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya.


"Baguslah kalau masih tidur," ujarnya melangkah.


Tadi malam keduanya pulang ke apartemen. Karena jarak apartemen jauh lebih dekat dibanding rumah mama Intan apa lagi rumah pribadi milik Alendra.


Niatnya sebelum berangkat sekolah. Ia akan pergi ke rumah sakit untuk mengunjungi ayah Widya. Tengah malam tadi Widya memberitahu jika operasi ayahnya berjalan dengan lancar. Lalu tadi pagi sekali Widya kembali memberitahu jika ayahnya baru saja siuman. Hal itu membuat Alina ikut merasa lega dan senang. Ia jadi tidak sabar untuk segera berkunjung.


Sebelum sampai di rumah sakit. Alina sempatkan untuk membeli sarapan terlebih dahulu, ia sangat yakin jika Widya dan ibunya belum sarapan atau bisa saja belum makan sedari kemarin.


"Wid." Alina masuk ke ruang inap ayahnya.


"Alin." Widya beranjak dan menghampiri Alina.


"Gimana ayah lo?" tanya Alina membuat sudut bibir Widya melengkung ke atas.


"Ayah udah siuman tadi pagi Lin, sudah jauh lenih baik, tapi sekarang masih harus istirahat dulu," jelas Widya dan diangguki oleh Alina dengan senyum.


"Ini bubur buat lo, ibu lo kemana?" tanya Alina tidak melihat keberadaan ibu Widya.


"Lagi keluar bentar katanya," jelas Widya mengambil bubur ayam yang dibawakan oleh Alina.


"Makasih Alin, jadi ngerepotin terus," ujar Widya merasa tidak enak.


"Apa sih? Kita kan sahabat," balas Alina dengan senyumnya.


"Kamu ke sini sendiri Lin? Pak Endra mana?" tanya Widya tidak melihat keberadaan Alendra.


"Masih tidur kali, sengaja kok gue biar bisa ke sini dulu," jelas Alina. Ia memang sengaja menemui Widya lebih awal. Karena jika nanti sepulang sekolah Alina tidak cukup yakin untuk mengunjungi Widya. Mengingat selalu ada saja kesibukan yang mendesak.


Ceklek


Pintu terbuka dan menampilkan sosok wanita tua yang masuk ke dalam ruangan.


"Bu," sapa Alina dengan senyum.


"Nak Alin ke sini sendiri?" tanya ibu Widya dan diangguki langsung oleh Alina.


"Iya bu," balasnya singkat.


"Oh...ini aku tadi beli bubur ayam, ibu sekalian aja sarapan dulu."


Ibu Widya mengangguk. "Terimakasih banyak nak," ujarnya dibalas Alina dengan senyum.


"Wid, gue pamit sekolah dulu ya? Bu, Alin pamit ya? Semoga pak Rasyid cepat sehat lagi," pamit Alina melangkah keluar.


Melihat Alina yang sudah ingin keluar membuat Widya reflek menemani Alina.

__ADS_1


"Alin jangan bolos lagi ya? Beneran sekolah," peringat Widya membuat Alina terkekeh.


"Pasti, gue bakal kesepian nggak ada lo di sekolah Wid," balas Alina seketika membuat Widya tersenyum simpul.


"Kan ada pak Endra Lin," balasnya membuat Alina seketika berdecak sebal.


"Huh nyebelin, udah ya gue berangkat. Bye Widya...jangan nangis mulu!" seru Alina meninggalkan Widya yang sedang tersenyum tipis melihat kepergian Alina.


Sampai di depan gerbang. Alina dikejutkan dengan kedatangan Gevan yang tiba-tiba.


"Alina," panggilnya ramah.


"Eh, Gevan," balas Alina sekenanya.


"Nanti, pulang bareng lagi ya?" tawar Gevan berusaha.


Siapa tahu kan Alina mau dan mempermudah dirinya untuk bisa lebih dekat dengan Alina.


"Emmm.. sorry banget Gev, bukannya gue nggak mau tapi gue udah-"


"Udah ada janji sama yang lain?" sela Gevan seketika mendapat gelengan kepala dari Alina.


"Bukan, bukan gitu maksudnya tapi gue-"


Bruk


Deg


Bukan detak jantung Alina. Namun detak jantung Gevan yang tiba-tiba berdetak dengan cepat seperti meminta keluar dari tempatnya.


Ada getaran yang semakin terasa di dalam dadanya. Gevan sendiri tahu itu, sudah lama ia memendam rasa dengan Alina. Lalu perasaan itu semakin tumbuh ketika gadis itu mulai terlihat merubah pola pikir dan penampilannya.


Dulu Gevan maju mundur ketika akan mendekati Alina. Namun sekarang ia semakin gencar tak kan gentar lagi.


"Sorry-sorry." Alina berusaha menormalkan lagi posisinya.


Gevan menggeleng, dengan sedikit senyum tipis di bibirnya. "Nggak papa Alin, gue malah suka," balasnya membuat Alina jadi serba salah sendiri rasanya.


Tanpa disadari seseorang yang masih berada di dalam mobilnya menatap tajam ke arah keduanya. Alendra yang baru saja datang dan menyaksikkan kejadian tersebut langsung merasakan perubahan suhu pada sekitar tubuhnya.


Sangat panas sampai ia mengeraskan rahang kokoh wajahnya.


Sudah dibuat kesal dengan hilangnya Alina tadi. Lalu sekarang ditambah bikin kesal dengan tingkah bocah yang bersetatus sebagai siswi tetapi istri.


"Dasar bocah," gumamnya penuh dendam.


Alendra mempunyai niatan untuk kembali mengganti pasword apartemennya. Sekali diberi tahu Alina langsung seenaknya sendiri.

__ADS_1


Tanpa adanya Widya sahabatnya dan juga rivalnya Aurel di sekolah cukup membuat Alina bosan. Ia sedari tadi lebih memilih untuk bermain game di kelasnya.


Sesekali juga mengirim pesan untuk menanyakan keadaan ayah Widya. Lalu membalas pesan yang Boy kirimkan juga.


"Alina, di suruh ke ruangan pak Endra," ujar salah satu siswi membuat Alina mengernyit.


"Gue?" tanyanya tidak yakin.


Siswi itu mengangguk, ekor matanya melirik malas ke arah Alina. "Iya," sewotnya.


Kesal saja kenapa harus terus Alina yang mendapat perhatian dari guru tampan tersebut.


"Ngapain sih si Ale," gumamnya malas. Namun tubuhnya beranjak untuk ke ruangan guru tampan itu.


Tok


Tok


Tok


"Masuk," titahnya.


"Pak Ale manggil saya?" tanya Alina membuat Alendra mengangguk tanpa menjawab.


Alina langsung duduk saja di depan meja guru tersebut.


"Ada apa pak?" tanya Alina tidak sabar. Ia tidak mau berada di ruangan Alendra lama-lama. Tidak baik untuk kesehatan jasmani dan rohaninya.


Tubuhnya ia sandarkan di kursi. Tatapan matanya lekat menatap gadis di depannya. Entah kenapa Alendra hanya ingin melihat Alina dan membuat gadis itu tetap bersamanya. Selebihnya ia tidak berniat melakukan apa-apa. Marah karena kejadian tadi pun sedang tidak ingin Alendra lakukan.


Namun sayang. Hal itu malah membuat Alina kesal dan semakin curiga dengan akal-akallan Alendra nantinya. Tidak mungkin laki-laki itu memanggilnya jika bukan bertujuan untuk mengerjainya.


"Ini sebenarnya mau ngapain pak? Saya berfungsi apa tidak di ruangan bapak?" semprot Alina seketika membuat Alendra menahan tawanya.


Jelas Alina sangat dibutuhkan di ruangan Alendra. Tanpa melakukan apa-apa Alina sangatlah berguna. Cukup menatap gadis itu akan membuat Alendra tenang. Setidaknya dia tahu Alina sedang tidak bersama dengan Gevan. Karena kejadian tadi pagi, Alendra jadi parno sendiri memikirkan Alina.


"Ya sudah saya pamit."


Niat Alina untuk beranjak terurungkan. Alendra sudah lebih dulu cepat berdiri dan menarik tubuhnya masuk ke dalam pelukkannya.


Deg


Merasa aneh sekaligus terkejut. Alina seperti tidak bisa berkata-kata. Ia kehilangan akal untuk protes atas tindakkan Alendra saat ini.


Bahkan untuk sekadar mendorong tubuh tegap dan tinggi itu rasanya terlalu sulit.


"Sebentar lagi Gevan akan datang ke ruangan saya Alina," bisik Alendra seketika membuat Alina melotot.

__ADS_1


Niat sekali Alendra ingin membuat Alina mati berdiri. Ternyata kelicikan Alendra memang sudah mendarah daging. Alina tidak takut jika Gevan yang melihat, tetapi berita tentang dirinya yang sangat ingin ia hindari.


__ADS_2