Fire On Fire

Fire On Fire
Cara Licik Alendra


__ADS_3

Secepat kilat Alina bangkit dan mencoba mencari seragam yang tadi sudah berhasil ia lepas dan entah ia letakkan dimana. Alina mencarinya namun karena situasi yang tidak memungkinkan membuatnya memilih untuk pergi ke kamar mandi menghindari Alendra.


Deg


Langkah Alina terhenti tatkala terasa tarikan pada bagian tali b*r*a miliknya. Ia menoleh dengan posisi tangan masih mencoba untuk menutupi bagian dadanya.


Dada yang semakin membesar karena pertumbuhan yang cepat membuat beberapa b*r*a nya terasa kekecilan. Itu salah satu yang membuat bagian atas dadanya kini terlihat dan sedikit mengembung. Jika dilihat memang sangat menggiurkan sekali bagi Alendra yang sudah dewasa.


"Lepas Ale," berontak Alina tidak bisa melakukan apa-apa selain protes dengan kata-kata.


Asli Alina sangat malu kini hanya dengan menatap wajah Alendra yang berada di depannya. Tindakannya tadi sangat bod*h dan kurang hati-hati sampai Alendra bisa menyaksikannya secara langsung.


"Mau lanjutin di kamar mandi?" tanya Alendra terdengar mencibir.


Alina melirik sinis. "Bac*t banget deh," umpat Alina seketika membuat tarikan pada bagian tali penutup dadanya sengaja Alendra kencangkan.


Dan....


Alina dibuat ternganga saat jemari Alendra dengan sengaja melepas kaitan pada penutup dadanya tersebut.


Melihat wajah syok Alina saat ini membuat sudut bibir Alendra tertarik ke atas. Wajahnya sengaja dia condongkan agar sejajar dengan wajah Alina.


"Tali surga kamu lepas Alin," bisik Alendra membuat jantung Alina semakin terpompa dengan sangat cepat.


Tubuhnya terasa kaku untuk digerakkan. Hal semacam ini yang sangat Alina sesali dan hindari. Terkadang tubuh asli Alina seakan menginginkan sentuhan-sentuhan dari Alendra.


Ayo Jen balas si breng**k. Ujar Alina dalam hatinya.


Dug


Tepat disaat Alendra akan menjauh. Kaki kanan Alina sengaja dia layangkan untuk menendang Alendra. Sontak saja membuat Alendra yang tadinya berniat pergi untuk mendinginkan otak dan reaksi tubuhnya yang sudah panas melihat pemandangan indah dari Alina seketika malah kembali dibuat semakin panas oleh Alina sendiri.


Seharusnya Alina tidak melakukan tindakan demikian. Karena Alendra pasti akan berubah pikiran untuk menahan dan tidak menjamahnya.


Srettt

__ADS_1


Dengan cepat Alendra menarik tubuh Alina. Posisi saat ini ialah Alian seperti tawanan bagi Alendra. Kedua tangan Alina yang sengaja dicekal hanya menggunakan satu tangan besar milik Alendra. Sementara tangan yang satunya Alendra gunakan untuk mengerjai tubuh gadis itu karena sudah berani sekali memancing gai**ah yang sedang coba Alendra tahan tadi.


"Tadi di sekolah masih kurang Alin?" bisik Alendra mengelus lembut disekitar leher Alina.


"Lepas Ale! Sebelum lo nyesel," ancam Alina berusaha untuk melepaskan cekalan pada tangannya.


"Kalau aku lepas, dua roti empuk itu akan terlihat dengan bebas. Kamu bisa pilih aku melihat bentuk yang tidak seberapa itu atau tetap pada posisi seperti ini sampai aku antar kamu ke kamar mandi?" Alendra sengaja menggoda Alina. Ingin tahu saja reaksi gadis itu.


Memang benar. Posisi mereka saat ini begitu menguntungkan bagi Alendra. Karena jika Alendra melepaskan cekalan tangannya dan melepaskan tubuh Alina menjauh otomatis b*r*a yang digunakan Alina akan terlepas. Mengingat kaittannya juga tadi sudah Alendra lepas terlebih dahulu.


"Lo licik banget ya? Otak lo nggak mencerminkan seorang guru," cibir Alina membuat Alendra terkekeh.


"Aku memang bukan seorang guru Alin. Aku mengajar karena bosan dengan rutinitasku sehari-hari," jelas Alendra dengan angkuhnya.


Alina berdecih. Dia sama sekali tidak percaya dengan ucapan Alendra. Laki-laki ini memang paling pintar memanipulatif.


"Terserah. Lepasin gue sekarang juga Ale!" berontak Alina membuat Alendra terkekeh.


"Oke, aku lepas Alina," bisik Alendra perlahan memainkan jemarinya dengan pelan ketika akan melepaskan cekalan tangannya. Namun ada sesuatu hal yang membuat Alina dibuat semakin syok dengan segala tingkah dan tindakan Alendra yang terlampau curang dan memainkannya.


"Jangan pernah memancingku lagi Alina," tekan Alendra membuat Alina buru-buru ngacir meninggalkan Alendra.


Tidak peduli dengan keadaannya sekarang. Dua buah yang menggelantung dan sedikit mengayun karena lari cepatnya tadi jelas disaksikan langsung oleh Alendra. Meski dia coba tutupi dengan kedua tangannya tetapi tidak menutup kemungkinan benda tersebut dapat tertutup dengan rapat.


"Ck, menggemaskan," gumam Alendra menggeleng dan melangkah keluar untuk menormalkan kembali keadaannya.


Tanpa disadari memang tindakan Alina kini berpengaruh besar terhadap tubuhnya. Seperti ga*rah yang mulai muncul ia rasakan dengan segala tingkah atau tindakan Alina. Jika dulu, jangankan untuk menyentuh, menatap Alina saja rasanya enggan untuk Alendra lakukan.


Sejak kejadian kemarin sore di kamar. Alina jadi semakin was-was. Bahkan makan malam saja ia menyuruh asisten rumah tangga untuk membawakan ke kamar. Bertemu dengan Alendra memang sedang ia hindari untuk saat ini, demi ketenangan jantung dan pikirannya.


Alina sedang tidak siap membalas ejekan dari Alendra karena kejadian itu.


"Mang Udin, buruan jalan," ujar Alina datang dengan tergesa-gesa.


Mang Udin yang sedang membersihkan mobil sampai terlonjak kaget karena kedatangan Alina.

__ADS_1


"Masih terlalu pagi non, baru jam 6 lebih ini," balas Mang Udin membuat Alina mendelik.


"Gue ada tugas upacara sekarang. Buruan deh nggak pake protes," jelas Alina seraya masuk ke dalam mobil.


Tidak ingin mengambil pusing, mang Udin ikuti saja permintaan Alina. Namun ia masih bingung sejak kapan hari upacara diganti dengan hari kamis?


"Sekarang upacara diganti hari kamis ya non?" tanya Mang Udin sengaja meledek Alina.


Alina mencebik. Ia baru sadar jika itu bukan alasan yang tepat. Namun masa bodoh lah yang penting dia bisa menghindar dari Alendra untuk saat ini.


"Banyak nanya deh, udah jalan aja sih," titah Alina membuat mang Udin terkikik.


Sekitar 20 menitan jalan namun belum sampai juga si sekolah. Alina mulai merasa aneh dengan perjalanan pagi hari ini.


"Kok lama banget sih mang?" tanya Alina sedikit membuka mata.


Sengaja memang waktu di dalam perjalnan tadi ia gunakan untuk tertidur. Pikirnya nanti bangun sudah sampai di sekolah.


"Bentar lagi sampai non, tidur lagi aja tidak papa, nanti mamang bangunin," jelasnya yang tidak dipedulikan oleh Alina.


Ia kembali menutup matanya untuk melanjutkan tidur. Berangkat pagi juga sudah mengobankan jam tidurnya.


Sekitar 10 menitan berlalu, mobil yang mereka tumpangi akhirnya berhenti.


"Sampai ya mang?" tanya Alina meregangkan otot-otot tubuhnya.


"Jalan mang," titah seseorang yang langsung membuat Alina seketika bangun dan tersadar.


Suara itu? Ucapnya dalam hati bersamaan dengan kepalanya yang menoleh dan mendapati Alendra sudah duduk di sebelahnya.


Deg


Jantung Alina terpompa dengan sangat cepat. Alina seperti dipermainkan oleh dua laki-laki berbeda kasta itu. Bisa-bisanya dia percaya begitu saja dengan mang Udin yang sudah pasti disogok banyak uang oleh Alendra.


"Kalian kerja sama," lirih Alina setengah percaya.

__ADS_1


__ADS_2