Fire On Fire

Fire On Fire
Senjata Makan Tuan


__ADS_3

Bukan pulang ke apartemen seperti tujuan Alina tadi. Tetapi gadis itu pulang ke rumah martuanya. Hari ini ibu Widya akan datang bertemu dengan mama Intan. Alina selaku orang yang meminta dengan mama Intan jelas harua ikut serta dalam hal ini.


"Makasih Gevan," ujar Alina turun dari atas motor besar milik Gevan.


Kepala Gevan mengangguk. Sudut bibirnya juga melengkung membentuk senyuman tampan untuk gadis yang sedang diincarnya.


"Sama-sama, kalau ada apa-apa hubungi gue aja ya?" pinta Gevan dan diangguki oleh Alina.


"Makasih juga buat bantuan lo tadi," jeda Alina. "Aurel si ratu drama," lanjutnya lagi membuat Gevan seketika terkekeh.


"Udah kewajiban gue sebagai ketos Lin," balas Gevan mengacak rambut Alina dengan lembut.


"Ya uda gue masuk ya? Bye Gevan," pamit Alina dengan harapan Gevan segera melajukan motornya pergi.


"Non Alin pulang sama siapa?" tanya satpam yang berjaga.


"Kepo deh," balasnya seraya masuk ke dalam.


Mendengar jawaban dari Alina membuat satpam tersebut menggeleng seraya mengelus dadanya.


"Makin cantik makin berani aja non Alin," komentarnya.


Langkahnya masuk ke dalam rumah besar yang kini secara tidak sadar ia mulai merasa nyaman berada di tengah-tengah keluarga Atmajaya. Meski mempunyai suami yang tidak tahu diri seperti Alendra namun kedua orang tua Alendra sangat menyayanginya.


"Sayang, mana Endra?" tanya mama Intan melihat kedatangan mantunya.


Deg


Langkah Alina kembali terhenti. Ia jadi merasa gugup sendiri disuguhkan pertanyaan langsung tentang laki-laki yang tidak diketahui keberadaannya itu.


"Emmm...kak Endra tadibada rapat terus Alin pulang duluan ma," dusta Alina membuat mama Intan seketika mengangguk.


"Oh ya sudah...kamu tunggu di sini saja, nanti biar Endra jemput aja ya atau kalau tidak kalian nginep sini saja," jelas beliau yang hanya dijawab Alina dengan anggukkan kepala.


"Ibunya temen Alin udah datang belum ma?" tanya Alina.


"Oh iya mama hampir lupa bilang sama kamu, tadi sudah ke sini, besoknya sudah mama suruh langsung mulai aja kerjanya, tapi katanya ada urusan penting gitu," jelas beliau yang kembali diangguki oleh Alina.

__ADS_1


"Dari yang mama lihat sih, orangnya baik dan nggak neko-neko Lin, semoga betah ya?" ujar mama Intan lagi.


"Pasti ma, ibunya Widya emang lagi butuh banget pekerjaan kok," jelas Alina dan diangguki oleh mama Intan.


"Ya sudah Alin mandi terus ganti baju dulu, mama tunggu di bawah ya nak," ujar mama Intan yang kembali diangguki oleh Alina.


"Siap, makasih ma udah baik banget sama Alin," balas Alina mengecup singkat pipi ibu martuanya.


Setelahnya ia pergi ke atas untuk membersihkan diri sesuai perintah mama Intan tadi.


"Kenapa kok rasanya Alina beda sekali ya? Tapi mama suka Alin yang sekarang, lebih terbuka," gumam mama Intan menatap punggung Alina yang semakin tidak terlihat lagi.


Selesai membersihkan diri Alina berganti pakaian. Senang rasanya karena mama Intan sudah menyiapkan banyak baju di lemari sesuai keinginannya. Entah beliau yang mulai memperhatikkan cara berpakaian Alina yang mulai berbeda dengan yang dulu. Atau beliau yang memang masih modis tahu fashion anak muda jaman sekarang.


"Sini sayang," panggil mama Intan menyuruh Alina untuk duduk disebelahnya.


Beliau sedang melihat acara berita artis di televisi.


"Tuh lihat, kasian banget ya almarhum model remaja bernama Jenni, tanah belum kering ibunya sudah buat berita baru," ujar mama Intan seketika membuat Alina terdiam.


Matanya menatap acara televisi di depannya yang sedang menyiarkan ibu kandungnya sendiri. Sesekali wajahnya yang dulu juga masih diperlihatkan dalam layar televisi.


"Kata acara gosipnya sih, tertangkap basah lagi jalan sama adik iparnya, yang kemarin sempat heboh dikira datang sama suami ternyata sama adik iparnya sendiri mana mesra banget lagi, gemes deh mama satu bandara sama mama pas baru pulang dari bandung tapi kok nggak liat ya?" ujar mama Intan seketika membuat Alina terdiam.


Entah kenapa hatinya mendadak risau. Banyak sekali teka-teki yang belum terpecahkan tentang keluarganya, namun Tuhan sudah mentakdirkan dirinya menjadi orang lain.


"Ehem..." tiba-tiba sudara deheman dari Alendra mengejutkan keduanya.


Alendra dengan rambut acak-acakkan juga baju yang tidak rapih lagi berdiri di belakang mereka. Jangan lupakan sorot mata tajam bak elang yang tidak teralihkan dari Alina.


"Eh, udah pulang nak, mau langsung bersih-bersih apa duduk dulu sini," ujar mama Intan yang mendapat jawaban dari Alendra, namun sorot maya itu tidak terlepas dari Alina.


"Buatkan aku teh," balas Alendra ditujukan untuk Alina.


"Bi. Buatkan Endra teh," seru mama Intan menyuruh salah satu asisten rumah tangganya.


"Biar Alina aja ma," sela Alina langsung bergerak cepat pergi menuju ke belakang.

__ADS_1


Melihat tatapan tajam dari Alendra jelas tanda bahaya baginya. Di depan mama Intan Alina harus menjadi seorang istri yang baik untuk suami.


"Biar aku aja bi," ujar Alina membuat asisten rumah tangga itu menyerahkan cangkir yang ada di depannya.


"Non Alin nggak capek emangnya? Baru pulang juga lho," beritahu asisten rumah tangga tersebut.


"Nggak dong, buat suami harus melakukan yang terbaik," jawabnya membuat beberapa asisten rumah tangga yang sedang mengerjakan tugas lain di dapur seketika menggeleng dengan senyum.


"Aku ke depan dulu ya bi," pamit Alina dan diangguki oleh mereka kompak.


"Non Alina selain makin cantik sekarang jadi nggak pendiam lagi ya?"


"Iya, apa lagi sekarang sama ibu makin deket sering ngobrol juga."


"Ini tehnya kak," ujar Alina menaruh segelas teh dihadapan Alendra.


Mendengar panggilan yang Alina sebutkan untuk dirinya membuat Alendra tergelak. Asli Alina ini diam-diam sangat licik dalam hal apapun.


"Terimakasih sayang," balas Alendra seketika membuat mata Alina mendelik.


Ingin muntah rasanya mendengar panggilan sayang dari Alendra. Namun sepertinya Alendra juga sengaja melihat situasi yang ada sekarang.


"Nah akur gitu kan enak," komentar mama Intan.


"Eh... Itu bukannya mantan asisten Jennifer ya? Aduh baru nongol, kasih klarifikasi harusnya biar nggak kemana-mana beritanya," ujar mama Intan heboh sendiri.


Alina melirik layar besar di depannya. Detik itu juga ia ternganga melihat penampakan Boy yang sedang dikejar-kejar oleh para wartawan. Ekor matanya melirik ke arah Alendra yang baru saja menyeruput teh buatannya tanpa menunggu lama ia langsung menarik Alendra untuk segera pergi dari situ.


"Ayo kak ganti baju dulu," ujar Alina menarik tangan Alendra untuk segera pergi.


Jangan sampai Alendra melihat penampakan Boy yang mama Intan sebut sebagai mantan asisten Jennifer. Bisa panjang urusannya. Bukan berati Alina akan terus bersembunyi dibalik tubuh Alina yang asli, namun untuk saat ini rahasia tentang dirinya memang lebih baik disembunyikan dulu, ada banyak hal yang harus Alina selesaikan, salah satunya ialah masalah pelik orang tua kandungnya juga hubungan mereka dengan Diko. Alina belum tahu pasti itu.


Brak


Alendra menutup pintu kamar dengan cukup kencang. Kesempatan ini sepertinya akan menguntungkan untuk Alendra.


"Eh... Gu-gue keluar dulu," ujar Alina terlihat gugup.

__ADS_1


Salahkan dia yang tiba-tiba menarik tangan Alendra untuk masuk ke dalam kamar. Hal itu jelas membuat otak licik Alendra langsung berpikir keras. Dan membuat gadis kecil seperti Alina terperangkap.


"Kamu yang mengajakku ke sini Alina," ujar Alendra melepas satu kancing kemeja teratasnya.


__ADS_2