Fire On Fire

Fire On Fire
Amarah Alendra


__ADS_3

Pertikaian sengit tadi kini berakhir disebuah ruangan yang sangat asing untuk Boy, namun untuk Alina dia sudah hafal sejak kehadirannya satu bulan yang lalu.


Alina dengan telaten sedang mengobati luka Boy akibat tonjokan dari Alendra tadi. Ia tidak tega melihat Boy terus meringis kesakitan. Boy meski terlihat sangat laki-laki namun hatinya begitu lembut seperti wanita, air matanya saja mudah sekali terjatuh setiap kali mendengar atau melihat sesuatu yang menggerakkan hatinya.


Tidak jauh dari mereka. Alendra berdiri didekat dinding seraya mengamati cara Alina yang begitu lembut mengobati laki-laki di sebelahnya. Terkadang Alina bertingkah manja dan menurut Alendra sangat menjengkelkan.


"Udah? Masih ada yang sakit nggak?" tanya Alina menatap wajah Boy yang berada tepat di depannya.


Terlihat gelengan kepala dari Boy. Ia memang sudah merasa cukup baikan dibanding dengan tadi. Meski hanya satu kali namun pukulan Alendra seperti orang yang memiliki dendam.


"Ck," decak Alendra melihat perhatian Alina kepada laki-laki asing itu.


"Kalau sudah suruh dia pulang Alin, aku tunggu di kamar," ujar Alendra berlalu pergi.


Dengan kesalnya. Alina memeragakan kata-kata Alendra tadi dengan caranya sendiri. "Kiliy sidih sirih diyi piling Ilin, iki tinggi di kimir. Halahh segala bawa-bawa kamar kek tahu ngamar aja sama gue, dasar si Ale," dumel Alina membuat Boy menahan senyum.


Ingin tertawa tapi takut lukanya kembali terasa di pipinya.


"Lo kenapa sih Jen? Musuh banget kayaknya sama suami lo?" tanya Boy merapihkan tas yang tadi dibawanya.


"Apa suami? Dia suami Alina Boy bukan gue enak aja," ketus Alina tidak terima.


"Emang lo nggak mau punya suami ganteng gitu, gantengan dia kemana-mana lagi dari pada si Diko breng**k itu," komentar Boy yang diangguki oleh Alina.


"Lo nggak tahu aja sih dia lebih breng**k dari pada si Diko," jelas Alina namun tidak dipercaya begitu saja oleh Boy.


Dilihat dari kaca mata Boy, Alendra ini laki-laki posesif buktinya saja tadi datang-datang langsung memberi sebuah hadiah untuk Boy di pipinya.


"Nggak percaya gue, breng**k di ranjang pasti kan sama lo?" Boy menaik turunkan kedua alisnya secara bergantian.


"Hidih... Najong tralala... Udah ah nggak usah bahas si Ale, malas gue. Jadi pulang nggak lo?" kesal Alina yang tidak mendapat dukungan dari Boy.


"Jadi...jadi... Udah nggak sabar banget sih pengen berdua di kamar sama mas ganteng," lagi-lagi Boy menggoda Alina. Tentu saja membuat telinga Alina terasa panas dan siap menambah luka pada pipi Boy.


"Mau gue tambahin tonjokan di pipi sebelah kanan lo?" tawar Alina yang langsung mendapat gelengan kepala dari Boy.

__ADS_1


Boy pamit untuk pulang. Sebelumnya mereka sudah saling bertukar nomor ponsel. Boy juga berjanji lain waktu akan membawa surat yang Alina tulis sebelum kepergiannya. Surat yang entah Boy sendiri belum tahu isinya seperti apa. Karena hanya gadis yang memiliki tubuhnya yang boleh membukanya.


Setelah kepergian Boy, Alina kembali merasakan sepi, ia seperti kembali berada di kehidupan Alina lagi. Terdengar helaan napas sebelum kakinya melangkah untuk menuju ke kamarnya.


Sebelum masuk ke kamar. Ia melirik ke arah pintu kamar Alendra. Sudut bibirnya tertarik ke atas mengingat kata-kata Alendra tadi akan menunggu di kamar.


"Ogah banget gue ke kamar lo. Tungguin aja sampai bulan depan," gumam Alina terkikik.


Tangannya meraih pintu dan masuk secara perlahan ke kamarnya sendiri. Sengaja ia menguncinya agar Alendra nantinya tidak bisa masuk untuk protes karena tidak ada kedatangannya ke kamar.


"Huh... Hari yang melelahkan, tetapi gue seneng banget akhirnya bisa ketemu Boy setelah sekian lama. Makasih Tuhan," gumam Alina merasa sangat bersyukur.


"Boy, karena lo gue semakin semangat dan percaya diri, tinggal nunggu apa isi surat itu. Semoga bukan permintaan yang aneh-aneh ya? Kalau sampai iya dan itu ada hubungannya sama si Ale, aaa.... Amit-amit banget deh," cerocos Alina dari kamarnya.


"Oh seneng ketemu Boy?" suara seseorang terdengar dari arah sampingnya.


"Seneng lah... Dia orang kepercayaan gue," jawab Alina dengan bangganya.


Alendra yang berada di sebelahnya mengangguk, namun tidak pada sorot mata tajamnya bak elang yang siap menerkam mangsa di depannya.


"Emmmm...apa ya? Nggak ada, pengennya tidur bareng Boy sih, udah lama banget nggak tidur sama dia, btw kok lo tanya-tanya mulu si...hh?" Alina menoleh ke sampingnya.


Di sana, terlihat wajah Alendra yang sedang menatapnya dengan ekspresi wajah yang tidak bisa Alina tebak. Alendra seakan marah namun sorot mata itu juga begitu lekat memperhatikannya.


"Ale," gumamnya baru sadar jika sedari tadi Alendra sudah berada di kamarnya.


Jadi yang dimaksud Alendra tunggu di kamar itu bukanlah kamar Alendra sendiri. Namun ia malah masuk ke kamar Alina.


"Ngapan?" tanya Alina mulai ngegas, ia berniat untuk bangkit dari ranjangnya. Namun cekalan pada tubuhnya dari Alendra berhasil membuatnya tidak bisa lagi untuk berontak.


"Tidur bareng laki-laki lain? Ck... Rupanya kamu dulu seperti itu Alin? Orang tua kamu tahu tentang ini?" tanya Alendra dengan sorot mata mengintimidasi Alina.


Alina mengangguk. Maksudnya ialah orang tuanya yang dulu, yang memang tahu hubungan Alina dan Boy seperti apa.


"Fine, sekarang giliran aku Alin, aku ini suami kamu," tekan Alendra dengan nada suara menahan amarah.

__ADS_1


Mendengar pengakuan dari Alina membuatnya marah. Gadis yang suka berpenampilan polos dan lugu itu rupanya memiliki rahasia sendiri. Alendra marah karena seakan dipermainkan dengan penampilan polos Alina.


"Giliran apanya? Jangan ngarang lo Ale?" tolak Alina mulai waspada. Ia tidak mau Alendra salah paham.


"Giliran ngerasain kamu, bekas dia kan? Siapa namanya Boy?" tawa Alendra terdengar begit meremehkan untuk Alina.


Plak


"Jaga ya mulut lo. Lo itu nggak tahu apa-apa tentang gue," tekan Alina menatap tajam Alendra.


Alendra semakin marah. Rasanya kesabarannya sudah habis menghadapi Alina dengan segala akal liciknya. Trik-trik yang Alina mainkan berhasil menarik perhatiannya, namun satu persatu bukti tentang siapa gadis seperti Alina kini mulai terkuak. Alendra marah dia merasa dibohongi dengan penampilan Alina selama ini.


"Aku tahu Alina," jawab Alendra mendorong Alina kembali berbaring di ranjang.


Rasa amarahnya yang membuncak membutnya seakan gelap mata. Alendra mulai menekan tubuh Alina yang berada di bawahnya.


"Nikmati saja Alin, permainanku jauh lebih nikmat dibanding dia," bisik Alendra yang sudah tersulut emosi.


Leher Alina yang menjadi sasarannya. Meski agak susah karena gadis di bawahnya itu terus berontak namun pada akhirnya Alendra berhasil membuat tanda kecupan merah pada bagian leher gadis itu.


Semia yang dilakukan Alendra kini atas dasar rasa amarahnya yang tinggi. Bukan karena mereka ingin.


"Berhenti Ale," tolak Alina menggelengkan kepalanya ke kanan dan kiri.


Niatnya untuk memberi pelajaran pada bagian inti Alendra juga tidak bisa ia lakukan. Lutunya sengaja ditekan oleh tubuh Alendra. Tidak ada lagi yang bisa Alina lakukan selain memberontak.


"Gue bilang hentikan. Lo salah paham Ale, bukan tubuh ini yang tidur bareng dia tapi tubuh gue." Alina masih mencoba untuk berontak dan menyadarkan Alendra.


Meski kedengarannya apa yang dia katakan seperti tidak masuk akal. Tetapi hanya itu yang bisa ia perbuat sekarang.


Srekkk


Mata Alina terbelalak tatkala Alendra merobek seragam sekolah yang masih melekat pada tubuhnya.


"Breng**k mau apa lo!" marah Alina ketika melihat sorot mata Alendra saat ini.

__ADS_1


"Aku mau lakuin apa yang seharusnya sudah aku lakuin Alin," balas Alendra tersenyum miring.


__ADS_2