
Di ruang UKS. Alina masih belum juga sadarkan diri, ia masih terbaring lemah dengan Widya yang juga ikut berada di ruangan tersebut, namun bukan kejadian pingsannya Alina yang membuat seisi sekolah heboh. Alendra yang terlihat panik dan terus berada di samping tubuh terbaring Alina saat ini.
"Kamu, ikut ke ruangan saya," ujar Alendra kepada Widya.
Tanpa menjawab pertanyaan Alendra, Widya mengangguk setuju.
Sebelum kepergian Alendra ke ruangannya. Ia sempatkan untuk menatap wajah sayu Alina. Gadis itu terlihat pucat dengan keadaannya sekarang, padahal tadi pagi Alina masih dalam keadaan baik-baik saja.
Cup
Sebuah kecupan Alendra berikan pada kening Alina. Tidak terlalu lama namun cukup dalam.
Sejenak Widya terdiam dengan napas sedikit tersengal, tangannya kembali mengepal melihat pemandangan yang baru saja terjadi di depan matanya. Seakan apa yang sudah menimpa Alina itu belum cukup membuatnya merasa puas.
"Pa-pak Endra," ibu Tina tampak terkejut melihat perlakuan yang Alendra berikan untuk Alina.
"I-ini kenapa bisa begini? Alina-pak Endra," secara bergantian bu Tina menatap Alina dan pak Endra. Lalu Widya yang juga berada di sana.
Karena syok bu Tina sampai memegangi kepalanya. Tidak lupa matanya juga ia bolakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihat di depan matanya.
"Sebentar sayang," lirih Alendra mengelus puncuk kepala Alina.
Sebentar lagi dokter juga akan datang. Alendra tadi sudah menghubungi dokter di keluarganya.
"A-apa? Sa-sayang?" rasanya semakin tidak percaya dengan segala tindakan juga ucapan yang keluar dari mulut Alendra untuk Alina yang sedang terbaring tidak sadarkan diri.
Semua murid dari kelas Alina tersentak kaget ketika Alendra keluar diikuti oleh Widya dari belakangnya.
"Pak Endra ngapain sih?"
"Perhatian banget sama si Alin."
"Fik ya? Pasti ada apa-apa."
"Atau jangan-jangan Alin udah goda pak Endra dengan cara kotor."
"Itu juga kenapa Widya yang disuruh ke ruangannya?"
__ADS_1
"Iya, harusnya kita juga ikut Widya, tadi kita kan juga berada di kelas pas si Alin pingsan."
"Lagian si Alina kenapa pingsan segala sih? Bikin hati gue panas aja lihat wajah tampan pak Endra yang merah gitu."
"Marah ya pak Endra?"
"Khawatir kali."
"Huh, emang ya murahan si Alin. Sampai guru kayak pak Endra aja perhatian banget."
Beberapa siswi satu kelas dengan Alina yang memang tidak menyukainya terus membicarakan Alina. Sebenarnya diawal mereka menyukai perubahan pada Alina. Juga sikap atau tindakan berani Alina, namun sejak foto Alina dan kedua cowok tampan tersebar, mereka memandang Alina dengan cara berbeda, terlebih salah satu cowok dalam foto tersebut digadang-gadang pacar dari Aurel.
"Duduk," titah Alendra kepada Widya.
Kepalanya menunduk. Widya tidak begitu berani menatap Alendra secara terang-terangan. Ia tahu pasti Alendra akan menanyakan kejadian yang menimpa Alina.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Alendra menatap Widya serius.
Sebagai seorang guru ia masih mencoba untuk tetap tenang, apa lagi kepada Widya seorang gadis yang di mata Alendra tidak cukup nakal juga mendapat beasiswa. Meski ada perubahan penampilan pada gadis itu, nyatanya bagi Alendra Widya tetap gadis lugu biasa saja. Tidak ada yang menarik selain prestasi yang didapatkannya.
"Sa-saya tidak tahu pak, Alin tiba-tiba pingsan," jawab Widya tidak berani menatap Alendra.
Kali ini ucapan Alendra berhasil membuat nyali Widya berkobar. Ia tidak lagi takut untuk menatap Alendra secara langsung. Bahkan berada dekat dengan tubuh tegap dari laki-laki itu semakin membuat Widya merasa ingin memiliki. Dan mungkin ini saatnya untuk membuat Alendra sadar. Jika semua yang menimpa Alina akhir-akhir ini itu karena ulahnya. Termasuk foto-foto yang sengaja Widya ambil secara diam-diam beberapa waktu lalu.
Meski curang, tetapi Widya tidak peduli, baginya membuat Alina dan Alendra tidak bersama lagi suatu kemenangan untuknya.
"Saya tidak suka Alin pak Endra, karena dia. Cinta pertama saya direbut," ujar Widya menatap damba akan Alendra.
Mendengar kata-kata aneh dari Widya membuat kening Alendra seketika berkerut. Ia tidak paham apa yang muridnya itu katakan.
"Kamu tidak perlu khawatir Widya. Alina tidak akan merebut cinta pertama kamu, dia istriku. Dan dia milikku," jelas Alendra seketika membuat kepala Widya menggeleng.
Hatinya mencelos mendengar Alendra mengakui jika Alina miliknya, jika Alina istri darinya. Rasanya Widya tidak bisa terima begitu saja.
"Silahkan kamu kembali ke kelasmu. Tapi ingat lain kali saya tidak akan memaafkanmu," tegas Alendra beranjak dari duduknya.
Baru beberapa langkah ia keluar. Widya kembali menyusulnya. Rasanya sesak diabaikan begitu saja oleh Alendra. Laki-laki yang selama ini Widya anggap sebagai pahlawan untuknya. Ternyata Alendra, gurunya sendiri, seseorang yang ada di depan matanya, juga menjadi suami dari sahabatnya.
__ADS_1
"Tunggu kak Lendra!" seru Widya seketika membuat Alendra terhenti.
Menyadari jika Alendra menghentikan langkahnya membuat sudut bibir Widya tertarik ke atas. Ia semakin semangat untuk menghampiri Alendra.
"Ternyata kak Lendra masih ingat aku," ujar Widya menatap Alendra dengan senyum manisnya.
"Aku gadis yang pernah kak Lendra tolong dulu, masih ingat sore itu di dekat kampus?" tanya Widya lagi dengan harapan besarnya.
Tampak Alendra yang mengamati Widya dengan diamnya. Detik berikutnya ia tersenyum seraya menggeleng.
"Banyak gadis atau pun remaja yang aku tolong, dan mungkin kamu salah satunya," jelas Alendra kembali melangkah.
Dadanya semakin sesak, rasanya ia tidak bisa terima dengan jawaban dari Alendra. Seperti apa pun jawaban Alendra itu, Widya sama sekali tidak percaya. Baginya Alendra tetaplah pahlawan untuknya. Dan hanya dia satu-satunya gadis yang pernah ditolong oleh Alendra.
Setetes air mata berhasil keluar dari pelupuk matanya. Sakit sampai ia tidak bisa lagi untuk menahannya.
"Tunggu kak Lendra," dengan cepat Widya segera mengejar langkah lebar Alendra.
Sampai di ruangan UKS. Dokter yang tadi dia panggil kini sudah berada di sana. Juga beberapa guru lain yang sengaja menunggu Alina siuman.
"Bagaimana dok?" tanya Alendra kembali menghampiri Alina.
Terlihat dokter yang mengangguk dengan sedikit senyum di bibirnya.
"Tidak usah khawatir, Alina memang sedikit kelelahan dan juga mungkin banyak pikiran," ujar dokter diangguki lega oleh Alendra.
Tangan dokter itu terulur dengan senyum yang kembali diperlihatkan.
"Selamat pak Endra, anda sebentar lagi akan menjadi seorang ayah," ujar dokter tersebut membuat Alendra terdiam karena rasa terkejutnya.
Juga para guru yang berada di sana termasuk bu Tina tampak tekejut mendengar apa yang dikatakan oleh dokter yang memeriksa Alina.
"Alina hamil?" tanya Alendra masih tidak percaya.
Kepala dokter mengangguk. Mengiyakan apa yang Alendra tanyakan baru saja. "Benar pak Endra, selamat istri anda sedang hamil, nanti saya periksa lebih lanjut di rumah, saya permisi dulu" ujarnya menepuk punggung Alendra yang masih berdiri dengan diamnya.
Setelah kepergian dokter tersebut. Alendra menatap wajah Alina dengan mata yang masih terpejam. Ia mendekat dan mengambil tangan Alina untuk dia kecup.
__ADS_1
"A-apa istri?" gumam bu Tina sebelum akhirnya ambruk tidak sadarkan diri.