
Saling diam dengan posisi yang masih menindih Alendra tubuh Alina terasa kaku untuk digerakan. Hanya napas Alendra yang terdengar sangat jelas sampai bisa Alina rasakan disekitar permukaan kulit wajahnya. Itu semakin membuat Alina ingin terlepas namun tubuhnya seakan berkhianat dan...
Byar
Lampu kembali menyala bersamaan dengan mata Alina yang terbuka lebar kala melihat wajah mereka ternyata begitu dekat dan hampir saja berciuman jika saja Alina menunduk sedikit.
Dug
Siku Alina ia gunakan untuk memukul Alendra dibagian dadanya. Entah kekuatan dari mana tetapi disaat gelap menghilang diganti dengan terang tubuhnya kembali enteng dan bisa digerakan.
"Akh s**l," keluh Alendra menatap tajam Alina.
"Alin!" panggil Alendra saat Alina kabur bersiap untuk ke kamar mandi.
Mata Alendra melihat ke arah lampu yang kembali terang, ingin mengumpat dan melakukan sesuatu terhadap lampu tersebut. Bagi Alendra lampu yang kini sudah menyala dengan terang seakan sedang mncibirnya dan menertawainya.
"Tidak berguna," decihnya memposisikan tubuhnya di atas ranjang agar lebih aman.
Berbeda dengan Alina yang kini malah sedang kebingungan tidak jelas. Seragam yang akan ia kenakan kembali tadi lupa tidak dibawa serta ke kamar mandi. Memang setelah lampu menyala Alina buru-buru masuk ke kamar mandi agar Alendra tidak bisa melihat bentukannya saat ini karena baju kurang bahannya.
"Pakai apa dong," dumelnya seraya berpikir keras.
Tidak mungkin Alina keluar kamar mandi dalam keadaan tanpa sehelai benangpun. Mending ia masih menggunakan lingerie yang masih melekat di tubuhnya.
"Model terkenal bisa juga ya ngalamin hal kayak gini," kekehnya merasa apa yang dilakukannya sangat konyol.
Semua terjadi karena baju yang berada di lemari tidak ada yang memungkinkan untuk dipakainya. Lagian Alina ini aneh sekali banyak uang tapi tidak pernah membeli ini itu untuk kebutuhan hidupnya. Ponsel saja masih jaman dulu jika Alina sekarang tidak meminta dengan akal-akalannya.
Setelah sekian lama berada di kamar mandi. Alina memutuskan untuk keluar. Tadi ia sudah mandi, namun baju kurang bahan itu terpaksa harus kembali ia pakai. Tidak mungkin kan Alina lebih memilih handuk dari pada baju tersebut.
Langkahnya berjinjit takut jika Alendra melihat. Karena hatinya sudah bersorak senang setelah melihat lelaki itu sudah memejamkan mata dengan napas teratur. Itu berati Alendra benar-benar sudah tertidur dan tidak pura-pura.
"Gue tidur di sofa aja, enak aja tidur sama dia bisa bahaya gue dengan baju s***n ini," gumam Alina mengambil selimutnya sangat pelan.
Ia tidak mau Alendra sampai terbangun karena kecerobohannya.
__ADS_1
Sejenak Alina terdiam menatap wajah rupawana yang terlihat sangat damai dengan tidurnya. Dalam keadaan ini Alendra seperti bukan sosok yang menyebalkan, namun bagaikan dewa ketampanan yang sedang berkunjung ke bumi karena sebuah tujuan.
"Anj*r cakep bener Lin suami lo kalau kek gini," gumam Alina tanpa disadari memuji ketampanan yang Alendra miliki.
"Tinggi si Ale berapa ya? Kok bisa tinggi sama pas banget gitu lho badannya," dengan sangat perlahan Alina menaikkan kaos yang dipakai Alendra.
Rasa penasaran dengan dada keras yang tadi begitu terasa ketika ia berada di atasnya membuatnya gelap mata untuk saat ini. Matanya sangat tidak sopan ingin melihat bentuknya namun sering menolak ketika keadaan seakan menyatukan mereka seperti ketika mati lampu tadi.
Glek
Alina menelan salivanya dengan susah payah. Tidak ada yang perlu diragukan keindahannya dari tubuh Alendra. Kecuali satu yang kini berhasil membuat Alina menjauh dengan mata sedikit melebar. Barang berharga milik Alendra yang tadi sempat ia rasakan kekuatannya sebentar belum Alina ketahui. Tetapi tidak mungkin ia melanjutkan aksinya untuk membuka celana yang Alendra kenakan. Itu sama saja Alina yang berpikiran cab*l malah.
"Halah...otak gue kenapa sih? Breng**k banget dah," dumel Alina mundur tidak berani lagi untuk melanjutkan aksinya.
Ia lebih memilih untuk tidur di sofa dengan selimut besar untuk menutupi seluruh tubuhnya. Berjaga-jaga saja kalau Alendra terbangun lebih dulu dia tidak akan mendapatkan sesuatu yang bisa merugikannya.
"Kalau kayak gini kan aman," lirihnya dengan mata yang mulia terpejam.
Sinar matahari mulai dirasa masuk sampai membuat Alina yang tadi masih nyenyak tertidur kini terbangun dengan rasa bingungnya. Tempat yang asing kembali yang dia lihat untuk pertama kali sebelum akhirnya dia sadar kalau sekarang ini sedang brada di kamar Alina asli. Baru setelah itu ia bisa menghela napas lega, sampai dimana dia teringat dengan kejadian tadi malam dimana dia dengan sengaja membawa selimutnya sampai ke sofa namun kini, lihatlah selimut itu sudah berada di bawah sofa. Dengan pakaian kurang bahan itu Alina tadi tidur tanpa penutup lagi.
Rupanya tadi malam ia merasa sangat gerah sampai tanpa sengaja menendang selimut yang ia kenakan sendiri untuk menutupi seluruh tubuhnya. Semua itu dilakukan ketika ia masih berada di alam mimpinya.
Alina melirik ke arah ranjang. Sudah tidak ada keberadaan Alendra di sana.
"Akh.... Mamp*s gue," dumelnya merasa sudah kalah dengan Alendra.
Alina sangat yakin jika tadi Alendra pasti sudah melihat dengan jelas ketika ia masih tertidur sementara Alendra terbangun terlebih dahulu.
Alendra dengan secangkir kopi dan juga catur di depannya terus tersenyum setiap mengingat kejadian tadi pagi. Dimana ia melihat Alina dengan pose tidurnya yang sangat aduhai itu karena dibantu dengan lingerie yang dia kenakan.
"Kejutan buat kamu Alina," gumam Alendra sangat puas.
"Wah... Kamu semakin hebat Endra. Papa kalah terus kalau begini caranya," ujar Papa Robi melihat kemampuan Alendra dalam bermain catur tidak main-main.
Alendra tersenyum tipis. "Papa bisa jalanin kuda itu ke sebelah kiri agar bisa makan punya saya," beritahu Alendra membuat beliau berpikir dan mengangguk.
__ADS_1
"Wuh....hore.. makan-makan. Kamu memang menantu idaman Endra," sorak Pak Robi kegirangan.
"Ngomong-ngomong tentang Alina Endra. Papa minta maaf sama kamu sejak kecelakaan itu terjadi Alina jadi sedikit berubah," ujar Pak Robi sungguh-sungguh.
"Tidak masalah pa, Endra tidak merasa keberatan dengan perubahan Alina yang sekarang, selama dokter megatakan Alina baik-baik saja tidak ada yang perlu kita khawatirkan," jelas Alendra yang diangguki oleh Pak Robi.
Jelas Alendra merasa tidak keberatan dengan perubahan yang terjadi dengan gadis itu. Justru karena perubahan itu kini Alendra sering berinteraksi dengan Alina. Tidak seperti dulu setiap Alendra bertanya Alina hanya menunduk dan mengangguk saja. Tidak khayal kalau hal itu sampai menumbuhkan rasa bosan pada diri Alendra meski pernikahan mereka baru beberapa bulan.
Berbeda dengan sekarang. Alina tidak akan takut dan terkadang malah sedikit nyolot. Menyebalkan namun Alendra malah menyukainya.
"Papa, mama dimana?" suara itu datang dari Alina yang menghampiri Papanya karena tidak mendapati Mama Diana tadi.
"Oh...mama lagi belanjak sayang saka bik Inah," balas Pak Robi menatap Alina.
"Kamu kenapa pakai seragam lagi? Ini tanggal merah sayang kamu libur bukan?" heran beliau melihat anaknya yang masih menggunakan seragam sekolah sejak kedatangannya.
Tidak tahu saja Pak Robi jika anaknya semalaman menggunakan baju kurang bahan karena tidak adanya baju yang pas menurutnya.
"Nggak ada baju pa di lemari. Semuanya kekecilan," jelas Alina membuat kening beliau berkerut.
"Nggak ada baju? Kamu buka lemari yang dulu kali. Baju-baju kamu banyak di lemari baru sengaja mama kamu masukan ke lemari baru barengan dengan baju-baju Endra di sini," jelas beliau membuat Alina ternganga.
Jadi? Ada baju lain selain baju naruto dan baju seksi yang tidak banget itu. Alendra sengaja tidak memberitahunya rupaya.
Matanya menatap Alendra tajam. Ia sangat murka dan sangat ingin mencakar wajah tampan di depannya itu yang kini sedang menatapnya dengan senyum kepalsuan.
Sia-sia dan sangat menyesal rasanya Alina tadi malam sampai melakukan hal bod*h dengan memuji apa yang Alendra miliki.
Dengan perasaan dongkol Alina kembali naik ke kamarnya. Ia marah dan sangat marah dengan Alendra. Beruntung tadi malam tidak ada kejadian yang dahsyat menimpanya. Jika ia maka Alina bersumpah akan mencekik Alendra seperti dendamnya dengan Diko.
"Sebentar pa biar Endra susul Alina," pamit Alendra yang diangguki oleh beliau.
"Nggak usah buru-buru Ndra, ini masih pagi," seru beliau dengan kekehan.
___
__ADS_1
Sabar ya gaes nanti aku up lagi kalau nggak sibuk banget