
Mobil melesat membelah jalanan ibu kota yang cukup padat. Meski ditumpangi oleh 4 orang yang berada di dalamnya. Namun tidak ada suara selain lagu yang sengaja mang Udin nyalakan.
Alendra sibuk dengan tab di tangannya. Ada beberapa hal penting yang harus segera dia selesaikan. Sementara Alina lebih memilih memejamkan mata, kedatangan Alendra saja sudah membuatnya overthingking. Ia dan Widya sudah pasti tidak akan diperbolehkan untuk pergi ke taman kota seperti yang sudah direncanakan sebelumnya.
Jika Widya. Gadis itu diam melihat ke sekeliling, tahu akan keadaan Alina yang sekarang masih membuatnya setengah percaya. Terkadang ekor mata gadis itu melirik ke arah Alina yang berada di sebelahnya, lalu berlanjut melirik ke arah guru tampannya yang juga berada di depannya. Tiba-tiba kepalanya menggeleng mengingat apa yang sudah Alina dan Alendra mungkin saja lakukan.
Widya memang gadis polos. Tetapi ia cukup paham jika seorang wanita dan laki-laki sudah menjadi sepasang suami istri pasti akan melakukan sesuatu hal yang nantinya akan muncul anak kecil di tengah keluarga mereka.
"Tidak," gumamnya meremat rok yang dikenakan olehnya.
Suasama yang tadi hening seketika pecah saat lagu yang mang Udin nyalakan kini berubah menjadi musik dangdut koplo kesukaannya. Alendra yang tadi fokus dengan tabnya seketika menoleh. Begitu juga dengan Alina yang terbangun dan menatap mang Udin siap untuk protes.
"Mang, lagu apaan sih ini?" tanya-nya tidak suka.
"Hehe..maap non Alin, tiba-tiba musiknya pindah sendiri," balasnya membela diri.
"Buruan ganti deh mang," titah Alina yang diangguki oleh mang Udin.
"Satu lagu lagi ya non, bagus ini lagi piral di tok-tok," ujarnya mencoba menawar.
Widya menatap Alina dan sopir di depannya secara bergantian. Ia bingung untuk ikut berusara.
"Enggak ih. Gue nggak suka," tolak Alina bersikekeh.
"Non Alin jangan marah-marah, nanti enon lekas tua," goda mang Udin menirukan lirik yang sedang dibawakan oleh sipenyanyi dengan fersi koplonya.
Alina mendelik tajam, berani sekali sopirnya mengatainya cepat tua. Ia akan protes dan berniat mengganti lagu tersebut sendiri, namun tawa dari Alendra berhasil membuat niatnya terurungkan.
"Apa sih malah ketawa!" ketus Alina membuat Widya yang berada di sebelahnya mendelik tidak percaya.
Guru tampan yang dipuja-puja disentak oleh Alina di depan matanya? Jelas Widya semakin dibuat bingung dengan keadaan yang sedang tejadi secara langsung dihadapannya.
"Ganti aja mang, kasian muka dia udah keliatan tua gitu," ujar Alendra membuat mang Udin mengangguk setuju.
Lagu yang tadi sudah membuat Alina hampir meledakkan emosinya sudah musnah ditelinganya. Tergantikan dengan lagu-lagu pilihan Alendra yang kebetulan juga disukai olehnya.
"Giliran Ale aja yang minta gercep, huh dasar mata pulusan," cibir Alina membuat Alendra menoleh ke belakang.
Sudut bibirnya tertarik ke atas menampilkan senyum yang sangat menawan, kepalanya sedikit ia gelengkan. Ingin membalas tetapi ada Widya, image sebagai guru tampan dan berwibawa jelas dipertaruhkan jika Alendra sampai salah melangkah dan terlihat konyol ketika sedang beradu mulut dengan Alina.
Namun Widya. Gadis itu malah terdiam beku dikursinya. Melihat senyum menawan dari Alendra barusan membuatnya semakin lemah. Masih seperti mimpi rasanya ia bisa satu mobil dengan guru tampan tersebut.
__ADS_1
"Wid," panggil Alina memburkan lamunan Alina.
"Eh iya Alin," balasnya menoleh ke arah Alina.
Dirasa mobil sudah berhenti membuat Widya mengamati di sekitarnya.
"Dimana?" tanyanya masih bingung.
"Turun dulu yuk," ajak Alina dan diangguki oleh Widya.
Keduanya turun dari mobil. Begitu juga dengan Alendra yang turun dari mobil. Dan memilih untuk masuk terlebih dahulu mendahului mereka.
"Kenapa sih?" tanya Alina melihat Widya yang seperti orang bod*h sekarang.
"Gede banget Alin rumahnya," puji Widya membuat Alina mengangguk.
"Rumah martua gue," beritahu Alina seketika membuat Widya menatap serius Alina.
"Rumahnya pak Endra?" tanya Widya membuat Alina mendesah kesal mendengar jawaban Widya yang sama seklai tidak memuaskan.
"Dibilangin rumah martua gue juga, lo kenapa jadi ogeb gini sih? Perasaan tadi siang otak lo masih encer-encer aja tuh," cibir Alina membuat Widya tersenyum kikuk.
"Rumah martua kamu kan sama aja rumah pak Endra Alin," jelas Widya tersenyum tipis.
"Rumah si Ale lebih bagus lagi Wid, gue kemarinnya ke sana, tapi selama ini kita tinggal di apartemen sempit, bagus sih tapi kecil banget. Pak Alendra itu pelit orangnya," bisik Alina membuat Widya menatap Alina tidak percaya.
"Pantes sih, keliatan kok orangnya," balas Widya membuat Alina mengangguk dengan senyum.
"Nah itu lo tahu." Alina senang karena Widya percaya dengan dirinya jika Alendra itu memang orang yang pelit selian tidak tahu diri.
"Jam tangannya aja mahal banget Alin, pokoknya kamu beruntung banget Lin jadi istri pak Endra," ujar Widya seketika membuat Alina ternganga karena tanggapan Widya barusan.
Keduanya berada di dekat kolam berenang. Alina sudah siap mendengarkan apa yang ingin Widya katakan. Juga tentang masalah keluarganya yang Alina yakin sekali pasti sedang sangat membutuhkan bantuan.
"Alin, sebelumnya aku mau berterimakasih sekali sama kamu karena kamu udah mau jadi teman aku," ujar Widya seketika membuat kening Alina mengernyit.
"Apa sih Wid? Jangan mulai deh," balasnya menyelidik.
"Enggak Alin, maksud aku tuh. Kita nggak sama Alin, kamu tahu kan aku bisa sekolah di sana karena beasiswa sedangkan kamu-"
"Stop, aku nggak mau denger yang itu, aku mau denger kenapa kamu kemarin sempet ngehindar dari aku dan kalau kamu mau kamu boleh ceritain semua masalah kamu Wid, siapa tahu aku bisa bantu kan?" sela Alina membuat Widya tersenyum tipis.
__ADS_1
Tangan Alina ia genggam, ia menunduk dengan rasa bersalah yang mendalam mengingat sikap dia kemarin pada saat mencoba untuk menjauh dari Alina.
"A-Aurel ancam aku Alin," ujar Widya pada akhirnya.
Dugaan Alina ternyata benar, meski ia tidak bertanya langsung kepada Widya akhirnya Widya sendiri malah yang mengatakannya.
"Dia nyuruh aku buat bikin pak Endra benci sama kamu, tapi pas aku tahu kalau kalian ternyata sudah jadi suami istri, aku memutuskan untuk nggak nuruti apa yang Aurel suruh Lin, maaf," jelas Widya menunduk sedih.
Terdengar helaan napas dari Alina, ia mengangguk dan memang sudah memaafkan Widya. Ada rasa kecewa namun tidak begitu ia permasalahkan toh Widya memang tipe gadis yang tidak pemberani, wajar jika Aurel mengancam dan dia ikuti saja perintahnya.
"Cuma itu saja?" selidik Alina dan diangguki oleh Widya.
"Kalau ortu lo Wid?" tanya Alina seketika membuat Widya menoleh dan menatapnya sedikit gugup.
"Ti-tidak ada masalah Lin, mereka baik-baik saja," dusta Widya, namun sorot mata kesedihan yang terpancar dari matanya tidak bisa membohongi Alina.
Ia tahu jika sahabatnya itu sedang kesusahan dan butuh bantuan darinya.
"Jangan ada yang ditutupi Widya, karena gue sendiri nantinya akan berterus terang sama lo tentang sesuatu hal," ujar Alina penuh akan makna dari kata-katanya. Namun sayang, Widya hanya menganggapnya sebuah desakan agar ia mau berterus terang dengan Alina tentang masalah yang sedang dihadapinya.
"Ibu aku kerja di rumah Aurel Alin, bapak aku sakit sudah lama. Kita butuh biaya untuk pengobatan bapak, aku nggak tahu lagi harus gimana Lin, nyari kerja juga susah untuk gadis seperti aku," jelas Widya seketika membuat Alina menatap Widya iba.
Ia memeluk Widya untuk menenangkannya. Matanya terpejam merasakan bagaimana beban yang Widya pikul selama ini.
"Kita cari solusi bersama ya Wid?" ujar Alina mencoba menenangkan Widya.
Byurrrrr....
Keduanya dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang tiba-tiba masuk ke dalam kolam. Selang berpaa waktu ia kembali muncul dipermukaan air. Kepalanya ia kibas-kibaskan bersamaan dengan tangannya yang membasuh air pada area wajahnya. Terlihat sangat keren dan
"Pa-pak Endra Alin," cicit Widya mulai menegang, disuguhkan dengan pemadangan terus menerus seindah itu jelas membuat Widya diambang kecemasan.
"Ale! Nggak sopan banget sih! Basah seragam kita," protes Alina bangkit dari duduknya.
Seakan menantang Alina mendekat ke arah pinggiran kolam. Tidak tahu saja bahaya sedang mengintainya.
Alendra menoleh. Ia tidak membalas perkataan Alina, namun tubuhnya mendekat dimana Alina kini berdiri di pinggir kolam. Detik itu juga Alina ditarik oleh Alendra dan ikut masuk ke dalam kolam.
Byurrrr
Widya terdiam di tempatnya melihat cara gurunya memperlakukan sahabatnya. Penuh dengan adrenalin tetapi sangat mengesankan.
__ADS_1
"Kamu sebaiknya pulang sekarang, this is my time with my wife," ujar Alendra membuat detak jantung Widya seakan berhenti berdetak.