
Pelajaran pertama di kelas Alina diisi oleh Alendra. Entah kenapa guru tampan itu mengiyakan permintaan Pak Joko untuk menggantikannya. Padahal pernah ketika itu Pak Joko juga meminta Alendra untuk menggantikannya di kelas lain namun Alendra menolak dengan dalih sedang menyiapkan mata pelajaran yang akan ia ajar berikutnya.
Alina tampak tidak fokus dengan apa yang Alendra jelaskan di depan. Ia kesal karena sudah mendapat hal-hal usil dari Alendra pagi ini.
"Alin," panggil Widya membuat Alina menoleh.
"Apa?" tanya Alina tanpa nada suara.
"Pak Endra ganteng banget ya? Kita perlu berterimakasih tidak karena beliau udah nraktir kita waktu itu?" tanya Widya membuat Alina menggeleng.
"Nggak perlu, nanti besar kepala tuh guru," balas Alina membuat Widya mengernyit.
Menurutnya di sekolah itu satu-satunya siswi yang tidak menyukai Alendra hanya Alina seorang. Widya yang dari awal kedatangan Alendra saja sudah berusaha membentengi diri tetap saja pada akhirnya tidak bisa memungkiri. Jika guru tampan tersebut layak diidolakan.
"Aneh Alina," decak Widya kembali menatap pada guru tampan yang kini sedang menulis di papan tulis.
"Tuh si Ale otaknya encer bener sih, ini bisa itu bisa. Besok apa lagi pelajaran yang mau dia gantikan?" dumel Alina menatap malas ke arah Alendra yang sedang menerangkan dengan begitu jelasnya.
Bahkan apa yang Alendra terangkan jauh lebih jelas dan mudah dipahami dari pada Pak Joko selaku guru mata pelajaran tersebut. Prediket multitalenta memang pantas diberikan untuk Alendra.
Suara bel pergantian mata pelajaran membuat yang lain tampak mendesah kecewa. Hanya Alina yang sempat bersorak sampai membuat seisi kelas menatap tidak percaya ke arahnya.
"Yey... Done," serunya semangat.
"Alin kenapa sih?"
"Tahu tuh, aneh sok girang sendiri biar dapat perhatian pak Endra terus."
Beberapa komentar dari teman sekelasnya yang menurut mereka sikap Alina aneh. Termasuk Alendra yang kini sedang menatap Alina intens. Tangannya terampil merapihkan buku-buku di mejanya. Namun tatapan itu tidak lekat menatap gadis yang sedang tersenyum senang karena sebentar lagi Alendra akan meninggalkan kelasnya.
Tubuhnya ambruk di atas sofa. Alina sangat lelah tadi siang mendapat pelajaran tambahan dari guru gendut yang selalu saja korupsi waktu ketika sedang mengajar.
"Pantes sih pada suka si Ale, selain tepat waktu nggak makan waktu banyak juga," gumam Alina seraya mendesah.
Diliriknya jam yang sudah menunjukan angka 3. Ia segera bangkit dan bersiap untuk olahraga. Dari pada olahraga malam lebih baik sekarang mumpung Alendra masih di kantor.
__ADS_1
Sengaja ia memakai baju olahrga yang ia beli kemarin ketika bersama dengan Alendra. Meski gagal membuat kartu Alendra berubah warna daj sekarat tetapi apa yang dia mau sudah ia beli semua.
"Gue ukur dulu kali ya nih dada, siapa tahu udah ada pertumbuhan," ujar Alina melingkarkan pita ukuran pada dadanya.
Ngomong-ngomong tentang pertumbuhan Alina jadi geli sendiri mengingat kata-kata Alendra kemarin. Matanya seketika terbulat dengan sempurna kala melihat pita ukurannya yang maju 2 senti. Alina kembali mencobanya dan hasilnya tetap sama.
"Anj*r ini beneran udah makin gede nih punya gue," ujarnya seraya memegang bagian tersebut.
"Eh..makin empuk, bentar lagi pasti gede nih kayak punya gue yang dulu," gumamnya lagi sembari terkikik.
Rasanya geli sendiri tapi dia juga sangat senang, setidaknya predikat kerempeng tidak akan lagi dia dengar.
"Apa lagi sih nih tubuh yang harus digedein?" Alina menatap pantulan dirinya di depan cermin.
Seketika senyumnya kembali terbit saat melihat bagian belakangnya. Selain bagian atas depan, bagian belakang juga harus Alina bikin aduhai.
"Oke... Let's play," uajrnya semangat menuju ke ruangan gym di apartemennya.
Sementara di tempat lain. Alendra sedang mengikuti rapat bersama dengan para karyawan lainnya. Tadi setelah dari sekolah Alendra memang langsung pergi ke kantor karena suruhan dari Pak Dirta. Seperti biasa ia akan diminta untuk memimpin rapat.
"Pak Dirta pasti bangga punya anak seperti anda pak Endra," puji asisten Pak Dirta yang kini diminta membantu Alendra dalam proses rapat tadi.
"Tidak juga. Saya bisa nakal di malam harinya," bisik Alendra seketika membuat asisten Pak Dirta terkekeh.
Usia mereka hampir sama. Hanya beda beberapa tahun saja Alendra lebih muda. Satu-satunya karyawan yang mengerti kebobrokan Alendra ialah asisten Pak Dirta sendiri. Ia pernah diminta untuk menjemput Alendra karena kebanyakan minum bersama dengan teman-temannya.
"Tolong bilang papa, saya langsung pulang sekarang," beritahu Alendra yang diangguki oleh asisten tersebut.
Entah kenapa sekarang Alendra lebih ingin berada di rumah setelah semua tugas atau pekerjaannya selesai. Menjahili Alina jauh lebih menarik dari pada bertemu dengan Pinka yang sedari tadi tidak hentinta terus mencoba untuk menghubungi Alendra.
"Apa beby?" tanya Alendra pada akhirnya mengangkat telepon dari Pinka.
"Ndra, ke sini sayang, aku lagi nggak ada jadwal," beritahu Pinka dengan nada manja diseberang telepon.
Alendra mendesah kesal. Ia baru saja selesai rapat tidak mungkin langsung datang ke apartemen Pinka. Ia juga butuh istirahat.
__ADS_1
"Nanti malam beby, aku baru saja selesai rapat," balas Alendra membuat Pinka membrengut kesal.
"Janji ya nanti malam? Aku tunggu lho, awas kalau sampai tidak datang aku sendiri yang akan datang ke apartemen kamu," ancam Pinka agar Alendra menepati janjinya.
"Oke, bye...aku lagi dijalanan ini," beritahu Alendra yang membuat Pinka mau tidak mau harus menutup teleponnya.
"Bye, hati-hati sayang," ujar Pinka diakhiri dengan sebuah kecupan di akhir kalimatnya.
Alendra tidak membalas, ia malah mematikan sambunga telepon dari Pinka dan berjalan ke depan gedung perusahaan keluarganya. Mobilnya sudah disiapkan, Alendra tidak perlu lagi repot-repot ke parkiran. Itu atas perintah Pak Dirta pada bawahannya karena Alendra tadi memimpin rapat dengan sukses.
"Kalau kamu bisa segera memberi cucu semua ini langsung papa wariskan untuk mu Endra," ujar Pak Dirta yang diam-diam melihat kepergian Alendra dari jendela ruangannya di atas sana.
Napas Alina naik turun tidak beraturan. Tetapi mengingat jika ada perkembangan pada bagian dadanya membuatnya semakin semangat untuk mencapa hasil akhir yang lebih memuaskan.
"Capek banget, minum dulu kali ya," ujarnya sembari melangkah mendekati minuman yang sudah dia siapkan sendiri.
"Lah...habis," keluhnya melihat botol air minumannya tinggal setetes saja di dalamnya.
Terpaksa ia harus mengambilnya di dapur. Tidak terasa sudah 2 jam lebih Alina melakukan olahraga dengan berbagai gaya agar bagian-bagian tertentu cepat mendapat perubahan.
Air yang baru saja ia ambil tumpah seketika karena kaget mendapati Alendra sudah berada di depannya. Kejadian ini sama persis ketika malam itu Alendra datang tiba-tiba dan membuatnya terkejut sampai ia kira jika Alendra ini jelmaan dari mahluk tak kasat mata. Bedanya yang sekarang Alendra membuka mata dan dalam keadaan terang.
"Apa-apaan sih lo?" kesal Alina menatap Alendra garang.
Alina kes karena air minum yang baru saja diambilnya tumpah mengenai tubuhnya. Salahkan saja Alina yang mengambil minum menggunakan gelas tidak mempergunakan botolnya yang tadi.
"Jadi basah semua kan?" dumel Alina lagi tetapi tidak mendapat respon dari Alendra.
Pandangan mata Alendra tidak lepas dari Alina. Namun ia seakan sedang memperhatikan sesuatu yang menggelitik bagian bawahnya.
"Ni**le kamu terlihat jelas Alin," beritahu Alendra sontak membuat Alina melirik bagian dadanya dan langsung menutupnya.
"Dasar mes*m!" Alina langsung pergi bersamaan dengan kekehan dari Alendra yang keluar.
"Cepat juga pertumbuhannya," gumam Alendra tersenyum tipis.
__ADS_1