Fire On Fire

Fire On Fire
Bertemu Boy Diam-Diam


__ADS_3

Baru sehari berada di rumah besar milik kedua martuanya. Alina sudah dibuat kesal oleh tingkah laku Alendra. Hari minggu yang seharusnya ia habiskan untuk bersantai dengan tenang seketika sirna. Sepertinya selama tinggal di sana Alina harus menambah porsi kesabarannya. Karena jika ngegas terus ia pasti akan gagal untuk membentuk tubuh ideal yang diinginkannya. Setelah perang mulut dengan Alendra, Alina akan makan banyak cemilan tanpa ditambahi olahraga ringan.


Seperti saat ini. Alina kesal karena Alendra terus memerintahnya dengan berbagai alasan, padahal asisten rumah tangga yang berada di rumah tersebut juga ada beberapa.


"Lin. Tolong ambilkan anduk!" teriak Alendra dari dalam kamar mandi.


Dadanya ia busungkan, setelah itu kembali kempis dengan ******* napas yang terdengar sangat dalam.


"Awas aja kalau setelah ini masih berani merintah, gue nggak akan segan-segan buat motong tongkat lo Ale," dumel Alina mengambil handuk dari dalam lemari.


"Di pintu, sekali lagi lo nyuruh-nyuruh gue. Awas lo!" beritahu Alina dengan nada mengancam.


Merasa lelah. Alina membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Diliriknya jam yang sudah menunjukkan pukul 3 sore, itu berati sebentar lagi Alina harus bersiap-siap karena sudah berjanji akan bertemu dengan Boy. Masih ada waktu sembari menunggu Alendra selesai dan semoga saja segera keluar agar Alina terbebas.


Ceklek


Alendra keluar hanya menggunakan handuk saja. Sepertinya laki-laki itu memang sengaja dengan penampilan kali ini. Sengaja ingin menggoda Alina atau membuat gadis itu kesal.


Belum sadar dengan kedatangan Alendra. Alina masih terlentang di atas ranjang besar tersebut. Tidak ada niatan baginya untuk menggoda Alendra, namun justru Alendra sendiri malah yang tergoda dengan posisi Alina sekarang ini.


"Ehem," deheman dari Alendra seketika membuat Alina tergelak dan segera bangkit.


"Kalau udah bilang do-ng," dumel Alina dengan nada suara pelan pada akhir kalimatnya.


Bayangkan saja Alendra hanya mengenakan handuk yang tidak seberapa itu berdiri di depannya dengan tatapan mata jelas terlihat mengamatinya.


"Eh... Anj*r. Ngapain berdiri sih? Sana ganti baju Ale," titah Alina reflek menutup matanya.


Meski ada dorongan untuk melihat pemandangan indah di depannya yang tersuguhkan dengan begitu nyata. Namun Alina jelas malu untuk mengakui atau mengiyakan bisikan-bisikan ghaib yang entah dari mana datangnya itu.


"Pilihkan aku baju Alin, aku akan ada pertemuan sebentar lagi," ujar Alendra membuat Alina mencebik kesal.


"Gue bukan pembok*t lo Ale. Nyuruh siapa gitu kek, nggak tahu diri banget jadi orang, lama-lama makin ngelunjak," balas Alina membuat Alendra terkikik.


"Tawa lagi, aneh," cibir Alina masih dengan tangan yang menutup kedua matanya.


"Cariin aku baju atau aku buka tangan kamu?" ancam Alendra sedikit melangkah maju, membuat Alina mendesah kesal dan akhirnya pasrah saja.


Pilihan yang sama sekali tidak menguntungkan untuknya. Dari pada berlama-lama mending ia turuti permintaan Alendra setelah itu siap-siap untuk bertemu Boy. Ada baiknya juga jika Alendra akan pergi.


"Fine, lo tunggu di sini nggak usah ngikutin gue mulu, dikira gue emak lo apa," dumel Alina berbalik badan. Ia masih menutup mata untuk menghindari hal-hal yang membuatnya nanti jadi menyesal.

__ADS_1


Seperti membayangkan tubuh seksi Alendra tanpa baju misalnya. Alina tidak mau kejadian itu sampai terulang lagi.


Bruk


"Kyaaaa....!" teriak Alina saat tanpa sengaja menabrak Alendra yang sebenarnya memang sedari tadi berdiri di situ.


"Lo sengaja banget si Ale," kesal Alina kini memejamkan matanya tanpa tangan untuk menutup.


Asli di sini Alina terlihat seperti gadis bedoh, disuguhkan dengan vitamin yang menyegarkan mata malah ia tolak dengan terang-terangan. Jika gadis lain pasti sudah kepanasan seperti ulat bulu yang menggeliat untuk dekat dengan Alendra.


"Biasa aja. Aku masih makai anduk Lin, mau dibuka biar kamu makin teriak kencang?" goda Alendra dengan sengaja.


"Sint*ng,!" umpat Alina malah semakin membuat kekehan Alendra terdengar.


Pukul 4 sore. Alina sudah siap untuk segera pergi menemui Boy. Alendra sudah pergi setengah jam yang lalu. Entah kemana perginya laki-laki itu tidak begitu Alina pikirkan, malah keuntungan baginya.


"Pak, anterin aku ke mall ya?" pinta Alina kepada mang Udin yang sedang bermain burung di belakang.


"Non Alin mau pergi sama siapa?" tanya mang Udin menatap Alina yang sudah rapih dengan setelan anak muda masa kini.


"Sama temen mang. Ya..ya..ya? Please... Nanti gue kasih goceng deh," rayu Alina membuat mang Udin menghela napas.


"Nggak usah pakai goceng deh non. Hayuk," balasnya membuat Alina terkikik senang.


"Cakep... Let's go mang," teriak Alina girang.


Mobil yang mereka tumpangi menuju tempat parkir mall yang sudah Alina beritahu. Sebelum keluar mobil Alina sempatkan untuk mengecek penampilannya terlebih dahulu.


"Mang Udin pulang aja ya? Gue lama soalnya," beritahu Alina seraya turun dari mobil.


"Wah... Nggak bisa non, nanti mamang dimarahin den Endra," balas mang Udin membuat Alina mendesah kesal.


Tidak ada orangnya juga masih saja menghambat kelancaran aktifitasnya. Itulah Alendra terkadang memang seperti mahluk tak kasat mata yang ada dimana-mana meski tidak terlihat.


"Gue pulang sampai jam 12 malam nanti mang, berani emang di sini sendiri?" ujar Alina bermaksud menakut-nakuti.


"Non Alin mah kelewat pintar. Mana ada mall di sini tutup jam 12 malam? mentoknya juga jam 11 itu pun satpam pasti sudah patroli buat ngusir pengunj-"


"Udah...udah... Kayak pernah jadi satpam di sini aja deh," dumel Alina malah membuat mang Udin semakin tertawa.


"Ck, nggak tahu non Alin, kalau sebelum kerja sama pak Dirta ya mamang emang jadi satpam di sini non," jelasnya membuat Alina mendelik.

__ADS_1


Yang benar saja? Heran juga Alina tidak Alendra tidak mang Udin, ternyata sama-sama ngeselin.


"Ya udah, pokoknya mang Udin sekarang pulang. Nih gue kasih cepek buat mamang," setelah itu Alina berlalu pergi.


"Non... Non Alin!" teriak mang Udin dengan kepala menggeleng.


"Setelah kecelakaan makin cantik, makin pinter juga ngomongnya, mana dikasih cepek lagi. Den Endra aja ngasih gopek malah," heran mang Udin dengan Alina yang sekarang. Tangannya memasukkan uang sogokan yang baru saja diberi oleh Alina didekat uang yang sudah Alendra kasih tadi.


Alina menuju tempat yang sudah dijanjikan dengan Boy. Sebuah restoran yang berada di lantai atas mall.


"Dor," goda Alina membuat Boy tertawa.


"Nggak kaget gue, lama amat sih ngapain aja lo? Jangan bilang abis main bola di kamar sama si gant-"


Uhuk


Uhuk


Uhuk


Seketika Boy terbatuk saat Alina dengan sengaja menyumpal mulutnya dengan kentang goreng yang sudah tersaji di meja.


"Jenni kebiasaan deh," dumel Boy membuat Alina terkikik.


"Makanya disaring kalau ngomong," balas Alina sembari menyambar minuman yang sudah Boy pesan tadi.


"Ini mau kemana dulu nih?" tanya Boy membuat Alina berpikir sejenak.


"Makan dulu lah. Maleman dikit kita ke tempat biasa yuk!" ajak Alina yang diangguki setuju oleh Boy.


"Yakin lo mau ke sana? Pulang teler gue lagi yang dikasih bogem sama suami lo," beritahu Boy mendapat gelengan kepala dari Alina.


"Enggak dong, gue cuma kangen sama masa-masa kita dulu Boy," ujar Alina membuat Boy tersenyum.


"Oke deh nek kalau begitu. Nih gue bawain sesuatu buat lo." Boy mengambil sepucuk kertas berwarna biru yang masih terlipat dengan rapih.


"Surat dia?" tanya Alina dan diangguki oleh Boy.


"Bukanya di rumah aja atau kalau nggak pas lo udah siap Jen, takut gue isinya bikin lo nggak nyaman," ujar Boy yang diangguki oleh Alina.


"Nggak bersayap makanya nggak nyaman," balas Alina membuat keduanya terkekeh.

__ADS_1


__ADS_2