
Langkah lebar Alendra sampai di kamar kembali. Tidak jauh darinya berdiri sekarang, ada Alina yang sedang menatapnya dengan garang. Tidak main-main Alina benar-benar marah karena Alendra.
"Sengaja banget lo mau bikin gue tersiksa?" sarkas Alina dengan napas naik turun.
Selain karena marah. Alina juga merasa capek tadi lari untuk menuju ke kamarnya yang berada di lantai atas. Itu yang menyebabkan napasnya naik turun tidak beraturan.
"Enggak," balas Alendra singkat.
Perlahan langkah Alendra kembali maju. Dengan sorot mata yang berbeda menatap ke arah Alina. Ia tidak pernah berniat untuk mengerjai Alina apa lagi menyiksanya tadi malam. Namun karena Alina masih saja belum paham apa yang seharusnya dilakukannya sebagai seorang istri membuat Alendra geram sendiri.
Bukan tipe Alendra tetapi jika harus memaksa untuk sebuah hubungan yang menurutnya sakral itu. Namun harus menunggu sampai Alina sadar sendiri juga rasanya tidak mungkin. Alina yang sekarang memang sangat bar-bar.
Jika saja dulu Alendra meminta haknya. Mungkin akan diberikan oleh Alina yang masih lugu itu. Tetapi disaat dulu Alendra belum ada rasa tertarik sedikitpun dengan gadis itu.
"Terus apa? Lo nggak tahu kan gimana tadi malam gue harus merasakan gerah karena selimut tebal itu," ujar Alina seketika mendapat kekehan dari Alendra.
Karena hal itu Alina akan meyalahkannya? Sangat tidak masuk akal jika memang begitu.
"Itu salah kamu sendiri Alina," tekan Alendra berdiri tepat di depan Alina.
Kepalanya sengaja ia condongkan agar sejajar dengan wajah gadis itu. Entah kenapa dengan keadaan seperti ini baik Alina atau pun Alendra merasa ada sesuatu yang aneh dalam diri mereka. Hanya saja keduanya masih saja terus menyangkal dan meninggikan ego juga gengsi masing-masing.
"Aku tahu ketika kamu membuka bajuku," bisik Alendra seketika membuat mata Alina membola.
Detak jantungnya mendadak jadi tidak aman. Keadaan sekitar rasanya tidak begitu jelas ia lihat. Atau mungkin karena rasa kaget yang teramat dia rasakan.
Malu. Alina sangat malu sampai tidak berani lagi untuk menentang Alendra. Cukup untuk saat ini mulutnya lebih baik diam dari pada dipermalukan oleh Alendra nantinya.
Meski tidak banyak bicara namun sekali berucap bisa tepat mengenai sasaran sampai ke ulu hati. Itulah Alendra lelaki tampan yang juga pintar dalam hal apapun termasuk adu mulut dengan Alina.
Ketika sarapan bersama. Alina masih lebih banyak diam, dia masih malu karena adanya Alendra di sebelahnya, terlebih tatapan Alendra itu yang terlihat seperti meremehkannya.
"Alin, itu nak Endra diambilin lagi lauknya," suruh mama Diana.
"Mau lagi?" tawar Alina yang diangguki oleh Alendra.
__ADS_1
"Bersikap biasa aja bisa nggak? Mama sama papa ngiranya kita berantem, bukan kamu yang malu karena aku," bisik Alendra membuat Alina mencengkram sendok di tangannya.
Dalam keadaan seperti ini Alendra masih saja terus memojokannya. Tahu, Alina sangat tahu jika dia tidak ada kekuatan karena kebod*han yang dilakukannya tadi malam. Tetapi jika Alendra terus begini rasa malu yang Alina kini rasakan bisa berubah menjadi amarah. Ingatkan Alendra, Alina yang sekarang tidak sama dengan yang dulu.
"Kenapa buru-buru sih pulangnya? Mama masih kangen," ujar Mama Diana menatap anak semata wayangnya yang akan kembali ke apartemen bersama suaminya.
"Besok kan Alin sekolah ma, kapan-kapan Alin ke sini lagi deh. Janji," balas Alina yang diangguki oleh Mama Diana.
"Ndre. Titip Alina ya?" ujar Pak Robi dan diangguki oleh Alendra.
"Kita pulang dulu ma, pa," pamitnya menggenggam tangan Alina menuju ke mobil.
Alina tersentak. Ia melirik Alendra dengan tajam, Alendra memang jago sekali pura-pura baik di depan kedua orang tua mereka.
"Kenapa?" Tanya Alendra setelah mereka berdua sudah berada di dalam mobil.
"Apanya?" tanya Alina balik dengan mode galak.
"Ck, udah nggak malu lagi kamu mulai nyolot gitu?" tanya Alendra melirik sekilas Alina.
Namun tidak ada jawaban dari gadis itu. Membahas hal yang membuatnya malu sangat ingin Alina hindari saat ini.
"Ale, gue mau hp baru," ujar Alina setelah saling diam selama kurang lebih 15 menitan.
"Denger nggak sih gue ngomong? ****t banget deh," dumel Alina seketika membuat Alendra menepikan mobilnya dan menghentikannya.
"Kenapa berhenti?" tanya Alina yang dibalas dengan tatapan tajam dari Alendra.
Alina terdiam. Ia tidak lagi bicara melihat tatapan tajam itu. Jangan sampai kata-kata yang akan Alendra ucapkan kembali membuatnya terpojokan.
"Berhenti panggil aku Ale. Alina," tekan Alendra dengan serius.
Alina terdiam, namun kini dia ingin sekali meledakan tawanya. Hanya karena masalah menyebutkan nama saja membuat Alendra harus bertindak demikian. Segala pakai berhenti di pinggir jalan lagi.
"Kenapa? Ale nama yang bagus kok," ujar Alina membuat Alendra menghela napas dalam.
__ADS_1
"Kamu pikir aku minuman murahan itu?" kesal Alendra seketika membuat Alina tidak tahan lagi untuk menahan tawa.
"Aku serius Alina," tekan Alendra masih mencoba untuk bersabar menghadapi gadis seperti Alina.
Kepalanya mengangguk. Iya mencoba untuk meredakan tawanya. "Oke, fine. Tapi dengan satu syarat," ujar Alina pada akhirnya.
Tentu saja itu hanya akal-akalan Alina saja. Tidak mungkin ia mengiyakan permintaan Alendra untuk tidak lagi memanggilnya dengan sebuatn 'Ale'. Itu nama yang paling pas menurut Alina untuk laki-laki seperti Alendra.
"Katakan," balas Alendra seketika membuat mata Alina berbinar.
Ini kesempatan untuknya membuat kartu hitam milik Alendra sekarat. Pokoknya Alina tidak akan menyia-nyiakan kesempatan langka ini.
"Gue mau beli hp sekarang, sama belanja juga," ujar Alina yang diangguki oleh Alendra setuju.
"Kamu bilang hanya satu persyaratan bukan?" tanya Alendra memastikan.
Alina mencebik. "Pelit banget sih lo, jadi nggak yakin kalau lo banyak duit," ujar Alina sengaja memanas-manasi Alendra.
Dan benar saja dikatakan seperti itu oleh Alina jelas membuat Alendra tidak terima. Kesultanan Alendra dipertanyakan? Oh...tidak bisa dibiarkan.
"Fine," ujar Alendra pada akhirnya.
Alina mengangguk dengan senyuman miring, rencana licik Alina akan segera dimulai. Dia akan menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin.
Keduanya sampai di parkiran mall. Tidak lupa kaca mata hitam setia bertenggreng di wajah rupawan itu. Alendra memang sengaja untuk memakainya. Selain ia tidak mau menjadi pusat perhatian dengan wajah rupawannya itu. Alasan lainnya ialah agar tidak mudah dikenali jika saja tanpa sengaja bertemu dengan seseorang yang dikenalinya.
"Mulai deh tebar pesonanya," decak Alina melirik Alendra yang terlihat sangat keren sekali.
Hanya saja tidak mungkin Alina mengatakan itu langsung dihadapan orangnya. Bisa semakin besar kepala nantinya Alendra.
Bukannya malah semakin aman karena wajah rupawannya tertutup, laki-laki dengan perawakan tinggi itu malah semakin terlihat menarik perhatian. Beberapa pengunjung mall bahkan sudah mulai melirik karena kedatangannya.
Alina terperangah. Ini untuk yang pertama kalinya ia tidak menjadi pusat perhatian ketika berada di tempat umum. Tubuh Alina yang sekarang memang banyak yang harus dirubah. Berada di sebelah Alendra membuatnya seakan terbanting.
"Cepat Alin, aku tidak suka berada di keramaian," ujar Alendra seketika membuat Alina tersenyum puas.
__ADS_1
Kesempatan yang sangat bagus untuk balas dendam dengan laki-laki tidak tahu diri itu.
"Oke, anterin gue beli hp dulu baru setelah itu pakaian dalam," ujar Alina membuat Alendra melepaskan kaca mata hitamnya dengan tatapan tidak percaya.