
Perlahan matanya mulai terbuka. Kepalanya masih sedikit pusing dan juga berat. Terlihat Alendra yang berada di depannya dengan senyum mengembang sempurna.
"Ale," lirih Alina berusaha untuk memperjelas penglihatannya.
"Sayang," balas Alendra sigap membantu Alina untuk duduk.
Dilihatnya sekeliling ruangan. Alina baru sadar jika masih berada di sekolah dan di ruangan UKS. Padahal tadi ia mengira jika baru saja terbangun dan berada di rumah. Keningnya sedikit berkerut saat melihat beberapa guru yang juga berada di sana.
"Ada apa ini?" tanya Alina menatap Alendra bingung.
"Tidak apa-apa sayang, sebaiknya sekarang kamu istirahat di rumah saja, ayo aku antar." Alendra bangkit dan berniat untuk menggendong Alina. Namun belum sempat mengangkat tubuh gadis itu Alina sudah mencegahnya dan menatapnya tajam.
"Pak Endra, apa-apaan anda? Ini di sekolah!" tolak Alina dengan sandiwaranya.
Mendengar ucapan Alina yang terkesan konyol membuat Alendra terdiam. Sejujurnya ia sangat ingin meledakan tawanya, namun tidak tega jika harus membuat Alina malu di depan rekan-rekan guru yang lain.
Sementara para guru yang masih berada di ruangan UKS menahan senyumnya. Apa yang Alina lakukan jelas terlalu berlebihan.
"Benar kata pak Endra, sebaiknya nak Alina pulang dan istirahat di rumah saja," ujar kepala sekolah membuat Alina menatap heran.
Alina tidak terkejut jika pak kepala sekolah yang mengatakan, karena beliau sendiri tahu pernikahan di antara mereka, namun mengatakan hal itu di depan guru lain jelas membuat Alina merasa sedikit keberatan.
"Enggak, saya nggak papa pak, tadi cuma kecapean aja makanya sampai pingsan," tolak Alina masih dengan sandiwaranya.
Melihat sikap kolot Alina membuat Alendra menggeleng. Gerakannya cepat mengangkat tubuh gadis itu dan membawanya pergi dari ruang UKS.
"Pembangkang," gumam Alendra mengangkat tubuh Alina.
Seketika Alina dibuat terkejut dengan tindakan Alendra kepadanya. Terlebih di depan guru lain yang belum mengetahui pernikahan mereka. Bisa bahaya untuk namanya sebagai siswi di sekolah.
"Ale, lepas!" tolak Alina dengan kesal. Sepontan saja ia sampai menyebut Alendra dengan sebutan seperti biasanya. Tanpa embel-embel pak seperti layaknya seorang murid pada guru.
__ADS_1
Mendengar panggilan Alina untuk guru tampan tersebut seketika membuat semua guru yang masih berada di ruangan tersebut tertawa tanpa sengaja. Nama unik yang Alina sebutkan mampu mengundang tawa mereka tanpa menyadari rahang Alendra mengeras karena kesal. Bukan dengan Alina yang sudah memanggilnya dengan sebutan 'ale' melainkan dengan rekan guru yang lain sudah berani menertawakannya. Alendra pikir mereka sudah siap kehilangan pekerjaannya.
Mendapat tatapan tajam dari Alendra membuat semua guru yang tadi tertawa seketika terdiam. Baru setelah Alendra benar-benar pergi dengan membawa Alina mereka bisa bernapas dengan lega.
"Lain kali pura-pura tidak tahu saja," gumam kepala sekolah diangguki oleh semuanya.
Sepanjang koridor sekolah. Semua mata tertuju akan Alina yang kini berada digendongan Alendra. Termasuk Gevan yang menatap hal tersebut tanpa berkedip. Ia menatap Alina yang kini berada di gendongan tubuh tegap guru tampannya. Hatinya memang sakit, namun Gevan tidak mau bertindak lebih. Sudut bibirnya tertarik ke atas mengingat betapa pecundangnya dirinya terus mengulur waktu untuk mengungkapkan perasaannya dengan Alina. Hingga kini yang tersuguhkan di depan mata Alina dengan laki-laki lain.
"Lo pantas dapetin pak Endra Lin, karena gue pecundang," lirihnya tersenyum miris.
Tidak jauh berbeda dengan Gevan yang kini sedang menyaksikan apa yang Alendra lakukan pada Alina. Aurel juga sama terkejutnya dengan Gevan juga murid lain. Bahkan Aurel sampai memegang dadanya merasakan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Jika dibilang Aurel kecewa, ia memang kecewa, tapi lebih banyak amarah yang kini ada pada dirinya.
"Berani-beraninya si cupu permainin gue," gumamnya dendam akan Widya.
Menurutnya hal ini Widya lah yang salah. Tidak memberitahu apa yang terjadi di antara Alina dan Alendra diawal. Aurel pastikan Widya akan membalas sakit hatinya sekarang.
"Ini gue nggak salah lihat kan?"
"Mamp*s gila, pak Endra sampai gendong Alina."
"Rel, lo harus akting kayak si Alin juga, biar dapat perhatian dari pak Endra."
"Setuju, lagian soal bodi lo menang jauh dari Alina, dia cuma menang cakep doang."
Mendengar usul teman-temannya seketika membuat Aurel merasa panas. Ia menatap tajam teman-temannya. "Bisa diem nggak? Berisik kalian!" ketusnya seketika membuat teman-temannya yang lain langsung diam.
"Ikut gue, cari si cupu," titahnya lagi melenggang pergi.
Menyiksa Widya saat ini salah satu keinginan terbesarnya. Menurutnya apa yang terjadi sekarang ini semua karena kesalahan atau kelalaian dari Widya. Dan Aurel jelas tidak akan bisa terima begitu saja.
Blup
__ADS_1
Alendra menutup pintu mobilnya. Ia menatap Alina dengan senyum mengembang sempurna. Namun Alina, ia malah merasa risih terus ditatap seperti itu oleh Alendra. Apa lagi tindakan Alendra tadi menurut Alina terlalu berlebihan.
"Makasih Jenni," ujar Alendra membuat Alina melirik sinis ke arahnya.
Cup
Tanpa aba-aba, Alendra mencuri cium di pipi Alina. Sontak saja hal itu membuat Alina bertambah kesal.
"Bisa nggak sih biasa aja? Lo udah keterlaluan banget tadi Ale," kesal Alina diangguki oleh Alendra.
"Gue udah coba jadi Alina fersi gue sendiri, nggak pernah cari masalah sama yang lain, tapi tetep aja mereka selalu cari masalah, gue mulai capek berada di tubuh in-"
"Sssstttt....nggak boleh gitu Jenni." Alendra memotong ucapan Alina yang terkesan akan menyesali apa yang sudah terjadi dengan takdirnya.
"Kamu tahu, dengan adanya kamu di tubuh ini. Aku jadi belajar banyak hal dari kamu," ungkap Alendra seketika membuat Alina terdiam menyimak.
"Aku jadi belajar mencintai dengan tulus, dan itu karena kamu Jenni," lanjut Alendra menjelaskan.
"Jadi, jangan pernah bilang kamu menyesal dengan takdir yang sudah Tuhan gariskan untuk kamu, ketahuilah, Tuhan memberi kehidupan yang unik, yang berbeda kepadamu karena kamu gadis pilihan, kamu bisa dipercaya untuk melalui itu semua," tanpa disadari mata Alina kini mulai menggenang mendengar kata-kata Alendra yang tidak pernah dia dengarkan apa lagi pikirkan sebelumnya, jika seorang Alendra akan mengeliarkan kata-kata bijak seperti itu.
"Terimakasih Jenni, terimakasih banyak sudah hadir dalam hidupku, dengan tubuh ini," ungkap Alendra lagi.
Kali ini Alina tidak bisa lagi menahan air matanya. Ia mengangguk seraya masuk ke dalam dekapan Alendra.
"Nggak tahu tiba-tiba gue cengeng gini," ujarnya membuat Alendra terkekeh dengan anggukan di kepalanya.
"Nggak papa Jen, itu bawaan anak kita mungkin," ujar Alendra seketika membuat Alina melepaskan pelukannya dengan tatapan mata yang begitu tajam menatap Alendra.
"Kenapa?" heran Alendra dengan ekspresi wajah terkejut Alina saat ini.
"Nggak lucu Ale."
__ADS_1