
Langkahnya cepat meninggalkan kelasnya. Tadi Mama Intan sudah mengirim pesan dan menyuruhnya untuk datang ke kantor terlebih dahulu. Alina menurut dan tidak keberatan jika ia pulang ke kantor keluarga Atmajaya terlebih dahulu setelah pulang sekolah.
Mobil yang akan mengantarnya sudah menunggu di depan gerbang. Terlihat juga mang Udin yang sudah duduk di kursi kemudi, bedanya penampilan mang Udin sekarang tidak bergaya seperti tadi pagi. Mengenakan topi beserta kaca mata hitam yang menurut Alina terlihat aneh.
Tangannya terangkat untuk membuka pintu. Baru setelah itu Alina dibuat terkejut dengan adanya Alendra yang ternyata sudah menunggu kedatangannya di dalam mobil.
"Lah... Ngapain ada lo juga Ale?" protes Alina melihat keberadaan Alendra.
"Masuk Alin," titah Alendra membuat Alina mencebik. Namun ia menuruti apa perintah Alendra itu.
Dengan sangat terpaksa dan hati yang kembali dongkol pastinya. Secara bersama dengan Alendra kalau tidak membuatnya harus waspada ya sudah pasti membuatnya kesal. Segala yang dilakukan oleh Alendra selalu berhasil menarik perhatian Alina yang sayangnya akan menambah emosi jiwa dan raganya.
"Sanaan sih. Mepet gue banget deh!" ujar Alina mendorong tubuh Alendra agar mentok pada pintu mobil di sebelahnya.
"Jalan mang," titah Alendra tanpa mempedulikan protesan Alina tadi.
Melihat Alendra yang seakan masa bodoh dengannya membuat Alina mencebik. Menurut Alina, Alendra itu sudah tidak tahu diri malah sok-sok'an cuek. Padahal Alina tahu betul niat terselubung Alendra untuk membuatnya selalu merasa kesal.
Selama di dalam perjalanan yang baru saja memakan waktu sekitar 5 menitan lebih. Alina mulai merasa bosan, Alendra sedari tadi sibuk dengan tab di tangannya. Entah apa yang sedang laki-laki itu lakukan namun menurut Alina cukup menguntungkan untuknya. Setidaknya Alendra tidak membuatnya kesal, meski ia harus dirundung rasa bosan karena menikmati perjalanan yang isinya hanya pemandangan kota dengan gedung-gedung tinggi yang menurutnya memang sangat membosankan sekali.
"Telpon sih Boy aja kali ya?" gumam Alina berniat menghubungi Boy.
Baru saja tangannya akan mengambil ponsel yang sedari tadi masih ia taruh di dalam tasnya. Tangan Alendra sudah berhasil mencegah, tatapan matanya tidak terlepas dari tab di pangkuannya, namun tangannya seakan bisa melihat gerakan Alina di sebelahnya.
"Apaan sih? Lepas Ale!" titah Alena mencoba melepaskan cekalan tangan Alendra.
"Jangan berisik. Aku butuh kosentrasi Alina," jelas Alendra yang tidak dihiraukan oleh Alina.
"Ya ngapain juga ngerjain tugas atau apa lah itu di perjalanan. Guru macam apa itu ngajarin muridnya nggak bener," cibir Alina melirik ke arah tab Alendra.
Kepalanya sedikit ia condongkan untuk mencari tahu. Mana tahu Alendra sedang bermain game dengan dalih harus berkosentrasi agar game yang dimainkannya tidak kalah gitu kan. Namun apa yang Alina lihat seketika membuat ia ternganga. Ada wajah kepala sekolah dan juga guru BK di dalam tab tersebut. Meski hanya terlihat kecil karena sebuah denah yang terlihat di tab Alendra.
__ADS_1
Mendadak otaknya sedikit ngeblang. Alina dibuat terkejut saat ia baru menyadari jika mungkin saja Alendra sedang melakukan rapat bertiga dengan guru tersebut lewat sebuah tab. Tetapi untuk apa?
"Ale gue nggak tahu-mpphhhh."
Bola matanya melotot. Alina dibuat setengah sadar dengan tindakan Alendra saat ini. Bibir seksi itu kembali membungkam bibir mungil Alina. Padahal jelas baru tadi malam ia juga bermain gila hampir di sekujur tubuh Alina bagian atas. Lalu bibir itu kini kembali melakukan hal yang sama, bedanya ada dua saksi yang melihatnya dan membuat Alina ingin pindah sekolah saja rasanya.
Bukannya buru-buru melepaskan, Alendra malah dengan sengaja sedikit mencecap bibir mungil Alina bagian bawah. Mang Udin yang berada di depan mereka saja tidak berani menoleh ke belakang meski ia tahu apa yang sedang anak bosnya lakukan itu. Sedikit panas dirasa mang Udin di sekitar mobil, namun dia tidak berani untuk protes.
Setelah dirasa cukup. Alendra baru melepaskan dengan jemari mengelus lembut dagu Alina.
"Maaf pak, kita lanjutkan nanti ada hal yang harus saya selesaikan," ujar Alendra sopan kepada kepala sekolah beserta guru BK. Ekor matanya sengaja melirik Alina untuk membuat keduanya paham apa yang dimaksudkan.
Keduanya mengangguk setuju. Lalu pamit dan mengakhiri rapat yang memang hanya dilakukan bertiga saja.
"Apa?" tanya Alendra setelah tab yang berada di tangannya sudah ia taruh di tempatnya.
Alina memicing. Ia menatap Alendra dengan tajam, detik berikutnya Alina sudah mengangkat tangannya untuk menampar Alendra. Namun gerakan Alina kalah cepat dengan Alendra, terbukti dari tangan Alina yang sekarang sudah kembali dicekal oleh Alendra.
Cup
Alina kembali dibuat terkejut dengan tindakan Alendra yang mengecup tangannya. Sangat lembut dan penuh gairah rasanya.
"Ale, lepas!" titah Alina yang disetujui oleh Alendra langsung.
"Jangan sebut cowok itu lagi. Aku tidak suka Alin," beritahu Alendra sebelum akhirnya melepaskan tangan Alina.
Jadi Alendra kesal karena Alina kembali menyebutkan nama Boy. Apa lagi tadi Alina sempat berniat untuk menelponnya. Alendra mendengarnya dan Itu membuatnya tidak suka.
Sampai di gedung tinggi yang menjulang ke langit atas sana. Alina kembali dibuat kesal karena Alendra menarik tangannya untuk ia genggam. Keduanya masuk dengan santai layaknya seorang yang memang berkedudukan tinggi di gedung tersebut. Banyak karyawan yang menyapa dengan sangat ramah dan sopan.
Alina menjawabnya dengan senyum manisnya. Sementara Alendra hanya mengangguk dengan wajah datar. Rasanya senyum Alendra sangat mahal sekali untuk para pegawai wanita yang menunggu senyumannya itu.
__ADS_1
"Kaku banget kek robot. Nggak ada manis-manisnya," sindir Alina melirik Alendra sekilas.
"Yang manis itu kamu Alin," balas Alendra seketika membuat Alina mendelik tajam.
"Hmm?" Alina menatap Alendra tidak percaya.
"Lupakan," balasnya membuat Alina mendesah kesal.
"Halo sayang," sapa Mama Intan melihat kedatangan mantu kesayangannya.
"Eh...ngapain kamu pegang-pegang tangan Alin, ingat ya mama masih hukum kamu Ndra," buru-buru beliau melepaskan genggaman tangan Alendra pada tangan Alina.
"Kita udah baikan ma. Alin udah mau aja tuh dicium di dalam mobil tadi," jelas Alendra duduk di sofa depan Pak Dirta.
Alina mendelik tajam. "Dasar cepu," gumam Alina mencoba menahan emosi.
Sementara Pak Dirta sudah menahan untuk tidak tertawa.
Berbeda dengan Mama Intan yang tahu akan situasi dan menenangkan Alina dengan cara memarahi Alendra.
"Diam kamu Ndra, ayo sayang duduk sama mama di sini," beliau menuntun Alina untuk ikut duduk bersamanya.
"Jadi gini Ndra. Mama sama papa rencana mau ke bandung minggu depan. Selama kepergian kita ke sana kita minta kalian untuk tinggal di rumah," jelas Pak Dirta membuat Alendra mengangguk.
"Alin gimana setuju kan?" tanya Mama Intan yang diangguki oleh Alina.
"Jangan lama-lama ma," pinta Alina dan diangguki oleh Mama Intan.
"Enggak sayang, kita cuma mau lihat tanah aja di sana sekalian jengukin omanya Endra, lain kali kamu juga ikut ya pas liburan," ujar Mama Intan dan diangguki oleh Alina dengan senyum.
Dibalik kejdian itu memang ada hikmah yang baru Alina lihat sekarang. Ia menemukan sosok orang tua yang sangat ia inginkan sedari dulu. Entah nanti jika suatu saat semua tahu siapa dirinya. Alina akan menjadi seorang Alina Ghaveza atau menjadi Jennifer Mauren dengan tubuh yang dimilikinya sekarang.
__ADS_1