
Merasa mulai was-was, Alina sengaja memelankan langkah kakinya. Ia ingin tahu siapa gerangan yang sudah mengikutinya di pagi hari ini. Jangan sampai orang yang berniat jahat kepadanya, seperti Aurel dan teman-temannya misalnya. Alina pastikan ia tidak segan-segan untuk memberi tendangan supernya seperti apa yang dilakukannya pada Alendra tadi malam.
Niat hati untuk membuat proyek besar bersama Alina tidak terealisasikan sesuai keinginan. Alendra malah berakhir tragis karena gadis bar-bar itu.
"Satu dua tiga," dengan cepat ia menoleh ke belakang, namun hasilnya nihil, tidak ada satu pun orang di sana. Hanya terdapat Ibu-ibu yang baru saja datang dan sepertinya akan membuka toko miliknya.
"Oh," gumam Alina melihat Ibu-ibu tersebut. Namun disaat ia kembali berbalik badan dan melangkah maju. Langkah dari si penguntit itu kembali dapat ia rasakan.
"Oke, let's play," lirihnya mulai melangkah dengan cepat, jika ada darurat atau terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan ia sudah bersiap untuk lari.
"Oh...s**t," umpatnya dengan pura-pura mengambil ponsel mahal hasil malak dari Alendra ketika itu.
Ia sengaja melemparnya seakan jatuh, ingin tahu saja siapa yang sudah berani dan lancang sekali mengikutinya secara diam-diam. Dia itu kini sudah bukan lagi model terkenal yang sedang naik daun, tetapi seorang istri dari pemuda kaya namun sangat pongah. Pokoknya semua yang ada pada diri Alendra itu menurut Alina tidak ada baiknya. Hanya satu yang membuat Alina masih bisa toleran wajah rupawan yang menurutnya memang tidak bisa disia-siakan.
Kena, orang yang sedari tadi mengikutinya dapat ia lihat meski tidak begitu jelas. Topi, masker dan jaket besar cukup mempersulit untuk Alina tahu siapa penguntit tersebut. Namun detik berikutnya Alina dibuat terkejut setengah mati saat melihat sepatu yang orang itu kenakan. Mendadak dadanya terasa sesak. Alina seperti ditampar oleh sesuatu namun tidak terasa sakit pada bagian tubuhnya.
"Boy," lirih Alina.
Segera ia bangkit mengambil ponselnya dan langsung berbalik badan, tubuhnya terasa beku tatkala Boy asistennya dulu sedang terkejut karena pergerakannya yang tiba-tiba.
Sepatu yang dikenakan Boy ialah sepatu yang diberikan oleh Jennifer ketika berada di London. Dia masih ingat betul saat-saat itu.
"Boy," ulang Alina menatap laki-laki dengan perawakan tidak kalah tinggi dari Alendra itu terdiam di tempatnya.
Wajah Boy juga tampan, namun sayang ia memiliki hati yang lebih lembut dari pada lelaki pada umumnya. Untuk orang awam yang tidak mengenalinya, Boy pasti akan dikiran laki-laki dengan segala pesona yang dimilikinya. Namun itu semua mustahil karena pada kenyataannya ialah Boy laki-laki lemah gemulai dengan penampilan layaknya laki-laki normal biasa.
Wajahnya terlihat gugup, Alina tahu kedatangan Boy pasti ada maskud tertentu atau ia tahu sesuatu yang mungkin kini sedang ia cari buktinya. Tidak mungkin Boy tiba-tiba datang dengan cara menguntitnya seperti seorang penjahat.
"A-alina Ghaveza, benar?" tanya Boy membuat Alina mengangguk pelan bersamaan dengan senyum tipis yang dapat dilihat dari wajahnya.
Ingin sekali ia mengangguk dan setelahnya memeluk laki-laki besar di depannya. Baru kemarin ia kepikiran Boy dan berniat untuk menghubunginya, lalu sekarang laki-laki itu tiba-tiba muncul dan membuat Alina tidak tahan rasanya untuk terus menahan sesak di dalam dadanya.
Sudah sekitar 1 bulan Alina melakoni perannya sebagai Alina Ghaveza, gadis cantik dan sederhana yang memiliki kehidupan sangat jauh berbeda dengan dirinya. Lalu kini datangnya Boy membuat Alina rindu saat-saat dulu ketika dirinya menjadi seorang Jennifer dengan segala kehidupan dan rutinitasnya.
"Boleh kita bicara sebentar?" tanya Boy lagi, sepertinya Boy agak canggung jika tiba-tiba sok akrab dengan gadis di depannya ini. Meski jiwanya begitu ia kenali namun melihat penampakan Alina saat ini jelas sangat asing untuknya.
__ADS_1
Dan di sinilah mereka sekarang. Di kafe tidak begitu jauh dari sekolah. Jangan salah Alina sudah bersiap untuk bolos demi untuk bisa mengobrol dengan Boy. Dia sangat rindu dengan laki-laki lemah gemulai yang biasanya selalu mengikutinya kemana-mana.
"Lo..masih suka nguntitin gue ya ternyata," ujar Alina dengan kekehan kecil.
Air matanya sudah tergenang sedari tadi. Rasa bahagia bertemu dengan Boy tidak bisa ia tutupi apa lagi kendalikan.
Terlihat anggukan kepala dari Boy. Ia menatap Alina seakan mencari tahu gadis di depannya ini.
"Sejujurnya saya-"
"Ngomongnya biasa aja Boy," sela Alina.
Terdengar helaan napas dari Boy. Tatapan matanya kini menatap gelas jus di depannya. Tidak kuat untuk menatap gadis di depannya lagi. Takut saja jika ia akan kecewa dengan kenyataan yang ada. Tetapi semoga apa yang Jenni katakan sebelum kematiannya ketika kini menjadi harapan besar untuk Boy.
Gadis cerianya kembali meski dengan keadaan yang berbeda.
"Jujur banget gue nggak percaya gue masih syok dan gue selama kurang lebih hampir satu bulan ini berperang dengan batin gue untuk nerima untuk percaya, untuk siap dengan semua ini, gu-gue nggak tahu lagi harus gimana selain nemuin lo," ujar Boy dengan air mata yang sudah bercucuran.
Rasanya gugup, namun tidak dipungkiri sejak pertama kali melihat tatapan mata Alina. Ia melihat seorang Jenni.
Boy tidak sanggup melanjutkan ceritanya setiap kali mengingat saat-saat dimana Jenni menghembusnkan napas terkahirnya. Rasanya begitu sesak meski ada segelintir harapan karena pesan dari Jenni ketika itu.
Alina menggeleng, ia beranjak untuk memelui Boy. Jadi apa yang ia perkirakan benar, Boy mengetahui sesuatu sebelum kematian Alina asli dalam tubuh Jenni dan itu salah satu yang membuat Boy kini berada di depannya sekarang ini.
"Jennifer Mauren, sicantik yang takut dengan gelap tapi penyuka hujan," lirih Alina membuat mata Boy membola.
Ia terdiam beberapa saat sebelum akhirnya membalas pelukan itu. Yakin Boy kini sangat yakin jika gadis kecil di depannya ini teman sekaligus bosnya yang sudah berpindah tubuh. Antara bahagia dan juga sedih melihat keadaan yang sekarang.
"Jenni, i miss you more Jenni," ujar Boy mencium puncuk kepala Alina.
Anggukan kecil dari Alina juga tangis bahagia menandakan jika ia juga merasakan hal yang sama seperti asistennya itu.
"Boy... Gue kangen sebelum tidur dibuatin teh hijau sama lo," ujar Alina membuat keduanya terkekeh.
Rasanya begitu lega ketika ada seseorang yang mengerti dan percaya dengan keadaan dirinya saat ini. Terlebih orang tersebut orang terdekat dan kepercayaannya.
__ADS_1
"Gue kayak mimpi Jenni," ujar Boy lagi masih tidak habis pikir.
"Gue diawal-awal lebih syok dari pada lo Boy, tiba-tiba dunia gue berubah lo bayangin aja coba, tapi jangan bahas Mom sama Dad dulu ya? Gue masih sakit hati banget," jelas Alina yang diangguki oleh Boy setuju.
Membahas kedua orang tua Jennifer malah menambah luka untuknya. Rasanya tidak ada orang tua yang lebih mementingkan bisnis dari pada anaknya.
"Btw Boy, jadi yang punya tubuh ini udah nggak ada apa gimana sih? Gue nggak pernah dimimpiin soalnya," tanya Alina yang diangguki oleh Boy.
"Nggak pernah kebayang dalam hidup gue bakal ada kejadian mustahil seperti ini Jen, dia tuh sempet sadar dari koma setelah itu minta kertas ke gue sama nyampein pesen suruh nemuin Alina Ghaveza coba, dia ngomong kalau dia bukan lo tapi si Alina itu, pas itu aduhh gue syok parah nggak tahu mau ngapain lagi mana wartawan banyak banget di depan rumah sakit," jelas Boy membuat Alina tersenyum tipis.
"Jadi...lo gimana sama kehidupan lo sekarang Jen?" tanya Boy membuat Alina mencebik.
"Kek orang lagi kemedan perang tahu nggak," balas Alina seketika membuat Boy mendelik.
"Apa dia anak dari preman atau apa gitu, tapi kalau diliat-liat manis juga kok Jen wajah lo yang sekarang tinggal dipoles gue dikit cetar nih pasti," ujar Boy memperhatikan wajah cantik Alina.
"Emang cantik, kalah bohay aja sama tubuh gue yang dulu," balas Alina membuat tawa Boy terdengar.
"Ck, udah ketawa aja tadi nangis-nangis," sindir Alina membuat Boy tersenyum.
"Nggak mau nangis lagi ah Jenni udah ketemu, udah bikin dunia gue penuh warna lagi, meski kayak kurang lengkap," jelas Boy membuat Alina mencebik.
"Lo tahu nggak kalau Diko itu selingkuh, mana ceweknya banyak banget lagi," beritahu Alina seketika membuat Boy terkejut. Namun detik berikutnya ia mengangguk setuju dengan apa yang Alina katakan.
"Gue tuh mau ngasih tahu lo waktu itu, eh pas ada berita tentang itu duh..jangan bikin gue ingat lagi napa Jen dada gue masih suka nyeri," jelas Boy membuat Alina terkekeh.
"Apakah... Nih gue udah di depan lo, nggak usah cengeng sih," ujar Alina yang diangguki oleh Boy.
"Pengen peluk lagi, boleh nggak sih?" tanya Boy mendapat anggukan kepala dari Alina.
"Bis ini jalan yuk Boy, tanggung nih gue udah bolos," pinta Alina yang diangguki oleh Boy setuju.
Tidak pernah terbayangkan sebelumnya jika Boy akan datang dan membuat Alina lebih semangat lagi. Sebenarnya ada rasa sedih ketika tahu pemilik tubuh itu atau Alina yang asli sudah pergi bersama dengan raganya. Namun Alina semakin percaya jika Tuhan pasti sudah menyiapkan keindahan untuk hidupnya dari kejadian yang dialaminya.
Alina semoga lo bahagia ya di atas sana. Batin Jenni tersenyum tipis dengan kepala mendongak ke langit cerah di atas sana.
__ADS_1