
Berbagai pertanyaan dari Widya hanya ia jawab dengan anggukan kepala. Sedari tadi gadis lugu itu terus memberi banyak pertanyaan mengenai bolosnya Alina kemarin. Namun tepat saat keduanya akan berbelok menuju ke lorong kelas. Aurel dan teman-temannya sengaja menghadang dan menghentikkan langkah keduanya.
Melihat Aurel reflek membuat Widya menunduk lesu. Jemarinya sudah ia mainkan karena rasa takut. Berbeda dengan Alina yang malah menatap malas Aurel. Wajah Aurel seketika membuatnya tidak mood.
"Minggir sih," ujar Alina ingin kembali meneruskan langkahnya.
"Emmm...oke silahkan," balas Aurel dengan entengnya.
Aurel beserta teman-temannya menepi sesuai perintah Alina tadi. Sampai membuat Alina heran sendiri dengan tindakan Aurel tadi yang tidak penting sama sekali.
"Apa sih gaje banget deh," gumam Alina melangkah maju. Tidak lupa tangannya menarik Widya untuk segera menjauh dari gerombolan Aurel. Ia cukup paham jika Widya sudah ketakutan sedari tadi.
"Berani dikit kek Wid," keluh Alina membuat Widya memejamkan matanya.
"Semakin lo takut, semakin mereka berbuat seenaknya sama lo," jelas Alina lagi.
Kali ini ucapan Alina berhasil membuat langkah Widya terhenti. Genggaman tangan Alina juga ia lepas.
Alina sempat terkejut dengan tanggapan dari Widya. Ia menoleh dan menatap Widya yang sedang menggigit bibir bagian bawahnya.
"Cerita kalau ada apa-apa," ujar Alina kembali menarik tangan Widya untuk segera masuk ke dalam kelas.
"Aku pernah hampir di perkosa Alin," ujar Widya pada akhirnya.
Deg
Langkah Alina terhenti bersamaan dengan genggaman tangannya yang mulai terlepas. Ia menoleh ke arah Widya yang sedang menatapnya dengan tatapan terluka. Keduanya saling tatap seakan mata keduanya saling berbicara.
"Ikut gue." Alina kembali menarik tangan Widya untuk ia bawa ke tempat sepi.
Dan disinilah mereka sekarang. Di kantin barat yang masih sangat sepi dan bahkan ibuk kantin masih sibuk membereskan barang dagangannya.
"Neng Alin sama neng Widya mau minum apa?" tanya ibu kantin menawarkan.
"Jeruk hangat 2 ya bu," balas Alina dan diangguki oleh ibu kantin.
"Gue nggak tahu kehidupan seperti apa yang lo jalani selama ini Widya. Sampai lo begitu tertutup sekalipun sama sahabat lo sendiri," ujar Alina membuat Widya semakin menunduk.
"Ma-af Alin," cicitnya.
Alina mengangguk. Dia juga tidak mungkin memaksa Widya untuk jadi seperti orang lain. Alina hanya ingin sedikit saja keberanian dari dalam diri Widya agar orang lain yang ingin bertindak jahat dengannya tidak berlebihan.
"Lo nggak salah Wid, tapi lo harus ngebuang sedikit saja rasa takut lo itu, dan kalau lo mau lo bisa ceritain ke gue apa yang buat hati lo nggak nyaman, setidaknya itu bisa bikin lo lega Wid," ujar Alina dan diangguki oleh Widya dengan napas yang cukup dalam.
"Kejadiannya sudah lama Alin, ketika aku baru masuk smp. Aku dulu bantuin ibu aku jualan di kantin kampus Lin setiap pulang sekolah, sampai pada sore hari itu....."
__ADS_1
"Itu yang bikin aku jadi penakut seperti sekarang Lin, apa lagi lihat lihat Aurel dan teman-temannya yang selalu gangguin kita."
Widya menjelaskan kejadian yang hampir saja merenggut kesuciannya. Beruntung ada salah satu mahasiswa yang menyelamatkannya. Namun orang tersebut tidak Widya ketahui keberadaanya sekarang, yang Widya tahu ia meneruskan kuliah di luar negeri selang beberapa hari setelah kejadiaan naas yang hampir menimpanya.
Setelah mendengar cerita dari Widya. Alina jadi sedikit merasa bersyukur dengan kehidupannya. Ia memeluk Widya dengan hangat.
"Jangan takut lagi ya? Ada gue, siapa tahu juga lo suatu saat nanti bisa ketemu sama pahlawan lo Wid," ujar Alina dan diangguki oleh Widya dengan senyum tipisnya.
"Pengen banget Lin, aku mau berterimakasih sama dia," jelasnya penuh dengan harapan.
"Semoga ya Wid, jadi gimana? Ibu kamu mau kan kerja di rumah Ale?" tanya Alina yang diangguki oleh Widya.
"Mau Lin, makasih banyak ya Lin, aku jadi tidak takut lagi ibu kerja di rumah Aurel," jelasnya kembali diangguki oleh Alina.
Usut punya usut, kemarin Alina sempat memberitahu tentang keadaan sahabatnya Widya dengan mama Intan. Beliau langsung setuju untuk memberi pekerjaan kepada ibu Widya. Terlebih Widya yang merupakan siswi mendapat beasiswa di sekolah jelas membuat mama Intan semakin yakin untuk memberi pekerjaan.
"Alin, jangan panggil pak Endra Ale, nggak sopan tahu," beritahu Widya membuat Alina gemas dan menarik hidung mancung gadis itu.
"Itu nama sepesial dari gue buat dia tahu," beritahu Alina seketika membuat Widya melotot.
"Mana ada panggilan sepesial seperti itu, harusnya kamu panggil sayang Lin," ujar Widya membuat Alina terkekeh.
"Pak Endra sayang gitu maksud lo?" tanya Alina dan diangguki oleh Widya dengan tawanya.
Niat ingin masuk ke kantin ia urungkan. Tidak ingin membuat gadis itu malu ketahuan sedang membicarakannya.
Baru saja keduanya menginjakkan kakinya di dalam kelas langsung disuguhkan dengan pemandangan yang tidak mengenakkan.
Bangku Alina dan juga Widya penuh dengan coretan besar dan juga sampah. Tanpa melihat siapa yang melakukannya pun mereka sudah tahu siapa pelakunya.
"Lo jadi ikutan kena Wid," lirih Alina membuat Widya tersenyum tipis.
"Enggak papa, kan ada Alina yang pemberani," balas Widya membuat Alina tersenyum semakin semangat.
Langkahnya lebar keluar dari kelas. Diikuti Widya yang mulai panik melihat langkah lebar Alina.
"Alin mau apa?" tanya Widya penasaran.
"Mau balas lah," jawabnya singkat.
Kepala Widya menggeleng. Meski ia sudah tidak takut lagi karena berada di sisi Alina, namun bukan berati Alina harus membalas perbuatan yang Aurel lakukan.
"Alin ja-ngan," ucapan Widya tercekat saat melihat Alina yang sudah berdiri tepat di ambang pintu kelas Aurel.
Di sana juga ada Gevan yang sedang duduk bersama dengan teman-temannya.
__ADS_1
"Alina." Gevan langsung beranjak melihat kedatangan Alina di kelasnya.
"Gue ada perlu sama Aurel," jelas Alina membuat Gevan menatap Alina dan Aurel secara bergantian.
"Permisi Gev," ujar Alina melangkah melewati Gevan yang tadi berdiri di depannya.
Langkah Alina menuju dimana bangku Aurel dan teman-temannya berada. Tepat di depan Aurel ia berhenti.
"Ada apa Alina?" tanya Aurel pura-pura tidak tahu.
"Idi ipi ilini?" ulang Alina dengan fersinya.
Satu alis Aurel terangkat. Ia melirik ke arah teman-temannya. Sudah tahu maksud dari kedatangan Alina.
Brak
"Gue selama ini udah sabar banget ya buat ngadepin lo dan nggak cepuin kelakuan lo ke guru atau pun anggota OSIS di sekolah ini, tapi lo nya semakin lama semakin ngelunjak," ujar Alina membuat Aurel menatap Alina bingung. Itu akal-akalan Aurel saja. Ia mulai berdrama seakan apa yang Alina kataka hanya sebuah tuduhan.
"Maskud lo apa Alin? Gue bener-bener nggak tahu," balas Aurel dengan aktingnya.
"Yakin nggak tahu lo?" tantang Alina seraya beranjak.
Detik berikutnya Alina sudah berhasil menarik rambur Aurel dengan cukup keras. Widya dan Gevan reflek mendekat untuk meleraikan pertengkaran yang terjadi. Begitu juga seisi kelas yang ikut menikmati pertunjukan gratis antar siswi cantik dan rival itu.
"Auw... Sakit Alin, lepas!" keluh Aurel meringis sakit.
"Nggak sebelum lo ngaku dan minta maaf sama gue dan Widya," tekan Alina semakin menarik rambut Aurel.
"Alin jangan," cicit Widya yang tidak dipedulikan oleh Alina.
"Lin lepas Lin, gue yang akan tangani Aurel," ujar Gevan membuat Alina melirik Gevan.
"Kasih dia hukuman seberatnya Gev, biar nggak lagi gangguin semua siswi yang dia nggap sebagai musuh, gue yakin korban di sekolah ini bukan cuma gue sama Widya aja. Mereka cuma takut karena diancam." Alina melirik Aurel sinis.
"Oke, oke gue bakal lanjutin kasus ini," ujar Gevan membuat Alina akhirnya mau melepaskan tarikan tangannya pasa rambut Widya.
"Sakit," cicit Aurel yang langsung dibantu oleh teman-temannya.
"Ayo Wid." Alina menarik tangan Widya untuk segera keluar dari kelas itu. Namun alangkah terkejutnya Alina melihat guru tampan dan guru BK yang sudah berdiri tepat di depan pintu.
Apa lagi tatapan Alendra sangat tajam menatap Alina. Sampai membuat Aurel yang berada di belakang Alina tersenyum tipis melihat aura marah dari Alendra karena Alina.
Sebelum berucap. Guru BK tersebut sempat melirik ke arah Alendra. Takut saja jika apa yang akan ia ucapkan salah. Beliau tahu setatus Alina dan Alendra sejak kejadian di mobil beberapa waktu lalu.
"Alina Ghaveza, keruangan saya sekarang," ujarnya.
__ADS_1