
Setelah cukup lama mondar-mandir untuk belanja, Alina bersama dengn Boy memutuskan mengisi perut mereka. Bersama dengan Boy jelas membuatnya mendapatkan banyak barang yang ia mau. Sesayang dan seloyal itu Boy kepada Alina. Ia tidak pernah menghitung berapa banyak pengeluaran ketika bersama dengan gadis itu.
"Jen, gue ada surat buat lo dari dia," ujar Boy membuat Alina mengernyitkan keningnya.
"Dari si Alina maksud lo?" tanya Alina dan diangguki oleh Boy.
"Tapi belum gue bawa. Ya...tadinya gue ngerasa kayak nggak mungkin aja ini beneran lo dan kejadian ini nyata gitu di dunia," jelas Boy masih tidak habis pikir.
"Btw kehidupan lo yang sekarang gimana Jen? Gue perhatiin sih kalian seumuran ya?" tanya Boy mendapat anggukan kepala dari Alina.
"Emang iya, kelas 11 juga samaan kek gue jadi gue nggak ling-lung banget lah buat ngejar mata pelajaran ya kali kelas 12 tamatlah otak gue," jelas Alina mendapat tawa dari Boy.
"Punya suami juga gue," ujar Alina seketika membuat Boy tersedak.
Uhuk
Uhuk
Uhuk
"Pelan-pelan Boy." Alina menepuk pundak Boy bersamaan dengan air minum yang ia dekatkan untuk Boy.
Setelah dirasa sudah baik-baik saja. Kini sorot mata Boy seakan siap mengintrogasi Alina.
"Su-suami Jen?" tanya Boy kembali diangguki Alina dengan mantab.
Terlihat gelengan kepala dari Boy. Ia menatap Alina dari bawah hingga ke atas. Lalu tangannya sengaja menutup mulutnya seakan sedang kembali dibuat syok dengan perubahan hidup Jennifer sekarang.
"Demi apa lo udah bersuami? Lo juga masih sekolah Jenni, kenapa gitu ini begitu memusingkan buat gue?" tanya Boy benar-benar tidak bisa lagi untuk berkomentar tentang apa yang terjadi dengan gadis di depannya ini.
Alina mengangguk. Sengaja wajahnya kini ia tundukan untuk membuat simpati lebih dari Boy.
"Alina asli dijodohin Boy," ujar Alina seketika mendapat gelengan kepala dari Boy.
Jika sudah menyangkut tentang perjodohan pikiran Boy sudah kemana-mana. Hal yang paling ia takutkan adala Jenni nya yang tidak bahagia dengan kehidupannya yang sekarang.
"Ah...gue nggak tahu lagi kalau udah ribet kayak gini," ujar Boy mencengkram rambutnta frustasi.
"Terus suami lo gimana Alin? Maksud gue apa dia baik? Dia masih muda dan ganteng atau kepala botak, perutnya buncit seperti pengusaha minyak atau juragan tanah gitu?" tanya Boy mulai khawatir.
__ADS_1
Sejujurnya Alina ingin sekali meledakan tawanya melihat keadaan Boy saat ini dengan segala kekhawatirannya juga kepeduliannya akan dirinya. Namun tidak apalah mengerjai Boy setelah pertemuan pertamanya ini.
"Dia seperti om Darma," balas Alina membuat Boy seketika terdiam menatap Alina.
Om Darma adalah salah produser yang cukup dekat dengan mereka. Kebetulan ciri-ciri yang dimiliki oleh Om Darma sudah Boy sebutkan semua tadi, hanya kurang satu kumis badainya yang begitu tebal dan cetar.
Glek
Boy menatap Alina dengan tangannya kini mencoba meraih untuk ia genggam, detik berikutnya air mata yang tadi sudah kering kembali bercucuran di wajah tampannya. Rasanya sakit mendengar pengakuan Alina tentang kehidupannya yang sekarang. Dan bod*hnya Boy percaya begitu saja sekarang, wajah Alina yang sekarang begitu meyakinkan Boy jika apa yang dia katakan itulah kenyataannya.
"Apa yang harus gue lakuin Jen buat lo? Katakan," ujar Boy sungguh-sungguh.
Alina menggeleng, air matanya juga ikut terjatuh demi mendalami samdiwara yang sedang diperankannya.
"Nggak ada Boy, gu-gue udah tersentuh," ujar Alina membuat hati Boy terasa berdenyut nyeri.
Jennifernya sudah ternodai oleh suami Alina, orang yang mirip dengan Om Darma yang sering mereka jadikan bahan candaan juga obrolan dulu.
"Kenapa lo nggak nolak? Lo nggak bilang kalau lo bukan istrinya Jennifer Mauren?" kesal Boy tidak bisa lagi untuk mengontrol dirinya.
Meski ia baru memarahi dan membentak Alina, namun setelahnya langsung ia peluk dengan kasih sayang. Ia terlalu kesal dan kecewa dengan kenyataan yang ada.
"Gue, gue percaya sama lo Jen, dan gue akan bantu lo apapun caranya," balas Boy memeluk erat Alina.
Tanpa mereka sadari. Sebuah tangan mengepal kuat dengan sorot mata tajam menatap keduanya dari arah pintu rumah makan yang kini sedang Alina dan Boy singgahi. Terdengar bunyi gertakan dari rahang kokoh yang ada pada wajah tampan tersebut.
Langkahnya cukup santai, namun tidak pada sorot mata tajam yang jika siapa saja melihat seakan ditusuk tepat pada sasaran.
"Ehem," deheman darinya membuat Boy menoleh.
Jika Alina. Mata gadis itu membola mendengar suara yang sangat familiar untuknya. Buru-buru ia semakin mempererat peluknya dengan Boy. Sengaja sekali gadis itu lakukan untuk membuat Alendra pergi.
Ngapain sih si Ale tiba-tiba ke sini? Ujar Alina dalam hatinya.
"Jen, ada cowok ganteng," beritahu Boy agar Alina melepaskan peluknya.
Bayangkan saja kini laki-laki tampan dengan tubuh tegap itu berdiri tepat di depan meja mereka. Sorot mata tajam yang membuat hati Boy sedikit menghangat merasa sangat keren sekali melihat tatapan mata dari laki-laki yang tidak diketahui namanya itu dan tiba-tiba muncul.
"Anda mau kemana pak?" tanya Boy dengan sopan. Tangannya sibuk melepaskan pelukan Alina yang semakin melilit tubuhnya saja.
__ADS_1
Dengan dagunya, Alendra menunjuk ke arah Alina yang seakan masih butuh pelukan dari Boy. Padahal jelas semua itu iya lakukan untuk menghindar dari Alendra.
"Di-dia," tunjuk Boy yang tidak mendapat respon dari Alendra.
Sekitar 5 detik sudah berlalu. Akhirnya Alendra kembali bersuara yang membuat Alina nantinya akan ketahuan membohingi Boy dengan kisah hidup tentang suaminya. Juga membuat Alina tidak bisa lagi menghindar dari Alendra.
"Lepasin dia," titah Alendra dengan tegas.
Terdengar helaan napas dari Alina. Boy pun dapat merasakan hembusan napas Alina yang terdengar pasrah itu.
Dengan sangat terpaksa Alina menuruti dan melepaskan pelukannya pada Boy yang masih bingung dengan keadaan yang sedang terjadi sekarang. Cowok itu melirik ke arah Alina dan Alendra secara bergantian.
"Pulang sekarang," titah Alendra tidak ingin dibantah.
Ia masih mencoba untuk bersabar meski hatinya sudah sangat panas dan ingin membuat pelajaran dengan Alina. Pelajaran yang sesungghnya dan membuat Alina tahu siapa dia dan seperti apa seharusnya ia bertindak.
"Nggak mau, gue masih mau di sini sama Boy. Ngapain sih lo tiba-tiba datang?" tolak Alina seketika membuat Alendra semakin murka.
Dan apa tadi Boy? Oh... Rupanya nama laki-laki di depannya itu adalah Boy. Laki-laki yang sudah siap mendapat tonjokan dari Alendra.
"Alina, jangan bikin aku bertindak kasar," tekan Alendra masih mencoba untuk bersabar.
Melihat Alina yang sedang pelukan dengan laki-laki lain jelas membuat emosinya naik. Tetapi ia masih mencoba untuk bersikap baik di depan umum.
"Apa? Lo mau apa Ale?" tantang Alina membuat kepalan di tangan Alendra semakin kuat.
Bugh
Satu pukulan cukup keras berhasil membuat Boy tersungkur. Alina membelalakan matanya. Ia menatap Alendra dengan nyalang.
"Ale! Lo itu emang breng**k, tidak tahu diri... Dia temen gue kenapa lo pukul breng**k?" kesal Alina memukul dada Alendra. Lalu setelah itu berniat untuk membantu Boy kembali berdiri.
"Itu mau kamu kan Alin? Jangan sampai aku berbuat kasar di ranjang," ujar Alina seketika membuat Boy ternganga.
"Je-jenni, dia siapa lo?" tanya Boy meminta penjelasan.
"Suami gue Boy," cicit Alina seketika membuat tubuh Boy merosot ke bawah.
Antara terkejut dan juga tidak menyangka dengan penampakan orang yang ada dibayangannya seperti Om Darma kini berubah menjadi laki-laki tampan seperti dewa dan nyaris sempurna itu.
__ADS_1