Fire On Fire

Fire On Fire
What Happened?


__ADS_3

Langkah besarnya berjalan cepat menghampiri Alina yang kini sedang bersama dengan Audy. Alendra tahu betul seperti apa Audy itu. Meski ia baik, namun Audy tidak jauh berbeda dengan Vinsan dan Ben yang suka ke kelab malam dan berakhir dengan mabuk karena alkohol.


"Ah... S**l," umpat Alendra tidak menemukan adanya Alina dan Audy.


Ia kembali menghampiri Ben dan Vinsa. Juga Pinka yang masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Alendra tadi.


"Sayang, kamu hanya becanda kan sayang? A-aku bisa memberi apa yang kamu mau sayang, apa pun yang kamu inginkan." Pinka masih mencoba untuk memperbaiki hubungannya dengan Alendra.


Diputuskan oleh sepihak tanpa suatu alasan yang jelas Pinka tidak akan bisa terima. Apa lagi jika penyebabnya ialah gadis SMA yang menurutnya tidak ada apa-apa dibanding dengan dirinya.


"Minggir Pinka, sekarang kamu bukan kekasihku lagi," tekan Alendra menatap tajam Pinka.


Terdiam, Pinka menatap Alendra lekat, kepalanya menggeleng bersamaan dengan sudut bibirnya sedikit tertarik ke atas.


"Enggak, aku nggak akan terima diperlakukan seperti ini sama kamu Endra, kita tetap pacaran dan nggak akan putus sampai kapan pun," tolak Pinka membuat Alendra menghela napas dalam.


"Aku sudah menikah Pinka, dan Alina adalah istriku," jelas Alendra seketika membuat Pinka ternganga.


Senyumnya terbit begitu saja, namun sorot matanya tidak bisa berbohong jika Pinka tidak percaya dengan apa yang Alendra katakan.


"Gadis kecil itu?" Pinka menunjuk ke arah lain.


"Bukannya kamu bilang dia itu sepupu kamu Ndra? Hah....? Kenapa begini?" jerit Pinka membuat beberapa tamu yang berada di sana menatap ke arah mereka.


Kebetulan tempat mereka ini jauh dengan para orang tua. Jadi hanya beberapa saja yang bisa mendengar pertengkaran yang sedang terjadi.


"Pink sudah, sebaiknya kamu pulang dulu, Endra biar kita yang urus," usir Vinsan secara halus.


"Apa? Lo juga tahu hal ini kan? Kenapa nggak bilang hah? Ba**ngan semua kalian," ujar Pinka berlalu pergi.


Sebelum benar-benar pergi. Ia menatap Alendra dengan tatapan dendam. Pinka tidak akan terima dengan apa yang terjadi dengan dirinya malam ini, apa lagi sampai diputuskan oleh Alendra.


"Tidak, gue nggak akan pernah terima Endra, kamu liat aja," ujarnya masuk ke dalam mobilnya.


Sementara Alina kini sedang duduk bersama dengan Audy dan beberapa teman yang lain. Teman baru yang tadi sempat Audy bilang akan memperkenalkan dengan Alina.


"Lagi nggak Lin?" tanya Audy yang mendapat gelengan kepala dari Alina.


"Enggak deh kak, takut mabuk bisa bahaya," balas Alina diangguki oleh Audy.


Meski minuman di depan mereka ini termasuk minuman dengan kadar alkohol sedikit, namun ia tidak berani memaksa salah langkah malah membahayakan dirinya. Alendra pasti akan berbuat sesuatu jika sampai terjadi dengan Alina atas dasar paksaan.

__ADS_1


"Oke deh kalau gitu, kamu mau ikut joget nggak?" tanya Audy yang diangguki oleh Alina.


Jika sekadar berjoget itu tidak akan menjadi masalah, sejatinya Jennifer kan memang suka dugem dulu meski jarang mengkonsumsi minuman beralkohol.


Keduanya maju ke atas untuk ikut brjoget menikmati alunan musik yang dimainkan. Audy cukup terpana melihat cara Alina meliuk-liukkan tubuhnya.


"Wow... Kamu sangat nakal Alin," ujar Audy hanya dibalas Alina dengan senyum.


"Kaka mau tahu sesuatu nggak?" tanya Alina diangguki langsung oleh Audy.


"Terakhir gue joget langsung dikarungin sama si Ale," ujar Alina seketika membuat tawa Audy terdengar.


"Kamu serius?" tanya Audy.


"Hehemm... Dia paling nggak suka liat gue joget gini," ujar Alina seketika membuat Audy tersenyum tipis.


Ekor matanya melirik ke arah teman-temannya, seakan menyuruh mereka untuk bergabung berjoget bersama.


"Alin saya ke toilet sebentar ya?" pamit Audy diangguki oleh Alina.


"Enjoy sayang," lanjutnya lagi sebelum kepergiannya.


Setelah kepergian Audy. Alina masih tetap meliuk-liukkan tubuhnya sesuai irama musik yang dimainkan. Gadis yang masih remaja itu terlihat nakal dengan gerakan tubuhnya saat ini.


Tanpa ia ketahui, Audy yang tadi pamit ke toilet dengan sengaja mengambil video Alina lewat kamera ponselnya. Senyum licik terlihat jelas dibibirnya.


"Kena kamu Endra," ujarnya tersenyum puas.


Ting


Ponsel dari Vinsan yang pertama kalinya bergetar dan menerina vidio yang sengaja Audy ambil tadi. Seketika akting dari mereka mulai dilakukan.


"S**t, bebe kenapa begini," umpat Vinsan membuat Ben yang sedang menyetir mobil menoleh.


Ketiganya kino sudah keluar dari kediaman Vinsan untuk menghampiri Alina dan juga Audy yang sudah lebih dulu pergi. Niatnya tadi Audy memang hanya ingin mengajak Alina pergi disekitar pesta saja. Namun demi kelancaran rencana yang sudah disusun oleh mereka. Ia mengajak Alina untuk pergi ke kelab malam Ben, bersama dengan teman-teman kuliahnya.


Audy termasuk wanita yang mandiri. Meski masih bersetatus sebagai mahasiswi tingkat akhir, ia juga sudah bekerja di kantor orang tuanya. Selain cantik dan cerdas, ia juga sangat pekerja keras. Itu salah satu yang membuat Vinsan jatuh hati dengannya, hanya saja cap playboy dari seorang Vinsan membuat hubungan mereka tetap pada sebatas teman tapi nyaman. Friendzone.


"Kenapa Vi?" tanya Ben pura-pura khawatir.


"Kalian lihat saja, saya pikir Audy juga sudah mengirimkannya untuk kalian," ujar Vinsan membuat Alendra yang tadi bersikap masa bodoh ikut penasaran.

__ADS_1


"Ada apa dengan Audy?" tanya Alendra membuat Vinsan terkekeh.


"Bukan Audy Ndra, tapi istri kecil lo," ujarnya seketika membuat Alendra semakin panas rasanya.


Belum melihat vidio yang Audy kirimkan saja sudah membuat Alendra meradang, bagaimana jika ia melihat keadaan Alina sekarang ini.


"S*l, Audy kenapa sih? Harusnya lo kasih tahu jangan biarin Alina minum!" umpat Alendra meremat ponselnya setelah menyaksikan vidio yang hanya berdurasi 15 detik saja.


Meski begitu ia sudah tidak bisa menahan amarahnya.


"Jangan salahin Audy Ndra, dia hanya mengajak Alin pergi ke bar, lo tahu sendir kan si Alin sekarang liar gitu, kejadian ini tidak terjadi sekarang saja tetapi beberapa waktu lalu juga sudah pernah-"


"Diam lo Vinsan! Aaaaaaa.....!" Alendra menendang apa saja yang berada di depannya.


Seakan tidak puas hanya melakukan itu. Ia berlanjut mengambil ponsel milik Ben yang tergeletak di sebelahnya lalu melemparnya sembarang.


"Anj*r, hp gue bang**t." Vinsan harus berkorban ponsel karena amukan Alendra.


Jika saja bukan sahabat sudah pasti ia akan menurunkan Alendra detik itu juga di tengah jalan, dan tidak akan lagi menuruti permainan gila yang harus mengorbankan barang kesayangannya.


"Gadis-gadis seksiku hilang kalau begini," gumamnya ditujukan untuk ponselnya yang entah sudah seperti apa bentuknya dan dimana letaknya.


"Tenang Ndra, kalau ada yang berani macam-macam dengan Alina, kita sendiri yang akan kasih pelajaran," ujar Vinsan sengaja untuk membuat Alendra semakin panas dan panik.


"Diam lo se**n, nggak akan ada yang berani sentuh apa lagi sampai macam-macam dengan Alina."


"Kalau Alin sampai kenapa-napa, Audy harus mat*," lanjut Alendra seketika membuat Vinsan dan Ben menelan ludahnya susah. Namun ada rasa ingin meledakkan tawa juga mengingat bagaimana marahnya Alendra saat ini.


"Lo bucin pak Endra," cibir Ben yang sudah bisa lagi terkekeh. Ponselnya sudah ia lupakan. Ia masih mempunyai banyak ponsel mahal dan juga koleksi gadis-gadis seksi di sana.


"Bener, kayaknya Endra udah sayang sama Alina, tapi gengsinya gede," tambah Vinsan yang tidak dipedulikkan oleh Alendra.


Ia buru-buru turun setelah mobil Ben berhenti di depan kelab malamnya.


Langkahnya lebar bersamaan dengan napasnya yang tidak beraturan. Amarahnya semakin memuncak saat Alina tidak berada di sana. Padahal tadi jelas Alina sedang berjoget dan.


"S**l," umpat Alendra membuka pintu VVIP di kelab malam tersebut.


Deg


Rahang kokoh diwajahnya seketika mengeras melihat keadaan Alina saat ini.

__ADS_1


__ADS_2