
Air mata yang tak biasanya keluar kini turun tanpa permisi. Bibirnya bahkan masih saling bersautan dengan bibir Alendra, seakan tidak peduli dengan apa yang Alina ungkapkan tadi. Alendra masih meneruskan permainanya tadi. Bahkan gaun Alina yang tadi setengah terlepas dari tubuhnya kini sudah terkoyak tak berbentuk lagi.
Tubuh keduanya basah di dalam batup besar bersama. Juga bagian atas tubuh Alina yang masih menjadi sasaran empuk dari bibir nakal Alendra.
Alina lemah dalam hal ini. Ia bingung dengan keadaan dan juga perasaannya. Semesta seakan sedang mempermainkannya, tertawa di atas perasaan yang menurutnya begitu rumit untuk ia pahami. Perasaannya untuk Alendra, laki-laki yang mempunyai setatus sebagai suaminya karena tubuh yang ia punya sekarang, namun orang lain dalam jiwa Alina.
Melihat reaksi Alina yang persis seperti patung hidup membuat Alendra menghentikkan permainannya. Ia menatap tajam Alina dan langsung melepaskan dasi sebagai pengikat tangan gadis itu.
"Mandi, aku tunggu di luar," ujar Alendra beranjak dan berlalu pergi.
Kepergian Alendra membuat Alina tergugu. Ia bagai angin yang tak tahu arah dan tujuan. Namun Alina yang sekarang bukan gadis lemah yang terus meratapi atau bersedih dengan keadaannya sekarang, meski sesulit atau serumit apapun itu masalahnya. Ia tidak mau terus berlarut dalam lingkaran arus permainan yang menyulitkan untuknya, tangan yang sudah dilepaskan oleh Alendra menyeka air mata yang sudah membasahi pipi cantik di wajahnya, tubuhnya beranjak dan langsung keluar dari batup untuk membersihkan diri.
Pukul setengah 12 malam, Alina keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang sudah tidak sekacau tadi. Namun ia tidak menemukan keberadaan Alendra di kamar. Padahal masih teringat jelas jika Alendra tadi mengatakan akan menunggunya di luar. Namun kini batang hidung laki-laki itu tak terlihat sama sekali.
"Huh... Capek banget hari ini," lirihnya memutuskan untuk tidur.
Tanpa Alina ketahui. Alendra kini sudah berada di apartemen Boy. Ia tadi memang berniat untuk meminta penjelasan langsung dari Alina, namun sepertinya Boy, laki-laki yang tiba-tiba datang ke kehidupan Alina tahu akan sesuatu. Sebelumnya ia tidak pernah tahu jik Alina memiliki sahabat laki-laki seperti Boy, dulu, Alina sangatlah tertutup, sampai siapa saja orang didekat Alina saja tidaklah Alendra ketahui. Atau mungkin memang karena Alina yang dulu tidak semenarik Alina yang sekarang sampai membuat Alendra sendiri enggan untuk mencari tahu lebih tentang istri kecilnya.
"Ma-mas ganteng, ma-maksud gue pak Endra, kenapa? Ada apa malam-malam ke sini? Apa Alina berbuat sesuatu?" tanya Boy tampak sedikit panik.
Bayangkan saja. Disaat dirinya tadi berniat untuk istirahat, Alendra tiba-tiba datang dengan wajah sangar dan sorot mata yang sangat tajam.
"Sedekat apa kamu dengan dia?" tanya Alendra berbalik.
__ADS_1
Kening Boy mengernyit. Ia sendiri bingung kenapa Alendra tiba-tiba menanyakan hal semacam itu.
"Jawab!" tekan Alendra menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
Terdengar helaan napas dari Boy, laki-laki itu pergi menuju ke kamarnya untuk mengambil sesuatu.
"Anda bisa lihat di sini, seberapa dekat saya dengan istri anda pak Endra," ujar Boy menyerahkan album foto berukuran sedang dan cukup tebal.
"Aku tidak butuh itu, kamu hanya perlu jelaskan bagaimana hubunganmu dengan istriku," ujar Alendra tanpa minat melihat apa lagi membuka album foto tersebut.
Boy mengangguk pelan. Ia terkekeh kecil dengan keangkuhan yang dimiliki Alendra.
"Pantas saja kalau istri anda selalu mengeluh, ternyata selain tidak tahu diri anda juga sangat angkuh," ujar Boy seketika membuat Alendra melirik ke arah Boy. Hanya sekilas karena setelah itu ia kembali menatap datar ke depan.
"Ada bukti yang lebih akurat lagi, istri anda memiliki sepucuk surat dari jiwa Alina yang pergi bersama dengan tubuh Jennifer. Jika anda berkenan, anda bisa tanyakan langsung dengan istri anda," lanjut Boy menjelaskan.
Menurutnya ini sudah waktunya Alina mengungkapkam jati dirinya, tidak harus kepada banyak orang, Alendralah orang yang pertama harus tahu siapa dirinya. Karena hubungan yang dimiliki keduanya begitu sakral. Jangan sampai keduanya bertindak gegabah sebelum tahu kebenarannya.
Sorot mata Alendra fokus dengan jalanan di depanya. Namun tidak pada pikirannya yang berkelana jauh ke sana. Memikirkan perkataan Boy yang hampir sama dengan apa yang Alina katakan.
Maka, jika Alina yang sekarang ialah bukan Alina sigadis lugu yang dulu begitu anti bagi Alendra. Haruskan Alendra meneruskan pernikahan yang sudah terjadi dan terjalin dengan tubuh gadia itu, karena jika jiwa yang berada di dalamnya bukanlah pemilik asli dari tubuh itu, selama ini bisa dikatakan Alendra menyukai perubahan sikap atau sifat dari jiwa yang berada di tubuh Alina. Bukan murni menyukai Alina sendiri.
"Akhhh...." umpatnya memukul pelan setir kemudinya.
__ADS_1
Mobil yang ia tumpangi berjalan begitu kencang, sampai ia kembali ke rumah besar miliknya. Alendra terdiam di dalam mobil. Memikirkan apa yang akan terjadi jika yang dikatakan oleh Boy itu benar adanya. Tapi kejadian semacam itu sangat sulit untuk Alendra percaya. Ia kira bertukar tubuh itu hanya terjadi pada sebuah film saja.
Dengan kepala menggeleng, Alendra keluar dari mobilnya. Langkahnya pasti menuju dimana letak kamarnya berada. Dan di sana sudah ada Alina yang sedang terlelap tidur di ranjang besar miliknya.
Ceklek
Alendra masuk ke dalam kamar besar miliknya. Langkahnya pelan menuju dimana gadis itu kini sudah berbaring dengan mata terpejam dan napas beraturan.
Ia berdiri tepat di depan Alina, mengamati wajah cantik Alina yang terlihat alami.
"Kamu tahu Alin, siapapun dirimu sekarang, aku tetap akan-" ujar Alendra terhenti saat tubuh Alina tiba-tiba berubah posisi menjadi terlentang.
Dan s**lnya, Alina masih saja tledor ketika sudah tertidur. Selimut di sebelahnya masih tertata dengan sangat rapih, itu berati Alina sendiri sedari tadi belum mengenakan selimut.
Alendra berdecak sebal. Tangannya terulur untuk mengambil selimut yang ia gunakan untuk menutupi tubuh Alina.
Setelahnya. Ia berniat untuk berlalu pergi. Namun pada saat tubuhnya akan kembali berbalik suara Alina berhasil menghentikan langkahnya.
"Masih nggak percaya kalau gue Jenni model terkenal? Gue masih ingat banget dimana letak barang-barang gue di kamar yang dulu," gumam Alina terdengar lucu untuk Alendra.
Entah kenapa, untuk mengakui secara langsung di depan Alina sangat sulit untuk Alendra lakukan bagaimana sebenarnya perasaan terhadap Alina. Tetapi semakin ia menyangkal justru perasaan itu semakin terasa.
"Aku percaya, kalau kamu lebih kasih bukti nyata di depan mata," ujar Alendra menatap nanar Alina.
__ADS_1