
Tepat ketika Alina ingin berontak dan mendorong tubuh tegap Alendra. Pintu ruangan Alendra diketuk dari arah luar. Tanpa melihat pun sudah membuat keduanya yakin jika itu Gevan yang datang.
Tok
Tok
Tok
Sorot mata Alendra menatap menang atas Alina. Kini ia berada di atas Alina dengan permainan mereka.
"Nurut kalau nggak mau Gevan sampai tahu," bisik Alendra dengan licik.
Sengaja sekali memang ia menggunakan kesempatan itu untuk memperdaya Alina.
"Tetap duduk di sini dengan tenang, aku akan memberimu sesuatu yang membuat Gevan tidak curiga," lanjut Alendra menjelaskan.
Tangannya melepas peluknya dari tubuh ramping Alina. Lalu ia mengambil beberapa buku dan kertas yang berada di laci mejanya.
Alina menatap Alendra diam. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Ide dari Alendra cukup meyakinkan, namun meski begitu Alina tetap merasa kesal dan ingin marah.
Nanti akan dia lakukan setelah tidak adanya Gevan.
"Masuk," titah Alendra setelah dirasa cukup tenang keadaan dirinya dan Alina.
Ceklek
Benar saja, Gevan datang bersama dengan salah satu anggota OSIS lainnya. Jika tidak salah teman Gevan itu bernama Nando, ia wakil ketua OSIS di sekolah.
Cukup terkejut Gevan ketika melihat keberadaan Alina di ruangan Alendra. Namun setelah melihat beberapa buku dan juga kertas di depannya seketika membuat Gevan paham. Jika gadis itu mungkin saja sedang mendapat hukuman atau soal tambahan dari Alendra. Entah kesalahan apa yang membuat Alina berada di ruangan guru tampan tersebut. Gevan tidaklah tahu.
"Duduk," titah Alendra.
Ekor mata Alina melirik tipis ke arah Gevan dan Nando yang sedang duduk di belakangnya. Namun ia tetap pura-pura fokus dengan soal-soal di depannya.
"Bagaimana?" tanya Alendra tidak ingin basa-basi.
"Ini pak Endra. Semua sudah lengkap di sini, dan nanti kita semua para anggota OSIS akan kembali berdiskusi mengenai pentas seni yang akan diadakan untuk semester ini," jelas Gevan menyerahkan proposal yang sudah dibuatnya bersama dengan para anggota OSIS lainnya.
Kepalanya mengangguk. Alendra menerima proposal yang sudah anggota OSIS buat untuk pentas seni yang akan diadakan bulan depan.
"Baik, nanti saya cek lagi, kalian bisa kembali ke kelas," ujar Alendra yang diangguki oleh Gevan dan juga Nando.
__ADS_1
Sebelum kepergiannya dari ruangan Alendra. Gevan sempat melirik ke arah Alina yang terlihat sangat fokus. Sesekali tangan gadis itu memukul pelan pelipisnya. Gevan tahu mungkin saja Alina sedang merasa kesusahan dengan soal-soal yang sedang dikerjakan. Tanpa disadari melihat tindakan kecil Alina yang terlihat sangat lucu di matanya membuat senyum Gevan terbit. Ia tersenyum seraya menggeleng.
"Kita permisi pak," pamitnya masih dengan menatap ke arah Alina.
"Hmmm... Pintunya di situ Gevan," beritahu Alendra merasa terganggu karena tatapan mata Gevan untuk Alina.
Baru setelah kepergian Gevan dan Nando. Alina menghirup napas dalam-dalam. Emosinya sudah sangat ingin ledakkan.
Brak
"Lo sengaja banget ya bikin gue takut tadi," ujar Alina.
Kening Alendra berkerut. Ia kembali melangkah dan mendekati Alina yang sudah berdiri dengan darah mendidih di ubun-ubunnya.
"Kapan aku buat kamu takut Alin? Apa tadi aku sudah mengajak kamu nonton film horor di bioskop atau-"
"Halah nggak usah banyak ngomong, lo tadi sengaja kan biar gue nurutin apa mau lo," sela Alina dengan nada sinis.
Alendra kembali mencengkram lengan Alina. Namun kini sorot mata itu terlihat sedang menahan rasa amarah. Bahkan cekalan itu terasa sangat kencang.
"Iya, karena kamu selalu membantah," tekan Alendra dengan sorot mata tajamnya.
Sepanjang perjalanan tidak ada yang saling bericara. Hanya mang Udin yang sesekali bertanya tetapi hanya dijawab Alendra sekenanya. Sementara Alina memilih untuk mencari berita tentang orang tua aslinya. Boy memberitahu jika mommy Sheren akan kembali pergi ke luar besok pagi.
"Mang, pulang duluan aja ya nggak usah tungguin," ujar Alina keluar dari mobil.
"Tapi non-"
"Alina sama saya," sela Alendra seketika membuat mang Udin mengangguk patuh.
Jika Alendra yang sudah berbicara maka tidak ada satu orang pun yang bekerja dengan keluarganya berani membantah.
"Baik den," balas mang Udin patuh.
Tanpa menganggap adanya Alendra bersama dengan dirinya. Alina berjalan menuju ke ruang inap ayah Widya. Seperti kejadian kemarin malam banyak para perawat juga anggota keluarga yang sedang menemani pasien menatap Alendra penuh minat. Kedatangan Alendra dengan penampilan dan wajah lelahnya saat ini malah menambah kesan seksi pada diri laki-laki itu. Kemeja panjang yang ia lipat sampai siku juga rambut yang dibiarkan apa adanya malah menambah kesan cool pada laki-laki itu.
"Widya." Alina menghampiri Widya yang sedang duduk di depan ruang inap ayahnya.
Melihat kedatangan Alina buru-buru membuat Widya menyeka air matanya. Ia paksakan untuk tersenyum tipis.
"Alina, kamu kenapa langsung ke sini?" tanya Widya melihat Alina yang masih mengenakan seragam sekolah.
__ADS_1
"Pengen tahu keadaan ayah lo Wid, dari tadi gue chat nggak lo balas," jelas Alina seketika membuat senyum Widya terlihat namun sangat tipis.
"Maaf Alin, aku dari tadi sibuk jagain ayah," balas Widya dan diangguki oleh Alina.
Diliriknya Alendra yang juga berada di sana. Meski laki-laki itu diam tak bersuara. Namun penampakannya jelas sangat menyilaukan mata. Seakan ada maghnet untuk melihatnya.
Ceklek
Pintu ruangan ayah Widya terbuka. Ibu Widya keluar dengan tatapan lesu, namun detik itu juga beliau langsung tersenyum senang melihat kedatangan Alendra.
"Ibu, bagaimana keadaan pak Rasyid bu?" tanya Alina seketika membuat tatapan ibu Widya teralihkan ke arah Alina.
Beliau mengangguk dengan sedikit senyum. "Sudah lebih baik," balasnya singkat.
Sekitar 3 jam lebih Alina mengunjungi ayah Widya, begitu juga dengan Alendra yang ikut serta di sana. Namun tujuan utamanya bukan untuk mengunjungi ayah Widya, Alendra hanya ingin mengawasi Alina secara terang-terangan.
Taksi yang sudah dipesan oleh Alendra datang. Ia memang sengaja tidak meminta untuk dijemput oleh mang Udin atau sopir lainnya.
"Lain kali nggak usah ikut sih, nggak ada kepentingan juga kan di sana," komentar Alina melirik Alendra sekilas.
"Ck, sok nggak denger," gumam Alina merasa diabaikan oleh Alendra.
"Pak ke kelab xxxx ya?" pinta Alendra pada sopir taksi tersebut.
Mendengar Alendra menyebutkan kelab malam yang sering ia kunjungi dulu bersama dengan Boy membuat Alina mendelik tajam. Alina tidak salah dengan kan tadi?
"Ngapain? Gue mau langsung pulang Ale," protes Alina.
Ia sudah ingin sampai di rumah dan ingin segera menyegarkan tubuhnya. Namun protes dengan Alendra saat ini seperti tidak ada gunanya saja. Alendra seakan enggan untuk menjawab. Laki-laki itu malah sibuk mengirim pesan kepada sahabatnya.
Taksi berhenti sesuai permintaan Alendra tadi. Alina mendesah kesal. Namun ia lebih memilih untuk menunggu Alendra di dalam taksi. Percuma saja ia ikut masuk, Boy sedang ada di apartemennya. Jika ada Boy di dalam mungkin Alina akan ikut serta masuk ke dalam.
"Tunggu di sini," titah Alendra keluar dari taksi.
"Neng, pinter ya cari sugar daddy nya?" ujar sopir taksi membuat Alina mendelik.
"Ganteng bener kayak pemain film-film turki," lanjutnya lagi membuat Alina mencebik.
"Dia bukan sugar daddy tapi-"
Mata Alina seketika melotot bersamaan dengan tangannya yang kembali menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Seseorang keluar dari mobil dan masuk ke dalam kelab malam tersebut.
__ADS_1