
Tangannya terampil memainkan bendah pipih digenggamannya, sengaja memang untuk mencari berita tentang kedatangan orang tuanya yang kemarin malam tidak sengaja dia lihat di bandara.
Napasnya mendesah dalam. Tubuhnya ia sandarkan pada sandaran kursi. Rasanya lemas seketika membaca berita-berita yang beredar di hari ini. Alina sudah berada di sebuah kafe yang sudah dijanjikan bersama dengan Boy. Sepulang sekolah ia memang langsung menuju ke tempat tersebut.
"Bulsh*t semua," gumamnya memejamkan mata.
Alina yang sekarang atau Jennifer kesal membaca puluhan berita yang isinya sama sekali tidak benar. Jelas tadi malam ia melihat Mommy nya atau Mommy Sheren datang bersama pamannya. Adik dari Daddy nya sendiri. Lalu berita yang beredar hari ini menuliskan jika Mommy Sheren datang bersama dengan Daddy nya untuk menyambangi rumah terakhir model terkenal Jennifer Mauren.
"Pembodohan publik," lirihnya lagi menaruh ponsel di atas meja.
"Jenni." Boy datang dengan tergesa-gesa.
"Lo lama," komentarnya yang diangguki oleh Boy.
"Beberapa wartawan datang ke apartemen gue nek," jelas Boy seketika membuat Alina mendelik.
"Pasti karena mommy datang," gumam Alina kini giliran Boy yang dibuat terkejut.
"Lo kok tahu Jen?" heran Boy.
Setahu dirinya tadi belum mengatakan apapun selain wartawan yang datang. Apa lagi memberitahu jika Mommy Sheren datang.
"Ini yang pengen gue tanyain ke lo sekarang Boy," ujar Alina membuat Boy menatapnya serius.
"Daddy kemarin datang sendiri kan?" tanya Alina memastikan.
Boy mengangguk. "Kan gue udah kasih tahu, tapi lo belum siap biat ketemu katanya," balas Boy.
"Ck, apa banget deh tuh berita pada bilang mom datang sama dad," lanjutnya lagi.
"Bentar-bentar. Lo udah baca berita yang beredar hari ini?" tanya Boy dan diangguki oleh Alina.
"Karena tadi malam gue liat mommy langsung, tapi sama uncle," jelas Alina dengan wajah tampak terlihat murung.
"Jenni, sorry gue nggak tahu kalau itu. Tadi malam mommy memang sempat telepon nanyain makam lo, tapi nggak bilang kalau datangnya sama uncle tuh, gue kira malah datang sama asistennya," jelas Boy yang diangguki oleh Alina.
"It's okay, nggak masalah Boy, tapi tolong ya cari tahu nyokap gue gimana?" pinta Alina dan diangguki setuju oleh Boy dengan semangat.
"Pasti Jenn, apapun buat lo. Btw kok lo bisa sampai sini nggak dikurung sama mas ganteng?" tanya Boy membuat Alina mencebik.
"Pusing gue ngadepin dia," balas Alina membuat Boy tersenyum tipis.
"Kalau Jenni pusing, gue rela kok gantiin lo," ujar Boy dengan penuh suka rela.
Yang benar saja Boy mau menggantikkan Alina? Berani taruhan meski disuguhkan dengan penampakan surgawi setiap waktu dari Alendra, namun setengah hari saja Boy tidak akan kuat. Alendra bukan hanya senang mencari masalah atau mengerjainya, namun kata-kata yang keluar dari mulutnya seperti bisa ular yang mengenai tepat pada sasaran.
Baik Alina atau Alendra seakan tidak ada bedanya. Keduanya sama-sama saling melempar kata-kata pedas untuk menyudutkan musuhnya.
__ADS_1
Cukup lama keduanya saling berbincang, dari mulai isi surat yang masih belum Alina buka karena belum siap. Lalu tentang Diko yang tiba-tiba kembali masuk ke dalam hidupnya dengan cara yang berbeda. Juga tentang hubungan kedua orang tuanya yang belum Alina atau Jennifer ketahui.
"Terus rencana lo kedepannya gimana Jen?" tanya Boy seketika membuat Alina berpikir.
Menerawang jauh ke depan dimana kehidupannya nantinya. Apakah jika semua orang-orang disekitar tahu siapa dirinya itu masih akan menerima atau malah menjauh.
"Gue mau....." ujar Alina terhenti.
Matanya memanas saat tanpa sengaja melihat kedatangan Alendra bersama dengan Pinka. Tanpa sadar tangannya mengepal melihat pemandangan yang cukup mengganggu untuknya.
"Gue mau bikin dia nyesel udah sia-siain gue," lanjutnya lagi dengan tatapan marah ke arah Alendra.
"Si Diko maksud lo Jenn? Atau..." melihat kedatangan Alendr seketika membuat ucapan Boy ikut terhenti. Ia menutup mulutnya tidak percaya saat laki-laki tampan itu membawa seorang wanita yang mungkin saja seumuran dengannya.
"Su-suami lo Jenni," beritahu Boy.
"Ceritanya panjang, lo harus bantuin gue sekarang," ujar Alina menatap Alendra dengan kesal.
Di meja yang cukup jauh dari meja mereka. Alendra duduk bersama dengan Pinka. Sebenarnya sedari tadi bisa dikatakan Alendra hanya fokus dengan layar tab di depannya. Namun Pinka, gadis itu terus menempel Alendra. Sesekali juga mencuri cium pipi Alendra.
Alina dibuat semakin kesal melihat keduanya.
"Pantes nggak nyariin gue, lagi sama si tante ternyata," gumam Alina beranjak dari duduknya.
Langkahnya cukup santai untuk menuju ke kamar mandi di kafe tersebut. Di sana di balik kamar mandi. Seragam yang tadi ia kenakan seketika ia ganti dengan baju yang entah Alina tidak tahu Boy mendapatkannya dari mana.
"Done," ujarnya tersenyum manis setelah memoleskan liptin di bibir mungil miliknya.
"Ayo tante kita buktikan, siapa yang akan dipilih Ale," lirihnya mengibaskan rambut yang sengaja ia gerai.
Ekor matanya melirik ke arah Alendra dan Pinka yang sedang makan bersama. Lagi-lagi Alina dibuat kesal sendiri saat melihat tangan Pinka yang sengaja ingin menyuapi Alendra.
"A dong sayang," ujar Pinka membuat Alina berdecih.
"Dasar ulat gatel sama buaya," decaknya memutar bola matanya malas.
Sebelum ia mulai dengan aksinya, Alina sempatkan untuk menghela napas terlebih dahulu, lalu...
Dug
"Upsss... Sorry-sorry nggak sengaja," ujar Alina pura-pura tidak tahu siapa mereka.
"Kalau jalan lihat-li..." potong Pinka saat melihat siapa yang baru saja menabraknya.
"Lo... Adik sepupu Endra kan?" tanya Pinka seketika membuat Alendra ikut menoleh.
Tidak jauh berbeda dengan Pinka. Alendra juga sama terkejutnya, namun ekspresi yang Alendra perlihatkan tidak bisa ditebak, wajah tampan itu terlihat datar.
__ADS_1
"Eh... tante, Sama Ale juga ternyata? Sorry tadi nggak sengaja," ujar Alina pura-pura merasa bersalah.
Asli untuk saat ini Alina juga layak bergelar ratu drama seperti Aurel. Namun apa yang dia lakukan demi keutuhan rumah tangganya dengan Alendra. Niat Alina melakukan itu untuk pernikahan Alendra dan Alina yang asli. Meski tidak dipungkiri semua terjadi juga karena ada rasa yang tidak bisa ia jelaskan ketika melihat Alendra bersama dengan wanita lain.
"Sayang sepupu kamu nyebelin banget sih," adu Pinka yang tidak mendapat tanggapan dari Alendra.
Hati Alendra terlalu panas melihat penampilan Alina saat ini. Sore hari memakai dres yang menurut Alendra kurang bahan itu jelas membuat siapa saja yang melihat Alina dapat menyaksikan dengan jelas pinggung putih mulus gadis itu.
Padalah baju yang Pinka kenakan juga tidak jauh berbeda dengan baju Alina. Sama-sama terbuka, bedanya Alendra sekarang tidak begitu mengambil pusing hal-hal yang berkaitan dengan Pinka. Ia lebih merasa tidak nyaman melihat penampilan Alina saat ini.
Diamnya Alendra saat ini juga bukan berati ia acuh dan tidak marah. Lihat saja tangannya sudah mengepal saat melihat baju yang Alina kenakan terlalu terbuka.
Berani sekali Alina memakai baju yang tidak pantas di tempat umum. Mungkin jika di kamar dan hanya ada mereka berdua saja Alendra akan memakluminya atau bisa saja malah kegirangan. Tetapi untuk saat ini, Alina sudah membuat kesalahan besar yang tidak ia sadari.
"Alin! Buruan ayo nanti kita telat." Boy datang untuk membantu Alina memperlancar rencananya.
"Duluan ya tante, bye kak Ale," pamit Alina tersenyum semanis mungkin. Sebelum senyuman itu seketika hilang bersamaan dengan langkahnya yang menjauh.
Sampai di dalam mobil milik Boy. Alina menghela napas cukup dalam. Tidak biasanya ia gugup ketika mencoba untuk berakting di depan orang. Padahal niatnya hanya untuk membuat Pinka kesal dan membuat Alendra mengejarnya, namun ternyata usahanya sia-sia saja. Alendra masih tetap berada di dalam kafe.
"Gimana menurut lo?" tanya Alina ingin tahu reaksi Alendra tadi.
Tugas Boy tadi memang selain mengajak Alina untuk pergi juga mengamati gerak-gerik dari Alendra setelah melihat kedatangan Alina dengan baju kurang bahan yang mendadak ia pesan tadi.
"B aja deh Jenn kayaknya. Wajah galaknya nggak keliat, kalau gantengnya baru iya," jelas Boy membuat Alina mencebik.
"Cih, ganteng dari mananya coba, tidak tahu diri iya," decih Alina merasa kesal sendiri.
"Terus apa lagi dong? Apa harus gue cium lo di depan laki lo?" usul Boy seketika membuat Alina mendelik.
"Gila aja, dia udah tahu lo nyerong Boy," jelas Alina dengan kesal.
"Masa sih? Duh sorry deh abisnya gue nggak tahan lihat modelan laki lo sama temen-temennya," jelas Boy semakin membuat Alina bertambah kesal.
Bukannya memberi solusi yang ada Boy malah menambah pusing.
"Tahu ah. Jalan aja," titah Alina yang diangguki oleh Boy.
"Turun!" titah Alendra seketika membuat Boy mendelik.
Bukan Alina yang Alendra suruh turun. Namun dirinya. Ingin protes jika itu mobil miliknya tetapi Boy terlalu tidak kuasa melihat wajah tampan yang terlihat menyeramkan.
"Apaan sih? Ini mobil Boy!" protes Alina membuat Alendra menatap tajam dirinya.
"Mau aku lakuin di sini Alin?" ancam Alendra seketika membuat tubuh Boy hampir merosot ke bawah.
"Wow...amazing," lirih Boy menatap damba Alendra.
__ADS_1