
Mata Aurel menatap Widya dengan cara mengintimidasi. Kini murid-murid tidak tahu malu itu duduk di ruang tengah untuk menunggu kedatangan Alendra. Lebih gilanya lagi Aurel beralasan jika mendapat berita jika Alendra sedang sakit, bukan karena pekerjaan ke luar kota.
"Maaf tante jadi ngrepotin, soalnya tadi Widya bilang katanya pak Endra lagi sakit makanya tidak masuk beberapa hari ini, jadi terpaksa kita ke sini, semua murid juga nungguin kedatangan pak Endra mengajar lagi," jelas Aurel seketika membuat Widya mengeraskan rahangnya. Namun Widya jelas tidak bisa melakukan apa-apa.
Apa yang dikatakan Aurel jelas berbanding terbalik. Semua untuk menutupi rasa keinginannya untuk berkunjung ke rumah Alendra. Padahal sudah jelas tadi Widya sendiri mengatakan jika Alendra sedang pergi ke luar kota. Namun Aurel tetap memaksa untuk datang ke rumah dengan alasan yang ia tahu Alendra sedang sakit atau tidak enak badan.
"Tidak papa sayang, tante malah terharu banget kalau kalian peduli sekali sama anak tante, tapi ngomong-ngomong anak tante baru pulang dari luar kota. Tidak sakit, mungkin Widya salah informasi ya?" Balas mama Intan tetap tenang.
"Oh gitu ya tante, aduh kalau gitu sekali lagi kita minta maaf, ini buat tante aja." Aurel menyerahkan beberapa bingkisan buah-buahan yang tadi sempat dibelinya.
"Lho kok repot-repot sih? Makasih lho ya?" mama Intan tersenyum lembut kepada mereka semua. Belum tahu saja jika gadis-gadis yang berada di depannya ini ialah musuh dari menantunya.
"Kalian juga kenal Ali-"
"Mama!" Alendra datang setelah selesai mandi.
Seketika Aurel dan yang lain terdiam melihat penampakan Alendra saat ini. Baru beberapa hari tidak terlihat Alendra semakin terlihat tampan dan menawan. Apa lagi kaos rumahan yang dikenakan sekarang membuat wajah Alendra terlihat lebih muda dari biasanya. Juga rambut yang masih setengah basah menambah kesan seksi pada laki-laki sudah beristri itu.
"Kalian, ada apa?" tanya Alendra duduk di depan murid-muridnya.
Aurel tergagap, sungguh dia tidak mampu rasanya untuk menjawab pertanyaan Alendra barusan. Bertemu di rumah Alendra terasa lebih berbeda dari pada bertemu di sekolah. Ia semakin ingin memiliki Alendra sekarang.
"Ma-maaf pak, saya salah tadi ketika Aurel sama teman-temannya tanya tentang bapak, saya bilangnya pak Endra sedang sakit," jawab Widya membuat Aurel dan teman-temannya terkejut dengan keberanian Widya untuk menjawab pertanyaan Alendra. Juga dengan jawaban yang sangat lancar, mereka mengangguk setuju dengan apa yang baru saja Widya katakan.
"I-iya pak, kita mengira pak Endra sakit sudah absen beberapa hari ini, kita semua perwakilan dari murid-murid yang lain untuk melihat keadaan pak Endra," jelas Aurel seketika membuat Alendra tersenyum tipis.
__ADS_1
"Terimakasih, kalian sudah lihat keadaan saya baik-baik saja, sekarang kalian boleh pulang," usir Alendra secara halus.
Mata Aurel kembali menatap tajam Widya. Kali ini Widya sebagai senjatanya agar tetap bertahan di rumah itu. Setidaknya satu atap bersama dengan Alendra lebih lama lagi. Melihat Alendra dengan ketampanan yang bertambah membuatnya sayang untuk segera dilewatkan.
"Ba-baik pak, tapi kita boleh menunggu ibu saya sampai pulang dulu di sini? Kita ada tugas kelom-"
"Terserah kalian," sela Alendra berdiri dari duduknya. Lalu pergi begitu saja meinggalkan murid-muridnya.
"Lo gimana sih Wid?" tekan Aurel tanpa suara.
Widya terdiam. Sejujurnya ia juga malas jika harus berada di bawah tangan Aurel. Namun dia tadi tidak bisa melakukan apa-apa ketika Aurel mengancamnya akan menyebarkan rahasia besar yang sudah dilakukan oleh Widya.
"Cepet cegah pak Endra, jangan sampai pergi." Gress ikut menambahi.
"Permisi," ujar seorang gadis yang tiba-tiba datang.
"Alin Rel." Loli berbisik melihat kedatangan Alina.
"Gila tuh cewek, nekat banget ke sini," tambah Evelyn juga tidak menyangka jika Alina akan ikut datang ke rumah Alendra.
Aurel beserta teman-temannya tampak terkejut melihat kedatangan Alina. Sementara Widya terdiam seribu bahasa. Antara senang dengan kedatangan Alina karena Aurel tidak bisa terus menindasnya, tetapi juga kesal karena harus kembali melihat kemesraan yang sering Alina dan Alendra lakukan di depan matanya. Namun ada rasa sedikit penasaran dengan hubungan yang terjadi di antara Alina dan Alendra sekarang.
"Siang pak Endra. Gimana sudah baikan?" tanya Alina ikut duduk di samping Widya. Tepat di sebelah Widya duduk sekarang.
Ekor matanya melirik ke arah Widya dengan senyum miring.
__ADS_1
Padahal dalam hatinya kini sedang menghitung Alendra yang akan menoleh karena kedatangannya.
Tepat ketika hitungan ke tiga. Alendra menoleh dan menatap ke arahnya. "Alina Ghaveza," balas Alendra penuh makna.
Laki-laki itu kembali duduk di kursinya tadi. Entah sandiwara apa yang akan Alina perankan sekarang di depan teman-temannya. Namun sepertinya Alendra justru sudah tidak tahan dan sangat ingin mengungkapkan siapa dia sebenarnya, bukan hanya dengam muridnya saja melainkan semua orang.
"Udah lama kalian?" tanya Alina kepada Aurel dan yang lain.
Aurel melirik Alina malas. Ternyata menghadapi Alina tidak semudah itu, justru semakin Aurel menekan semakin membuat Alina bertindak lebih berani lagi.
"Kamu ke sini juga untuk menjenguk saya Alina?" tanya Alendra dengan congkaknya.
Bibirnya tertarik ke atas. "Bukan pak Endra, saya ke sini jemput Widya karena tadi sudah janji pulang bareng saya," ekor mata Alina melirik ke arah Widya. "Tapi malah ke rumah bapak dengan mereka," lanjut Alina menjelaskan.
"Widya, kamu bilang sama Aurel kalau pak Endra lagi sakit? tapi kemarin kamu bilang ke teman-teman yang lain pak Endra lagi ke luar kota, yang bener yang mana Wid?" tanya Alina semakin membuat Widya meremas ujung roknya dengan erat.
Keringat dingin mulai bermunculan mendengar ucapan Alina yang terkesan menyudutkannya. Namun kini bukan lagi rasa takut yang Widya rasa, melainkan menahan amarah yang sangat ingin dia luapkan.
"Berhenti Alin, kita sekarang udah bukan teman lagi!" Widya berdiri dengan napas naik turun tidak beraturan.
Semua menatapnya terkejut. Kecuali Alina yang tersenyum miring, rasanya sakit mendengar pengakuan Widya barusan, namun meski begitu ia cukup lega, karena sekarang ia tidak perlu lagi berharap untuk bisa seperti dulu dengan Widya. Ia tahu jika Widya memang menganggapnya orang lain sekarang.
Melihat situasi yang ada membuat Aurel tersenyum senang, pertangkaran Alina dan Widya di rumah pak Endra semakin membuatnya merasa lebih baik dari keduanya. Aurel akan senang jika Alendra sampai melihat betapa tidak sopannya kedua siswi yang bertengkar di rumah gurunya.
"Tontonan menarik guys," bisik Aurel pada teman-temannya.
__ADS_1
Alina mengangguk dengan senyum tipisnya. Ia berdiri dan menatap Widya masih dengan posisi tadi.
"Gue tahu, lo musuh dalam selimut," balas Alina seketika membuat Widya menoleh. Menatap Alina dengan tatapan yang susah diartikan.