Fire On Fire

Fire On Fire
Antara Tidak Sadar Dan Bodoh


__ADS_3

Rambut yang sengaja ia ikat dengan asal bergerak sesuai langkah cepatnya. Sepatu warna putih itu terlihat lebih kotor dari tadi ketika ia baru memakainya. Napasnya sedikit memburu. Namun gerakan bola matanya tidak bisa diam.


Untuk yang kedua kalinya Alina kembali bolos tanpa sepengetahuan Alendra. Tadi mang Udin memang sudah mengantarkannya sampai di depan gerbang sekolah. Namun setelah kepergian mang Udin gadis itu berbelok arah dan menghilang dari pandangan sekolah.


Beruntung Alendra berangkat agak siangan. Karena ia mengajar setelah bel istirahat pertama nanti. Jadi Alina bisa melakukan aksi bolos untuk mencari informasi tentang orang tuanya.


Gadis itu berada di depan rumah lamanya. Rumah seorang model bernama Jennifer Mauren. Gadis yang selalu terlihat ceria dan sangat profesional disetiap pekerjaannya. Namun memiliki rahasia besar dalam hidupnya. Kesepian dan kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya. Itulah kehidupan Jennifer yang sesungguhnya.


"Masuk aja kali ya?" usulnya tidak masuk akal sama sekali.


Memamgnya siapa dia mau masuk ke rumah orang sembarangan? Ingatkan Jennifer kini jiwanya berada di tubuh seorang gadis yang sudah pasti akan terlihat asing dengan orang-orang yang berada di dalam rumah tersebut.


Tidak lama terdengar mobil yang datang dari arah luar. Mobil tersebut berhenti tepat di depan gerbang rumahnya. Buru-buru ia sembunyi untuk mencari tahu.


Seseorang turun dari mobil tersebut. Alina dibuat terkejut melihat Diko dengan wajah babak belurnya masuk ke dalam kediamannya.


"Diko? Ngapain dia?" gumam Alina menatap jauh ke sana.


Ingin mendekat namun terlihat beberapa wartawan yang mulai berdatangan. Alina masih merasa was-was jika mendekat, ia seperti seorang Jennifer yang dulu, jika terlihat para wartawan akan bertanya banyak hal untuk diberitakan.


"Diko ngapain ya ke rumah gue?" gumam Alina bertanya-tanya.


Pasalnya sekarang masih di jam pelajaran itu berati Diko sama seperti dirinya bolos sekolah atau mungkin sudah ijin.


Selang beberapa lama para wartawan berkerumun. Mommy Sheren keluar diikuti Diko dibelakangnya. Namun kini Diko sudah memakai topi sebagai penutup.


"Hallo mommy Seheren, bagaimana perasaan anda setelah tahu anak tercinta sudah tiada?"


"Apa anda akan kembali mengunjungi tempat peristirahatan terakhir Jennifer sebelum kepulangan anda ke jerman?"


"Mom, beri tanggapannya mom."


Desakan dari wartawan sama sekali tidak membuat Mommy Sheren bersuara. Beliau hanya tersenyum tipis dengan tangan ia tautkan sebagai permohonan maaf sebelum masuk ke dalam mobil Diko.


"Mom!"


"Mommy Sheren!"


Beberpaa wartawan berteriak setelah kepergian beliau bersama dengan Diko dan satu orang lagi yang Alina tidak ketahui siapa.

__ADS_1


"Kemana?" buru-buru ia mengambil ponsel untuk memesan taksi terdekat.


"Mbak, penguntin ya?" tanya salah satu wartawan melihat adanya Alina di sana.


"Eh..." heran Alina karena wartawan tersebut bersikap biasa.


Baru setelah itu ia sadar jika tubuh yang dimilikinya kini asing untuk para wartawan. Alina jadi semakin percaya diri untuk muncul.


"Bukan, gue anak sekolah yang lagi bolos, nggak liat seragam gue?" balas Alina membuat para wartawan menggeleng dengan keangkuhan jawabannya.


"Lumayan sih, tapi belagu bener," ujar salah satu wartawan.


"Jadi ngingetin Jenni, kadang kalau ditanya jawabannya suka sombong tapi cuma buat lucu-lucuan aja," sambung salah satu wartawan cewek.


Alina dibuat terdiam dengan ucapan dari wartawan tersebut. Ternyata setelah hampir 2 bulan kepergiannya masih ada yang ingat dengan dirinya.


"Makasih ya mbak," ujar Alina membuat wartawan tersebut mengernyit bingung.


"Apaan sih nggak jelas banget deh," balas wartawan tersebut seraya pergi.


Tidak membutuhkan waktu lama. Taksi datang dan segera membawa Alina pergi untuk mengikuti mobil tersebut. Namun sudah pasti tidak ada jejaknya lagi. Alina kehilangan mobil Diko yang membawa Mommy Sheren.


"Kemana mbak?" tanya sopir taksi.


"Ke rumah aja deh pak," balas Alina membuat sopir taksi itu mengernyit bingung.


Beliau mana tahu rumah Alina dimana kalau tidak disebutkan alamatnya.


2 jus yang tadi ia ambil di kulkas sudah habis tidak tersisa. Alina tadi tidak jadi pulang ke rumah. Tapi ia pergi ke apartemen Boy yang ternyata paswordnya masih sama dan memudahkan Alina untuk masuk terlebih dahulu. Boy sedang ada pekerjaan di luar dan ia akan segera kembali setelah pekerjaannya selesai.


"Ngapain ya?" gumamnya bingung sendiri. Ia bersandar santai di sofa sembari melihat televisi yang ia nyalakan.


Ponsel yang masih ia taruh di dalam tas bergetar. Widya mengirim beberapa pesan untuk menanyakan keberadaannya. Tidak lupa gadis lugu itu juga memberitahu jika Alendra tadi menanyakan keberadaan Alina dengan Widya.


"Wah...gawat kalau si Ale udah sadar gue bolos," lirihnya mencoba untuk menghubungi Widya.


Namun ponsel gadis itu sudah tidak aktif lagi. Alina tahu jika pelajaran sudah kembali dimulai.


"Si boy lama banget sih, tapi aman juga sih kalau gue di sini," lirih Alina dengan senyumnya.

__ADS_1


Dari pada memikirkan Alendra yang pasti sedang marah karena ia kembali membolos. Alina lebih memilih untuk tiduran terlebih dahulu sembari menunggu kedatangan Boy.


Matanya mulai terpejam, tubuhnya bergerak kecil mencari posisi senyaman mungkin. Alam sadarnya mulai terganti dengan mimpi.


Sementara Boy. Kini sedang dibuat tegang sekaligus malu-malu karena laki-laki tampan di depannya. Ben datang untuk menanyakan alamat apartemennya. Tentu saja itu atas perintah Alendra tadi.


"Mas yang satunya kok nggak ikut sih?" tanya Boy membuat Ben menggeleng dengan senyum tipis.


Bisa-bisanya Boy malah menanyakan keberadaan Vinsan.


"Aku bakal bawa kamu ketemu dia, kasih tahu dulu dimana apartemen kamu?" tanya Ben seketika membuat Boy tersenyum dan mengangguk pelan.


Mata Alina terbuka secara perlahan. Sekitar 3 jam lebih ia tadi tertidur karena menunggu kepulangan Boy. Namun laki-laki itu tidak kunjung pulang untuk menemuinya.


"Lama banget sih," keluh Alina melihat laki-laki di depannya.


Tidak terlalu jelas karena ia masih berusaha mengumpulkan nyawanya. Matanya juga sebelah terbuka sedikit, dan sebelahnya lagi masih tertutup.


"Kaku banget deh. Sini sih!" titah Alina menggeser tubuhnya.


"Parfum kamu ganti Boy? Mirip bau parfum Ale," ujar Alina sedikit menggeser tubuhnya. Pasalnya laki-laki yang ia anggap sebagai Boy itu duduk merapat tubuhnya.


"Gue mau lo-," seketika ucapan Alina terhenti saat dengan jelas wajah Alendra yang terlihat di depannya.


Beberapa kali ia coba mengusap matanya, siapa tahu ada yang salah dengan matanya sampai penampakan laki-laki tidak tahu diri itu yang terlihat, namun hasilnya tetap sama. Bahkan sorot mata tajam Alendra juga dapat Alina lihat dengan jelas.


"Hah? Jangan bilang lo oprasi plastik buat jadi si Ale? Segala parfum disama-samain lagi," ujar Alina semakin mendekatkan wajahnya untuk mengamati wajah rupawan itu benar atau palsu hasil dari oprasi plastik yang dilakukan oleh Boy.


Deg


Bukannya mendapat jawaban dari hasil pengamatannya. Alina justru dibuat beku langsung oleh tindakan laki-laki di depannya.


Dengan sengaja Alendra mengecup bibir Alina. Salahkan Alina yang mendadak bod*h sampai tidak bisa membedakan mana Alendra dan Boy.


"Udah tahu Alin?" bisik Alendra membuat Alina berada di titik antara sadar dan mau pingsan.


"Perbedaannya, jika kamu mendekat Alendra Atmajaya akan langsung bertindak," lanjutnya lagi menambah kecupan pada bibir gadis itu.


Cup

__ADS_1


"Cepat sadar kalau tidak ingin aku bertindak lebih dari ini," ujarnya dengan jemari mengelus lembut bibir Alina.


__ADS_2